Pameran Seni Rupa T.May ?Stranger in My Pillow?

Inu Wicaksana
http://kesehatan.kompasiana.com/

T.May adalah seorang pelukis wanita, lulusan sekolah tinggi senirupa. Ia adalah istri seniman pantomin kaliber nasional yang kebetulan adik kelas saya di SD Taman Siswa. Saya bersahabat dengan pasangan ini sejak puluhan tahun yang lalu. Pada tahun 2000 T.May mengalami gangguan jiwa berat sehingga terpaksa saya rawat di RSJ Magelang, selama 3 bulan mondok. Sesudah itu ia berobat jalan dengan teratur. Ia terus berkarya dengan gigih, melukis obyek-obyek kesukaannya. Lukisan-lukisannya pernah saya ikutkan dalam Lomba Pameran Seni Rupa antar RSJ, bertema ?Not Just an Imagination? dan memperoleh penghargaan. Lukisan-lukisannya langsung dibeli kolektor dengan harga tinggi.

T.May sudah tiga kali pameran tunggal. Pamerannya kali ini berjudul ?Sranger in My Pillow?, di Sangkring Space, Nitiprayan Jogyakarta. Saya menulis untuk buku katalognya, dan untuk harian-harian yang terbit di Jogyakarta. T.May tidak keberatan berita pamerannya saya muat di Kompasiana.com. Justru ia ingin menunjukkan, bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa beratpun, bila mau kontrol secara teratur, bisa berkarya lagi, bersaing dengan mereka yang mengatakan dirinya waras. Inilah perjuangan seorang penyandang gangguan jiwa.

***

?Stranger in my pillow? adalah judul tema pameran lukisan yang diungkapkan sendiri oleh pelukisnya dengan mantap, Treeda Mayrayanti (Treeda May). Tamu apakah itu? ?Sebuah pertemuan yang dahsyat!? kata T.May. Ego yang mengembang mengalahkan segalanya, katanya lagi. Menarik memang, menelusuri lekuk liku pikiran dan ide-ide pelukis wanita yang pernah mengalami problem mental-emosional yang membutuhkan perawatan khusus ini.

? Stranger? adalah ?tamu asing? macam Stranger in the Night nya Frank Sinatra. Dalam hal ini adalah ?ide yang datang tiba-tiba?, yang bertemu dengan ?pillow?yang berarti kenyamanan atau kenikmatan. Seperti orang tertidur pulas diatas bantal yang empuk. Ide itu selalu datang dan direspon dengan ?gedandapan? atau ?gemlayapan? yang disebut T.May dengan ?gas-gasan?. Seperti orang naik sepeda motor dengan ?ngegas? yang bisa kencang sekencang-kencangnya atau melambat. Tapi bisa pula berarti ?rakus?, seperti orang makan yang ingin melahap segalanya. Mungkin seperti itulah proses mental T.May dalam menemukan ide dan melukis.

T.May mengatakan saat-saat akan berkarya, Egonya tiba-tiba membesar, membengkak, mengalahkan segala-galanya di lingkungan alam sekitarnya. Dalam pengertian umum hal ini biasa saja. Suatu hal yang sering dialami para seniman pada saat mencipta. Tapi dalam pandangan medis-psikiatri, terutama karena dirasa T.May yang sering mengalami konflik mental, perasaan Ego mengembang ini adalah ?waham? atau ?delusi?, suatu gejala mental patologis yang bisa diobati dengan obat-obat psifofarmasi anti-waham. Tapi pada perupa macam T.May haruskah hal ini diobati? Bagaimana bila, dalam batas tertentu, pikiran grandiositas (kebesaran) itu tidak usah diobati tapi dibiarkan tertekspresikan dalam suatu karya seni yang bisa dilihat individu sendiri?

Dengan melihat hasil ekspresi atau proyeksi keluar dari ide-ide dalam pikirannya, sang seniman bisa melihat dan memahami dirinya sendiri, mengambil jarak, dan kemudian mengendalikan pikirannya sendiri supaya tetap serasi dengan lungkungannya. Inilah justru obat yang terbaik. Dan ada manfaatnya pula.

Ide-ide gas-gasan dalam balutan Ego yang mengembang, alangkah indahnya bila dituangkan dalam suatu karya senirupa yang didukung kemampuan teknis tinggi. Jadilah karya-karya yang ?ekspresif-surealis?, atau malah ?hiperrealis? yang dalam bahasa T.May, ?abstrak-puitis?. Lukisan T.May beraliran ?realisme-naturalis?. Tapi dibalik bentuk-bentuk realis yang diciptakannya selalu tersirat makna lain yang tersembungi. Makna yang jauh melampaui batas realis, yang tinggi tersamar, atau mendalam tersembunyi sedalam konflik batin dan pikirannya. Suatu keresahan terhadap lingkungan sosial, kadang kegembiraan, kesedihan, frustasi, kegetiran, kesepian, ngelangut, kadang kehampaan, tapi kadang pula sepercik harapan yang indah dan penuh. Ekspresi wajah dan gerak tubuh subyek-subyek lukisan T.May menanujukkan hal itu. Dan satu sama lain tak pernah sama. Keceriaan dan kekosongan yang dingin silih berganti dalam sapuan kuwas pada masing-masing lukisannya. .Sedih, duka, gembira, tangis dan tawa sesuai alam perasaan T.May.

?Mengapa banyak subyek wanita dalam lukisanmu, Treeda?, apakah kau anggap wanita lebih berperan dalam kehidupan?? tanya saya.

?Entahlah. Ide-ide untuk menggambar wanita muncul spontan dan saya melukiskannya dengan ?gas-gasan??, jawab T.May, ?Subyek wanita itu saya lukis sedang sendirian , atau dengan sekelompok orang pada suatu pesta dengan tarian tradisional. Atau dengan keluarga. Saya melukis laki-laki juga. Tapi gambar laki-laki dengan karakter mendua. Priya dan wanita.. Akibatnya seperti Leonardi Da Vinci?. Entahlah apa yang dimaksudkannya ?seperti Leonardo Da Vinci?. Mungkin seperti Monalisa. Dengan senyumnya yang sukar ditebak. Penuh makna tersembunyi yang menjadi misteri abadi dalam jagad seni lukis dunia. Ego T.May melambung setaraf itu.

Banyak teman-teman seniman yang ingin melihat dan memiliki karya seni lukis T.May saat-saat pikirannya sedang kacau balau, kalut, idenya melambung kesana-kemari diikuti pembicaraan yang tak terarah. Sebuah lukisan yang diciptakannya pada saat seperti itu, yaitu sepulangnya dari perawatan khusus di Magelang, menampilkan gambar seorang wanita dengan rambut terurai, sedang menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya yang bertumpu pada sebuah radio transistor pada ambang sebuah jendela tinggi di rumah sakit kuno peninggalan Belanda di Magelang. Inilah lukisan di saat gejolak mental-emosionalnya kalang kabut. Antara sangat gembira dan bangga dengan sedih, putus asa, dan tertekan yang amat mendalam. T.May sangat ingin menghadiahkan lukisan ini pada saya, sebagai dokternya. Mungkin seperti Van Gogh terhadap dokter pribadinya. Tapi saya menolak dengan halus. Lukisan itu bila dilelang pasti akan sangat tinggi harganya. Harga itu bisa digunakannya untuk hidup dan membeli perlengkapan melukis yang tinggi pula harganya. Akhirnya lukisan itu dibeli tinggi oleh teman kami, Butet Kertarejasa.

Rakyat kecil sedang berpesta, pria dan wanita berjoged, tayuban, ledhek-ledhek berdandan dan menari, muncul dalam lukisan-lukisan T.May. Riang gembira dalam gerak tubuh dan ekspresi wajah. Mungkinkah ini suatu mekanisme ?pertahanan diri? T.May terhadap konflik mentalnya yang lagi dilanda frustasi, atau kalang kabut dengan dorongan-dorongan insting yang menekan? Tapi yang jelas, ini menunjukkan kecintaan dan kedekatan T.May terhadap kehidupan yang sederhana tapi gembira dari rakyat kecil dalam nuansa tradisional. Sekaligus cemoohnya terhadap dunia ?glamour? orang-orang kaya dari masyarakat yang dikatakan ?modern? tapi sakit.

Untuk sebuah karya seni yang menumental, selalu dibutuhkan stres dan kefrustasian yang besar pula, kata Rendra. Mungkin ini berlaku pula buat T.May.

*) Psikiater (dokter spesialis jiwa) lulusan Bag.Kedokteran Jiwa FK UGM, sekarang bekerja di RSJ Magelang, selain di RS Panti Rapih Jogyakarta. Sewaktu masih dokter umum bekerja di Puskesmas Viqueque Timor Timur. Selain psikiatri, berminat dan pemerhati budaya, psikososial, filsafat dan seni. Kegemaran melukis, memotret (seni foto), membaca buku filsafat, budaya, antropologi, dan sastra. Menulis banyak artikel di bidang kesehatan jiwa, juga beberapa cerpen, puisi dan esay seni rupa dan sastra. Satu buku saya adalah “Mereka Bilsang Aju Sakit Jiwa”. Blog saya : inukeswa.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *