Seabad Bung Hatta

Sabam Siagian
http://www.balipost.co.id/

Amat mencolok pada periode kepemimpinan Habibie betapa uang menjadi instrumen politik yang aktif. Ternyata ”mumpung-isme” sebagai penyakit sosial terus menjalar ke tahap pemerintahan Abdurrahman Wahid. Mungkin caranya tidak secanggih seperti yang diterapkan pada tahap kepresidenan Habibie, tapi dalil ”memanfaatkan kesempatan” masih tetap berlaku. Skarang ini, pada tahap kepemimpinan Megawati – Hamzah Haz sulit dikatakan bahwa ”mumpungisme” menciut. Sebaliknya, tambah dekat kita ke pemilu 2004 akan tambah ganas nafsu mengumpulkan dana.

”AKU lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902”. Demikianlah kalimat pertama dalam buku otobiografi yang ditulis oleh Muhammad Hatta. Itu berarti bahwa Moh. Hatta yang bersama-sama Ir. Soekarno memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 akan berumur 100 tahun. Sudah ada beberapa panitia yang merencanakan berbagai acara untuk memperingati Bung Hatta 100 tahun. Tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan yang kemudian berperan sebagai tokoh kepemimpinan Republik Indonesia pada tahap awalnya secara akrab disapa dengan sebutan ”Bung”.

Namun di antara para Bung itu (Bung Karno, Bung Syahrir, Bung Amir, Bung Adam dan uniknya, Bung Sultan HB IX) agaknya Bung Hattalah yang sejak masa mudanya memperlihatkan ciri-ciri karakter sebagai pemimpin sejati. Ketegasan mengambil keputusan, ucapan atau janji yang dapat dipegang, kecerdasan dalam memahami suatu situasi yang serba kompleks, tertib dalam mengelola waktu sebagai aset yang berharga, gaya hidup yang tidak berlebihan dan transparan dalam urusan uang yang menyangkut dirinya. Itulah ciri-ciri utama dalam karakter Bung Hatta.

Bukan berarti bahwa dia patut disanjung sebagai manusia sempurna. Namun dalam rangkaian acara memperingati Bung Hatta 100 tahun, tantangan utama adalah, bagaimana menonjolkan ciri-ciri karakter mantap seseorang pemimpin itu kepada generasi muda sekarang.

Bagaimana caranya supaya generasi muda juga sebagai dampak acara peringatan 100 tahun Bung Hatta mendapat inspirasi untuk mengembangkan dan mempraktikkan ciri-ciri karakter itu pada diri mereka.

Kecenderungan akhir-akhir ini, juga di kalangan generasi muda, adalah suatu sikap skeptik bahkan kecurigaan terhadap perorangan yang tampil sebagai ”pemimpin”. Etika sosial yang mencuat sejak tahap akhir kepemimpinan Soeharto adalah ”mumpungisme”, yakni memaksimalkan kesempatan yang terkait dengan sebuah jabatan untuk kepentingan pribadi. Antara urusan negara atau dinas dengan kepentingan pribadi (dan keluarga besar) tidak ada pemisahan yang jelas dalam tata nilai.

Ada cerita yang pernah beredar tentang seorang menteri. Menteri kabinet pembangunan yang polos dan relatif bersih itu setelah masa jabatannya berakhir menjumpai Presiden Soeharto. Si mantan menteri itu meminta dukungan, karena ia ingin mulai berbisnis. Jawaban yang diterimanya: ”Lho, selama lima tahun Saudara kok tidak pakai kesempatan?” ”Mumpungisme”, kecenderungan mengeksploitasi jabatan resmi (juga di sektor swasta) ternyata terus berkembang, meskipun Soeharto telah tumbang pada pertengahan 1998.

Presiden Habibie karena begitu bernafsu ingin dipilih kembali sebagai presiden (untuk membuktikan pada Soeharto bahwa dia juga sanggup) telah menerapkan semua cara. Amat mencolok pada periode kepemimpinan Habibie betapa uang menjadi instrumen politik yang aktif. Ternyata ”mumpung-isme” sebagai penyakit sosial terus menjalar ke tahap pemerintahan Abdurrahman Wahid. Mungkin caranya tidak secanggih seperti yang diterapkan pada tahap kepresidenan Habibie, tapi dalil ”memanfaatkan kesempatan” masih tetap berlaku.

”Mumpungisme” tak Menciut

Sekarang ini pada tahap kepemimpinan Megawati – Hamzah Haz sulit dikatakan bahwa ”mumpungisme” menciut. Sebaliknya, tambah dekat kita ke pemilu 2004 akan tambah ganas nafsu mengumpulkan dana.

Catatan-catatan mengenai kondisi psikologis masyarakat Indonesia yang paling sedikit selama 10 tahun terakhir ini mengalami elite sosial – politik yang dihinggapi keserakahan harus diperhitungkan dalam memperingati Bung Hatta 100 tahun.

Tujuannya sebagai rangsangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda supaya yakin, bangsa Indonesia berhak mendapat kepemimpinan nasional yang cakap, cerdas, bekerja keras secara teratur, cepat mengambil keputusan dan transparan di bidang keuangan seperti Bung Hatta.

Dalam memperingati Bung Hatta 100 tahun penting untuk dicamkan bahwa bukanlah takdir ataupun nasib bahwa Indonesia mendapat elite politik, birokrasi dan militer yang tidak cakap dan korup.

Pandnagan skeptikal bahkan sinis begitu mulai beredar di kalangan generasi muda, yakni setiap perorangan yang berhasil menduduki posisi-posisi penting, tujuannya hanyalah menumpuk harta secepat-cepatnya. Kalau sampai timbul pertanyaan tentang seorang hakim yang menangani sebuah perkara: ”Berapa tarifnya?”, maka jelas situasi kita sudah gawat.

Sebagai bagian dari acara peringatan Bung Hatta 100 tahun biografinya secara garis besar saja amat berguna untuk disebarluaskan.

Bersiap untuk Kepemimpinan

Jarang agaknya kita jumpai seorang pemuda seperti Bung Hatta dalam sejarah politik modern bangsa-bangsa bukan Barat yang pernah terjajah, betapa secara tekun ia mempersiapkan diri untuk tanggung jawab kepemimpinan. Hidupnya selama 11 tahun di negeri Belanda (1921-1932) dan di Eropa menunjukkan bahwa di samping belajar liku-liku ilmu ekonomi hukum internasional dan ilmu pemerintahan, ia aktif di ”Perhimpunan Indonesia”. Organisasi kemahasiswaan ini merupakan manifestasi dari gerakan kebangsaan Indonesia di negeri Belanda dan di Eropa.

Sekembalinya di Indonesia pada tahun 1932, ia bebas bergerak membangun organisasi Pendidikan Nasional Indonesia Baru, hanya selama 2 tahun. Kemudian bersama-sama teman seperjuangannya yang lebih muda, Sutan Syahrir, mereka di tahan polisi Belanda. Selama 8 tahun mereka diasingkan di dua tempat di Indonesia bagian Timur. Selama 8 tahun itu Bung Hatta dan Bung Syahrir aktif membaca, menulis, berdiskusi dan merenungkan persiapan yang diperlukan menuju Indonesia Mereka. Resminya, mereka adalah tahanan secara fisik. Tetapi secara mental dan intelektual mereka memelihara suatu kebebasan intern yang sungguh mengkagumnkan. Itulah yang perlu kita tiru. Intern, kita haru stetap bebas.

Biografi politik Bung Hatta secara garis besar itu yang dapat disarikan dari buku-buku yang sudah terbit (antara lain yang ditulis oleh Dr. Deliar Noer) perlu menonjolkan kemantapan Bung Hatta sebagai kepala pemerintahan RI pada tahun 1948-1949 (meskipun dalam tahanan Belanda) dan 1950, ketika ia secara tenang melakukan tanggung jawabnya. Bung Hatta kecewa, meskipun perasaan itu disembunyikan, setelah negara kesatuan RI dipulihkan pada Agustus 1950, ia dikebiri secara politis dengan pengangkatannya sebagai wakil presiden. Tetapi dengan acara kunjungan ke berbagai propinsi ia tetap mendorong pembangunan.

Betapa Bung Hatta dihormati dan disayang oleh bangsa tampak benar pada hari ia dimakamkan pada 14 Maret, 1980. ”Selamat Jalan Bung Hatta” tertera di spanduk di Jalan Sudirman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *