Sajak-Sajak Barack Hussein Obama

diterjemahkan Iwan Nurdaya Djafar
http://www.lampungpost.com/

Hikayat Orang Kulit Hitam

Di zaman lalu
Para raksasa
Berjalan di atas bumi Hitam
Delaney, Douglass, King dan X
Kami paham bahwa kini bisa kami saksikan
Bayangan-bayangan hitamnya nan mahahebat
Menentang cakrawala sejarah
Tapi para insan kerdil yang mengekor mereka
Tak bisa menyaksikan mereka menentang fajar atau debu
Mereka memandangnya, dengan keyakinan
Di dalam kebajikan mereka, keadilan
Atas perilaku mereka. Tak peduli
Cahaya menyilaukan yang panas
dari siang-bolong pencelaan orang kulit putih
Mereka bersantai di naungan nan teduh
Dari para orang-besar nan budiman
Merentang dari fajar sejarah
Ke debu gelap harapan

Lelaki Tua

Kusaksikan seorang lelaki tua yang terlupakan
Di atas sebentang jalan yang tua dan dilupakan
Mengejutkan dan matirasa
Mencabut martabat yang dilecehkan dari balik
mantelnya yang recai
Dan menempuh satu garis lurus menyusuri dunia
nan berliku-liku
Di Bawah Tanah
Di bawah air gua, lubang-lubang besar di dalam tanah
Dipenuhi dengan kawanan monyet
Yang memakan buah ara.
Sembari melangkah di atas buah-buahan
Kawanan monyet yang makan itu, mereka berjalan dengan bunyi berderak.
Kawanan monyet melolong, memperlihatkan
Gigi taringnya, menari.
Terguling ke dalam
Air yang mengalir
Berbau apak, kulit-bulu basah
Berkilauan di dalam warna biru.

Ayah

Sembari duduk di kursinya, sebuah kursi yang besar
tapi patah, bertabur debu,
Ayah mengalihkan saluran teve, mengambil
Gambar lain dari Programa Laut, polos, dan bertanya
Apa yang dilakukan terhadapku, seorang lelaki muda bau kencur
Yang lalai mempertimbangkan
Tipu-muslihat dunia, karena
Segala urusan adalah mudah bagiku;
Kusaksikan kesukaran pada wajahnya,
suatu kesaksian
Yang mengerutkan keningnya;
Kuyakin, dia tiada menginsafi
Kegelapannya, mata berair, karena
Memandang ke jurusan-jurusan lain,
Dan kedutan-kedutannya nan lamban dan tiada dikehendaki,
gagal untuk lulus.
Aku mendengarkan, mengangguk,
Mendengarkan, menguakkan, hingga kumelekat
pada batasnya.
T-shirt kelabu-kecoklatan, berseru,
Berseru di dalam telinganya, yang menggantung
Bersama cuping-cuping berat, tapi dia tetap menuturkan
Gurauannya, maka aku bertanya mengapa
Dia begitu tak bahagia, yang untuknya dia menjawab ?
Tapi ?ku tak peduli apapun lagi, karena
Kelewat lama dia mengutuk, dan dari
Bawah kursiku, kukeluarkan
Cermin yang kusimpan; aku tertawa,
Tertawa nyaring, darah mengalir dari wajahnya
Untukku, saat dia jadi mengecil,
Satu titik di dalam benakku, sesuatu
Yang mungkin terperas ke luar, bak sebuah biji
Semangka di antara
Dua jari.
Ayah mengambil gambar lain, polos,
Memperlihatkan warna sawo matang yang sama
Noda pada celana pendeknya yang telah kudapatkan pada kepunyaanku, dan
Membuatku mencium aromanya, yang berasal
Dariku; dia mengalihkan saluran-saluran teve, mengutip sebuah puisi lama
Yang dia tulis sebelum kematian ibunya,
berdiri, berteriak, dan bertanya
Demi suatu rangkulan, saat kutenggelam,
Tanganku baru saja mencekau ke seputar
Lehernya yang tebal lagi berminyak, dan punggungnya yang lebar; karena
Kulihat wajahku, terbingkai di antara
Kacamata ayah yang berbingkai-hitam
Dan tahu dia sedang tertawa juga.

Hari-hari Sekolah

Di sini aku duduk bersama kepuasan.
Reaksiku adalah seulas senyum pada wajahku.
Punggungku sakit maka tak bertenaga.
Warna kulitku dikatakan menjadi sebuah gangguan.
Aku tak punya apapun di sekolah, syukur pada tuhan
atas tindakan penegasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *