Tasawuf Nietzsche dan Al Ghazali

Kurtubi *
http://filsafat.kompasiana.com/

Seorang Atheis (tidak percaya tuhan) ?mengenal? Tuhan dengan cara menolaknya. Di manapun dan kapanpun ia terus berpikir keras bagaimana berusaha menolak keberadaan Tuhan lewat ilmu pengetahuan. Sementara seorang agamis yang percaya Tuhan, adem ayem saja, jarang menyebut-nyebutnya atau bahkan mengejar-Nya.

Jadi kalau dipikir-pikir orang Atheis pada dasarnya lebih banyak ?menyebut? Tuhan dalam penolakannya, ketimbang yang agamis dalam penerimaanya.

Seorang agamis yang merasa mengenal Tuhan, dalam kiprahnya kadang berbanding terbalik dengan para atheis yang berusaha menolak Tuhan dengan berbagai upaya. Dia berpikir habis-habisan untuk menolak konsep Tuhan. Satu-satunya pemikiran yang dikedepankan kebanyakan lewat ilmu pengetahuan. Tidak jarang dengan pengetahuan ini banyak sekali ilmu-ilmu dan teknologi tercipta.

Dalam contoh sehari-hari bisa dijumpai pada sepasang kekasih. Di mana wanita yang membenci anda sebagai pacarnya selalu menghindar dan terus-menerus meneyebut namamu dalam kebenciannya. Sementara wanita yang mencintai anda biasa-biasa saja tidak pernah cerita dan tidak pernah mengingatmu. Maka boleh jadi yang membenci itu adalah yang mencintai.

Tuhan dekat tapi jauh

Konsep ?Tuhan sudah mati? dari Nietzsche ini saya mengandaikan bahwa konsep tentang Tuhan bagi dia adalah ?jauh?, bahkan terus dijauhi karena tidak dipercayai. Tapi jangan lupa ?jauh-dekat? bagi kaum agamis pun menemukan hal yang sama. Misalnya, kitab wahyu, bahwa Tuhan itu dekat bahkan sedekat dari urat nadi. Ini berarti seakan-akan Tuhan itu dimaknai dekat bagi kaum agamis, dan jauh bagi atheis

Tapi lihatlah kenyataanya misalnya dalam perjalanan bangsa di negeri yang mayoritas beragama ini. Kitab wahyu telah menyatakan Tuhan itu dekat, bahkan menjadi bahan perbincangan di mana-mana, tetapi silang sengkarut negeri ini juga tidak kalah hebatnya.

Dari sini, artinya dosa seorang agamis menanggung lebih besar daripada dosa Atheis? Sebab sang Atheis masih mendasarkan moralitas pada akal budi, sementara kaum agamis masih berkutat pada ?buku? dan jarang dikunyah di akal budi. Agamis mempercayai Tuhan tetapi miskin aplikasi, sementara sang atheis action lebih diutamakan. Dampaknya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kaum atheis lebih dahulu ketimbang kaum agamis (islam).

Kalau atheisme benar-benar jujur tidak mengakui konsep ketuhanan, kemudian mengandalkan akal budi dan ilmu pengetahuan sebagai pijakannya. Namun bagi kaum agamis masih berkutat kepada ?buku? pedoman dalam mengurai berbagai kerumitan hidupnya, urusan sosial kemasyrakatan bahkan cenderung akal dan ilmu pengetahuan dikesampingkan.

Inilah yang sangat disayangkan, kemajuan orang agamis cenderung ragu-ragu karena ketidak jujuran dalam konsep ketuhanan. Ketidak jujuran yang saya maksud semacam sifat munafik, dalam istilah agama. Merasa mahir menguasai isi buku, namun aplikasinya bertentangan. Bukankah ini sama saja dengan ?jauh dari Tuhan??

Namun giliran mendapatkan tekanan atau ?serangan?, yang dipersalahkan adalah pihak di luar dirinya, Girilan mendapat semacam ?kritikan? dan ?ancaman? eksistensi, maka dengan serta merta mengutip tulisan di ?buku? bahwa yang lain adalah sesat (kafir).

Nietzsche Tasawufnya orang Atheis

Dalam benak para pemerhati, Nietzsche itu dianggap sebagai ?sufi?nya kaum atheis dalam pengembaraaanya. Sebab pemikirannya yang mendobrak filsafat dan agama membuat buah pikirnya dikaji ulang hingga kini.

Menurut analogi para pemerhati sastra, mirip dengan pengalaman Al Ghazali dalam pengembaraannya menemukan jati diri dalam tasawuf.

Imam Al Ghazali berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan terus-menerus mensucikan dirinya dan menyebut asmaNya. Ihya ?Ulumuddin, salah satu dari puluhan karya tulisanya bisa mewakiliki corak tasawuf Al Gahzali. Sebelumnya, beliau menulis buku pergulatan tasawuf dan perdebatannya seperti Tahafutul falasifah, kerusakan filsafat. Beliau menghabiskan dan mengasingkan diri dari kehidupan ?mewah? nya sebagai ilmuwan lalu mengasingkan diri hingga wafatnya. Dalam satu kesempatan beliau menulis, ada seekor lalat yang ingin meminum tinta, namun sang imam membiarkannya. Kemudian oleh muridnya menulis bahwa sang Imam masuk syurga karena nilai ?ikhlas? sang Imam saat membiarkan lalat meminum tintanya.

Hal yang mirip pada Nietsche dalam kehidupannya adalah beliau penyendiri, suka mengasingkan diri paling tidak beliau. Dan filsafat yang dimiliki Nietzsche merupakan filsafat cara memandang ?kebenaran?. Nietzsche juga dikenal sebagai ?sang pembunuh Tuhan? (dalam Also sprach Zarathustra). Kalau Al Ghozali mengkritisi konsep filsafat yang ada, maka bagi Nietzsche, mengkritik serta memprovokasi kebudayaan Barat di zaman-nya, atas pengaruh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan. Apa yang dikritisinya adalah paradigma kehidupan setelah kematian. Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme [1] (?berwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna ?bermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). (sumber: wikipedia)

Selain itu, Nietzsche seorang filsuf seniman (K?nstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup. Hal yang mirip dimiliki sebagian besar sufi, adalah suka seni, baik musik dan lainnya.

Aku ngeri
Akan kedalaman malam
sang dosa
Dan enggan kuberpaling,
Tak sanggup abaikanMu,
Di dalam seram ngeri,
Dengan pilu
Aku menatapMu, harus merengkuhMu

(kutipan puisi Nietzsche, Engkau Memanggil, Tuhan, kuhampiri)

# Terinparasi dari hasil mengikuti diskusi pada acara Peluncuran Jilid VI ?Seri Puisi Jerman?: Syahwat Keabadian, Kumpulan Puisi Friedrich Nietzsche. Dalam acara ini ada pembacaan puisi dan diskusi bersama Agus R. Sarjono dan Berthold Damsh?user. Malam kemarin, 21 September 2010

*) Lahir di Cirebon, tinggal di Jakarta, suka humor, menulis yg penting dan gak penting, Manusia hanya setitik kecil dari hamparan dunia ini. Tapi akal dan hati manusia memiliki kualitas yang besar seruang langit dan bumi. Mari besarkan hati dan fikir….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*