Rumah Baca Komunitas Merapi, Oase di Kaki Gunung

Regina Rukmorini
http://oase.kompas.com/

Masih mengenakan caping, Stevanus Mindut (30) bertandang ke Rumah Baca Komunitas Merapi di Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Dia langsung menuju rak tempat majalah.

Mindut mengambil sebuah majalah dan mulai membaca dengan asyik. Ini adalah kebiasaannya setiap kali pulang dari sawah, yang menjadi hobi sejak Rumah Baca Komunitas Merapi dibuka pada Februari 2009. “Ketika rumah baca ini dibuka, saya seperti menemukan tempat hiburan baru,” ujar petani sayur di Dusun Gemer, Jumat (13/3). Dusun Gemer berjarak sekitar 8 kilometer dari puncak Merapi.

Bagi Mindut, keberadaan Rumah Baca Komunitas Merapi laksana oase yang menyegarkan pikiran. Segenap buku dan majalah di sana mampu memberikan wawasan, cakrawala baru, dan seperti mendekatkan dirinya yang bertempat tinggal nun jauh di kaki gunung dengan segala perubahan dan hiruk-pikuk dunia. “Dengan membaca buku dan majalah, saya seperti bisa melihat dan mengetahui banyak hal di luar keseharian saya yang hidup di dusun terpencil di kaki gunung,” ujarnya.

Sebelumnya, laki-laki lulusan sekolah dasar ini tidak pernah merasakan “sensasi” membaca seperti itu. Untuk sekadar melihat-lihat koran dan majalah, dia dan warga dusun lainnya harus “menyeruak” keluar dari kesunyian Merapi, mendatangi pusat Kecamatan Muntilan yang berjarak 15 kilometer dari Dusun Gemer.

“Otomatis membutuhkan banyak biaya dan tenaga,” ujar Sarmin, petani lainnya.

Keberadaan Rumah Baca Komunitas Merapi menjawab semua keluhan itu. Semua buku dan majalah yang tersedia di sana bisa dibaca tanpa harus sewa. Oleh karena itu, saat siang menjelang sore, rumah baca ini pun ramai dikunjungi warga mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Namun, satu hal yang kurang, Rumah Baca Komunitas Merapi tidak memiliki buku pertanian ataupun peternakan. Padahal, buku-buku itulah yang sangat dibutuhkan warga Dusun Gemer yang mayoritas merupakan petani hortikultura.

“Kami terus berupaya menambah koleksi buku dan majalah, khususnya tentang pertanian dan peternakan, sesuai dengan kebutuhan warga,” ujar pemilik dan pengelola Rumah Baca Komunitas Merapi, Sukisno (35).

Rumah Baca Komunitas Merapi memiliki 400 bahan bacaan yang terdiri dari komik, buku pelajaran, kumpulan cerpen, dan majalah. Sebagian besar merupakan buku cetakan tahun 2005. Semua bahan bacaan itu merupakan sumbangan dari berbagai komunitas sastra dan budaya seperti Komunitas Merapi, Komunitas Melati Jakarta, dan Komunitas Cah Andong Yogyakarta.

Upaya menambah koleksi dilakukan dengan terus mengembangkan jaringan antara lain dengan komunitas Indonesia Membaca, dan 1001 Buku. Sukisno dan istrinya, Tarmiyati (30), sesekali juga membeli majalah atau koran dengan uang pribadi mereka di Kecamatan Muntilan.

Rumah Baca Komunitas Merapi dibangun di halaman rumah Sukisno. Ide pendirian rumah baca ini berasal dari Stevi Sundah, anggota Komunitas Merapi, komunitas sastra dan budaya dari Yogyakarta. Stevi yang berteman dengan adik Sukisno, Gendhot, melontarkan ide ini dengan harapan mengubah kebiasaan anak-anak Dusun Gemer yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain, menjadi gemar belajar dan membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *