Idealisme

Muh Sjaiful

Home

Setindak demi setindak, langkah laki-laki itu mengayun memasuki ruang Kantor Komisaris Polisi yang sesungguhnya sudah lama menunggunya. Sudah dua pekan ia menjadi buronan polisi. Selama dua pekan itu pula, media pers menenggerkan namanya sebagai head line, berita utama. Selama diberitakan sebagai buron polisi, ia tiba-tiba terkenal bak gumintang, menenggelamkan perkabaran infotainment dari kisah-kisah kacangan yang meski itu sekedar perkabaran kentutnya para selebritis.

Pintu ruangan komisaris berderit. Sejurus laki-laki itu sudah berdiri berhadap-hadapan dengan komisaris. Matanya menatap kuat-kuat pupil mata komisaris. Sementara itu, tangan kanan komisaris yang juga sibuk mempermainkan rokok sigaret, tak kalah balas menatap. Dalam hitungan detik, mata kedua laki-laki itu saling beradu tatap. Tentu dengan masing-masing tatapan yang menyiratkan perbedaan cakrawala berpikir. Bukankah tatapan mata juga merupakan pelita cakrawala berpikir seseorang?

?Tuan komisaris, saya menyerahkan diri!?
?Tapi ingat saya bukan seorang pengecut seperti yang diperkabarkan beberapa media pers. Saya menyerahkan diri sebagai bentuk perlawanan dengan cara yang lain terhadap ketidakadilan serta kezaliman terhadap rakyat yang selama ini diperbuat oleh walikota.?

?Saya harus bangkit dan melawan setiap kezaliman yang sudah menyengsarakan rakyat. Dan semua kesengsaraan itu adalah tanggung jawab walikota sebagai pelayan urusan masyarakat.?

?Ada masanya nanti di persidangan, saya akan membuka kebobrokan yang diperbuat walikota beserta para cecenguknya.?

Kalimat demi kalimat tersebut, menderas dari bibir laki-laki itu. Penuh ketegaran. Ia sepertinya sedang ingin menyampaikan sebuah idealisme yang diyakini sebagai sebuah kesejatian dalam pilihan hidupnya. Dan baginya, itu harus diperjuangkan.

?Oh, rupanya anda, saudara Fikri, ternyata mau juga menyerahkan diri. Sudah dua pekan anak buah saya merangsek sudut-sudut kota ini. Bersusah-susah mencari anda.? Suara bariton komisaris menimpali, sembari sesekali mulutnya mengepulkan asap rokok sigaret putih yang sebelumnya sudah dihisapnya dalam-dalam.

Tampaknya ia tidak begitu tertarik dengan selorohan laki-laki bernama Fikri yang selama dua pekan menjadi most wanted, orang paling dicari anak buahnya. Selama dua pekan itu pula, reputasi kinerjanya sebagai komisaris polisi dipertaruhkan. Ketidakmampuan ia dan anak buahnya mencokok Fikri sebagai buron, tak ayal dihujat habis-habisan media pers. Mukanya seperti kena tampar.

Sekarang orang yang menjadi buruannya itu, nongol tepat di depan batang hidungnya. Selama ini ia seperti mengejar seekor burung merpati. Dicari malah terbang jauh, tidak dicari akhirnya datang juga. Dalam hati komisaris, sesungguhnya ia merasa terhina dan kalah. Mestinya, Fikri yang menjadi buruannya sudah digelandang duluan anak buahnya dengan tangan terborgol. Sebagai bukti bahwa sebagai komisaris polisi, ia tidak pernah gagal melakukan penangkapan.

?Simpanlah dulu celotehan anda itu?. Sergah sang komisaris, ia sepertinya tidak ingin seolah-olah diceramahi.

?Pada faktanya, anda telah terlibat melakukan aksi demonstrasi yang sudah mengganggu ketertiban dan keamanan warga masyarakat kota ini. Aksi demonstrasi di alun-alun kota dimana anda sendiri menjadi panglimanya, berbuntut insiden berdarah yang sudah melukai lima orang anak kecil yang kini sedang sekarat di rumah sakit.?

?Aksi demonstrasi yang anda sebut sebagai perlawanan terhadap kezaliman walikota, sudah merupakan sebuah tindakan teror!? Kalimat tuduhan terus mencerocos dari anak lidah komisaris.

?Anda sebagai seorang sarjana hukum dan pernah berkecimpung advokat, pasti sudah tahu kalau teror menurut hukum di kota ini merupakan tindak pidana subversi. Itu adalah makar!? Suara komisaris sedikit meninggi.

?Karena anda juga sudah menghasut warga untuk melawan walikota!? Penjelasan apologi komisaris menyeruak sekaligus untuk melumat rasa kesal, malu, dan kalah yang bercampur aduk atas apa yang menjadi kegagalan dia menangkap langsung laki-laki benama Fikri. Orang yang dianggap sangat berbahaya oleh walikota.

?Tuan komisaris…insiden berdarah yang terjadi dalam aksi demonstrasi di alun-alun kota dimana saya menjadi panglimanya dua pekan lalu, sebetulnya sebuah kesengajaan dan rekayasa yang sedang dirancang untuk menjebak dan mencari-cari kesalahan saya. Selama ini, walikota beserta para cecenguknya, sangat tidak suka dengan berbagai tindakan, ucapan, dan gerakan saya sebagai perlawanan terhadap status quo kekuasaan yang terbukti makin menyengsarakan dan menzalimi warga masyarakat!?

?Aksi demonstrasi di alun-alun kota barusan, sepertinya momentum yang memang disengaja untuk menjerat saya ke penjara dengan melakukan cara-cara busuk yaitu membuat skenario insiden berdarah, terutama oleh para cecenguk walikota yang siang malam hanya menari-nari dan menenggak bersloki-sloki kemenangan di atas bangkai penderitaan warga kota.?

?Gerakan aksi demonstrasi dalam rangka sebagai muhasabah kepada walikota dan para pejabatnya di kota ini, sepanjang yang dilakukan oleh saya dan kawan-kawan pergerakan demi keadilan untuk warga masyarakat kota ini, tidak pernah sekalipun mengaminkan cara-cara kekerasan dan anarkisme. Itu bukan khittah dari garis perjuangan saya dan kawan-kawan pergerakan. Kami tetap menyuarakan kritik serta teguran kepada walikota dengan cara-cara non-kekerasan.?

Kata-kata yang barusan meluncur dari bibir Fikri itu, adalah untuk mencoba meyakinkan komisaris tentang adanya sebuah grand design dari skenario mafia politik yang memang sengaja dirancang para cecenguk walikota sebagai dalih untuk menyeret dirinya ke penjara. Ia sadar betul bahwa reputasi kekuasaan walikota kini merasa terancam dengan keberadaan dirinya. Naluri sebagai mantan advokat telah menangkap ada semacam provokasi yang dilakukan oleh para penyusup suruhan walikota yang secara sembunyi-sembunyi memancing terjadinya chaos insiden berdarah dalam gerakan aksi demonstrasi yang dipimpinnya barusan dua pekan lalu.

?Saudara Fikri, anda kami tahan dengan tuduhan telah melakukan tindak pidana subversi. Tepatnya anda telah melakukan teror yang sudah mengganggu keamanan dan ketertiban kota. Penyidikan terhadap anda, nanti akan dilanjutkan dalam proses pembuatan Berita Acara Pemeriksaan.? Mata komisaris menyeringai ke wajah Fikri. Rokok sigaret putih yang hampir sepuntung, masih bertengger di sudut bibirnya. Meski begitu, sisa-sisa asap rokok masih tetap mengepul di lorong hidung komisaris.

?Lantas, apakah anda perlu didampingi pengacara?? Tanya komisaris.
Sesaat wajah Fikri sedikit merunduk. Sanubarinya masih mencari-cari jawaban yang tepat bagi pertanyaan komisaris. Ia sebenarnya punya keyakinan meski didampingi oleh puluhan pengacara, tetap saja walikota dan para cecenguknya akan memelintir putusan pengadilan guna menjebloskannya ke dalam penjara. Pengadilan yang sudah diintervensi walikota sudah pasti meremehkan seluruh fakta-fakta hukum tentang alibi ketidakterlibatan dirinya dalam insiden berdarah yang terjadi dalam aksi demonstrasi tempo hari lalu.

?Saya tidak perlu pengacara, Tuan Komisaris. Saya akan membela diri dengan pledooi sendiri! Karena saya yakin sehebat dan sepintar apapun pengacara di kota ini, tidak akan mampu meruntuhkan tirani hukum yang sedemikian kuat bercokol. Penangkapan atas diri saya memang sudah sangat dikehendaki oleh walikota. Saya cuma tunggu waktu, sampai pada saat raga saya akan dikremasi oleh walikota lantaran apa yang saya lakukan selama ini dianggap membahayakan hegemoni status quo kekuasaan sebuah tirani!?

Sejenak komisaris tertegun dengan kata-kata Fikri. Sebuah ungkapan idealisme yang keluar dari mulut seorang anak muda yang siap menjadi martir.

?Anak muda, yakinkah dengan apa yang anda ucapkan barusan?? Tanya komisaris heran.
?Menurut saya?, timpal komisaris. ?Anda benar-benar membutuhkan seorang pengacara yang mahir dan penuh dedikasi. Kesalahan yang dituduhkan kepada anda tidak seberapa dibandingkan dengan praktik-praktik korupsi yang semakin akut dilakoni oleh para pejabat di sekeliling walikota.? Sebenarnya, kata-kata komisaris merupakan sebersit ungkapan nurani tentang kebenaran fenomena bobroknya penegakan hukum di kota itu.

?Dengan keberadaan pengacara yang pintar, mungkin anda bisa bebas?, kata komisaris sekenanya.
?Bebas kata tuan? Tidak mungkin. Apalagi saat-saat seperti inilah yang justru sejak dulu saya nanti-nantikan. Saya hendak melakukan sebuah perlawanan yang barangkali akan tercatat dengan tinta sejarah. Maka jika suatu saat toh pada akhirnya saya terbunuh dalam perlawanan ini, saya akan sangat siap. Saya tidak mau menjadi manusia pengecut dengan merajuk memohon ampun di kaki walikota.?

?Maksud saya bukan pengampunan, anak muda?, komisaris mencoba meyakinkan Fikri. ?Akan tetapi keadilan dan kebenaran hukum?.

?Omong kosong!? Sergah Fikri. ?Keadilan dan kebenaran hukum di kota ini, hanya milik walikota dan pejabat-pejabatnya termasuk orang-orang kaya. Keadilan dan kebenaran hukum tidak pernah sekalipun berpihak kepada orang-orang miskin, rakyat jelata, dan pejuang idealisme seperti saya!?.
?Terserah, itu hak anda, saya hanya memberikan saran.? Kata komisaris lagi.

Kedua tangan Fikri lalu disambangi oleh dua orang brigadir polisi atas perintah komisaris. Langkahnya diseret memasuki sebuah ruang tahanan polisi berukuran 3X4 meter. Baginya, ruang tahanan bukanlah neraka dunia tetapi adalah bilik kedamaian tempat ia melepaskan penat atau rehat sejenak dari kelelahan sebuah perjuangan demi idealisme dan kebenaran. Perjuangan menegakkan amar ma?ruf nahi mungkar.

Matahari beranjak dari singasananya, lalu berganti malam. Kegelapan kemudian beringsut perlahan-lahan menuju kelamnya malam yang makin pekat. Suara-suara lolong anjing menghentakkan kesunyian malam, yang asalnya dari sebuah belantara yang tak jauh dari ruang tahanan polisi tempat dimana sosok pemuda penuh idealisme, bernama Fikri dikerangkeng sebagai tertuduh.

Taburan bintang gumintang di hamparan langit malam itu, tidak begitu cerah, cahaya sinarannya buram oleh balutan gumpalan awan yang menghitam. Sepertinya telah menjadi malam yang tak lagi ramah.

Fikri terbaring menengadah dengan bertelekan kedua tangannya di atas dipan kayu tak berkasur pada ruang tahanan polisi dimana ia mendekam. Ukuran dipan tidak terlalu besar, ukurannya hanya cukup untuk satu badan. Waktu menunjukkan tepat pukul 12 tengah malam. Ia tidak dapat memincingkan matanya, apalagi nyamuk-nyamuk ganas ruang tahanan bersileweran dan berterbangan dengan suara berdesingan serta sesekali bertengger di ujung daun telinga Fikri. Sesekali nyamuk-nyamuk itu menghujamkan jarum penghisap darahnya ke tubuh Fikri.

Seperti tidak memperdulikan totolan nyamuk ganas ke tubuhnya, pikiran Fikri menerawang ke masa silam relung-relung kehidupannya. Dulu sebelum memiliki idealisme kesejatian hidup, ia adalah seorang advokat yang penuh glamour duniawi. Boleh dibilang dulu ia adalah seorang bajingan brengsek yang penuh cinta dengan harta dan prestise duniawi.

Semua jalan hidupnya itu tiba-tiba berubah drastis, sejak ia diperkenalkan dengan kesejukan Islam oleh seorang ustadz yang dengan penuh cinta dan keikhlasan, serta secara telaten mengajarkannya tentang aqidah Islam dalam sebuah perhelatan pengajian yang rutin dilakoninya pada setiap sekali sepekan.

Tiba-tiba ada warna baru kehidupan yang merasuk benak serta merubah seluruh persepsinya tentang kesejatian hidup setelah memahami Islam yang tidak hanya sebagai sebuah perhelatan ritual namun Islam juga merupakan aqidah mabda yang harus diperjuangkan dalam teorama amar ma?ruf nahi mungkar untuk melawan setiap kezaliman, tirani, dan ketidakadilan. Yah, ia sekarang sadar bahwa hidup adalah pilihan antara kezaliman dan kemuliaan. Ia bertekad memilih syahid sebagai martir guna menggapai asa kemulian itu.

Fikri tiba-tiba dikejutkan sekelabat sosok pria berjubah hitam. Pada wajah pria itu bergelayut topeng mirip ninja sehingga sulit bagi Fikri untuk mengenalinya secara jelas. Kedatangan pria berjubah hitam bak hantu malam yang sangat menyeramkan. Sontak tangan pria itu menyembul dari balik jubah, bergetar dan menggenggam erat sepucuk pistol kecil jenis magnum berkaliber peluru yang cukup untuk menghilangkan nyawa.

?Kau harus mati malam ini anak muda!!!? terdengar suara aneh berdesis, dingin dan datar dari pria berjubah hitam. Moncong pistol menyelip di balik jeruji besi pintu dalam ruang tahanan, sasarannya tepat mengarah ke jantung Fikri.

?Wahai pria aneh, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan! Ia adalah firdaus kedamaian bagi sang hamba pecinta kebenaran sejati dalam setangkup Rahmat Ilahi.? Suara Fikri tampak menunjukkan ketegaran, tidak sedikitpun menyiratkan ketakutan. Tiba-tiba dengan sigap kaki Fikri meloncat ke arah pria berjubah hitam. Meski dirinya terhalang oleh jeruji besi ruang tahanan, namun tangannya berhasil menjambak topeng yang bergelayut di muka pria berjubah hitam. Tampak wajah buas walikota.

?dor…dor…dor?, suara pistol meletup tiga kali tanpa suara, karena pada moncong pistol sengaja dibungkus alat pengedap suara. Tiga butir peluru menerjang dan tepat membenam ke bilik jantung Fikri. Ia merenggang nyawa secara damai, mulutnya bergumam lirih…?Allahu Akbar…?. Kematian menjemput dengan husnul khatimah.

Esoknya, koran-koran pada menuliskan berita utama…?Fikri sang panglima pelaku insiden berdarah di alun-alun kota hilang secara misterius di ruang tahanan komisaris polisi kota, diduga ia melarikan diri?

Bumi Anoa, Juli 2008.

Muh Sjaiful SH MH, adalah dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Haluoleo, juga pengajar Program Pascasarjana Kerjasama Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Kendari. Lahir di kota Anging Mamiri. Sejak menjejakkan kaki di Jazirah Sulawesi Tenggara tahun 2001, aktif menulis artikel hukum dan masalah-masalah sosial. Puluhan artikel hukum dihasilkan yang telah dimuat di berbagai media massa. Cerpennya yang pernah dimuat di koran ini adalah bertajuk ?Palu Hakim?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *