Sastra Bali Modern Milik Siapa?

IDG Windhu Sancaya
http://www.balipost.co.id/
Judul Buku : Tonggak Baru Sastra Bali Modern
Penulis : I Nyoman Darma Putra
Penerbit : Pustaka Larasan, 2010
Tebal : 212 halaman

“Tonggak Baru Sastra Bali Modern” begitulah judul buku I Nyoman Darma Putra (2010). Buku ini merupakan cetak ulang (Cetakan II Edisi Baru) dari buku yang sama yang diterbitkan sepuluh tahun silam (tahun 2000), dengan berbagai tambahan dan perubahan. Buku ini sengaja dicetak ulang dengan maksud merayakan kelahiran Sastra Bali Modern (SBM) yang dideklarasikan oleh Darma Putra lahir tahun 1910-an sehingga pada tahun 2010 ini usianya memasuki seratus tahun.

Kehadiran buku ini mengingatkan kita pada buku Pokok dan Tokoh karya Prof. Andries Teeuw yang kemudian menjadi buku Sastra Baru Indonesia 1 (1978) dan Sastra Indonesia Modern II (1989), atau dalam konteks sastra klasik seperti buku Kalangwan, a Survey of Old Javanese Literature karya P.J. Zoetmulder (1974), Malay Classical Literature karya V.I. Braginsky (1979), dan sebagainya. Buku-buku tersebut menjadi bacaan wajib bagi yang ingin mendalami sastra modern atau klasik Indonesia. Buku-buku seperti ini memiliki posisi yang sangat penting, tidak saja sebagai dokumen dan literatur dalam pengajaran di sekolah dan universitas, juga merupakan tulisan mengenai sejarah sastra yang masih langka sampai saat ini.

Sekilas Lintas SBM

Dalam bukunya ini Darma Putra menguraikan perjalanan sejarah kehidupan (biografi) SBM dengan cukup komprehensif mulai sejak awal perkembangan SBM zaman kolonial sampai dengan keadaannya yang mutakhir tahun 2000-an. Dari tonggak awal perjalanannya hingga detik-detik akhir memasuki tahun yang ke seratus. Dari rasa pesimisme (keprihatinan) hingga optimisme (kebanggaan) menatap masa depan SBM. Dari sastra sayembara hingga sastra majalah. Dari aktor intelektual hingga aliran dananya (lihat halaman 62). Selain itu juga dibedah isi, darah dan urat nadi SBM yang cukup kaya dengan berbagai persoalan yang dihadapi manusia Bali modern.

Sastra Bali Modern berkembang di tengah-tengah kehidupan Sastra Indonesia Modern dan Sastra Bali Tradisional yang masing-masing sudah memiliki komunitasnya sendiri. Belum lagi dengan kehadiran sastra-sastra terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia yang juga banyak peminatnya. Posisi seperti itu tidaklah terlalu menguntungkan bagi keberlangsungan hidup SBM, yang menyebabkannya tetap hidup “terpencil” seperti saat ini. Sejak awal pertumbuhannya hingga sekarang, hidup dan kehidupan SBM sangat tertatih-tatih. Semula oleh para cerdik pandai dikatakan kelahirannya tahun 1931 dengan terbitnya roman “Nemoe Karma” karya I Wajan Gobiah, kemudian oleh Darma Putra ditemukan dokumen bahwa tahun 1910 ?SBM? sudah ada melalui karya-karya I Wajan Djiwa (1910) dan I Made Pasek yang dimuat dalam buku-buku pelajaran tahun 1913.

Setelah vakum sekitar 20 tahun, dari sejak terbitnya novel Mlancaran ka Sasak (1939) karya Gde Srawana di majalah Djatajoe hingga terbitnya puisi “Basa Bali” oleh Suntari Pr dalam majalah Medan Bahasa (1959), SBM kembali melewati masa istirahat selama kurang lebih sepuluh tahun, sampai akhirnya Lembaga Bahasa Nasional Cabang I Singaraja (kini Balai Bahasa Denpasar) di tahun 1968 memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan SBM. Perkembangan SBM juga diwarnai oleh hadirnya pahlawan-pahlawan yang berjasa, seperti Yayasan Sabha Sastra Bali. Surat Kabar Suluh Marhaen (kini Bali Post), Angkatan Bersenjata (kemudian berganti nama menjadi Nusa Tenggara dan akhirnya Nusa Bali), Yayasan Buratwangi, Sanggar Tebawutu, Yayasan Kebudayaan Rancage, dan akhirnya suplemen Bali Post Minggu Bali Orti, yang berjasa dalam pengembangan SBM hingga kini. Dengan munculnya suplemen Bali Orti kini setiap hari Minggu kita tetap bisa membaca hasil-hasil SBM, baik berupa cerpen, puisi, maupun novel. Tiap-tiap tahap perkembangan tersebut melahirkan generasi pengarang SBM, seperti I Made Sanggra, I Nyoman Manda, Jelantik Santha, hingga Mas Ruscita Dewi, I Wayan Juniartha dan I Wayan Sada.

Tonggak Baru SBM

Bergesernya tonggak kelahiran SBM dari dekade 1930-an ke dekade 1910-an tidak terlepas dari ukuran atau paradigma sastra yang digunakan. Sapardi Djoko Damono (2005: x-xi) mengatakan: “konsep mengenai sastra kini telah bergeser. Sekarang kita sebaiknya berhenti mengeramatkan sastra”. Cerita-cerita yang dibuat oleh I Wajan Djiwa (?) dan I Made Pasek jelas dibuat untuk pengajaran anak sekolah dasar ketika itu. Pengertian tentang sastra sebagaimana yang kita bayangkan sekarang atau sebagaimana yang berlaku ketika itu (dekade 1910-an) tentulah berbeda sekali. Seiring dengan bergesernya paradigma sastra, karya-karya I Wajan Pasek yang ditemukan kembali (re-invented) oleh Darma Putra dapat saja diakui sebagai cakal-bakalnya penulisan SBM yang sesuai dengan kaidah-kaidah sastra modern.

Milik Siapa?

Sekarang ini masyarakat membuat sastra, pada zaman lampau masyarakat memilikinya (Escarpit, 2005). Apakah masyarakat kini tidak lagi memiliki sastra, meskipun telah susah-susah membuatnya? Bagaimanakah apresaisi masyarakat terhadap SBM? Apakah fungsi SBM saat ini? Darma Putra (2010: 63) mengatakan dalam bukunya ini, optimisme terhadap kehidupan SBM memasuki abad ke-21 tampaknya muncul dari memuncaknya rasa keprihatinan, buku-buku sastra baru terbit, majalah berbahasa Bali juga muncul, sementara kepedulian lembaga seperti Balai Bahasa Denpasar dan geliat Yayasan Sabha Sastra Bali serta yayasan lain mulai membentangkan jalan baru buat kehidupan SBM. Penilaian-penilaian yang muncul dalam rentang waktu 1960-an sampai dengan 2000 bahwa SBM ?mandeg?. ?mati?, ?sakit? dan ?tidak punya pembaca? perlu dikaji lagi jika dikaitkan dengan kenyataan sekarang. Tampaknya penilaian-penilaian yang radikal tentang keberadaan SBM itu lebih merupakan warning (peringatan) daripada kenyataan sejati. Sampai kini buktinya SBM masih hidup walau mungkin tidak sesemarak kehidupan sastra daerah lainnya.

Pernyataan Darma Putra di atas merupakan pembelaan luar biasa terhadap eksistensi SBM dan kita pantas memberikannya penghargaan. Namun itu semua tidak mengurangi keprihatinan dan kerisauan terhadap nasib SBM. ?Pengarang masa kini dengan sadar mencipta sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, akan tetapi masyarakat tidak merasa memilikinya. Di samping itu kita juga suka bertanya-tanya, sebenarnya pengarang menulis sastra untuk apa? Mengutip pernyataan Escarpit, ?Di mana pun kepengarangan tidak bisa menjadi penopang hidup pengarang sehingga ia harus masuk ke profesi lain yang memberikannya nafkah (Damono, 2005: x), kecuali JK Rawling penulis Harry Potters. Kalau penghargaan berkesinambungan terhadap hasil-hasil SBM hanya bisa diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang berkedudukan di Jawa Barat, siapakah di antara kita yang sungguh-sungguh merasa memiliki SBM?