Sastrawan Kalsel Sebuah Pengakuan

(Catatan Untuk Sainul Hermawan dan Tajuddin Noor Ganie)
HE. Benyamine
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Antologi biografi sastrawan Kalimantan selatan yang disusun Tajuddin Noor Ganie (TNG) adalah satu bentuk pengakuan dan penghargaan kepada orang-orang yang dikategorikan sastrawan berdasarkan rumusan yang ditentukan olehnya sendiri. Terlepas yang lain juga mengakui atau tidak? Pengakuan dan penghargaan itu sudah dikemukakan TNG dengan mengacu pada definisi yang dikemukakannya dalam tulisan Antologi Biografi 643 Sastrawan Kalsel (Radar Banjarmasin, 26 September 2010: 5), yang terbuka untuk dipertanyakan sebagaimana yang dilakukan Sainul Hermawan (SH) dalam tulisan Siapakah Sastrawan Kalsel? (Radar Banjarmasin, 10 Oktober 2010: 5), dan selanjutnya kedua tulisan itu juga masih terbuka untuk dipertanyakan dan didiskusikan.

Dalam tulisan TNG tentang sastrawan Kalsel yang mengemukakan jumlah sastrawan yang dapat didokumentasikan berdasarkan rumusan olehnya, tidaklah seperti pandangan SH yang sangat fantastis, tetapi sebenarnya merupakan hal yang logis dan malah masih banyak yang belum terdokumentasikan sehingga jumlah itu bisa lebih banyak lagi, seperti anak SD Kalsel yang puisinya dimuat majalah Bobo.

Perhitungan kembali yang dikemukakan SH, tentu harus menentukan kembali rumusan yang menjadi dasar penentuan perhitungan tersebut, sehingga ketepatan dalam perhitungan masih tergantung pada rumusan baru. Hitungan tepat, yang diharapkan SH, belum tentu juga tepat menjadi acuan bagi kajian yang lebih serius dalam sastra karena apa yang sudah dikemukakan TNG juga dapat menjadi acuan bagi kajian yang lebih serius, yang sebenarnya tergantung pada peneliti atau pengkajinya, juga karena kajian sastra tidak hanya tergantung dengan jumlah sastrawannya. Di sini pertanyaan SH, apakah setiap orang yang pernah menulis sebuah karya sastra adalah sastrawan? dengan menganalogikan dengan beberapa pertanyaan seperti apakah setiap manusia pasti manusiawi untuk memahami jumlah sastrawan yang dikemukakan TNG tidak sebanding, dan cenderung menggiring pada perbandingan yang keliru, apalagi SH mengemukakan bahwa sastrawan adalah kualitas tersendiri yang diberikan oleh masyarakat sastra suatu wilayah kepada penulis yang bisa saja orang tersebut hanya memiliki satu karya sastra yang pernah dipublikasikannya dan mendapat apresiasi pembaca yang luas dan mendapatkan penghargaan atas karya tersebut.

Adapun beberapa pernyataan yang dikemukakan TNG mengenai siapa sastrawan Kalsel, seperti SH pertanyakan, memang ada beberapa yang perlu dilihat kembali dari definisi yang menjadi landasan pengkuan dan penghargaan TNG tersebut, terutama dalam pendefinisian yang dirumuskan TNG sebagai rujukannya.

Pernyataan (1) : “Sastrawan Kalsel adalah sastrawan yang lahir di Kalsel atau pernah tinggal di Kalsel. Hanya itu, tidak ada kriteria lain yang bersifat eksklusif secara sosial politik”, pernyataan ini masih belum jelas siapa sastrawan itu sendiri, penambahan Kalsel hanya keterangan tentang sastrawan yang menunjukkan suatu tempat di mana sastrawan itu berada. Apakah yang dimaksud sastrawan itu sama dengan definisi Wikipedia sebagaimana dikutip SH? Jadi pertanyaan SH sebenarnya juga tidak tepat, karena TNG Tajuddin dengan pernyataannya tidak mengemukakan definisi sastrawan, tapi hanya tentang keterangan tempat sastrawan. Karena dalam definisi TNG tersebut melakukan pengulangan kata sastrawan ke dalam definisinya untuk menjelaskan sastrawan Kalsel, yang merupakan bentuk kelemahan dalam membuat suatu definisi.

Sedangkan tidak ada kriteria lain yang bersifat eksklusif secara sosial politik, merupakan pembatasan definisi yang tidak jelas keterkaitannya dengan definisi sastrawan Kalsel, malah kalimat itu menjadikan definisinya menjadi sangat terbuka. Bagaimana mungkin tidak bersifat eksklusif jika seseorang diberikan label atau status tertentu, dalam hal ini sebagai sastrawan?

Pernyataan (2): “Sastrawan Kalsel adalah siapa saja yang ketika tinggal di Kalsel dikenal luas sebagai penulis karya sastra bergenre modern dalam bahasa Indonesia di berbagai koran/majalah dan buku-buku sastra”, pernyataan ini memang kontradiktif dengan pernyataan (1), karena “yang lahir di Kalsel atau pernah tinggal di Kalsel” dan “ketika tinggal di Kalsel dikenal luas sebagai penulis” tidak sejalan. Bisa saja lahir di kalsel, terkenal sebagai penulis di luar kalsel begitu juga yang pernah tinggal di kalsel yang pada saat tinggal di kalsel tidak dikenal luas sebagai penulis, baru kemudian setelah keluar kalsel dikenal luas sebagai penulis.

Dengan melihat kata kunci dalam pernyataan (2), penulis, sastra, modern, bahasa Indonesia dan dikenal luas yang sebenarnya dapat dikatakan sebagai pembatas yang oleh SH untuk menyatakan bahwa karya sastra yang tidak modern, tidak berbahasa Indonesia bukan karya sastra sastrawan Kalimantan Selatan sebagai implikasinya. Jika memperhatikan pernyataan TNG yang mengemukakan sastrawan Kalsel, maka yang dimaksudkannya tentu saja pembatasan pada wilayah Kalsel sebagai provinsi, sehingga karya sastra sebelum Kalsel sebagai provinsi tidak termasuk dalam rumusan tersebut. Pembatasan Kalsel (provinsi) inilah yang mengesampingkan para pujangga penulis syair Banjar bukanlah sastrawan Kalsel meskipun tulisan itu dikenal luas dan mendapatkan penghargaan pada zamannya. Sehingga, modern dalam pernyataan (2) itu lebih pada kekinian dari Kalsel, yang tidak ada hubungannya dengan modern pada karya syair Banjar pada zamannya. Di sini SH terlalu jauh melompat dalam berpikir, yang langsung ke zaman para pujangga dengan karya syair Banjar, sementara TNG telah membatasi dengan sastrawan Kalsel sebagai suatu wilayah. Mungkin, di sini yang perlu dipertanyakan adalah genre modern sebagaimana dikemukakan SH, karena perlu adanya penelitian atau sebenarnya TNG sudah melakukan penelitian itu atau mengacu pada klasifikasi tertentu yang memang perlu dijawab oleh TNG tentang hal ini.

Jadi, tulisan TNG tentang sastrawan Kalsel berdasarkan definisinya, sepakat dengan SH, merupakan pintu pembuka untuk memasuki belantara sastra yang ada sebelum Kalsel (provinsi) dan yang kekinian Kalsel. Catatan TNG sebagai sebuah pengakuan memberikan ruang yang lebar dilihat dari definisi yang digunakannya, yang dapat dipahami sebagai upaya pemetaan dan memberi jalan untuk penelitian dan pengkajian sastra selanjutnya yang tidak hanya terpaku pada jumlah sastrawannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *