Kanon Sastra Indonesia Masa Kini

Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta
Purhendi
http://cetak.bangkapos.com/

DALAM istilah sastra (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:502), kata kanon diartikan sebagai karya drama yang dianggap ciptaan asli seorang penulis. Namun dalam makna yang lebih luas tentu tidak hanya demikian.

Seperti dilontarkan novelis Ayu Utami (Kompas, 28 Oktober 2007), kanon sastra dapat juga diartikan sebagai daftar bacaan standar wajib bagi orang terpelajar. Lebih dari itu, atau barangkali dalam arti yang lebih luas lagi, kanon sastra berarti karya sastra asli yang menjadi ?ikon? suatu zaman (masa atau kurun waktu tertentu) pada suatu wilayah/negara. Jadi, apa pun pendapat anda tentang kanon sastra, setidaknya berputar pada ?kondisi pengertian? tersebut.

Lantas, adakah kanon sastra Indonesia dewasa ini? Jawabannya tentu tidak sederhana. Perlu pembicaraan, kritisi, penelitian khusus, atau apalah namanya yang mampu mewakili sebagian besar opini publik.

Terlepas dari serba kebakuan definisi dan opini, namun tampaknya masyarakat pembaca sastra kian menyadari bahwa novel-novel Pramdoedya Ananta Toer yang marak terbit pasca Orde Baru mulai dirasakan ke-kanonan-nya. Hal ini setidaknya terbukti dengan makin diminatinya novel-novel tersebut tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga di luar negeri.

Dan kemudian, ada lagikah kanon karya sastra Indonesia yang kekinian? Hal ini pun barangkali tidak terlalu mudah untuk dijawab. Akan tetapi, dalam dua tahun terakhir ini, atau bahkan dalam tahun 2007 yang baru lalu, pastinya kita mendapatkan dua buah karya yang luar biasa hangat dibicarakan, baik oleh pembaca sastra maupun kalangan awam. Karya yang dimaksud yaitu novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Jika kita membuka kembali kliping berbagai media massa, atau membuka kembali file-file di internet, sudah ratusan yang menyoroti kedua novel ini. Ada sastrawan dengan daya kritisinya, ada pelajar yang menanggapi dengan bahasa popnya, guru, mahasiswa, rekan sejawat, sampai selanjutnya banyak yang mengaku kemudian menyenangi membaca novel sastra setelah ?dipaksa? oleh temannya untuk membaca kedua novel ini.

Pada bagian lain, ada juga yang jujur mengaku sangat ?cemburu? dengan kedua novel ini. Kecemburuan itu setidaknya lahir dengan dua alasan inti. Pertama, novel-novel itu ditulis bukan oleh orang yang ?nyastra? atau bahkan lumayan jauh dari sastra, lantas ?meledak? menjadi best seller. Kedua, honorarium yang tentu saja luar biasa dari dampak laris manisnya karya tersebut di pasaran. Sampai Desember 2007, dalam sebuah media massa dikabarkan bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah mengantongi honor 1,08 milyar. Sedangkan Laskar Pelangi telah mampu pula mengantongi 2,07 milyar. Kecemburuan kalangan penulis tampaknya tidak hanya sampai di situ. Ternyata, penulis kedua novel ini pun merupakan orang yang patut diteladani. Honor yang mereka tarima nyatanya tidak masuk kantong semata, tetapi tidak sedikit yang digunakan untuk kemaslahatan umat.

Adakah sampai di situ perjalanan keduanya? Tampaknya masih belum selesai. Buku-buku mereka yang lain pun ikut terbawa bernasib baik. Jadwal menjadi pembicara dalam berbagai kesempatan pun kian padat. Bahkan, kedua novel ini siap pula diangkat ke layar lebar!

Lantas apa yang menjadi dasar atau alasan mengapa dua karya ini menjadi best seller? Banyak sudah pakar mengungkap. Namun barangkali juga masing-masing memiliki satu alasan utama. Barangkali, Ayat-ayat Cinta meledak ketika kini masyarakat benar-benar terpukul oleh segala ?hakikat cinta? yang penuh ikon dan gombalan semata. Sehingga kemudian orang menyadari bahwa ?hakikat cinta sejati? tidaklah seperti yang tertayang di film-film atau di iklan-iklan, atau di sinetron-seinetron. Justru semuanya ada di dalam lubuk kesadaran hati sendiri, yang diantaranya diungkap dalam novel ini.

Demikian halnya dengan Laskar Pelangi, sebenarnya ia bukanlah hal aneh. Namun kegamangan dunia pendidikan, quo vadis, sistem yang tak jelas, kasus-kasus yang kian menjengkelkan, ironi yang tak berkesudahan, idealisme yang slogan, dan hal lainnya yang menyangkut carut-marut dunia pendidikan, kini telah mencapai sarkasme yang memuncak. Karenanya ketika novel tersebut lahir sepertinya kian melengkapi ?gambaran penderitaan? itu atau justru setidaknya mampu menjadi penawar dahaga meskipun kian memperkuat ironi dunia pendidikan.

Sebagai sebuah karya sastra kanon yang kini kian membumi, dua novel di atas tampaknya kian membanggakan, tidak hanya bagi pengarang, tetapi juga bagi daerah di mana pengarang itu tinggal, bahkan bagi bangsa ini. Hal ini terutama dengan mulai diterjemahkannya novel tersebut ke dalam berbagai bahasa asing. Novel Laskar Pelangi (tetralogi) misalnya, konon kini sudah dilirik oleh lima negara.

Semoga, khususnya dua novel yang telah disinggung di atas, tidak hanya mampu menjadi kanon sastra Indonesia masa kini tetapi juga mampu dijadikan cermin, baik oleh mereka yang mengaku sastrawan, para pemegang kebijakan, maupun masyarakat awam lainnya. Semoga saja!

Palembang, Januari 2008
*) Guru Bahasa Indonesia dan Pembina Sanggar Sastra Siswa Indonesia, tinggal di Palembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *