Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

Hendro Wiyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Karya dua perupa kontemporer Indonesia tampil di Bienale Havana ke-8 di Kuba, yang berlangsung hingga akhir Desember 2003. Mereka, Tiarma Dame Ruth Sirait, 35 tahun, dan Iwan Wijono, 32 tahun, dikenal sebagai perupa muda yang giat berpameran dengan medium-medium baru seperti seni instalasi dan pertunjukan.

Tiarma, perupa lulusan Institut Teknologi Bandung (1994) dan Royal Melbourne Institute of Technology, Australia (1997), belakangan juga dikenal sebagai perancang mode yang orisinal. Ia mengembangkan karya-karya instalasinya yang provokatif: memetik gagasan visualnya dari ranah fantasi ataupun gemerlap dunia couture (adibusana) yang dipahaminya. Dalam karya-karya seni rupa kontemporernya, ia mengaitkan tema dan citra gubahan busana kontemporernya dengan pendekatan yang sangat personal serta kritikal.

Pada Havana Biennial yang tahun ini memberikan perhatian istimewa bagi karya-karya pertunjukan itu, Tiarma mengajukan tema Global Vs. Local (2003), sebuah karya seni rupa instalasi dan (video) pertunjukan. Pada karya instalasinya, ia menciptakan rangkaian 56 boks ramping dengan pintu-pintu kaca untuk mewadahi 28 model boneka dengan dandanan lokal. Dua puluh delapan model yang lain mengenakan busana modern dan aksesori yang dapat ditafsirkan sebagai ikon-ikon yang menyerbu dari ranah budaya global.

Dandanan tradisional tampak rumit dengan berbagai pernik hiasan, dari kerudung kepala sampai ujung busana, suatu pemandangan yang tampak mengasumsikan kekayaan muatan lokal yang menggairahkan: “passion for difference”. Boneka-boneka globalnya didandani dengan rambut panjang berwarna pirang, menggunakan rok mini yang ketat atau busana panjang terusan tanpa kerut atau lelipit, dilengkapi dengan berbagai simbol budaya modern-kapitalistis. Kecenderungan menggunakan one sex model berupa boneka-boneka perempuan dalam karyanya tentu melahirkan tafsir gender, tapi Tiarma membungkusnya dengan rapi.

Pada karya video pertunjukannya yang diberi tajuk Local Meets Local (2003), Tiarma merias dirinya dalam pakaian adat pengantin tradisional Sumatera Barat, duduk di atas singgasana seraya mengisap Dos Hermanos, merek cerutu terkenal di Kuba yang ternyata sudah diproduksi secara lokal di Indonesia. Sepanjang tiga setengah menit pertunjukan, Tiarma dengan lahap menyantap berbagai jenis makanan tradisional Kuba diselingi oleh adegan mengisap cerutu sebesar jempol itu.

Karya pertunjukan Iwan Wijono sepanjang lebih-kurang 10 menit bertajuk The Rootless Man (2002). Karya yang pernah dipentaskan dalam Toronto International Performance Festival (November 2002) ini ditampilkan dalam bentuk video di Havana Biennial.

Iwan menggambarkan manusia yang berjalan hilir-mudik tanpa arah di antara dua alat permainan: sebuah kendaraan militer yang menghelanya dari arah depan dan truk kosong di belakang yang mengikutinya ke mana pun dia pergi. Bagian ini disudahi oleh pesan reflektif tentang modernitas, yang menurut Iwan mengasingkan manusia dari tanah yang telah menyediakan kehidupan bagi mereka. Ia mengajak sebagian penonton duduk khidmat bersila di sekitarnya seraya memejamkan mata untuk mendengarkan khotbahnya perihal paradoks modernitas.

Bagian akhir pertunjukannya diisi adegan sang aktor bertelanjang dada, menyilakan para penonton meludahi tubuhnya serta melabur wajahnya dengan tanah yang sudah siap dalam genggaman tangan mereka. Tanah dan ludah bercampur di wajah manusia gelandangan yang, ironisnya, tampak berbahagia.

Iwan Wijono, belajar seni rupa di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1992-1997), adalah penampil yang aktif mengikuti berbagai festival seni rupa pertunjukan, seperti NIPAF (Jepang, 1999), Asiatopia (Bangkok, 1999), dan Novena Muestra Internacional de Performance (Kota Meksiko, 2000).

Havana Biennial 2003 bertema “Art with Life” dan diikuti sekitar 150 seniman dari berbagai negara Amerika Latin, Karibia, Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Perupa Indonesia yang pernah diundang untuk acara ini adalah Agus Suwage, Andar Manik, Marintan Sirait, dan Krisna Murti, pada 1999 silam.

Mengutip Hilda Maria Rodriguez, Direktur Havana Biennial, tema bienale ini mencerminkan upaya untuk memuluskan refleksi perihal kehidupan sehari-hari yang sarat oleh konflik sekaligus kebajikannya sendiri. Ya, pluralisme di dalam seni rupa merupakan sebuah conditio sine qua non. Tentunya, pergulatan para perupa kita dengan media-media baru seni rupa tak cuma untuk memenuhi kuota forum-forum internasional.

Hendro Wiyanto, pengamat seni rupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *