Puisi-Puisi Y. Thendra BP

Lunto Kloof, Cinta Pertama Yang Gagal Kuselamatkan

lalu ia menunjuk stasiun tua yang mati itu, keberangkatan
dan kepulangan yang tak lagi ada, dan sadar, kami pernah lugu
berciuman di sudut sekolah itu. laila, lesung pipitmu yang bertahan, senja
mengembalikan ingatan kita pada cinta yang remaja, pada bagaimana
gugupnya aku menyentuh jemarimu pertama kali, di bangku taman gluck auf
yang kini tak ada. seperti orang rantai di kota ini, akhirnya semua pergi
menyisakan masa lampau yang hanya bisa dijangkau lewat memori. tetapi
di lembah ini, tubuhmu jadi lubang lubang tambang bekas yang ditinggalkan,
juga cinta pertama yang gagal kuselamatkan.

aku pandangi menara asap itu. ketika aku sentuh,
sungai mengalir dari bahunya. waktu telah mengubah
bibir kita jadi milik yang lain. milik yang lain, laila.
aku kalungkan cindera mata di lehernya, syal pacar
dari jogja. matamu gemetar, tanganku bergetar.
lunto kloof, lunto kloof, maafkan aku, laila.
ciuman pertama itu masih membekas
mustahil terhapus lekas

aku tidak tahu sudah sampai di mana

narasi kecil dalam kereta ekonomi saat menuju tasikmalaya
buat bode

aku tidak tahu sudah sampai di mana
pohon pohon hitam
rumah rumah hitam
kabut menebal di kaca jendela kereta

penumpang penumpang yang gelap dan sesak
terguncang-terguncang bersama
melintasi negeri malam
melintasi negeri malam

seorang lelaki tua merangkak
menjulurkan tangannya
dalam hutan kaki yang diam
dan bergerak

o, aku tidak tahu sudah sampai di mana

Buton
dari cerita singkat wa ode wulan ratna

sekali lagi, kubayangkan matahari tropis sore memandang seribu pulau yang dijaga benteng benteng
sebelum akhirnya angslup ke dalam laut, membawa seribu misteri kesunyian gunung siontapina
seperti atlantis yang hilang

aku ingin jadi kanak-kanak ria lagi, hilang sejenak segan pada usia,
berlari-lari di negeri yang dilupakan itu

aku tak ingin datang untuk aspal, wa ode
yang telah membuat jalan jalan kotaku jadi malam
negerimu jadi demam

aku ingin datang karna puisi
karna makam sultan dikeramatkan
karna makam rakyat kecil tidak dikeramatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *