Sebuah SMS Mengusung Kisah Usang

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Sebenarnya saya kurang sreg menceritakan hal-hal yang menyinggung cinta begini. Apalagi cinta usang berasa kadaluarsa. Sebab, sebagian Anda pasti pernah mengalami perjalanan cinta yang lebih dahsyat daripada yang saya alami. Dan, barangkali sebagian Anda pun berpendapat, cerita cinta itu cengeng, cuma untuk anak-anak baru pubertas. Tapi, maaf, pada kesempatan ini saya terpaksa bercerita tentang cinta usang dan gejolak perasaan saya yang bermula pada suatu kejadian tatkala jam kerja menjelang istirahat siang.

?Halo, apa kabar? Masih ingat aku? Aku Lia Ayuningtyas. Sorry, aku tau nomor Mas dari seseorang,? pesan singkat dari seseorang masuk HP saya.

Astaga! Saya merasa seperti ditampar oleh petinju Mike Tyson di terik tengah hari ini. Sontak saya mematung di meja gambar saya dengan tatapan terpaku sepenuhnya pada kalimat-kalimat di layar monitor HP saya. Jantung saya berdetak lebih cepat dan tidak teratur. Dada berdebar-debar. Bulu-bulu tangan berdiri. Pori-pori tangan membengkak. Perasaan dan pikiran saya langsung berpencar ke mana-mana.

Sungguh saya terkejut. Betapa tidak. Lia Ayuningtyas itu mantan kekasih saya. Lebih lima tahun lampau kami berpisah (tepatnya: dipisahkan!). Menurut bisikan seorang kawan saya suatu hari, Lia kini sudah berkeluarga dengan pria dari keluarga kaya-raya, dan mereka telah memiliki dua anak. Mereka tinggal di suatu kota, di sebuah rumah seharga mendekati satu miliar rupiah. Sebenarnya suaminya juga memiliki rumah lainnya, tetapi rumah itu diberikan kepada orangtua Lia.

SMS itu betul-betul membuat saya knock out sesaat. Kesadaran saya tiba-tiba lenyap. Saya kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Itu baru SMS, belum kalau ditambah dengan MMS yang menampilkan wajahnya sekarang. Belum sempat saya menemukan kata-kata untuk membalas, disusul lagi oleh SMS berikutnya.

?Minggu depan aku mau ke kota Mas. Urusan kantor dua hari. Nginap di hotel. Aku juga pengen ketemu Mas. Beberapa menit saja. Boleh? Di kantor Mas??
Oh! Waduh, bagaimana ini?

Saya akui bahwasanya saya masih (sangat!) mencintai dia, walaupun dia sudah mempunyai realitas hidup bersama keluarga barunya. Pascaperpisahan kami hingga kini saya belum sanggup menghapuskan jejak-jejak kebersamaan kami pada lembar-lembar kenangan saya. Dialah cinta pertama saya. Dialah yang mampu mewarnai bidang-bidang relung hati saya. Tetapi, akhirnya saya harus mengunyah empedu perpisahan kami.

Betul bahwa saya dari keluarga kurang beruang. Betul bahwa saya bekerja dengan gaji sekitar satu juta. Tapi perpisahan tersebut, bagi saya, alangkah kejinya! Tahun-tahun kami lewati bersama, suka-duka, senang-sedih, berakhir pada parang perpisahan yang diacungkan oleh ultimatum ibunya yang menghargai suatu hubungan cinta dengan takaran harta. Saya bisa bilang begitu lantaran saya pernah mendengar secuil latar belakang pernikahan orangtuanya pun berdasarkan hal-hal yang bukan cinta. Ibunya terlanjur hamil (dihamili pria bukan ayah Lia), dan keluarganya menyodorkan pada laki-laki yang kemudian adalah ayah Lia. Lia adalah anak selanjutnya.

Sekarang, setelah dia tega mengiris hati saya dengan alasan klasik ?tidak direstui? (padahal karena persoalan ?jaminan kekayaan!?) dan menikmati susu-madu perkawinan, lantas sekarang hendak menjumpai saya?

Oh, tidak ya! Harkat saya sebagai manusia, laki-laki, seakan langsung dilecehkannya lagi. Luka hati saya seakan ditorehkannya kembali. Kalau dulu dia benar-benar mencintai saya, kan seharusnya dia siap menerima konsekuensi cinta? Lha kenyataannya? Dia pilih pergi dengan kereta kencana pria lain! Terus, kini tiba-tiba muncul dengan ajakan?.

Dada saya berdebar kencang. Perpisahan pahit itu kembali membuat perasaan saya perih-pedih. Darah saya mengalir kian cepat, terasa pula mendidih. Dasar perempuan tak punya perasaan, egois dan keturunan pemuja harta! Harga cinta hanya ditakar dengan jumlah harta. Tak pelak emosi saya bergolak, kepala saya terasa hendak meledak.

Gawat, pikir saya. Saya coba alihkan pikiran dengan melihat ke arah jendela dekat tempat duduk saya. Di luar tampak taman seukuran 8m x 6m. Ada sebuah pohon mangga yang belum berbuah, kolam ikan warna-warni, air terjun buatan, dan tanaman-tanaman penghias taman eksterior. Seekor kadal sedang berjemur di tepi kolam. Seekor kupu-kupu mungil mencari madu di antara bunga-bunga yang ada. Angin menggoyang-goyangkan dedaun suplir dan juntai tanaman rambat. Sekeping daun mangga kering runtuh.

Mata saya beralih ke meja kecil di samping saya. Saya raih gelas saya yang berisi air putih. Lalu, sembari meneguk minuman, pikiran saya kembali membayangkan sekeping daun kering yang runtuh itu. Daun kering berwarna coklat tua. Daun uzur, tersungkur. Menimpa bumi. Bersatu dengan bumi. Tak lama lagi akan menjadi makanan bagi makhluk lain. Demikian kelak akan disusul daun-daun lainnya.

Mendadak saya berpikir tentang diri saya, tentang hidup yang akan datang, yang bakal baka, abadi-kekal. Sejatinya hidup di dunia: cuma singgah untuk sekadar minum, memberi diri kepada sesama, lantas merenggas lepas menuju Sang Pemberi Napas.

Debar dada saya berangsur reda. Gejolak perasaan saya mengendur. Betul bahwa saya kecewa dan sakit sekali atas perpisahan semacam itu. Betul bahwa saya merasa harkat-martabat saya dilecehkan oleh mereka sekeluarga. Tapi, bukankah hidup saya sekarang hanya sementara? Ada kesejatian sedang menanti saya. Dan, untuk ke sana, bekal apakah yang saya siapkan? Benci, dengki, dendam, koreng luka hati? Oh? Layakkah kelak saya bawa menghadap Sang Mahacinta? Entahlah? saya hanya seorang manusia biasa?.

Sekarang saya diperhadapkan pada ajakan jumpa dari dia, bagian masa lalu saya. Kalau tidak boleh, apa kira-kira alasan saya yang akurat-relevan. Masak sih saya melarang orang yang ingin menemui saya, padahal Sang Mahasuci saja tidak melarang manusia yang ingin berjumpa dengan-Nya? Apakah saya lebih suci dari Tuhan? (Anda pasti sepakat bahwa saya sama sekali tidak suci). Barangkali dia masih ingat kata-kata saya, bahwa saya bukan tipe pendendam, saya selalu tidak mampu menolaknya dengan apa pun kondisinya, karena saya yang sarat salah ini saja senantiasa memohon Tuhan sudi menerima diri saya.

Maka, saya harus memperbolehkannya. Memperbolehkan terjadinya pertemuan kami? Pertemuan dua mantan sepasang kekasih dalam situasi yang berbeda, dan di kantor tempat saya bekerja? Dia ? perempuan ? berkunjung ke tempat saya ? laki-laki ? bekerja? Kok kesannya saya tidak ?laki-laki? jika saya dikunjungi oleh dia. Justru seharusnya saya, sebagai laki-laki, yang menemui dia. Jadi, kelak kami akan bertemu lagi di? . Di hotel tempat dia menginap? Oh! Lantas bagaimana?

Terus terang, saya memang pernah menyangka sekaligus waspada, bahwa suatu waktu saya pasti bakal menerima SMS atau malah dihubunginya, kendati entah dari siapa dia mendapatkan nomor HP saya. Bukankah saya dan dia pernah memiliki hubungan sangat dekat, dan berarti saya mengenal kawannya dan dia pun mengenal kawan saya? Mungkin suatu waktu dia bertemu dengan kawan saya yang memiliki nomor HP saya. Atau malah nekat bertanya pada adik saya pada suatu perjumpaan di suatu tempat. Tentunya masih banyak kemungkinan lainnya jika mau merunut ?dari siapa dia tahu nomor HP saya?.

Namun, kenyataan ternyata bisa lebih menohok daripada sebatas membuat sketsa perkiraan. Buktinya, ketika SMS dari dia benar-benar berkunjung, saya justru sangat terkejut dengan perasaan dan pikiran yang porak-poranda begini. Dan, itu baru SMS! Belum dilengkapi dengan gambar dirinya melalui MMS, suaranya yang kini sekonyong-konyong mengiang kembali dalam telinga perasaan saya, bahkan andai saat ini dia muncul di hadapan saya dengan senyum manis merekah dari bibir merah jambu basahnya yang, bagi saya, paling indah di antara bibir perempuan mana pun.

Dulu saya juga sering bilang, bahwa dialah perempuan paling memikat dalam kehidupan cinta saya. Waktu itu saya tidak sedang merayunya. Saya hanya mau jujur pada diri saya sendiri, terlebih saya mengucapkan itu di saat usia saya sudah tidak lagi remaja dan sampai sekarang saya masih melajang. Bagi saya, selama ini saya belum menemukan perempuan lain yang bisa menandingi keberadaannya dulu dalam hidup saya.

Mungkin Anda berpendapat bahwa saya ini manusia yang terkurung dalam kerangkeng kenangan sambil mengenakan kacamata kuda. Namun ketahuilah dan hargailah, bahwa saya memiliki prinsip mencintai yang berbeda dengan prinsip yang Anda miliki. Begitu pula dalam memandang dan menghargai keberadaan seorang kekasih. Bukan soal kecantikan plus kemolekannya yang memang masih sedikit di bawah Dian Sastro atau Kareena Kapoor. Atau soal yang sekitar aura, fisikal dan finansial. Melainkan, ini soal kecocokan hati yang bertahun-tahun telah diisi oleh keberadaannya, soal kemantapan hati memilih dia sebagai kekasih tanpa perlu kami rusak dengan perbuatan asusila seperti perilaku seksual sebagian pasangan pacaran lainnya, kendati akhirnya saya dan dia berpisah (tepatnya lagi: dipisahkan!) serta kini dia sudah berkeluarga dengan dua putera-puteri. Saya percaya, sebagian Anda mampu memahami maksud saya.

?Hei, Ji! Ngapain kau, kok tiba-tiba bengong kayak kura-kura ketelan kuda?? tegur rekan saya yang duduk di meja seberang.

?Ng? ng? ah, sorry? aku? ada urusan keluarga,? sahut saya seraya mengacungkan HP saya.

?Nenekmu terkunci di kamar mandi lagi??

?Bu… bukan? ah, sudahlah, ini urusan intern kami. Sorry.?

?Oke, oke. Saya paham. Tapi jangan terlalu lama mengganggu konsentrasimu. Atau kau istirahat dulu, gih sana. Hampir jam makan siang nih. Tujuh menit lagi.?

?Siip! Kau duluan aja.?

Sip apanya! Rekan saya mana tahu kalau ?gangguan? ini akan sampai beberapa hari. Terlebih urusan cinta usang saya. Jangankan cinta usang, siapa kekasih saya yang sekarang pun rekan saya itu tidak tahu. Ya jelas tidak tahu, karena saya selalu gagal dalam taraf ?hubungan lebih dalam? setelah berkali-kali berada dalam langkah ?pendekatan?. Namun hari-hari menjelang pertemuan nanti, pikiran dan perasaan saya pasti digelitik gelisah.

Tapi setidaknya, saya bersyukur atas teguran rekan saya tadi. Sebab, teguran itu justru mengembalikan kesadaran saya, realitas saya bahwa saat ini saya sedang berada di kantor. Barangkali inilah salah satu fungsi keberadaan seorang rekan atau seseorang di dekat kita, walaupun tanpa menyodorkan nasihat atau ceramah ini-itu. Malah mungkin suatu keadaan yang krusial tidak membuat kita langsung membutuhkan kata-kata indah memabukkan. Cukup sentakan kecil, semisal teguran rekan saya tadi. Itu mungkin lho.

?Ya sudah. Aku ke kantin duluan. Salam untuk keluargamu.?

Makasih. Eh, kurangi makan pedas, biar nggak bikin masalah di perutmu lagi.?

Rekan saya mengacungkan tinju sembari beranjak meninggalkan kursinya, berbareng tiga rekan lainnya. Berangsur-angsur ruang kerja ini disekap kehampaan. Ketukan-ketukan dan gesekan sepatu mulai lirih, selanjutnya menjelma kehampaan. Tiada suara rekan-rekan. Tiada suara nyanyian lirih rekan perempuan. Tiada makian rekan yang memang mulutnya sudah bolong sana-sini, dan langsung bocor kalau terkena hal-hal yang mengusiknya. Tiada suara kecupan antara jemari dan tuts-tuts keyboard komputer. Yang tertinggal hanya suara-suara dari luar kantor, misalnya klakson kendaraan di jalan atau suara pesawat terbang tengah take off.

Aduh, bagaimana seandainya saat ini dia mendadak datang ke kantor ini dan nyelonong begitu saja ke tempat saya berada? . Suasana ruangan kerja saya yang sedang ditinggal oleh rekan-rekan?. Ah, entah kenapa dada saya seakan membengkak hendak meledakkan seluruh gemuruh perasaan saya yang betul-betul penuh kerinduan pada dia, pada kemesraan yang pernah ada? . Atau, kelak bila berjumpa di hotel tempatnya menginap? .Di saat dia sendiri, tanpa membawa keluarga?. Suasana yang? .Oh, Lia?.

Gila! Pikiran dan perasaan macam apa ini yang melanda saya! Saya merasa ingin memaki diri saya habis-habisan.

Tapi, kenapa kalimat SMS-nya tadi seolah menunjukkan dirinya sangat mengharapkan suatu pertemuan dengan saya, meski ?beberapa menit saja?? Apakah dia masih merindukan saya? Apakah sekadar ingin berjumpa dan saling merajut tali silaturahmi yang sewajarnya?

Sungguh saya belum mengerti apa motifnya. Sementara dalam sisi lainnya di perasaan dan pikiran saya timbul pertanyaan: apakah lantaran dia pun masih sangat mencintai saya, maka dia ingin mengajak saya kembali merunut, mengusut dan merajut tali kasih yang pernah ada dan telah terputus. Mungkin selama ini dia tidak memperoleh kasih sayang seperti yang pernah saya curahkan sepenuh hati saya padanya dulu, karena memang sayalah (selain ayah, kakak maupun adiknya) laki-laki yang bertahun-tahun pernah dekat dengan hidupnya. Apakah dia ingin mengajak saya mengecap hal-hal yang dulu belum sempat kami?.

Astaga! Ini jelas-jelas gila! Sekali lagi: gila! Pikiran dan perasaan macam apa ini yang menghasut kesepian saya! Saya memang tidak mampu melupakan pesona dirinya hingga detik ini. Secantik-cantiknya artis atau ratu kecantikan, dia tetap tercantik bagi saya. Kalau sebagian orang masih leluasa melakukan hubungan gelap secara sembunyi-sembunyi dengan bekas kekasih mereka, apakah lantas saya lumrah-lumrah saja mengikuti arus kerinduan yang mengusung cinta usang? Bagaimana jika suaminya tahu, dan keluarga mereka semua tahu? Lantas, bagaimana pula kalau kelak saya mendapat seorang istri, tapi diam-diam istri saya itu juga masih menjalin hubungan cinta dengan mantan kekasihnya?

Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi! Bukankah apa yang saya tabur, niscaya suatu saat nanti akan saya tuai?

?Hayooo, ngalamun ya!? bentak rekan saya, yang entah memakai ilmu peredam sepatu apa sampai saya tidak mendengarnya masuk ruangan.

?Sialan, bikin kaget aja. Kok cepet amat??

?Aku mau ngambil obat sakit perutku di laci. Kebanyakan makan sambel, Ji!?

Saya tidak menghiraukan rekan saya yang sibuk mencari obat sakit perutnya, karena saya merasa harus membalas SMS mantan kekasih saya. Tapi, apa ya yang sepatutnya saya tuliskan untuk dia, serta tanggapan saya atas ajakan pertemuannya? Bagaimana kelak jika kami betul-betul bertemu? Apakah saya sanggup untuk tidak?. Saya bingung.***

Bumiimaji, Oktober 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *