Pamuk Sang Politikus

Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

Dia berkutat di meja tulis selama 10 jam sehari untuk mengarang.
Pada akhirnya Orhan Pamuk adalah politikus, atau “sarjana politis” sebagaimana diistilahkan Margaret Atwood.

Pada mulanya lelaki kelahiran Istanbul, Turki, pada 7 Juni 1952 itu dipaksa belajar arsitektur di Universitas Teknik Istanbul karena keluarganya ingin dia menjadi insinyur atau arsitek.

Pamuk membangkang dan keluar dari universitas itu setelah kuliah tiga tahun. Dia lantas masuk Institut Jurnalisme di Universitas Istanbul dan meraih diploma pada 1976. Dia sempat mengenyam pendidikan di Universitas Columbia dan Universitas Iowa di Amerika Serikat.

Belakangan Pamuk mengakui bahwa dia kuliah jurnalistik bukan untuk jadi jurnalis tapi menunda wajib militer. Dia mengingat bahwa dia cuma jadi “serdadu ala kadarnya” selama empat bulan.

Pamuk memutuskan jadi pengarang pada usia 23 tahun, jalan yang mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Sastra pada Oktober 2006. Dia juga menerima seabrek penghargaan sastra lain, termasuk Hadiah Sastra Dublin IMPAC Internasional pada 2003 senilai US$127 ribu atau sekitar Rp 1 miliar.

Ketika ditanya apakah hadiah dari IMPAC itu berdampak pada karya dan hidupnya, Pamuk menepisnya. “Tak ada yang berubah dalam hidupku sejak aku berkarya,” katanya. “Aku habiskan 30 tahun untuk menulis fiksi. Untuk 10 tahun pertama, aku khawatir soal uang dan tak ada yang bertanya bagaimana aku mengumpulkan rupiah. Sepuluh tahun kedua aku pakai uangku dan tak ada yang bertanya soal itu. Dan, aku telah habiskan 10 tahun terakhir dengan setiap orang berharap akan mendengar bagaimana aku memakai uang itu, yang tentu tak akan aku lakukan.”

Dengan seabrek penghargaan itu, Pamuk telah membuktikan kepiawaiannya dalam mengarang fiksi. Tapi, pada akhirnya Pamuk adalah politikus, dengan ketertarikan besar pada dunia sosial dan politik Turki pada masanya.

“Ketika aku mulai menulis buku pada pertengahan tujuh puluhan, aku ingin menjadi seperti Proust atau Virginia Woolf,” kata Pamuk dalam wawancaranya dengan Eleanor Wachtel untuk jurnal Descant pada 2003. “Aku tidak politis. Pada kenyataannya, generasiku mengkritikku karena aku dari kelas menengah atas dan apolitis.”

Tapi, setelah dia menjadi populer, orang-orang mulai bertanya padanya. “Gagasanku liberal, aku ada untuk demokrasi, masalah Kurdi mengganggu, maka aku ingin melakukan sesuatu, menandatangani petisi. Makin jauh aku menemukan diriku masuk ke dunia politik,” katanya.

Semua dia memberi komentar-komentar politik dan mengkritik pemerintah karena melanggar hak-hak asasi manusia. Hingga dia sampai pada gagasan untuk menulis sebuah novel politik, sebuah bentuk kuno.

“Tak ada lagi yang menulis novel politik,” katanya. “Tapi aku akan melakukannya dengan caraku: membaca dengan rajin semua masalah Turki, kecemasannya atas identitas, bangkitnya politik Islam, nasionalisme Kurdi, nasionalisme Turki, semua sentimen nasional, perasaan inferior, kemarahan, kemarahan atas kebrengsekan, menjadi miskin, penderitaan dan menyadari apa yang terjadi di seluruh dunia.”

Turki di mata Pamuk adalah Turki yang retak, terbelah-belah. Benturan Islam dan dunia sekuler, kejayaan dinasti Ottoman dan wajah Eropa yang dibangun Kemal Attaturk.

“Istanbul secara geografis membingungkan. Demikian pula dengan bangsa Turki,” katanya dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times pada 1995. “Enam puluh persennya konservatif, 40 persen mencari pembaratan. Dua kelompok ini saling bertengkar selama 200 tahun. Keadaan ini terlupakan, antara barat dan timur, itulah sebuah gaya hidup di Turki.”

Tapi, “Apa yang aku pedulikan adalah kompleksitasnya, hibriditasnya, kekayaan atas segalanya,” kata seniman yang pernah menikahi sejarawan Aylin Tofajjal Turegen pada 1982 dan bercerai pada 2001 dengan seorang putri bernama R?ya (“mimpi” dalam bahasa Turki).

Jalan kepenulisan Pamuk keras. Hidupnya memang berkecukupan karena keluarganya makmur. Ayahnya insinyur sipil dan industrialis yang kaya karena membangun jembatan.

Tapi, sejak memutuskan jadi penulis, Pamuk berkutat di meja tulis di kamarnya selama 10 jam sehari. Ia belajar menulis puisi, tapi tampaknya gagal. Lalu dia menulis cerita pendek dan novel, tapi butuh bertahun-tahun sebelum akhirnya dibaca orang. “Aku menulis novel pertamaku di usia 22 tahun dan aku menulis dua setengah novel dalam delapan tahun tanpa dapat menerbitkannya.”

Dia menyelesaikan novel pertamanya, Karanlik ve Isik (Darkness and Light), pada 1978, yang menerima Hadiah Novel Penerbitan Milliyet pada 1979. Tapi, butuh waktu tiga tahun sebelum naskah itu akhirnya terbit sebagai Cevdet Bey ve Ogullari (Cevdet Bey and His Sons).

Dalam periode penantian itu Pamuk sempat berpikir untuk memasang iklan semacam “Dijual: Sebuah Novel yang Mendapat Penghargaan” di majalah-majalah seni. Setelah terbit, novel kembali menerima penghargaan, Hadiah Novel Orhan Kemal. Novel ini mengisahkan tiga generasi dari sebuah keluarga kaya di Nisantasi, tanah kelahiran Pamuk.

Tahun berikutnya Pamuk menerbitkan Sessiz Ev (The Silent House), kisah tentang konflik generasi yang diceritakan dari lima sudut pandang berbeda, satu langkah memasuki sastra pascamodernisme.

Novel kedua ini meraih Hadiah Novel Madarali dan Pamuk menerima tawaran penerbit Gallimard di Prancis untuk menerbitkan edisi Prancisnya. La Maison du Silence, terjemahannya, terbit pada 1991 dan memenangi Prix de la D?couverte Europ?enne.

Novel ketiga, Beyaz Kale (The White Castle), kemudian terbit. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan memenangi Hadiah Independen untuk Fiksi Asing pada 1990 di Inggris.

Isinya tentang pertentangan dan persahabatan antara seorang budak Venesia dan seorang cendekiawan Ottoman. Sang budak, yang sebenarnya cendekiawan Italia, diminta untuk menurunkan segala pengetahuannya kepada Hoja, sang cendekiawan Ottoman, yang haus akan Barat.

Pamuk kemudian hijrah ke Amerika dan menjadi mahasiswa tamu di Universitas Columbia di New York selama 1985-1988. Di sanalah dia menulis sebagian besar novel Kara kitap (The Black Book). Dia melukiskan jalanan, masa lalu, dan tekstur Istanbul melalui kisah seorang pengacara yang mencari istrinya yang hilang. Novel ini terbit di Turki pada 1990 dan edisi Prancisnya meraih Prix France Culture. Pada 1991 Pamuk menulis naskah film Gizli Y?z (The Hidden Face, yang disutradarai ?mer Kavur, berdasarkan satu halaman dari Kara kitap.

Setelah merampungkan Kara kitap, Pamuk memulai novel yang kemudian lahir sebagai Benim Adim Kirmizi (My Name Is Red). Penerbit Serambi kemudian menerbitkan edisi bahasa Indonesianya sebagai My Name is Red – Namaku Merah Kirmizi pada November 2006.

Di tengah proses penulisan itu, Pamuk juga mulai menulis Yeni Hayat (The New Life), yang selesai pada 1994 dan diluncurkan dengan sebuah iklan yang tak terduga. Papan-papan reklame di Istanbul membombardir orang dengan kalimat pertama novel itu: “Aku membaca sebuah buku suatu hari, dan seluruh hidupku berubah.” Strategi pemasaran semacam ini terbilang inovatif dalam sistem sastra Turki masa itu.

Tanggapan pembaca positif. Yeni Hayat menjadi buku yang laris tercepat dalam sejarah sastra negeri itu, mencapai rata-rata satu eksemplar per menit di Pasar Buku Istanbul tradisional.

Tapi, rekor tetap dipegang Benim Adim Kirmizi, yang dirampungkan Pamuk pada 1998. Novel mencatat beberapa rekor “pertama” dalam sastra Turki. Dia memecah rekor dengan terjual 85.000 eksemplar dalam tiga pekan dan hak penerjemahannya telah terjual sebelum buku itu diterbitkan di Turki.

Novel ini mengangkat misteri pembunuhan di Istanbul pada abad ke-16. Naratornya berbeda-beda di setiap bab, di antaranya adalah seekor anjing, sebatang pohon, mayat ahli miniatur, dan pembunuhnya. “Aku bukan siapa-siapa lagi kini tapi mayat, sebatang tubuh di dasar sebuah sumur,” kata lelaki yang dibunuh, orang yang melanggar ajaran Islam karena membuat patung.

Banyak pihak yang mengeluh bahwa novel ini terlalu sulit untuk dibaca dan menuduh angka penjualannya dibesar-besarkan. Pamuk juga dituduh tak menghormati Kemal Attaturk, pendiri negeri itu. Para pembela Pamuk membalas, bagaimana mungkin orang mengkritik seorang pengarang yang bukunya pun belum mereka tamatkan.

Tapi, pada akhirnya Pamuk adalah politikus. Ia menulis novel Kar (Snow) pada 2002, yang disebutnya “novel politik pertama dan terakhir yang kubikin”. Tokohnya Ka, seorang penyair dan pengungsi politik, yang menghabiskan 12 tahun hidupnya di Jerman.

Ka kemudian pergi ke Kar, sebuah kota kecil di Anatolia, untuk menyelidiki gelombang bunuh diri yang dilakukan gadis-gadis muda yang dilarang memakai jilbab di sekolah. Ka juga bertemu Ipek, kekasihnya di masa muda, menyaksikan demonstrasi di mana-mana, dan pemilihan umum yang dipenuhi kecurangan. Lewat novel ini Pamuk menerima Hadiah Medicis pada 2005.

Tapi, Pamuk adalah politikus. Dia mendukung Salman Rushdie ketika Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa untuk membunuhnya pada 1989. Bersama tokoh besar seperti Jacques Derrida, Susan Sontag dan Naguib Mahfouz, Pamuk menandatangani petisi yang mengecam larangan Yasir Arafat atas penjualan buku-buku Edward Said di Palestina.

Terakhir dia terancam dipenjara karena dianggap menghina identitas Turki. Dalam wawancara di sebuah koran Swiss, Tages Anzeiger, pada Februari 2005, Pamuk menyebut soal genosida Armenia pada 1915 di masa Kesultanan Ottoman dan bentrokan antara Turki dan minoritas Kurdi di Turki sejak 1980-an. “Sejuta orang Armenia dan 30 ribu Kurdi dibunuh di tanah ini dan tak seorang pun kecuali saya yang berani menyatakan tentang ini,” kata Pamuk. Belakangan tuduhan ini dicabut, terutama setelah tekanan negara-negara Eropa. Turki memang bermaksud bergabung dengan Uni Eropa.

Pada akhirnya Orhan Pamuk memang seorang politikus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *