PDS HB Jassin Menuju Era Digital

Yusuf Assidiq
http://www.infoanda.com/Republika

Mungkin tidak ada di negara lain yang seperti ini. Sebuah pusat dokumentasi yang khusus menyimpan dan memelihara karya para sastrawan maupun seniman kondang dari zaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang secara cukup lengkap. Namun demikian, perhatian segenap pihak sangat diperlukan bagi perkembangan lembaga tersebut ke depan.

Tanpa terasa sudah 30 tahun lembaga ini berkiprah. Tentu banyak tantangan dan persoalan yang melingkupi perjalanannya selama ini termasuk harapannya di masa depan. Dan, hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk Peran Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Bagi Bangsa dalam rangka memperingati 30 tahun berdirinya, Senin (31/7) lalu, di Jakarta.

Seperti diungkapkan oleh William P Tuchello, director Library Congres Jakarta, saat menjadi pembicara, PDS HB Jassin memiliki peran yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun penelitian kesejarahan. Dengan koleksinya yang terbilang lengkap, masyarakat umum maupun kalangan akademisi dapat memanfaatkan bahan-bahan dokumentasi tersebut guna kepentingan penelitian.

Oleh karenanya, dia mengharapkan agar ke depan, segi pelayanan maupun kemudahan mengakses koleksi di pusat dokumentasi ini dapat dipermudah. “Yang saya lihat, pelayanan tersebut sudah baik dan tidak terlalu banyak prosedur birokrasi seperti ditemui di tempat lain. Itu harus dipertahankan,” paparnya.

Satu hal yang perlu diperhatikan, lanjut dia, adalah bagaimana agar Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin bisa melengkapi fasilitasnya dengan sistem berteknologi digital. Di era modern seperti saat ini, pemakaian teknologi canggih akan dapat memperlancar tugas penyimpanan dokumen dan mempercepat pencarian katalog.

Rencana penyediaan teknologi digital tidak ditampik oleh Ketua Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin, Husein Umar. Menurutnya, program digitalisasi itu sudah dimulai beberapa waktu lalu dengan adanya bantuan 10 unit perangkat komputer dari PT Coca Cola Indonesia.

Hal ini diharapkan akan terus berkembang sehingga PDS akan dapat terus mengikuti perkembangan teknologi terbaru dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan. “Termasuk kita juga berencana membuat web site (situs) internet, namun masih terkendala dana,” katanya.

Meski demikian, pihaknya tidak bisa menutup mata terhadap berbagai kendala yang ada. Persoalan dana tetap menjadi masalah, terutama untuk memelihara dan merawat naskah-naskah tua, pengolahan bahan-bahan kliping maupun katagorisasi koleksi. “Hingga kini kita masih mengandalkan bantuan dari Pemda DKI. Selain itu, juga bantuan dari sejumlah perusahaan dan para donatur,” ujarnya.

Kendala lainnya adalah keterbatasan ruangan penyimpanan. Dengan jumlah koleksi sebanyak 18 ribu judul buku, 15 ribu kliping berita sastra, 700 rekaman suara dan masih banyak lagi serta terus bertambah, sudah tentu memunculkan persoalan di mana harus disimpan mengingat ruangan yang ada sekarang sudah tidak lagi mencukupi.

“Bahkan kami sampai terpaksa menolak hibah dan sumbangan buku dari berbagai pihak, lantaran ketiadaan ruangan,” kata Husein Umar. “Karena itu, ke depan perlu kiranya dipikirkan penambahan ruangan penyimpanan demi tetap terpeliharanya dokumen-dokumen berharga tersebut.”

Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin yang berlokasi di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, merupakan perwujudan dari keinginan HB Jassin untuk mengumpulkan koleksi buku dan dokumen sastra di satu tempat. Sastrawan besar ini beranggapan langkah yang ditempuhnya itu merupakan langkah pertama dalam perjalanan jauh ke depan. Karena, bagaimana pun, dalam karya sastra juga terkandung catatan historis bangsa yang akan berguna bagi generasi penerus.

Berawal dari hobi pribadi untuk mengumpulkan buku serta tulisan karyanya pribadi ataupun orang lain. HB Jassin masih menyimpan buku harian yang mulai ditulis sejak tahun 1932, tulisan pertamanya dalam surat kabar, begitu pula buku-buku tulis berisi karangannya saat masih duduk di bangku sekolah. Tak hanya itu, ada pula kumpulan surat-surat pribadi dan foto-foto — semua tersimpan rapi.

Pada zaman penjajahan Belanda, HB Jassin yang dijuluki Paus Sastra Indonesia ini mulai mengoleksi majalah-majalah yang terbit pada waktu itu, antara lain Pujangga Baru, Panji Pustaka dan sejumlah surat kabar. Buku-buku terbitan Balai Pustaka ikut dikumpulkan dan disimpan. Kemudian di zaman Jepang, terkumpulkan majalah Jawa Baru, Kebudayaan Timur maupun kliping koran Asia Raya.

Selanjutnya makin banyak surat kabar dan majalah serta buku yang dikumpulkan setelah Indonesia merdeka. Puncaknya adalah pada tahun 60-an, ketika sebagian besar surat kabar memiliki kolom renungan kebudayaan. Belum lagi dengan berkembangnya kegiatan budaya dan sastra yang ramai diperbincangkan serta dimuat pada suratkabar dan majalah.

Tahun 1952 saat HB Jassin mulai mengajar di Fakultas Sastra UI dan bekerja di Lembaga Bahasa dan Budaya, dokumentasi sastra itu mulai dipergunakan bagi kepentingan pribadi dan umum. Dari situlah kemudian muncul pemikiran untuk membentuk suatu pusat dokumentasi sastra yang permanen dan representatif.

Niatan itu akhirnya terlaksana tanggal 30 Mei 1977 yakni dengan diresmikannya Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin berkat dukungan dari Pemda DKI. Hingga sebelum itu, koleksi dan dokumentasi sastra masih tersimpan di beberapa tempat seperti di Gang Siwalan 3 (kediaman Jassin), Gang Kecapi 8 (rumah tinggal saudaranya) dan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Jl Diponegoro 82. Semua dokumen tersebut berangsur dipindahkan ke TIM.

Dengan tersedianya satu lokasi khusus itu, menjadikan pusat dokumentasi sastra kian berkembang pesat. Koleksinya tidak sebatas karya sastra Indonesia dan sastra daerah baik yang modern maupun klasik, namun juga sastra dunia. Dokumen terdiri dari berbagai bentuk semisal buku, kliping, skripsi dan disertasi, makalah, majalah, foto pengarang, lukisan, puisi konkret, rekaman suara, kaset video, mikrofilm, naskah tulisan tangan, naskah ketik dan surat-surat pribadi. Jumlahnya ribuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *