Dibawa Dedemit

Goradok PR Sinabutar
http://www.hariansumutpos.com/

Padahal jarum panjang-pendek jam dindingku akan segera bercumbu sebentar lagi tepat di angka dua belas, namun, entah mengapa, aku masih betah terjaga. Bukan terjaga sebenarnya. Lebih seperti seorang kekasih yang tengah menunggu di Stasiun Kereta Api Manggarai. Menunggu datangnya sang pujaan hati dari badan kereta api baja yang bewarna orange. Hanya saja sekarang aku berada di kamar tidurku, bukan di stasiun. Pun, aku juga bukan sedang menanti kedatangan seorang wanita yang akan memeluk punggungku dan berkata manja, ?Kenapa belum tidur, Sayang.? Tapi?.

Tiba-tiba saja, sesuai dugaanku sebenarnya, jam klasik di ruang tamuku berdetak dengan nyaring dan keras. Ya, ya, pasti sebanyak dua belas kali, kataku dalam hati. Detakan pertama seperti awal dari serangkaian mantra keramat, yang akan mencabik-cabik keheningan di sekitarku. Detakan selanjutnya bahkan membahana semakin lantang dan sesekali ditingkahi dengan lolongan anjing liar di sekitar kompleks perumahan. Ah, lolongan anjing, pikirku spontan. Entah mengapa langsung membuatku teringat dengan ucapanmu perihal mitos anjing yang melolong panjang dulu.

?Frans, kau tahu mengapa anjing terkadang sering melolong di malam hari, padahal tak ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar mereka?? tanyamu, dengan mimik yang begitu serius kala itu.
?Karena mereka lapar ?kan?? jawabku ngasal. Karena jujur saja aku sama sekali tak mempercayai hal-hal yang mistik seumur hidupku. Setidaknya sampai kejadian waktu itu terjadi.
?Ih? jawab yang serius dong, Frans,? katamu sedikit kesal, membuat matamu yang bulat semakin kelihatan seperti orb.
?Hm?,? aku berpura-pura berpikir. ?Aku nyerah deh. Memangnya ada apa dengan lolongan anjing di malam hari, Tuan Putri?? tanyaku, bergalak penasaran.
?Karena??
Brak!!! Tiba-tiba saja jendela kamarku tertutup. Menyadarkanku dari lamunan tentang masa-masa kita bersama dulu. Masih kudengar jam klasik tuaku berdetak, entah untuk yang keberapa kalinya aku pun tak tahu. Yang kutahu hanyalah anjing-anjing liar dan tetangga sebelahku, mungkin, masih melolong, dan udara di malam ini semakin dingin merasuk ke pori-pori kulitku

Ah ya, aku ingat mengapa anjing terkadang melolong di tengah malam, khususnya di malam jumat kliwon, seperti ini. Karena menurut mitos yang kudengar darimu, mereka merasakan sesuatu, seseorang, atau apalah itu, yang bukan dari dunia ini tengah mengendap-endap menelusuri setiap jengkal lorong dalam pekatnya keheningan malam, dan bahkan mungkin saja berdiam di salah satu sudut rumah manusia. Karina, Karina, andai hal itu memang benar adanya, mengapa kau tak datang ke sini, ke dalam kamarku yang masih menyisakan atom-atom aroma tubuhmu di hidungku? Bukankah aku sengaja membiarkan jendela dan pintu kamarku menganga untukmu? Atau jangan-jangan kau sudah tak mengenaliku lagi?

Kini jarum panjang-pendek jam dindingku telah selesai bercumbu. Tak kudengar lagi detak jam klasik dari ruang tamuku. Pun, dengan anjing-anjing yang sedari tadi melolong bagaikan serigala malam yang menanti kedatangan sang purnama keperakan. Semua senyap. Hanya nafas jam dinding yang menemaniku. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang dingin bertiup di tengkukku. Dingin. Beraroma sedap malam, dan seperti hembusan nafas seseorang.
***

Sebenarnya, bukan hanya sekali ini saja aku merasakan sensasi dingin ini. Sudah beberapa kali malah. Dan sayangnya, setiap kali aku berusaha mencoba agar sensasi itu semakin nyata, setiap kali itu pula aku tak menemukan apa-apa. Ya, yang ada hanyalah kesepian yang semakin menelusup ke dalam hatiku. Oleh sebab itu, untuk malam ini, aku bersikap sewajar mungkin dan membiarkan hawa dingin itu mencumbuiku lebih dalam dan lebih lama.
Biasanya pada malam seperti ini, Karina pasti membuat secangkir capucinno latte untukku.
?Semoga seduhan capucinno saya akan memberikan anda ide dalam membuat cerita horror,? katanya, berusaha sedikit menggodaku setiap kali aku sedang menulis.

Karina memang bukan seorang wanita yang pemberani. Walaupun begitu, ada saja mitos-mitos baru yang diceritakannya padaku. Mitos kalau kucing memiliki sembilan nyawa, misteri malam jumat kliwon yang bertaburan dengan bumbu-bumbu mistis, bahkan mitos yang mengatakan kalau setiap manusia di dunia ini lahir dengan memiliki sesosok roh pelindung; roh nenek moyang, katanya.

Berbeda dengan Karina, aku sama sekali tak pernah merasakan ketakutan sama sekali dengan segala sesuatu yang berbau mistis. Sehingga beberapa teman lama yang mengenal kami berdua sangat terkejut, saat mereka mengetahui bahwa aku dan Karina memutuskan untuk membina bahtera sakral rumah tangga. Frans dan Karina. Sipemberani dan sipenakut. Hitam dan putih.

***
Ketika hawa dingin masih terus memeluk raga fanaku, aku masih tetap menulis; mencoba menepis keinginan untuk menyebutkan namanya.

?Karina,? akhirnya aku berkata namun lebih kedengaran seperti sebuah penyesalan bagiku. Secepat itu pula tak kurasakan lagi sentuhan dingin di sekujur tubuhku. ?Tunggu, Karina!? seruku. Berbalik dan beranjak dari kursiku. ?Aku tahu kalau semua yang terjadi adalah kesalahanku. Kalau saja saat itu aku mendengarkan peringatan Pak Karman, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ya, tidak akan terjadi?? Air mata merembes dari kedua kornea mataku.
Tak ada jawaban apa pun. Hanya ada hembusan angin yang tergesek-gesek di udara yang berusaha menjawab seribu sesalku. Ya benar, semua ini adalah salahku. Karena ketidakpeduliankulah yang menyebabkannya meninggal. Ah bukan, melainkan dibawa dedemit. Ya, dibawa dedemit seperti yang mereka bilang.
***

?Bungee jumping?? Karina bertanya. Jelas sekali kalau sekelebat kebingungan tampak di wajahnya yang bulat.
Aku menggangguk sambil mengulang pertanyaan yang sama, yang baru saja kuucapkan kepada Karina yang tengah membuat buku besar perusahaan tempatnya bekerja, ?Gimana kalau kita menghabiskan weekend kali ini dengan berbungee jumping di Sukabumi??

?Kalau masalah pekerjaanku di kantor sih ga ada masalah. Tapi bukannya kamu pengen mengikuti lomba menulis novel horror?? Karina melepas kacamata yang membingkai di atas hidungnya yang mancung, menghentikan tugasnya dan menghadapku.

?Nah, oleh karena itu kita pergi ke sana, Tuan Putri,? aku berkata sambil menepuk punggungnya. ?Untuk menciptakan suasana yang sesuai dengan lokasi, aku ingin pergi ke tempat itu. Ya, hitung-hitung sekalian berlibur,?
?Hem?? Karina bergumam, ?tapi menurutku bungee jumping bukan ide yang bagus, Frans.?
?Maksudnya?? gantian aku yang bingung.
?Bungge jumping yang begini ?kan?? tanyanya memastikan sambil menurukan jari telunjuknya lalu mengangkatnya ke atas berulang-ulang.

?Yup, benar sekali. Bungee jumping yang?? aku meniru gerakan tangannya: turun-naik berulang kali. Sebenarnya bagi kami berdua bungee jumping bukan hal yang baru, karena ketika kuliah dulu kami pernah beberapa kali bungee jumping dengan beberapa teman kuliah.
?Oke deh kalau begitu,? Karina menyanggupi ajakanku. ?Dengan syarat kamu pastikan terlebih dulu kalau-kalau daerah yang akan kita kunjungi??

?Kalau daerahnya banyak? khi? khi? khi?? aku tertawa meniru lakon Mak Lampir dalam sinetron Dendam Mak Lampir.
Dia tertawa renyah. Kemudian merenggut kerah bajuku dan menyapu bibirku dengan sepasang bibir merah tipisnya yang paling indah di dunia.
***

?Jadi sampean berdua ingin pergi ke jembatan yang biasa digunakan untuk bungee jumping?? tanya Pak Karman, pria tua dari desa Sukabumi yang kami jumpai ketika sedang mencari pemandu, dengan mimik wajah yang serius.
Aku mengangguk. ?Saya dan istri saya datang dari Jakarta karena ingin mencoba bungee jumping di jembatan di desa ini,? jawabku menegaskan niat kami.
?Lebih baik urungkan saja niat kalian berdua, Anak Muda,?
?Maksud, Bapak??

?Jembatan di desa ini bukanlah tempat yang layak untuk didatangi oleh manusia yang masih hidup. Coba kalian lihat para warga desa di sekeliling kalian,? dia berkata. Pandangan matanya menyapu sekitar pedesaan dengan sorotan tajam.
Tiba-tiba saja Karina menggenggam tanganku erat; hal yang biasa dia lakukan kalau ketakutan. ?Frans,? dia berkata, ?perhatiin deh. Kenapa mereka semua terus memandangi kita dari tadi?? tunjuknya ke arah sekumpulan ibu-ibu dan anak-anak yang tak jauh dari kami dan Pak Karman.

?Barangkali mereka jarang melihat orang kota yang datang ke desa ini, apalagi yang membawa banyak perlengkapan seperti kita, Rin? jawabku sekenanya tanpa menoleh ke arahnya. ?Bisa Bapak jelaskan tentang tempat yang tidak layak didatangi oleh manusia itu?? tanyaku mulai sedikit penasaran.

Pak Karman kembali terdiam. Wajahnya yang keriput dan sorotan tajam matanya kepadaku seolah bisa menembus pikiranku, dan memberikan kesan misterius khas tokoh-tokoh dalam cerita horror picisan.

Sadar kalau peringatannya takkan bisa membuat kami membatalkan niat tersebut, Pak Karman pun berkata sambil berbalik, ?Jangan salahkan saya kalau sesuatu yang buruk akan menimpa anda atau mungkin saja?? matanya mendelik ke arah Karina yang semakin kuat meremas tanganku.

Tanpa basa-basi lagi kami pun mengikuti langkah Pak Karman. Sekitar lima belas menitan kami berjalan menelusuri rangkaian pepohonan beringin tua yang menjulang tinggi di sepanjang perjalanan. Sulur-sulur beringin yang lebat dan panjang seolah menjadi tempat yang tepat bagi para makhluk halus untuk bercengkrama. Namun, bukankah mereka hanya bisa menampakkan wujud mereka di malam hari ketika kepekatan malam membungkus bumi?
Tak berapa lama kemudian kami pun sampai di jembatan tersebut. Berbeda dengan pemandangan di hutan yang begitu mencekam dan seolah menimbulkan perasaan magis, keadaan di jembatan yang biasa digunakan untuk olahraga bungee jumping benar-benar eksotis. Arus sungai yang deras mengalir di bawah kami, gemuruh air yang terdengar seperti beat lagu rock, kicauan burung-burung di udara dan desiran angin yang melambai lembut, terdengar seperti orchestra musik dengan kesyahduan harmoni yang takkan mungkin dapat di dengar di kota seperti kota Jakarta.

Bukan hanya aku saja yang merasakannya, Karina pun juga terhipnotis dengan apa yang terhampar di sekeliling kami. ?Menakjubkan,? gumamnya seperti tak percaya. Jemarinya yang sedari tadi dikaitkannya di antara sela-sela jariku, kini digunakannya untuk memencet tombol kamera digital yang disimpannya di dalam ransel.
?Baiklah, kalau begitu saya akan menunggu sampean berdua di seberang sana,? Pak Karman berkata sambil menunjuk ke hutan di seberang kami.

Aku mengangguk sopan. ?Terima kasih, Pak, sudah mau menjadi pemandu kami,? ucapku sungguh-sungguh.
Setelah itu Pak Karman berjalan dengan ayunan langkah yang benar-benar mantap untuk orangtua seukurannya.
Yang terjadi setelahnya benar-benar begitu cepat. Ya, begitu cepat.
Kami berdua bersiap melakukan bungee jumping. Karina, dengan peralatan safety yang terbalut ketat di sekujur tubuhnya, mencoba untuk lompatan pertama.
?Satu?? aku mulai memberi aba-aba. ?Dua?, tiga!?

Seperti anak panah yang dilesatkan dari tali busur, Karina melompat ke arah deburan air sungai. Karina berteriak kencang sekali, ?Yuhu?!?

Awalnya, kekuatan bumper di tubuhnya mengangkat tubuhnya ke atas dan bersiap untuk terjunan berikutnya. Entah bagaimana bisa, pada hempasan kedua, tali yang terikat di kedua pergelangan kaki Karina terputus begitu saja. Dengan sangat kencang, Karina terjebur ke dalam sungai dan membentuk riak yang sangat besar.
Aku panik. Sangat panik. Tidak mungkin bagiku menyelamatkannya, karena aku sama sekali tidak bisa berenang. Salah-salah bisa saja kami berdua yang akan hanyut. Aku berteriak meminta pertolongan. Sementara Karina masih belum muncul ke permukaan sejak terhempas ke sungai.

Sekitar beberapa menit tiga orang pemuda yang bertelanjang dada bersama dengan seorang kakek datang. Dengan masih ketakutan, aku mencoba meminta bantuan dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Namun, dari air muka mereka yang ganjil, tak ada satupun yang berani terjun untuk menyelamatkan istriku. Kemudian aku teringat Pak Karman dan berteriak memanggilnya, ?Pak Karman! Pak Karman!? Tolong istri saya, Pak!? air mata mulai meleleh dari mataku.

?Sampean mengenal almarhum Pak Karman?? salah seorang dari mereka bertanya kepadaku, agak terkejut.
Aku mengangguk. ?Tadi Beliaulah yang menjadi pemandu kami. Dan? dan?? aku mulai terbata-bata, ?apa maksudnya dengan almarhum?? kondisi terburuk dari semua peristiwa ini semakin membuncah dari pikiranku.
?Begini, Mas. Pak Karman sudah lama bunuh diri sejak kematian putra tunggalnya di jembatan ini. Putranya terjebur ke sungai dan?? pria itu menggeleng. ?Tau-tau saja tidak ada yang muncul dari dalam air. Dibawa dedemit!? wajahnya menegang.

Aku gontai mendengar perkataan pria itu. ?Dibawa dedemit,? aku mengulang perkataan pria itu. Aku menangis seperti bayi. Sementara itu kudengar beberapa dari mereka saling berbicara satu sama lain.
?1Ketemu karo almarhum Pak Karman, jarene. Bojone kelelep ning kali lan ora njedul podo karo kayak bocah Pak Karman,?
?2Digowo dedemi??
?3Yen dudu dedemit sopo mane,?
?4Dedemit jembatan iki mangan korban mane.?
***

Selama beberapa jam aku mencoba menelusuri liukan tubuh sungai, yang berberntuk tubuh ular raksasa, di desa itu, tetapi tetap saja aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Karina. Apakah Karina sudah meninggal atau belum, sampai sekarang pun aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah perkataan salah satu warga desa tersebut: ?Dibawa dedemit.?

Udara semakin dingin di malam ini, walaupun aku bisa merasakan kalau kehadiran Karina sudah tak ada lagi di sini. Sementara itu jarum panjang-pendek jam dindingku sudah menunjukkan pukul 1:30 dini hari.
?Dedemit,? gumamku getir dan tak ingin mempercayai apa yang telah terjadi. Dedemitkah yang kulihat saat Karina terjun untuk melakukan hempasan kedua? Berambut lebat, menyeramkan dengan bulu-bulu hitam kecoklatan di sekujur tubuhnya, dan memeluk tubuh Karina, istriku, serta membawanya ke dalam gaib? Aku pun sama sekali tak tahu karena awalnya aku sama sekali tak mempercayai keberadaan makhluk-makhluk halus seperti itu. Apalagi akan berhadapan langsung dan merenggut nyawa seseorang yang paling kusayangi di dunia ini.
Akhirnya tangisku pun pecah. ?Karina?? isakku.

1. ?Berjumpa dengan almarhum Pak Karman, katanya. Istrinya tenggelam ke dalam sungai dan tidak muncul lagi persis seperti bocahnya Pak Karman,?
2. ?Dibawa dedemit??
3. ?Kalau bukan dedemit siapa lagi,?
4. ?Dedemit jembatan ini memakan korban lagi.?
Jurang Mangu, 25 Juni 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *