Ketika Buku Sastra Diseling Lagu Pop Bali

Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

Bagaimana jadinya jika acara peluncuran sejumlah buku sastra diseling dengan peluncuran kaset rekaman lagu? Yang jelas, tentu jadi menarik, segar, dan menghibur. Inilah yang terjadi pada acara “peluncuran bersama” sejumlah buku karya sastra yakni “Obituari bagi yang tak Mati” (10 Cerpen Terbaik Bali Post 2001) terbitan Bali Post, “Ning Brahman” (kumpulan puisi berbahasa Bali) karya Nyoman Tusthi Eddy terbitan Balai Bahasa Denpasar, dan “Manik” (kumpulan Puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Anak-Anak se-Bali 2001) terbitan Balai Bahasa Denpasar dan tabloid Lintang, serta kaset rekaman lagu-lagu pop Bali bertajuk “Bunga Setaman” produksi Graha Nadha yang merupakan album tunggal penyanyi Liana.

ACARA peluncuran buku dan kaset tersebut digelar di Wantilan Taman Budaya Denpasar pada Jumat (27/2) lalu, dalam suasana yang sederhana tapi khidmat dan menarik. Acara ini dihadiri berbagai kalangan, terutama kalangan musik dan sastra. Sebagaimana lazimnya acara peluncuran buah karya seni, acara malam itu selain diisi dengan apresiasi dan materi pengantar peluncuran, juga diisi dengan menu hiburan terutama yang terkait dengan materi yang diluncurkan, yakni persembahan lagu-lagu pop Bali dan pembacaan puisi serta hiburan lainnya.

Penyanyi Liana, yang kasetnya diluncurkan itu, menghibur penonton dengan membawakan dua buah lagu yang tergabung dalam album terbarunya, masing-masing berjudul “Bunga Setaman” dan “Galang Kangin”. Penampilan Liana juga didukung sekelompok bocah manis yang menjadi penari latar memerankan bunga, kumbang, kupu-kupu dan suasana di taman bunga, yang indah dan menghibur. Selain persembahan lagu dari Liana, juga ditampilkan pembacaan puisi oleh beberapa anak. Mereka membawakan puisi yang tergabung dalam buku “Manik”, yakni kumpulan puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Anak-anak (LCPA) se-Bali 2001. Juga pembacaan puisi berbahasa Bali dari buku “Ning Brahman”-nya Tusthi Eddy oleh Mandala Putra.

Acara ini sepertinya memang terkesan agak “aneh”. Pasalnya, tumben, acara sastra digabung dengan lagu pop Bali, yang keduanya biasanya punya wilayah dan penggemar yang berbeda. Tapi nyatanya dua jenis seni yang “berbeda” tersebut malam itu toh bisa digabung dalam satu waktu di tempat yang sama, dan keduanya — sastra dan lagu pop Bali — terlihat sama-sama bisa “saling mengisi”.

Bagi kalangan sastra, terutama yang terkait langsung dengan buku yang diluncurkan — puisi maupun cerpen, acara gabungan seperti ini barangkali memang kurang memuaskan. Tetapi mereka pun bisa memahami, bahwa ini adalah acara peluncuran karya sastra dan bukan panggung sastra. Dan bagi kalangan cerpenis yang karyanya masuk dalam buku kumpulan cerpen yang diluncurkan tersebut, misalnya, memang akan merasa lebih puas dan bangga jika dihadirkan malam itu. Malam itu memang hanya ada beberapa cerpenisnya yang nampak hadir yakni Ngurah Parsua dan Wayan Suanrta. Demikian pula anak-anak yang puisinya menjadi pemenang terbaik dan masuk dalam buku kumpulan puisi tersebut, toh cukup “dihadirkan” lewat karyanya saja.

Buku Sastra
Tiga buku sastra yang diluncurkan malam itu adalah sebuah kumpulan cerpen dan dua kumpulan puisi berbahasa Indonesia dan berbahasa Bali. Semuanya merupakan buku-buku terbitan terbaru dari Bali Post, Balai Bahasa Denpasar dan Tabloid Lintang.

Buku kumpulan cerpen bertajuk “Obituari bagi yang tak Mati” yang diterbitkan oleh Bali Post tahun 2002, memuat 10 buah cerpen yang merupakan cerpen-cerpen terbaik dalam “Lomba Cerpen Bali Post 2001”. Cerpen-cerpen ini, sebelum dibukukan, juga telah dimuat di Bali Post Minggu. Meski buku ini hanya memuat 10 cerpen, namun sebagaimana dijelaskan Alit S Rini, Redaktur Pelaksana Bali Post, dalam pengantar peluncuran buku tersebut, ternyata karya-karya di dalamnya cukup menghadirkan keragaman.

“Kita tak hanya dapat mengikuti tema tentang aspek kehidupan manusia Bali, tetapi juga problem batin manusia Minangkabau yang berkarakter perantau. Bukan hanya tentang cinta di sini, tetapi problematik yang dimunculkan oleh tradisi dan kepercayaan di masyarakat tradisional yang begitu kaku,” tulis Alit S Rini. Judul “Obituari bagi yang tak Mati” itu sendiri diangkat dari salah satu judul cerpen pemenang lomba karya Raudal Tanjung Banua.

Sementara buku kumpulan puisi berbahasa Bali yang bertajuk “Ning Brahman” terbitan Balai Bahasa Denpasar, 2002, adalah karya tunggal Nyoman Tusthi Eddy, salah seorang sastrawan senior Bali yang menulis dalam dua bahasa (Indonesia dan Bali). “Ning Brahman” adalah kumpulan puisi berbahasa Bali yang kedua dari Tusthi Eddy setelah “Rerasan Sajeroning Desa” (2000) terbitan Balai Bahasa Denpasar dan Sanggar Buratwangi.

Buku ketiga yang diluncurkan adalah kumpulan puisi bersama karya anak-anak Bali yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Denpasar bekerjasama dengan tabloid Lintang (Bali Post). Buku berjudul “Manik” ini memuat 28 buah puisi pemenang “Lomba Cipta Puisi Anak-anak (LCPA) se-Bali 2001” yang diadakan Balai Bahasa Denpasar dan Lintang. Puisi karya anak-anak Bali yang tergabung dalam buku tersebut disajikan dalam dua bahasa — Indonesia dan Bali, dibagi atas dua kelompok — pemenang dan nominasi.

Menurut Kepala Balai Bahasa Denpasar Drs. Ida Bagus Darmasuta dan koordinator tabloid Lintang Mas Ruscitadewi, penerbitan buku “Manik” ini merupakan upaya menindaklanjuti kegiatan LCPA se-Bali 2001 tersebut, selain juga sebagai upaya pendokumentasian dan penghargaan terhadap kreativitas anak dalam mengembangkan daya imajinasinya.

Sedang Digandrungi
Peluncuran dan kehadiran buku-buku sastra tersebut memang cukup menarik dan apresiatif. Tetapi, harus diakui, bahwa perhatian sebagian besar orang yang hadir agaknya lebih banyak tertuju pada lagu pop Bali, yakni peluncuran kaset album “Bunga Setaman” Liana dan hal-hal yang terkait dengannya. Sambutan terhadap peluncuran kaset ini dan hal-hal yang terkait dengan lagu-lagu pop Bali memang nampak lebih suntuk. Maklumlah, saat ini memang sedang getol-getolnya masyarakat Bali menggandrungi lagu pop Bali.

Bahkan, saking asyiknya larut dalam kenangan lagu-lagu (pop) Bali, salah seorang sesepuh dan pengamat lagu pop Bali, IGB Ngurah Arjana — ketika ditodong untuk sedikit memberi komentar terhadap lagu-lagu pop Bali sekarang dan terkait dengan kehadiran penyanyi Liana — justru malah ngelantur “berpidato” malam itu. Ia banyak bernostalgia tentang lagu-lagu (pop) Bali masa lalu dan ini menajdi “hiburan” dan “tontonan” tersendiri malam itu.

Tetapi, kehadiran penyanyi Liana — mantan penyanyi anak-anak yang sukses dengan album “Bianglala” yang sekarang sudah menginjak usia remaja — di blantika musik pop Bali kini memang memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut Gus Martin, wartawan yang juga pengamat musik, kehadiran Liana di kancah lagu pop Bali sungguh mengejutkan. Liana memiliki talenta, kharisma, keajaiban dan bakat alam luar biasa yang sungguh mengagumkan. “Lagu-lagu anak yang bagi orang lain sulit untuk dinyanyikan, tetapi kalau di tangan Liana tak ada yang sulit. Bahkan lagu-lagu yang dalam hitungan wajar tak mungkin untuk bisa dinyanyikan anak seukuran dia, bagi Liana tak ada yang tak mungkin, semuanya dilalap dan disapu bersih oleh Liana,” ujar Gus Martin yang sekaligus memberi pengantar pada peluncuran album Liana tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *