Ke Mana Mayat-mayat Itu …

Bagus Sidi Pramudya
http://www.sinarharapan.co.id/

Salam terus menggali. Hari ini dirinya kebanjiran ?order?. Ada empat liang yang harus disediakannya untuk hari ini. Dan, semuanya harus selesai sebelum adzan dzuhur berkumandang. Satu pekerjaan yang tentu membutuhkan tenaga ekstra. Namun, hal itu bukan masalah. Pekerjaan ini bukan barang baru baginya.

Hampir sepuluh tahun Salam berkutat pada pekerjaan yang satu ini. Itu kalau dihitung tahun dirinya bekerja. Kalau dikaitkan dengan keluarga besarnya, mungkin berpuluh tahun sudah anak-beranak menekuni tugas mulia itu. Ya, sejak kakek buyutnya, keluarga besar Salam sudah berprofesi sebagai petugas penggali kubur. Satu pekerjaan yang mungkin tidak sembarang orang sanggup melakukannya.

Setelah kakek buyut dan kakeknya pensiun dari tugasnya, bapaknya pun melanjutkan. Dan, sesudah bapaknya semakin renta, tanggung jawab diserahkan padanya. Tak ada alasan untuk menolak tanggung jawab tersebut. Karena Salam memang tak memiliki keahlian lain untuk bekal hidup. Sekolahnya hanya sampai tingkat SD. Saudara-saudaranya yang lain pun tak mungkin memikul tanggung jawab itu, karena enam saudaranya adalah perempuan. Hanya dirinya seorang yang berkelamin laki-laki.

Kini, setelah dirinya memiliki istri dan empat anak, tugas itu dirasakan kian berat. Namun, Salam tak pernah mengeluh. Meski ia pun tahu penghasilannya sebagai penggali kubur jauh dari yang diharapkan. Honornya tak mungkin mencukupi biaya hidup sehari-hari. Biaya pendidikan anak, kesehatan dan tetek bengek lainnya dirasa semakin mencekik leher.

Padahal, tugasnya sebagai penggali kubur sama pentingnya dengan tugas seorang pejabat. Coba bayangkan, jika tidak ada orang yang mau bekerja sebagai tukang gali kubur, mau diletakkan di mana mayat-mayat itu. Bahkan, seorang presiden pun kelak membutuhkan orang-orang seperti Salam.

Namun, Salam tak pernah mengerti mengapa tugas yang menurutnya amat penting ini memiliki jumlah penghasilan yang jauh berbeda dari orang-orang kantoran. Tapi, Salam sendiri tak pernah mengeluh. Baginya, tugas tersebut adalah sebuah tanggung jawab. Dan, sebuah tanggung jawab haruslah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Matahari kian menerik. Dua liang kubur telah selesai. Tinggal dua lagi, maka tugas Salam rampung. Sesudah itu, Salam istirahat sebentar sambil menunggu jenazah datang. Dan biasanya, saat jenazah telah tiba dirinya kembali bertugas. Mengembalikan tanah yang telah digali serta menguruk mayat yang ditanam.

Tak jarang pihak keluarga yang berduka menyisipkan beberapa lembaran rupiah pada Salam, sebagai ungkapan rasa terima kasih tentunya. Walau hal tersebut tak selalu terjadi. Karena, sering pula pihak keluarga duka segera bergegas pergi tatkala prosesi penguburan telah selesai.

Tepat pukul 11.00 Salam telah menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Empat liang kubur telah tersedia. Prosesi penguburan biasanya dilaksanakan setelah dzuhur. Dan, begitu iring-iring jenazah datang, Salam akan berbagi tugas dengan anak buahnya untuk membantu penguburan jenazah. Demikian rutinitas kerja yang dijalaninya berhari-hari.

***
Hari dan tahun terus berganti. Kelahiran dan kematian datang dan pergi. Namun, perubahan tak pernah mewarnai kehidupan Salam, dan juga teman-teman seprofesinya. Sementara itu kebutuhan hidup semakin mengimpit. Harga bahan-bahan pokok terus membumbung.

Kondisi ini tentu amat berat dirasakan oleh Salam dan keluarga. Penghasilan Salam tak mungkin sanggup mengejar melambungnya harga-harga. Atau, hanya kerena pekerjaannya cuma penggali kubur, sekali lagi cuma penggali kubur, maka penghasilan yang diperolehnya pun tak jelas.

Padahal orang-orang sepeti Salam jelas sangat dibutuhkan oleh kita yang masih hidup. Tapi, dalam kenyataannya kita tak pernah mau tahu terhadap keberadaan Salam dan teman-teman seprofesinya itu. Bagi kita, pekerjaan menggali kubur adalah tugas sambil lalu yang tak penting maknanya.

Sama tak pentingnya bila harus memikirkan nasib mereka. Bahkan, tatkala saat ini Salam dan teman-temannya semakin resah menjalani kehidupan dan pusing memenuhi kebutuhan hidup, tak seorang pun sudi memikirkannya. Lebih-lebih mereka yang duduk di atas sana, bapak-bapak kita yang merasa menjadi pejabat. Kehidupan Salam tentu tak masuk kalkulasi mereka.

Keresahan mulai merasuki benak Salam. Meski begitu, tugasnya sebagai penggali kubur tak bisa ditinggalkan begitu saja. Karena memang, setiap hari pasti ada orang yang mati, dan harus dikuburkan. Seperti hari ini, misalnya. Ia kembali menerima pesanan. Menggali tiga liang kubur.

Di bawah sorotan matahari pagi, Salam dan rekannya mengerjakan penggalian. Tubuh-tubuh mereka berpeluh. Salam sedikit gelisah. Pikirannya tak menyatu pada pekerjaan. Ia ingat rumah. Anaknya yang bungsu tengah menderita sakit. Gejala tipes, demikian dokter Puskesmas mengdiagnosisnya kemarin. Oleh sebab itu, Ragil, nama putri bungsunya, harus mendapat perawatan intensif. Harus mondok di rumah sakit.

Salam mafhum. Ia tahu penyakit tipes memang berbahaya. Harus ada penyembuhan total. Dan untuk itu, tentu saja memerlukan biaya yang tidak sedikit. Persoalannya, dari mana ia bisa memperoleh uang untuk biaya pengobatan putrinya itu. Keresahan ini yang akhirnya menghantui Salam sepanjang hari. Pekerjaan menjadi tak karuan. Ia tak bisa berkonsentrasi. Berkali-kali cangkulnya hampir mencederai kaki rekannya.

Pikiran Salam terus melayang ke rumah.

?Bang….,? tegur istrinya kemarin malam. ?Abang harus mencari uang buat biaya pengobatan Ragil. Jangan sampai Abang menggali kuburan buat anak Abang sendiri,? sambung istrinya dengan suara diliputi kesedihan.

Salam tahu dan ia pun ingin anaknya sembuh. Tapi, ke mana dirinya harus mencari uang. Kebiasaannya hanya menggali kubur. Haruskah perkataan istrinya terbukti. Ia harus menggali kuburan untuk anaknya sendiri. Pusing, sungguh-sungguh dirinya pusing.

***
Keresahan Salam terus memuncak. Anak bungsunya tak kunjung sembuh. Semalam suhu badannya kembali panas. Salam tak berdaya. Ia tak tahu harus melakukan apa. Tetap di rumah menunggui anaknya, atau pergi bekerja. Tadi pagi memang ada kurir dari Dinas Pemakaman Umum datang ke rumahnya dan menyampaikan pesan, bahwa hari ini Salam harus menggali dua liang kubur.

Tapi, Salam bergeming. Ia memilih tinggal di rumah. Kondisi anak bungsunya sungguh merisaukan hatinya. Andaikan anaknya dipanggil Sang Khalik, Salam ingin berada di sisi putrinya.

Berkali-kali kurir datang ke rumah, meminta Salam menggali. Tapi berkali-kali pula Salam menolak. Baginya, kondisi anaknya menjadi lebih penting dibanding pekerjaannya.

Keprihatinannya itu mendapat simpati dari rekan-rekan sejawat. Sore menjelang malam, teman-temannya datang berkunjung. Mereka tunjukkan rasa simpati mereka dengan berkumpul di rumah Salam. Ada perasaan senasib ketika mereka bertemu dan berkumpul bersama. Dan, kebersamaan itu pun terus berlanjut. Apalagi mereka melihat kondisi karibnya itu betul-betul memprihatinkan.

Walhasil, untuk memberikan dukungan moral pada Salam dan keluarga, rekan-rekannya memutuskan untuk istirahat kerja. Mereka memilih berkumpul terus di rumah Salam. Sebab, tak ada bantuan lain yang sanggup mereka berikan selain rasa kebersamaan yang tulus. Pekerjaan untuk sementara waktu mereka lupakan.

Mogoknya Salam dan teman-teman dari aktivitas penggalian membawa dampak yang merisaukan. Mayat-mayat yang datang tak bisa segera ditanam. Memang, semula tidak terlalu merisaukan, karena mayat-mayat itu untuk sementara bisa dititipkan di rumah-rumah sakit. Atau disemayamkan di beberapa rumah duka. Namun, tatkala Salam dan rekan-rekan terus memilih berdiam di rumah persoalan pun meledak menjadi besar.

Rumah sakit dan rumah duka tak mampu lagi menampung mayat-mayat yang kian hari kian bertambah banyak. Mayat-mayat itu terus menumpuk. Kini tak lagi tersimpan di rumah-rumah sakit, namun diletakkan begitu saja di halaman-halaman rumah. Di bakar juga tak mungkin. Karena tak semua keyakinan membolehkan mayat dikremasi. Di samping itu, pihak krematorium pun kewalahan karena mayat yang berdatangan jumlahnya terus bertambah.

Aksi Salam dan rekan-rekan pun menjadi berita hangat di mana-mana, serta mendapat dukungan pula dari para penggali kubur di berbagai daerah. Untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap keprihatinan Salam, para penggali kubur itu melakukan aksi mogok dari aktivitas mereka.

Permasalahan pun menjadi berkembang. Tak hanya masyarakat umum yang terganggu dengan persoalan ini, tapi juga bapak-bapak pejabat ikut kena imbasnya. Pak Lurah, Pak Camat risau. Pak Bupati, Pak Wali Kota hingga Bapak Gubernur pun pusing jadinya. Bepak-bapak pejabat pun ngeh, bahwa ada satu pekerjaan yang kesannya sepele ternyata memiliki dampak yang besar bagi kehidupan. Rapat-rapat pembahasan segera digelar. Semua sibuk.

Sementara itu, kematian datang tak kenal waktu. Mayat-mayat menumpuk di berbagai tempat. Bau bangkai menebarkan aroma tak sedap. Orang-orang mulai belingsatan menghadapi kondisi yang tak mengenakkan itu. Kecemasan kini menghantui banyak orang. Dan mayat-mayat itu pun semakin menggunung, tersebar di berbagai wilayah Tanah Air. Menebar busuk dan menjadi ancaman nasional.

Komunitas Seni Tanah Depok, 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *