Detak Bahasa Di Antara Pencipta Dan Apresiator Puisi II

Imron Tohari

Kemajuan tehnologi komunikasi dewasa ini, diakui atau tidak diakui, telah memberi warna baru bagi tumbuh kembangnya sastra seni, khususnya sastra puisi/syair/sajak. Benarkah seperti itu?

Saya katakan iya! Bukannya tanpa alasan, lihat saja dengan menjamurnya forum-forum pertemanan (jejaring social) di dunia virtual/maya, seperti yang lagi trend dewasa ini, semisal: Yahoo Answer, Friendster, Hi5, FaceBook, dll. Menjadikan para pencinta sastra puisi/syair/sajak, bisa dengan cepat dan mudah mempublis karya-karyanya tanpa harus takut ditolak, yang mana hal tersebut merupakan salah satu momok bagi mereka bilamana karya tersebut dikirim ke media cetak yang tentunya melalui proses seleksi terlebih dahulu.

Namun begitu, bukan berarti karya-karya yang dipublis di dunia virtual/cyber yang tidak melalui proses seleksi ala redaktur ini kualitasnya di bawah karya yang dimuat di media cetak, tapi di sini kita justru dituntut untuk secara obyektif dan bijak, sebelum mengatakan karya cyber itu secara kualitas sesuai dengan kepatutan sastra puisi/sajak.

Tak bisa dipungkiri, penilaian baik buruk suatu karya dimata penikmat baca, antara subjektifitas dan obyektifitas, sangat beda-beda tipis (kalau tidak boleh dikatakan abu-abu), tergantung dari sudut pandang mana kita/mereka melihat karya sastra puisi/sajak tersebut.

Kian menjamurnya para penyuka sastra puisi di dunia virtual/cyber, dan beragamnya tema maupun pola penuangan ke medium puisi/sajak, yang sebagian besar secara tekstual banyak memakai bahasa-bahasa symbol/metafora, tentunya bagi yang baru saja dan mulai mengakrabi sastra puisi akan kesulitan untuk dirinya mencecap apa dan bagaimana maksud yang ingin disampaikan pencipta karya (baca: pencipta puisi), sehingga menimbulkan suatu interprestasi beragam di imaji penikmat baca, dan hal inilah yang merebakkan kembali sebuah tanya tak berkesudahan di pikiran-pikiran penyuka puisi/apresiator puisi, tentang paradigma puisi gelap, di mana hal tersebut pernah pula ramai dibicarakan di era 80-90 an.

Pada era tersebut, beragam pendapat muncul dalam menyikapi adanya istilah puisi gelap. banyak penggiat sastra berpendapat bahwa puisi gelap adalah puisi yang tema dan bait-bait tertulisnya bernuansa kepedihan/keprihatinan yang teramat sangat dan atau puisi yang lebih menitik beratkan pada rasa ketidak puasan penyair akan sesuatu hal yang terjadi pada lingkungan internal maupun eksternal yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi estetika dari nyaman dan tidak nyamannya rasa. Dan trend penyair pada waktu itu dalam mengangkat tema yang gelap/suram amat marak sebagai bentuk protes pada sikap pemerintahan yang dianggap otoriter/atau semau gue, dan juga bentuk kemasgulan penyair akan menurunnya sendi-sendi moral di masyarakat, khususnya di mata komunitas penyair Jawa Timur.

Sebagian penggiat sastra lainnya dalam menyikapi adanya istilah puisi gelap lebih mengkaitkan dengan wujud tekstual bahasa dalam batang tubuh puisi secara keseluruhan yang dengan segala simbolik poetika-nya dianggap telah gagal mengikat diksi terpilih menjadi satu kesatuan alur kalimat bermakna, khususnya yang dibungkus dengan perlambang-perlambang metafora, sehingga penghayat serasa dibenturkan dengan jalan buntu untuk bertamsya di taman makna karya terkait (baca: pemaknaan yang persis sama dengan apa yang ada dipikiran penyair).

Agus R. Sarjono pada bukunya yang bertajuk “Sastra dalam Empat Orba,” Bentang, 2001 hal. 102. mengatakan: “Istilah Sastra Gelap muncul akibat gagalnya penyair merepresentasikan diri dalam sajak-sajaknya sehingga sajak menjadi “gelap” bagi pembaca?

Benarkah seperti itu; puisi/sajak menjadi “gelap” bagi pembaca karena penyair telah gagal merepresentasikan diri dalam sajak-sajaknya?

Pendapat Agus R. Sarjono di atas tidak sepenuhnya salah, bila kita membacanya dari sudut pandang penyair dianggap telah gagal merepresentasikan diri dalam sajak-sajaknya,sehingga sajak menjadi “gelap” bagi pembaca, bilamana penyair dimaksud dalam hal ini menuntut pembaca harus (mutlak) sama persis dalam memaknai, menangkap pesan dan atau menggali artefak bahasa yang menjadi terusan olah imaji rasa penyair, persis sama dengan yang diinginkan penyairnya.

Namun pendapat Agus R. Sarjono tadi bisa saja menjadi lemah bilamana hal tersebut dilihat dari sudut pandang penyair atau pencipta puisi dimaksud dalam kapasitasnya sebagai pemilik/pencipta puisi pada akhirnya membebaskan pembaca dan atau penghayat dalam memaknai karyanya tidak mesti harus sama keinginan dengannya selaku penyair, namun membiarkan mereka (penghayat) untuk mengurai makna berdasarkan sinyal-sinyal bahasa yang berhasil dia tanggkap (tentunya kemampuan masing-masing penghayat dalam hal ini berbeda, karena semua itu tidak terlepas dari latar belakang budaya, pendidikan, pola hidup, kejiwaan, keyakinan, dll) yang sangat berpengaruh sekali dalam menangkap getar-getar rasa yang dipancarkan dari semiotika puisi, baik dalam kapasitas secara tekstual poetika maupun muatan makna yang tersurat dan atau tersirat pada karya sastra puisi/sajak bersangkutan.

Puisi adalah terjemahan rasa bagi penyairnya, dalam arti dibuat untuk memenuhi kebutuhan rasa akibat adanya letupan-letupan yang ada di dalam imaji piker penyair itu sendiri (awalnya!), dan dari paradigma ini, tentunya tidak akan terjadi yang namanya gagal dalam mempresentasikan diri kedalam sajak atau puisi, karena sebenarnya dengan bahasa simbol yang dia tuangkan tersebut, apapun wujudnya, penyair bersangkutan sangat faham kearah mana makna yang ingin dia letupkan untuk memenuhi kebaharuan piker dirinya. Sekali lagi saya tekankan di sini bilamana itu dilihat dari kaca mata hanya untuk dirinya. Nah jika pada akhirnya karya itu di publis, yang tentunya akan dihadapkan dengan interpresentasi penikmat baca/penghayat yang beragam, dan bila penghayat dalam menangkap bahasa-bahasa simbol tersebut tidak sama dengan apa yang ingin diinterpresentasikan penyair, namun ternyata penghayat dalam pembacaannya justru mempunyai pemaknaan baru untuk kebaharuan pikernya dari bahasa-bahasa symbol yang berhasil dia tangkap (walau berbeda maksud dengan apa yang dirasa penyair pada saat menciptakan puisi dimaksud), dan menurut olah rasa imaji penghayat sinyal-sinyal tadi sesuai dengan apa yang dia rasa pada saat itu (saat dia mendapatkan getaran makna bahasa yang mengandung semiotika/lambang dan tanda dari karya yang dia baca), apakah puisi tersebut masih bisa dikatakan gagal?

Saya tertarik dengan pendapat Robert Penn Warren (April 24, 1905 – September 15, 1989) penyair, novelis dan kritikus Amerika yang berpendapat: “Puisi atau sajak itu sebuah mitos kecil tentang kemampuan manusia agar menjadikan hidupnya bermakna. Puisi, pada akhirnya, bukan sesuatu yang kita lihat. Lebih tepat, puisi merupakan cahaya yang membuat kita melihat sesuatu lebih jelas dan sesuatu itu adalah hidup.” Dari pendapat Robert Penn Warren di atas, saya mengumpamakan “cahaya” pada keseluruhan ruang tubuh puisi adalah “bahasa”, bahasa yang merupakan pemandu alam piker pembaca untuk berkomunikasi dan atau menggali makna puisi/sajak, bahasa yang bisa berupa susunan kosakata atau kalimat-kalimat, symbol-simbol, lambang-lambang, yang merupakan bagian dari artefak bahasa (benda-benda atau symbol-simbol bahasa yang menunjukan kecakapan manusia melalui penggalian-penggalian piker). Dan berdasarkan KBBI, “gelap” sama artinya dengan tidak ada cahaya; kelam; tidak terang alias samar. Sedangkan puisi atau sajak mempunyai “cahaya” yaitu “bahasa”, dan puisi atau sajak untuk berkomunikasi dengan pembacanya melalui media bahasa yang saya umpamakan sebagai cahaya tersebut untuk mengurai suatu makna yang tersembunyi pada puisi. Perihal samar atau terang benderang makna yang berhasil di telisik, bergantung sepenuhnya dari masing masing pembaca, seberapa kuat olah rasa, olah piker, dan olah imaji dalam menangkap cahaya puisi (baca: bahasa puisi), yakni puisi yang menjelmakan dirinya pada bahasa sunyi, puisi yang mensamsarakan dirinya pada kesakitan-kesakitan bahasa melalui benda-benda atau symbol-simbol bahasa dalam rangka menemukan pemaknaannya sendiri di ruang piker masing-masing individu dalam mencari kecerahan makna baru yang diyakininya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, secara pribadi saya berpendapat, bahwa tiada yang namanya sastra gelap (dipersempit: puisi/sajak), Dalam pengertian, timbulnya paradigma gelap terang akan telisik makna suatu karya, bergantung dari masing-masing indifidu penghayat dalam memaknai benda-benda atau symbol-symbol bahasa yang berhasil dia tangkap, serta keberanian penghayat dalam membebaskan diri dari kesakitan-kesakitan bahasa yang ditimbulkan oleh adanya permainan-permainan symbol, yang dalam proses kreatipnya penyair, tentunya telah mempunyai gambaran-gambaran dan atau pemaknaan tersendiri. Intinya, abaikan ketepatan makna apa yang ingin disampaikan penyair melalui symbol-symbol bahasa tadi. Karena ketepatan hanya bisa didapat kalau tahu dengan pasti segala aspek yang melingkupi kehidupan, pola piker, serta sosial budaya yang melatari penyair dalam mencipta puisi.

Saini K.M. dalam endosemennya pada antologi prosa dan puisi Soeria Disastra mengatakan: “dalam membaca karya sastra, kejujuran tertentu diperlukan. Salah satu hambatan untuk mendapatkan manfaat dan nilai sebesar-besarnya dari karya sastra adalah apa yang disebut snobisme. Seorang snob adalah orang yang beranggapan bahwa kemampuan menikmati karya sastra itu adalah suatu gengsi dan hak orang-orang terpelajar. Oleh karena itu, walaupun tidak paham atau tidak suka kepada suatu karya, ia berpura-pura paham atau berpura-pura suka kepada karya itu. Kadang-kadang ia pun mengumbar pendapat dengan mengutip berbagai teori agar memberi kesan bahwa ia terpelajar.” (Senja di Nusantara: 10).

Perlu digaris bawahi, yang dimaksud Saini K.M. “mengumbar pendapat dengan mengutip berbagai teori agar memberi kesan bahwa ia terpelajar.”, mengutip di sini maksudnya adalah mengutip sesuatu teori yang tidak relevan dengan pokok bahasan yang dikaji/dikomentari.

Pernah pada salah satu kesempatan saya mengapresiasi salah satu karya puisi sahabat saya di Y!A (Yahoo Answer) katagori persajakan yang berjudul “UNSUR(E)”, secara lengkap saya turunkan di bawah ini:

UNSUR(E)

batang emas
………..emas batang
……air tanah
………..tanah air
-naturoksidogensasi-
+apiapiapiapiapiapia+
oxoxoxoxoxoxoxoxo
= tidak hujan sayang
= bur
= bur
= bur
= bur
= bur

*subur dalam dubur#
HAH
solaring

iruw harden, Jakarta 2619: revisi 1429

(keterangan: titik-titik pada baris 3-5 tidak mempunyai maksud apa-apa, selain HANYA UNTUK “menggeser” huruf-huruf saja)

Sebuah interpretasi bebas dari fenomena Tahun Baru Imlek 2009 yang “kebetulan” bertepatan dengan kejadian “istimewa” gerhana matahari cincin; sebuah hari yang sangat langka..

@ lifespirit: Resensi karya Iruw Harden “UNSUR(E)”

Menilik dari catatan kaki penyair, dimana karya “UNSUR(E)” ini dimaksudkan sebagai “sebuah interpretasi bebas dari fenomena Tahun Baru Imlek 2009 yang “kebetulan” bertepatan dengan kejadian “istimewa” gerhana matahari cincin; sebuah hari yang sangat langka..”

Justru di sini saya selaku penikmat baca tidak mendapatkan/menemukan simbolik-simbolik tersebut yang menceritakan suasana “Imlek” dan fenomena alam “Gerhana matahari cincin”, kecuali mungkin yang sedikit mengarah pada proses fenomena alam (tapi fenomena alam apa?), hanyalah pada baris kalimat ini & -naturoksidogensasi- +apiapiapiapiapiapia+ oxoxoxoxoxoxoxoxo = tidak hujan sayang, dan itupun akan sulit bagi penikmat baca untuk menghubungkannya dengan fenomena “Gerhana Matahari Cincin” bila mana tidak penyair sebutkan pada catatan kaki!

Dan khusus penggambaran “Imlek”, di sini saya rasakan sang penyair juga lemah dalam memvisualisasikannya!

Ok, andaikan sang penyair menyimbolikan pada susunan kosa kata terpilih:

batang emas
………..emas batang
……air tanah
………..tanah air

Saya yakin, bentukan visual image pembaca tidak akan mengarah kesana (andai, sekali lagi tidak penyair ungkapkan pada catatan kaki!), apalagi bila dikaitkan dengan ketertautan baris dibawahnya, maka saya yakin gambaran Imlek tidak akan ada di bidang pikir audiens! Saya pun jujur baru bisa mengaitkan dengan Imlek setelah membaca catatan kakinya, dimana baris kalimat tersebut, mewakili harapan/berkah kesuburan, kekayaan dan atau murah rejeki dan atau kebahagian yang menjadi makna dari Imlek itu sendiri!

Sekali lagi, bila karya ini dimaksudkan sebagai interprestasi Imlek maupun gerhana matahari cincin, saya merasakan sangat lemah kearahitu pesan tersirat pada karya ini, apa lagi kalau kita baca dalam satu kesatuan alur cerita yang utuh! Btw, bentuk dan rangkaian tertuang dalam suatu karya, termasuk karya ini, sepenuhnya menjadi hak milik secara fisik bagi sang penyair!

Namun, begitu karya ini di posting ke publik, maka audiens dan atau penikmat baca mempunyai hak milik pada makna yang ada pada karya bersangkutan. Mengacu pada hal ini, maka ijinkan saya selaku penikmat baca untuk mengambil hak makna saya pada karya brelian Iruw Harden “UNSUR(E)”, dengan interprestasi makna dari sudut pandang saya selaku penikmat! (tentunya interprestasi saya ini, antara subyektif dan obyektif sangat sulit untuk dipisahkan!).

Ok, sekarang mari kita telaah, urai makna karya ini dari presepsi saya selaku penikmat baca: Pada puisi kontemporer ini, sang penyair sangat cerdik dalam memilih kosa kata sehingga membentuk suatu makna ganda dalam setiap ketertautan antar baris atas dan bawahnya. terutama pada baris-baris ini;

……..air tanah
………….tanah air bathang emas
………….emas bathang

pada baris-baris ini sang penyair ingin menyampaikan pesan, bahwa negara kita adalah negara yang kaya raya dengan kesuburan tanahnya dan kekayaan alam pertambangannya yang tiada ternilai, ibarat air bula meresap kedalam tanah (dalam arti kesuburan) maka kekayaan alam bagaikan batang emas yang berjajar di untain kepulauan nusantara tercinta, namun bila air tak lagi bisa meresap tanah, maka prahara akan melanda tanah-tanah air, dan di sana bukan lagi batang mas dalam arti kemakmuran yang ada, namun mas-mas batang dalam arti hancurnya peradaban dan kerugian materiil,in materiil maupun ribuan jasad yang menjadi batang (dalam arti; bangkai!).

Di sini nampak jelas sekali penguasaan sang penyair dalam memainkan makna pada pertautan kalimat atas bawah, dan dengan cerdik untuk memberikan ruang imagi plus pada audiens, dia tambahkan “…” yang sekali lagi di sini juga punya peran ganda, selain untuk meratakan kalimat bawah pada atasnya ” tanah,emas”, titik-titik disini juga bisa berarti ada kalimat pesan tak tertulis yang bisa dijadikan bayang kalimat yang tertulis.

Bahkan dengan kepiawian sang penyair yang kelihatannya cukup menguasai seni puisi kontemporer (baik dalam pengertian struktural bentuk, maupun pemaknaan isi!), di sini sang penyair tidak hanya bermain dengan bunyi saja, namun lebih dari pada itu, kekentalan pesan dan sindiran moralnya cukup kuat di sini, seperti halnya pada baris selanjutnya yang mengangkat isu “Global Warning” yang terjadi dari ketidak mampuan atmosfir (penipisan atmosfir >>//naturoksidogensasi/apiapiapiapiapiapia/oxoxoxoxoxoxoxoxo//) yang ditimbulkan akibat ulah manusia yang mencenderai alam hanya untuk memenuhi nafsu materiilnya (disimbolikkan dengan > subur dalam dubur)
naturoksidogensasi
apiapiapiapiapiapia
oxoxoxoxoxoxoxoxo
= tidak hujan sayang
= bur
= bur
= bur
= bur
= bur
subur dalam dubur
HAH
solaring

260109

(= bur, sepertinya hanya menyisakan bur yang tidak subur karena hanya bur!, dan HAH solaring>>>; di sini dengan ” HAH ” kapital dan “solaring” dengan penulisan wajar, seakan menyentil kita, betapa kita memandang sepele (atau bahasa jawanya; anget-anget tahi ayam!) masalah pemanasan global!)

Salut Iruw, karya yang bagus!

4 Maret 2009

Iruw Harden Answer: WOW! diriku tak menyangka jika pemaknaannya akan seperti yang dirimu paparkan; padahal waktu membuatnya, hal itu (pemaknaan) samasekali tidak terlintas di benak diriku..

Inspirasi awal pembuatan tulisan diriku di atas adalah untuk “merekam” dua peristiwa luarbiasa yang terjadi bersamaan; Tahun baru Imlek dan;gerhana matahari cincin.. di dalam tulisan tersebut, terdapat banyak unsur kebudayaan Tionghoa yang diriku “fusi-kan” maknanya dengan isu2dunia yang ada (kupasan kawan Lifespirit sudah berhasil menangkap lumayan banyak)… seharusnya, diriku TIDAK BOLEH mengungkapkan kalimat-kalimat ini… namun hal itu diriku lakukan sebagai bentuk tanggungjawab moral sebagai penulis…

Namun, begitu karya ini di posting ke publik, maka audiens dan atau penikmat baca mempunyai hak milik pada makna yang ada pada karya bersangkutan. Mengacu pada hal ini, maka ijinkan saya selaku penikmat baca untuk mengambil hak makna saya pada karya brelian Iruw Harden “UNSUR(E)”, dengan interprestasi makna dari sudut pandang saya selaku penikmat! (tentunya interprestasi saya ini, antara subyektif dan obyektif sangat sulit untuk dipisahkan!). v hak dirimu itu telah digunakan secara elegan..sungguh sejatinya, ragam interpretasi dari sebuah karya seni ‘kan menjadikan karya tersebut kaya (multitafsir), serta eksotis..terimakasih tulus atas komen yang membangun ini.. iruw harden. 5 Maret 2009.

Dari uraian interprestasi saya pada karya UNSUR(E) ini, apakah penyair dikatakan gagal dalam menyampaikan pesan pada penikmat baca? Jawabnya bisa YA dan bisa juga TIDAK. Dalam pengertian, penyair dalam hal ini telah gagal merepresentasikan diri dalam puisinya UNSUR(E) bilamana penyair berharap penikmat baca mempunayi pemaknaan yang sama seperti apa yang penyair pikerkan. Tapi, dari satu sisi penyair tidak bisa dikatakan gagal, karena dalam ketidaksamaan pemaknaan akan teks puisi UNSUR(E), justru pada karya ini saya selaku penghayat mendapatkan kebaharuan piker akan makna yang berhasil saya kumpulkan dari sinyal-sinyal simbolik poetika. Dalam pengertian, penerjemahan makna yang salah dan yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi pemikiran penyair, saya justru mendapat pemaknaan lain yang bisa memenuhi kebutuhan imaji rasa saya selaku penghayat. Bukankah puisi yang baik itu, puisi yang pada akhirnya bisa memberikan suatu kebaruan piker positip pada setiap pembacanya dalam menghadapi segala hal permasalahan kedepannya?

A Teuw, seorang kritikus sastra Indonesia berkebangsaan Belanda dalam kata pengantarnya pada antologi “Asmaradana” karya Gunawan Muhamad.

Puisi atau sajak: “Adalah bulan yang diusir kepelosok oleh penghuni apartemen tinggi yang siang malam disinari oleh neon-neon metropoital modern, namun harus diarak kembali oleh orang insomnia dan kaki lima. Hanya pembaca yang bersedia menjadi sesama gelandangan dapat mengenal, mengakui dan menyelamatkan bulan.”

Paparan Teew itulah, yang kemudian menjelaskan betapa sulitnya puisi diartikan dan dimaknai sebagai pengejawantahan hidup. Bahkan, Ia pun berani menegaskan “Tidak pernah ada makna yang final, pengetahuan yang definitif dalam puisi. Puisi tetap pasemon yang terus menerus memerlukan interprestasi, atau lebih tepat penghayatan dalam arti rangkap: pembaca tidak hanya memberi hayat pada sajak yang dihadapinya, dia juga menerima hayat daripadanya, dihidupi olehnya,”

Adanya paradigma gelap terangnya puisi, menimbulkan tanya baru di pikiran pencipta puisi juga penikmat baca: apa dan bagaimana mencipta puisi agar selain bisa memenuhi kebutuhan rasa imaji pencipta, juga bisa memenuhi kebutuhan imaji rasa penikmat baca?

Kalau saya pribadi yang dihadapkan pada tanya seperti itu, maka akan saya jawab: mengenal seluk meluk perangkat bahasa yang menjadi denyut puisi/sajak yang notabene mempunyai tekstur kepadatan susun kata/kalimat yang berbeda dengan bila kita menulis prosa, dan atau minimal pengkarya cipta tidak mengenyampingkan aspek-aspek pendekatan konotasi,denotasi, sintaksis dan gramatikal, serta minimal mengetahui sifat-sifat dari kata terpilih (diksi). Dan yang tidak kalah penting, dengan banyak membaca karya pesastra puisi lainnya sebagai bahan serap kearah penciptaan karya yang lebih bertenaga.

Tidak jauh beda dengan pencipta karya puisi, begitu halnya dengan penghayat, agar lebih bisa menikmati suatu karya dalam usahanya memaknai, juga bisa melakukan pendekatan-pendekatan yang saya paparkan di atas. Tapi kalau sekiranya merasa awam (kurang akrab) dengan dunia puisi/sajak, pertama kali yang harus dilakukan penikmat baca adalah melepaskan diri dari bayang-bayang keinginan penyair akan pesan makna yang melekat pada batang tubuh puisi/sajak. Kasarnya, jangan paksa diri untuk berfikir dalam memaknai puisi harus sama persis seperti apa yang diinginkan penyair. Tapi biarkan sinyal-sinyal simbolik poetika menerjemahkan dirinya sendiri sesuai dengan daya kemampuan masingmasing penghayat menangkap sinyal tadi. Bilamana penghayat dan atau penikmat baca masih juga mengalami kesulitan untuk memungut makna, pembaca bisa memakai pendekatan parafrasa (penguraian kembali suatu teks (karangan) dll bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi). Seperti yang saya lakukan saat saya berusaha memungut makna pada karya Agus Djiwo S yang bertajuk GEMULAI PUPUS:

Membasah raga kerontang rasa
Beriring rintih mengiris lara
Hitung berturut tersekat cakra
Hingga menuai pekat lingkar kini

Gaung puji berkawal dupa setanggi
Lolong nyalak membelah dipekat sunyi
Serupa perawan suci Dewidewi
Meliuk gemulai senada pupus dibelantara

Akankah sisa terlunasi kini,…

(Agus Djiwo S, 6 September 2010)

Untuk menterjemahkan puisi atau sajak yang ketat/rapat dalam bermain symbol untuk menyampaikan pesannya pada pembaca, disinilah tekhnik parafase sangat-sangat dibutuhkan untuk mengungkap makna disebalik bahasa-bahasa symbol yang ada di batang tubuh puisi.

Dan ketatnya permainan symbol ini sangat terasa sekali pada sajak saudara agus “gemulai pupus”. untuk memaknainya saya akan coba parafrasakan (yang tanda kurung):

GEMULAI (yang tibatiba) PUPUS

Membasah raga (saat) kerontang rasa
(Walaupun) Beriring rintih (tapi berusaha) mengiris lara
(Dalam) Hitung berturut (adakah) tersekat cakra
Hingga menuai pekat (sampai) lingkar kini

# dua baris pertama pada bait pertama penyair menyiratkan kesan dimana saat ketidak seimbangan jiwa, perlu adanya suatu keyakinan spiritual agar segal;a sesuatunya bisa kembali seperti yang diharapkan, walau tidak semudah berkata-kata, namun harus siap berpayah-payah kalau ingin segala sesuatunya menjadi baik? (Walaupun) Beriring rintih (tapi berusaha) mengiris lara? & dan ketidakmudahan perjuangan tersebut lebih dipertegas dengan dialog monolog pada baris 3, 4 bait pertama dalam penmgertian, apakah usahanya selama ini dalam pematangan batinnya kurang iklas sehingga kumparan senergi negatif sangat sulit untuk ditiadakan hingga kini, dimana cakra seakan tersumbat dalam kebekuan putar: “//(Dalam) Hitung berturut (adakah) tersekat cakra/ Hingga menuai pekat (sampai) lingkar kini//”)

# secara keseluruhan Bait dua justru saya rasakan sebagai alur balik/ alur mundur, dalam pengertian bait ini merupakan suatu kronologis dari suatu proses laku dan atau proses kejadian yang ada di bait pertama.

Gaung puji berkawal (dengan) dupa setanggi
(lalu tibatiba terdengar) Lolong nyalak membelah dipekat sunyi
Serupa (jeritan) perawan suci (atau) Dewidewi
(yang) Meliuk gemulai senada (tibatiba) pupus (begitu saja) di belantara?

# dimana baris 1, 2 bait ke dua merupakan suatu ilustrasi moral: berpasrah diri tapi tidak sebenarbenarnnya yakin (baris 1 bait 2), dan kebimbangan itu kian menenggelamkan kedalam sesah (baris 2 bait 2),

Serupa keinginan-keinginan yang ada pada doa-doa yang tiba-tiba hilang saat didapati apa yang dia harapkan dari doa tadi tidak sesuai dengan pengharapan bahagia di kenyataannya (alias kian menyakitkan : baris 3, 4 bait 2) & Yang akhirnya di tutup dengan satu baris sebagai alur maju di bait tiga: Akankah sisa terlunasi kini,… (moral value) atau kasarnya, kalau sudah begitu akantah tidak ketersiasiaan halnya?

Sebagai penutup esai “Detak Bahasa Di Antara Pencipta Dan Apresiator Puisi II”, baik buruknya tumbuh kembang puisi juga tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya kritik. Walaupun tidak jarang kritikus/apresiator adakalanya memberikan penilaian secara subyektif dan ada juga yang unsubyektif/obyektif, namun justru di sinilah dinamika yang akan menjadi lokomotif pertumbuhan itu berawal.

Peran kritik dan atau apresiasi terhadap perkembangan suatu karya itu mutlak sangat penting, sebab kritik yang baik pada suatu karya puisi/sajak/sair merupakan bagian dari proses pematangan pengkarya cipta dalam menghasilkan sebuah karya dan atau maha karya selanjutnya.

Kritik,kupasan,masukan struktur pola tuang,editing kosa kata/kalimat, telisik isi dan atau lain hal yang berkaitan dengan karya sastra itu sendiri, bila diberikan oleh seorang kritisi/kritikus/apresiator seni yang dibekali dengan ilmu memadai, justru akan memberi energi luar biasa pada penciptaan karya-karya selanjutnya.

Bila dalam suatu bedah karya/sastra/puisi/sair yang disampaikan oleh pengeritik/pengapresiasi dan atau pemberi saran, dianggap tidak relevan dengan kaidah piker penyair/pujangga dalam menuangkan karyanya, disinilah hak bantah/penjelasan dari sang penyair/pujangga diperlukan sebagai bentuk pelurusan akan persepsi tuang segala hal terkait dengan hasil karyanya, bukan berarti berlindung pada

lisensia poetika yang menurut kamus serapan bahasa asing versi Yus Badudu; kebebasan penyair dalam menyusun puisi terhadap penyimpangan bahasa demi kepentingan irama dan rima untuk pengertian lisensia poetika ini saya mempunyai pendapat lain yang sedikit berbeda dengan Yus Badudu. Menurut opini subyektif saya, lisensia poetika adalah penggabungan dua kata/kalimat yang sama fisik untuk mendapatkan sisipan kata baru/morse poetika yang dalam laju bahasanya memberi energi tambah pada pemaknaan kata dimaksud.

Contoh: “malammalam” pada saja saya “Tentang Luka” ditulis tanpa simbolik tanda baca (-) dengan tujuan untuk menyisipkan kata baru “alam” dan “lamma” yang ada ditengah penggabungan kalimat tadi, dengan tujuan untuk memperkuat latar, yang larik lengkapnya berbunyi “Malammalam sering aku mengalun sunyi”. Opini tentang lisensia poetika ini didasari dari kata dasar “lisensi” yang berdasarkan KBBI berarti izin menggunakan oktroi pihak lain dalam hukum tentang milik industri, dapat diberikan oleh si pemegang oktroi atau berdasarkan ketetapan Dewan Oktroi; semacam pemakaian hak paten akan merek atau lebel sejenis, pada puisi saya memaknainya sebagai bentuk penulisan dan atau penggabungan dan atau perekatan kata yang sama secara fisik kata. Sedang Poetika; poetika /poitika/ n Ling penyelidikan mengenai puisi dari sudut linguistik/ilmu tentang bahasa dan atau telaah bahasa secara ilmiah. Jadi perekatan kata tersebut tetap harus memiliki dasar yang kuat untuk memberi nilai tambah akan pemaknaan sebuah puisi, bukan asal lekat saja.

Jadi dengan adanya komunikasi dua arah yang baik antara kritikus dan pengkarya (penyair), akan didapatkan suatu titik emas dalam karya-karya berikutnya! Dengan suatu asumsi: karya yang bagus dan berbobot, akan menelorkan wajah-wajah baru kritikus handal di hari-hari selanjutnya. Sebab Kritik dan Sastra, ibarat ayam dan telur.

3 Oktober 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *