Monolog Ayam Jago

Purnawan Kristanto
http://www.sinarharapan.co.id/

Hari ini rasanya aneh sekali. Entah mengapa, rasanya malam lebih cepat menjelang daripada biasanya. Matahari memang sudah bergulir ke Barat, tapi masih tinggi. Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Karena mengira hari sudah malam, betina-betina mulai masuk ke petarangannya. Anak-anak menciap-ciap mencari kehangatan di balik ketiak induknya. Mereka bersiap mulai tidur. Pandangan mataku juga mulai meremang. Walaupun sebenarnya belum merasa mengantuk, aku pun mulai bertengger di atas ranting pohon kesukaanku. Dengan perasaan aneh, aku juga mencoba untuk tidur.

Sambil memejamkan mata, aku mengingat kembali kejadian hari ini. Siang tadi, penduduk kota mengerumuni pinggir jalan di kota ini. Mereka sedang menunggu dan ingin menonton sebuah arak-arakan. Karena penasaran, aku menerobos di sela-sela kaki manusia untuk melihat apa yang terjadi. Tapi celaka, ketika aku melongokkan kepalaku, ada barisan tentara yang lewat. Satu tentara berusaha aku dengan garang. Aku berusaha berkelit, tapi tak urung, pantatku terkena juga. Sakitnya masih terasa sampai kini. Rupanya pasukan tentara itu sedang menyeret tiga orang pesakitan. Wajah mereka terlihat sangat kotor. Tubuh mereka penuh dengan luka. Darah mengering bercampur dengan debu jalan. Ketiganya berjalan terhuyung-huyung. Setiap kali terjatuh, tentara yang mengawal di belakangnya segera melecutkan cambuknya. Penonton bersorak. Seolah dendam mereka pada penjahat itu terbalas melalui tangan tentara itu.

Orang-orang sekitar mengatakan dua penjahat yang diarak di jalanan kota itu memang orang yang sangat kejam. Kejahatan kedua laki-laki ini sudah terkenal dan sangat merisaukaan warga kota. Sedangkan penjahat yang satunya lagi digelandang ke jalanan karena dituduh telah melawan pemerintah. Laki-laki ini juga dituduh telah menghina para pemimpin agama. Dia menyebut para pemimpin agama sebagai orang yang gila hormat, munafik dan buta. Laki-laki itu bahkan mengatai mereka sebagai ?keturunan ular beludak!? Pantas saja, aku melihat beberapa pemimpin agama yang membuntuti arak-arakan tadi. Meski penasaran, aku putuskan tidak mengikuti arak-arakan itu. Aku harus cari makan.

Tiba-tiba aku merasa ranting pohon, tempat aku bertengger, bergoyang-goyang. Padahal tidak ada angin yang berembus. Lama-lama goyangannya semakin hebat. Seluruh batang pohon bahkan ikut bergoncang. Aku mengepak-kepak sayapku untuk menjaga keseimbangan. Ups, aku nyaris jatuh. Apa yang terjadi? Sontak, suasana menjadi gaduh. Di dalam keremangan, samar-samar aku melihat manusia yang berlarian dengan panik. ?Gempa bumi….gempa bumi? teriak mereka. Pohon-pohon besar tumbang, tembok-tembok merekah, pilar-pilar berguguran, tanah merekah. Seluruh penghuni kota berusaha menyelamatkan diri.

Kegaduhan belum reda, tiba-tiba dari arah pintu gerbang kota terdengar jeritan ketakutan. ?Tolong-tolong….. ada orang mati yang hidup lagi.? Gempa bumi itu telah membelah bukit di pinggiran kota dan membongkar makam-makam yang ada di sana. Mayat-mayat yang ada di dalamnya keluar dari kuburnya dan berjalan-jalan di kota. Geger seluruh isi kota!

***
Tanda-tanda kegemparan di kota ini, sebenarnya sudah mulai terlihat sejak kemarin sore. Seperti biasa, begitu matahari terbenam aku bersiap untuk tidur. Aku tidak boleh tidur terlalu larut supaya besok tidak bangun kesiangan. Aku mengemban tugas yang mulia. Kalau besok aku bangun kesiangan, banyak orang yang akan mengomel-ngomel. Manusia memang aneh, kalau aku menjalankan tugasku dengan baik, mereka berlalu begitu saja. Tak sepotong ucapan terima kasih keluar dari mulut mereka. Aku seolah dianggap angin lalu saja. Tapi begitu aku melalaikan tugasku, mereka pasti tergesa-gesa berangkat kerja sambil bersungut-sungut. Bahkan kalau lagi apes, ada yang menyambit aku dengan batu kerikil. Meski begitu, toh aku tetap setia dengan tugasku ini: Setiap hari aku harus membangunkan manusia sepagi mungkin. Inilah satu-satunya hal yang bisa kubanggakan dalam hidupku. Inilah yang memberi arti pada hidupku.

Aku mulai memejamkan mataku, ketika tiba-tiba aku mendengar ribut-ribut dari arah rumah Imam Besar. Dari atas ranting pohon ini aku melihat sekelompok orang yang menggelandang seorang laki-laki ke halaman rumah Imam Besar itu. Mereka menggedor-gedor pintu rumah orang yang terhormat itu. Saat tuan rumah membuka pintu, mereka segera mendorong tubuh laki-laki itu masuk ke dalam rumah dengan kasar. Orang-orang yang mengiring di belakangnya turut masuk ke rumah besar itu. Beberapa orang memilih menunggu di luar.

Dalam sekejap, rumah itu menjadi riuh. Suara-suara yang keluar dari mulut-mulut manusia itu berdengung, seperti lebah yang berang karena sarangnya diusik. Para pelayan mulai menyalakan lampu rumah. Orang-orang terlihat menunduk takzim pada pemilik rumah. Tapi laki-laki itu, hanya dia sendiri yang berani menatap langsung wajah tuan rumah itu. Rasanya aku pernah melihat laki-laki itu. Sayangnya aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Selain jarak yang terlalu jauh, setiap malam begini mataku menjadi rabun. Yang kulihat hanyalah bayang-bayang orang-orang yang menghina laki-laki itu. Mereka meludahi mukanya. Ada juga yang menutup wajahnya dengan kain, lalu meninjunya. Mereka tertawa-tawa puas. Seolah-olah mereka ingin melampiaskan dendam pada laki-laki itu. Entah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu sehingga harus dikeroyok dan dihina sekian banyak orang. Anehnya, laki-laki itu diam saja. Dia tidak melawan. Padahal, oh….ya aku ingat! Ya laki-laki itu punya kekuatan yang dahsyat. Aku pernah melihat dia mengusir setan. Waktu itu aku sedang mencari makan di Gadara. Ketika baru melihat wajahnya saja, setan-setan sudah gemetaran. Lalu laki-laki itu hanya memberi perintah sekali saja, maka ribuan setan itu lari terkencing-kencing seperti anjing yang kena gebuk.

Mengapa laki-laki itu tidak menggunakan kekuatannya itu untuk melarikan diri? Anehnya lagi, meskipun dihina seperti itu, dia malah melihat para penganiayanya dengan tatapan mata yang teduh. Seolah dia justru mengasihani orang yang menghinanya itu.

Aku berpaling melihat tingkah manusia yang ada di halaman rumah. Terlihat ada sekelompok tentara yang sedang menghangat tubuhnya di dekat perapian. Udara malam itu memang terasa lebih dingin dari biasanya. Rasanya hampir menusuk tulang. Setiap kali manusia-manusia di tempat itu berbicara, ada kabut putih keluar dari mulutnya. Seorang tentara melemparkan sebatang balok kayu ke dalam perapian. Api mulai membesar. Semakin banyak manusia yang mengerumuni perapian untuk mencari kehangatan. Mereka hanya membisu, seolah terbawa oleh suasana malam yang memang mencekam.

Tak lama kemudian, ada seorang laki-laki menerobos kerumunan perapian itu. Kulitnya legam karena terbakar sinar matahari. Otot-otot lengannya menonjol, menandakan dia seorang pekerja keras. Gurat-gurat di wajahnya menunjukkan laki-laki ini punya semangat yang menyala-nyala. Namun dia terlihat sangat murung. Dia menjulurkan kedua tangannya di atas perapian, sambil sesekali menempelkan di daun telinganya yang terasa dingin. Dengan sembunyi-sembunyi, dia sesekali melirik ke arah rumah Imam Besar. Rupanya dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah. Namun entah mengapa dia tidak masuk ke dalam rumah. Mungkin dia merasa sungkan atau bisa juga karena takut.

Malam telah merayap naik. Sebentar lagi fajar merekah. Aku mencoba memejamkan mataku lagi, tapi rasa kantuk itu telah hilang sama sekali. Masih banyak manusia yang berkerumun rumah itu. Di dalam rumah besar, para pembesar agama masih sibuk menyidang Laki-laki itu. Mereka terlihat suntuk dan bingung karena sedari tadi laki-laki itu hanya mendiam saja. Segala cara sudah dipakai untuk memprovokasi laki-laki itu. Tapi dia tidak terpancing.

Sementara itu, di halaman ada seorang wanita pelayan yang ikut bergabung untuk berdiang. Mereka tetap saja saling membisu. Sesekali mereka melemparkan senyum basa-basi. Tapi sesudah itu mereka tenggelam di dalam pikiran masing-masing.

Tiba-tiba, wanita itu mengamat-mati wajah laki-laki berkulit legam yang terlihat berkilat-kilat tertimpa cahaya lidah-lidah api. Sadar karena sedang diperhatikan, laki-laki legam itu berusaha menyembunyikan wajahnya, dengan sedikit menjauh. Tapi terlambat. ?Hey, aku mengenal orang ini. Bukankah dia pernah bersama-sama dengan laki-laki yang ada di dalam rumah itu?? kata wanita itu. Laki-laki legam itu tergagap-gagap. Tentara yang ada di dekatnya ikut menatap tajam wajahnya. Dia mengamati dengan teliti. Laki-laki legam itu semakin gugup. ?Kamu ini ngomong apa…aku…aku tidak mengenal laki-laki itu,? jawabnya terbata-bata. Tubuhnya bergetar. Laki-laki legam itu kemudian menyingkir ke beranda rumah. Dia terlihat gelisah. Tatapan matanya nanar dan waspada.

Ah, sebentar lagi fajar. Aku harus menjalankan tugasku. Tetapi buat apa? Toh sampai sekarang manusia-manusia itu malah belum tidur sama sekali. Ah, tapi tugas , tetaplah tugas. Aku harus menjalankan bagianku. ?Kukuruyuuuuuuk……!? Tugas pertamaku sudah selesai.

Hmmm…..manusia-manusia itu rupanya tidak peduli. Mereka masih saja berkasak-kusuk. Aku lebih tertarik mengamati laki-laki legam yang sedang duduk terpekur di beranda rumah. Sekarang dia terlihat lelah dan kuyu. Sepertinya dia baru saja melewati satu hari yang cukup berat. Setiap kali ada orang yang melihat ke arah dirinya, dia berusaha menghindar. Ada seorang pelayan yang lewat di dekatnya. Dia berpaling sejenak dan mengamati wajah laki-laki legam itu. ?Iya, nih….orang ini memang pernah bersama dengan laki-laki di dalam rumah itu,? kata pelayan itu dengan yakin. Laki-laki legam itu terkejut. Spontan dia berkata dengan lantang, ?A…aku….aku tidak mengenal laki-laki itu. ? Tapi suaranya ini justru menarik perhatian orang di sekitarnya. Mereka lalu mengerumuni laki-laki legam itu dan ikut-ikutan mengamati-amati wajahnya. Suasananya tambah ribut. Wah…aku harus mengingatkan mereka kalau hari sudah menjelang pagi. ?Kukuruyuuuuuuk!? Aku berkokok lagi, tetapi suaraku tenggelam oleh gumaman orang yang menerumuni laki-laki itu.

?Iya benar…laki-laki ini dulunya nelayan, terus menjadi pengikut laki-laki itu?? celetuk seseorang. ?Tidak salah lagi, dia pula yang menebas telinga Malthus hingga putus dengan pedangnya,? kata orang yang lain. ?Dia juga yang pernah berjalan di atas air. Lalu tenggelam dan ditolong Laki-laki di dalam rumah itu itu,? kata yang lain. ?Tidak salah lagi. Aku juga pernah melihat perahu orang ini hampir tenggelam karena kebanyakan menangkap ikan, setelah mengikuti perintah laki-laki itu.? ?Dari cara ngomongnya saja kelihatan kok. Dia memakai bahasa seperti yang digunakan laki-laki itu. Orang ini memang tangan kanan laki-laki itu. Dia sering bersama-sama dengan laki-laki di dalam rumah itu? Mendapat tuduhan yang bertubi-tubi itu, lidah laki-laki legam seperti kelu. Para tentara yang berjaga mulai tertarik pada ribut-ribut itu dan mendekati kerumunan. Laki-laki legam itu semakin panik. ?Berani sumpah, deh…aku tidak mengenal laki-laki itu,?teriaknya dengan suara tinggi. Kerumunan itu terkesima sejenak. Hening beberapa saat. Mereka lalu membubarkan diri satu per satu, meninggalkan laki-laki legam itu termangu. Dari dalam rumah, aku melihat laki-laki yang sedang disidang berpaling kepada laki-laki legam itu dengan sorot mata kecewa. Sepertinya laki-laki di dalam rumah itu justru merasakan sakit, saat mendengar teriakan dari halaman rumah itu.

Di halaman, laki-laki itu terpekur sambil menutupi wajahnya. Sesekali dia menebah-nebah dadanya. Seolah ingin menyingkirkan penyesalan yang mengganjal di dalam dadanya. ?Kukuruyuk!? Aku berkokok pendek. Entah mengapa, perasaanku ikut larut dengan kesedihan laki-laki legam itu. Laki-laki legam itu tersentak. Dia lalu berlari melewati pintu gerbang dan berbelok menulusuri lorong-lorong kota yang masih sunyi. Sayup-sayup kudengar laki-laki itu menangis pilu. Fajar merekah di langit Timur. Warnanya merah darah.

KA Jayabaya Selatan, 7 April 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *