Meditasi Membangun Sikap Hidup Positif

Ketut Wiana
http://www.balipost.co.id/

MEDITASI dalam wujud konsentrasi sesungguhnya suatu upaya untuk membangun sikap hidup yang positif. Artinya, meditasi itu akan memberikan kita kekuatan untuk mengendalikan hidup ini ke arah yang baik dan benar. Dalam Bhagawad Gita II.15 ada dinyatakan sbb: Samaduhkhasukham dhiram, so’mrtatvaaya kalpate. Seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan duka. Mereka yang demikian itulah yang akan mencapai kehidupan yang kekal.

Konsentrasi pada kesucian dan kebenaran itu adalah upaya untuk membangun kekuatan diri agar mampu menghadapi keadaan yang suka dan duka. Suka dan duka itu adalah suatu kenyataan hidup yang akan selalu hadir dalam kehidupan manusia selama di dunia ini. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami suka dan duka dalam hidupnya di dunia ini.

Hidup akan menderita kalau diombang-ambingkan oleh keadaan suka dan duka. Orang akan merasakan hidup bahagia kalau dapat mengatasi suka dan duka atau menang melawan suka dan duka (Sukhaduhkam jayate). Meditasi yang diawali oleh konsentrasi pada kesucian dan kebenaran itu akan membuat hidup ini menjadi kuat menghadapi hiruk-pikuknya dunia modern yang penuh dengan godaan dalam wujud AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan) dalam hidupnya ini.

Keberhasilan memusatkan hidup pada kesucian dan kebenaran itulah tujuan meditasi. Pemusatan dinamika hidup pada kesucian dan kebenaran itulah yang disebut dengan Dhiira, yang artinya teguh dalam Bhagawad Gita. Teguh itu adalah tidak mudah tergoyahkan oleh gelombang suka dan dukanya kehidupan ini. Inilah sikap hidup yang positif, sehingga suka dan duka diterima seimbang sebagai bagian dari proses kehidupan.

Suka itu tidak sama dengan bahagia. Suka itu sesungguhnya karena terpenuhinya tuntutan dinamika nafsu. Sedangkan duka kalau tuntutan nafsu tidak terpenuhi. Dengan meditasi menguatkan kesadaran budhi dan pikiran sehingga nafsu indria dapat terkuasai.

Meditasi dapat dilakukan secara sendiri-sendiri (Ekanta) dan ada secara bersama-sama (Samkirtanam). Meditasi dalam praktiknya memiliki banyak metode. Ada metode Omkara Dhyana dan ada juga Dhyana Jyotir. Ada meditasi menggunakan Pranawa Mantra atau Omkara dengan dilengkapi mantra-mantra lainnya sebagai media pemusatan pikiran. Mantra itu sesuatu yang suci sebagai sabda Tuhan. Kalau pikiran dapat dipusatkan pada Pranawa Mantra dengan mantra pelengkapnya maka kesucian mantra sabda Tuhan itulah yang akan berfungsi menyingkirkan kekotoran diri. Ada juga yang menggunakan Dhyana Jyotir atau sinar. Sinar sebagai simbol kesucian Tuhan sebagai media untuk bermeditasi. Kalau hal ini dilakukan secara teratur dengan cara yang tepat maka kesadaran budhi dan wiweka atau pikiran akan makin kuat mengendalikan binalnya gejolak hawa nafsu.

Omkara maupun Jyotir itu saat meditasi diarahkan pada kesucian Tuhan dan kekuatan Tri Loka (Bhur, Bhuwah dan Swah) untuk dipusatkan pada seluruh anggota indria dan terutama juga pada rajendria. Caranya, di awal dengan melakukan Pranayama. Kemudian fokus pikiran dipusatkan ke langit biru luhuring Akasa. Dari langit biru itu dibayangkan sosok Aksara Omkara atau sinar suci Tuhan begerak pelan masuk ke dalam diri melalui Siwa Dwara atau ubun-ubun terus menetap beberapa saat di Padma Hrdaya (di hulu hati).

Dari Padma Hrdaya difokuskan menuju Bhur Loka terus difokuskan ke arah Bhuwah Loka terus menuju Swah Loka. Dari Swa Loka inilah diarahkan pada pikiran sebagai rajanya indria. Dari otak sebagai penyucian pikiran terus difokuskan ke bagian-bagian indria yang lainnya seperti hidung, mata, lidah, kulit, telinga terus ke tangan, perut ke arah upastendria, ke pelepasan dan terakhir menuju kaki.

Segala kokotoran itu keluar lewat telapak kaki. Konsentrasi tersebut di ulang-ulang kalau mungkin satu sesion sebanyak 108 kali. Baik sekali menggunakan Sawitri atau Gayatri Mantra. Ini adalah salah satu metode meditasi dari banyak metode yang ada. Satu sesion dengan 108 kali putaran itu umumnya menghabiskan waktu sekitar 25 menit. Pikiran dan sepuluh indria akan tersucikan tahap demi tahap.

Dari sinilah kesehatan dan ketenangan akan didapatkan secara bertahap. Penulis sendiri sejak lahir selalu sakit-sakitan. Dengan metode ini sejak 1985, saya merasa kesehatan dan rasa tenang makin baik tahap demi tahap. Yang sulit dalam meditasi itu adalah masalah disiplin. Kalau hal itu dapat diatasi, saya yakin keberhasilan akan makin dirasakan.

Meditasi sosial juga dapat dilihat dari gerak umat melakukan upacara yadnya ngayah saat ada upacara atau hari raya keagamaan. Meditasi sosial ini akan sangat bermanfaat apabila umat diarahkan bahwa saat ngayah itu benar-benar berdisiplin secara lahir batin. Segela potensi diri diarahkan untuk beryadnya untuk melepaskan sikap egois. Kalau hal itu dapat dilakukan, hubungan sosial pun akan makin meningkat kualitasnya. Hubungan sosial berkualitas akan dapat membangun lingkungan sosial sebagai wadah kehidupan yang baik.

* Ketut Wiana, mantan Sekjen PHDI Pusat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *