Salam ?novelia? dari Sigli

Musmarwan Abdullah
http://blog.harian-aceh.com/

?Saya sedang dalam rangka pemetaan wilayah pedalaman Pidie untuk setting novel yang tengah saya garap. Abang bisa bantu saya, tak?? demikian bunyi SMS dari Arafat Nur di Lhokseumawe pada Medio 2007 lalu.

Seminggu kemudian Arafat tiba di Pasi Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. Ini gampong tempat lahir Ayah Daod (Muhammad Daud Paneuk), tokoh GAM generasi perintis. Di sini, setengah hari Arafat mengamati, mencatat dan berdialog dengan beberapa warga setempat.

Dari Pasi Lhok, perjalanan tertatih-tatih menempuh pematang tambak, mengarungi Krueng Kuala Tari dengan lutut bergetar via titi gantung berlantai bobrok hingga tiba di Gampong Ukee, Glumpang Baro. Di sini, sisa setengah hari terhabiskan bersama dialog kontens dengan Suhardi, tokoh muda setempat yang juga adik kandung Saifullah Raden, tokoh GAM Glumpang Payong yang syahid pada tahun 2000.

?Besok kita masih harus kembali ke sini, bang,? ujar Arafat. Dan begitulah sepenggal kisah terlewatnya sepanjang hari itu.

Arafat Nur adalah satu-satunya sastrawan Aceh yang telah melahirkan enam karya novel. Penulis lain yang seangkatan dengannya, paling tinggi baru menghasilkan tiga novel selama puluhan tahun masa kepengarangan. Yang terakhir ini pun baru tercatat satu orang, yaitu Saiful Bahri, sastrawan Aceh Besar.

Sementara Sulaiman Tripa, meski telah mengarang lebih tujuh buku yang termasuk di dalamnya karya ilmiah, novelet dan antologi cerpen, namun belum seproduktif Arafat dalam menelorkan karya novel.

?Kenapa harus membanding-bandingkan dengan para rekan? Nanti malah timbul perasaan tak enak di hati kawan-kawan,? gugat Arafat ketika sekelumit obrolan ini disinggung Harian Aceh via telepon seluler dari Sigli, Sabtu (26/9).

Jawabannya sederhana. Demi tujuan baik, tersinggung sedikit, tidak apa-apa. Tersinggung berat pun, kalau itu memang dapat memancing kreatifitas mereka untuk lebih produktif, malah lebih baik.

Novel karya Arafat Nur yang telah beredar di pasaran adalah ?Meutia Lon Sayang?, terbitan Mizan, Jakarta tahun 2005. ?Cinta Maha Sunyi?, juga terbitan Mizan pada tahun yang sama. ?Percikan Darah di Bunga?, terbitan Zikrul Hakim, Jakarta, tahun 2005. ?Cinta Bidadari?, terbitan Intermasa, Jakarta tahun 2007 dan ?Nyanyian Cinta di Tengah Ladang?, juga terbitan Intermasa pada tahun yang sama. Sementara pada Mei 2007, atas kerjasama Aliansi Sastrawan Aceh dan BRR Aceh-Nias, novel karya sastrawan penduduk Desa Kandang, Lhokseumawe ini diterbitkan.

Selama masa kepengarangan yang diawalinya sejak tahun 1998 di Rhieng Blang, Meureudu (kini Pidie Jaya), buah tangan lelaki kurus jangkung yang kini berusia 35 tahun ini, baik dalam bentuk puisi maupun cerpen, dimuat di berbagai media terbitan Jakarta, Sumatera Utara dan Aceh.

Bahkan di tengah kesibukannya kini sebagai seorang wartawan, ayah tiga anak ini masih terus memainkan tarian penanya. Tanpa jeda. Mencatat segala perirupa kehidupan. Dari hasil penelitian, pengamatan bahkan yang terperangkap dalam wujud penglaman pribadi.

?Saya sedang mempersiapkan novel saya yang ketujuh,? katanya, masih lewat handphone.

Judul?

?Masih rahasia.?

Berkisah tentang?

?Juga masih rahasia.?

Kapan terbitnya?

?Insya Allah, bila tak ada aral melintang, pertengahan dua ribu sepuluh.?

Detil kehidupan dan sisi lain kemanusiwian yang terlewatkan dalam catatan resmi sejarah manakala negeri ini melawan Belanda dan Jepang, sedikit banyak telah diabadikan oleh putra Aceh pejuang kemerdekaan, Teuku Hamid Azwar dalam tiga karya novelnya, ?Jeritan Jiwa?, ?Mariyati? dan ?Fantasia?. Juga oleh Ali Hasyimi dalam beberapa buah tangannya.

Remah kehidupan zaman berikutnya di tanah sarat sejarah ini yang terlanjur lewat dari pena di atas meja-meja resmi, sekelumit telah terabadikan pula dalam enam novel karya Arafat yang lalu. Dalam karyanya yang ketujuh kelak, semoga lebih banyak misteri yang terlukis sebagaimana wujudnya. Terutama misteri sepanjang suspen konflik Aceh-Jakarta yang tak mungkin diekpous secara resmi karena batasan sopan-santun cita-cita rekonsiliasi.

Salam ?novelia? dari Sigli. Selamat berkarya sang sastrawan muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *