Nama Cina

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

BULAN tua, cuma separuh bersinar. Suasana malam, hening dan tenang. Narimo menghentikan langkah kakinya sejenak, di depannya terpampang pintu gerbang bangunan model Cina. Dia amati sekeliling, dibulatkan hatinya. Tanpa ragu lagi Narimo melangkah memasuki gerbang kuburan Cina itu.

Hanya suara jangkrik dan belalang daun yang terdengar. Dia hapal betul dengan suasana malam di kampungnya itu, apalagi pada penghujung musim hujan. Memasuki musim kering, biasanya serangga seperti jangkrik dan belalang daun sudah saatnya memasuki musim kawin. Dengan menggesekan bulu-bulunya, serangga-serangga jantan memikat betinanya dengan bebunyian yang khas. Suara keratan belalang daun, memang terkadang mengagetkan.

Dia tidak peduli pada omongan banyak orang, kalau kuburan Cina itu angker. Bahkan dia juga tidak mau dengar permintaan Sedih, istrinya. Agar mengurungkan niat, mencari nama bagi calon anaknya di kuburan Cina itu.

Dia tahu betul, kuburan Cina di kampungnya itu, tidak seseram gambaran yang diceritakan orang kebanyakkan. Sebab sejak kecil dia sudah terbiasa main hingga menjelang malam di komplek pekuburan Tionghoa itu.

Narimo tidak takut pada cerita yang dipercaya orang kampung mengenai kewingitan kuburan Cina itu. Baginya keinginan menda-patkan nama yang bagus buat anak pertama-nya, memang harus dilakukan dengan lelaku. Berbekal tekat itulah, ditepis semua gunjingan tetangga, yang menganggap konyol keinginannya itu.

Sebagai orang kampung yang masih berpegang tradisi, dia sangat yakin betapa pentingnya nama bagi seseorang. Nama baginya bukan saja sekadar panggilan, namun memiliki makna dan sangat mempengaruhi perjalanan nasib pemiliknya.

?Sudahlah kang, tidak perlu susah payah mencarikan nama buat jabang bayi ini, di ku-buran cina sana?, pinta Sedih sambil mengusap-usap perutnya yang buncit.

?Tidak Dih, aku tidak mau nantinya disalahkan anakku, seperti aku menyalahkan kedua orangtuaku yang memberiku nama Narimo,? bantah Narimo sambil mencomot ketela rebus.

?Kata simbah, semua nama itu bagus. Tidak ada nama yang jelek?, Sedih kasih komentar.

?Aku percaya semua nama itu bagus, tapi aku lebih percaya kalau nama yang diberikan orangtua ada pengaruhnya pada nasib anak itu nantinya?.

?Kang Imo ada-ada saja,? Sedih ketawa.

?Eh, betul lho Dih. Coba kamu pikir, namaku Narimo sejak kecil hidupku terus saja nrimo seperti ini. Dan kamu dikasih nama Sedih, pernah kamu merasakan senang??

?Dulu sewaku Simbok mbobot tua, Bapak main gila sama perempuan lain. Dan selagi aku lahir, kata Simbok, Bapak masuk bui karena mencuri kayu jati. Karena selalu susah, simbok kasih nama Sedih,? kisah Sedih sembari menjahit kain popok bakal anaknya nanti.

?Nah, sekarang kamu kawin sama orang yang nrimo, tidak bisa bikin senang kamu. Artinya hidupmu selalu saja menderita, dan sedih.?

?Aku senang kawin sama kang Imo, bahagia.? ucap Sedih menyangkal.

***

Siang tadi, Narimo hampir seharian ngobrol dengan Babah Ong, juragan becak tempatnya biasa menyewa becak. Dari Babah Ong, Narimo banyak menerima masukan perihal nama serta hubungannya dengan nasib, sipemilik nama itu.

?Haiya, nama kamu itu bagus wuo, Narimo artinya orang yang pasrah.?

?Betul Bah, bahkan nrimo juga meski nasib jadi orang susah!?

?Oie, Imo tidak boleh bilang gitu, wuo. Tuhan sudah kasih jalan hidup orang masing-masing. Jadi tidak boleh orang salahkan Tuhan!?

?Orang-orang seperti Babah Ong, banyak yang kaya.?

?He… he… he, Imo bisa aja bilang. Orang Tionghoa kalau mau hidup enak, kerja keras terus, wuo,? Babah Ong kasih komentar.

?Jadi bukan karena nama??

?Nama? Memang betul nama bisa kasih hoki. Tapi kerja keras lebih penting!?

Narimo manggut-manggut. Setengah percaya. Kata-kata Babah Ong tidak sepenuhnya diyakini. Sudah jadi rahasia umum, kesuksesan orang-orang Tionghoa, selain didukung modal dan kerja keras, satu hal yang masih serba raba-raba pasti ada resep yang tidak bisa diobral begitu saja. Narimo sangat yakin, rahasia kesuksesan itu ada pada pemberian nama. Untuk itulah dia bertekat, mencarikan nama bagi anaknya, nama Cina.

Rencana konyol, begitu para tetangga meng-atakan. Narimo sudah kehilangan kiblat!

?Mbok orang itu yang mawas diri, to. Kamu kan orang kampung.

Kok reka-reka mau kasih nama anak saja pakai nama Cina. Malah carinya di kuburan, nama orang mati!? komentar Tarjo tetangga dekatnya.

Narimo cuma cengengesan.

?Apa kamu tahu bahasa Cina, tahu arti nama dan maksudnya?? desak Tarjo lagi.

?Itu bukan masalah, yang penting aku dapat-kan nama orang Cina yang kaya dan sukses?, bantah Narimo ketus.

?Apa kamu sudah tahu, anakmu laki apa perempuan.?

?Enggak masalah, aku bisa cari dua nama,? jawab Narimo enteng.

***

Akhirnya malam itu Narimo benar-benar berangkat. Pedomannya, hanya mengandalkan ingatan, mencari kembali kuburan orang kaya dan sukses, yang prosesi peng-uburannya pernah dia saksikan dulu. Semasa kecilnya, Narimo biasa keluar masuk komplek kuburan itu. Meskipun agak sulit, tetapi akhirnya didapatkan juga beberapa nama. Nama-nama itu kemudian dicatat

Dari nama-nama itu, Narimo masih ingat betul prosesi pemakamannya. Nama-nama orang Tionghoa yang terkenal, Liem Sui Eng seorang konglomerat. Saat prosesi pemakamannya dulu, banyak pejabat yang hadir. Beng Hong Shan, raja kayu yang menguasai hampir separuh hutan di kampungnya. Dan beberapa nama lain yang memiliki riwayat hidup sebagai orang kaya dan sukses.

Narimo lega. Dibayangkan anaknya kelak bisa menjadi orang seperti pemilik nama-nama itu!

Belum lagi dia selesai mengurai angan, dari arah pintu gerbang, di kejauhan tampak bebe-rapa orang membawa obor. Mereka memanggil-manggil Narimo. Orang-orang itu mencarinya.

?Ooi, di sini. Aku ada di sini!? teriak Narimo membalas panggilan itu.

Orang-orang itu mendekat ke arah suara Narimo, yang berada di salah satu bong. Wajah mereka kelihatan tegang..

?Aku sudah menemukan nama untuk anakku? ucap Narimo.

?Imo, pulanglah,? pinta Tarjo tetangga dekatnya.

?Kalian khawatir aku kesasar??

?Bukan itu, ada yang lebih penting lagi. Pulanglah!? kata tetangga yang lain.

?Kalian tidak suka aku pakai nama Cina untuk anakku??

?Bukan itu. Pulanglah,? bujuk Tarjo lagi.

?Sesuai rencana, aku pulang besok pagi!?

?Kau harus pulang sekarang,? desak yang lainnya.

?Tidak!?

?Isterimu sakit!?

?Apa? Narimo kaget.

?Istrimu sakit. Sedih terjatuh ketika akan buang air!?

?Apa??

?Istrimu pendarahan. Cepat pulang!? ajak Tarjo.

***

Ketika sampai, orang kampung sudah berkumpul di rumahnya. Tubuh Sedih, istrinya, terbujur di bale-bale ditutupi kain.

?Istrimu terjatuh, mengalami pendarahan serius. Kami sudah berusaha, tetapi Tuhan menginginkan lain!? tutur Bidan Desa.

Tubuh Narimo limbung. Dunia gelap.

Bantul, Mei 2001

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply