Sungai Ayah

Joao Guimaraes Rosa [27 June 1908 – 19 Nov 1967]
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2002/074/bud1.html

Ayahku adalah seorang lelaki yang suka bekerja keras dan senang berterus-terang. Menurut beberapa orang yang kutanyai dan bisa dipercaya, ia memiliki sifat-sifat baik itu sejak awal masa dewasanya, bahkan sejak kanak-kanak. Dalam ingatanku dia tak lebih periang atau penyedih dibanding lelaki lain yang kami kenal. Barangkali ia hanya sedikit lebih pendiam. Adalah Ibu, bukan Ayah, yang mengatur jalannya rumah tangga. Ia mengomeli kami setiap hari?adik perempuanku, adik lelakiku dan aku. Namun, pada suatu hari Ayah memesan sebuah perahu dayung.

Ia bersungguh-sungguh dengan hal itu. Perahu itu khusus dibuat untuknya, terbuat dari kayu mimosa. Cukup lebar untuk dinaiki oleh satu orang. Ibu amat terganggu dengan hal itu. Apakah suaminya tiba-tiba saja berniat menjadi seorang nelayan? Atau menjadi pemburu? Ayah hanya berdiam diri. Rumah kami hanya berjarak kurang dari satu mil dari sungai yang airnya dalam, tenang dan lebar. Begitu lebarnya sehingga kita tak bisa melihat daratan di seberang sana.

Aku tak pernah bisa melupakan hari pada saat perahu itu selesai dibuat. Ayah tak menunjukkan mimik senang maupun perasaan-perasaan lainnya. Ia hanya mengenakan topinya seperti biasa dan mengucapkan selamat tinggal pada kami. Ia tak membawa perbekalan makanan atau apa pun. Kami berharap Ibu berlari mencegahnya, tetapi ternyata tidak. Ibu tampak pucat dan menggigit bibirnya. Namun, yang ia katakan hanyalah, ?Jika kau memang ingin pergi, pergilah. Tapi, jangan pernah kembali lagi!? Ayah tak menyahut. Ia menatapku dengan pandangan lembut dan mengajakku berjalan bersamanya. Aku takut membuat ibuku marah, tetapi akhirnya aku menuruti ajakan Ayah. Kami berjalan bersama-sama menuju sungai. Aku merasa amat bangga dan gembira, sehingga aku berucap, ?Ayah, apakah kau akan mengajakku ikut dalam perahumu??

Ia hanya memandangku, memberikan restunya dan dengan sebuah isyarat, menyuruhku pulang. Aku berpura-pura menurutinya, tetapi, pada saat ia berbalik, aku menyelinap ke balik rerimbunan semak untuk mengawasinya. Ayah masuk ke dalam perahu dan berdayung pergi. Bayangannya memantul di permukaan air seperti seekor buaya, panjang dan diam.

Ayah tidak pulang. Namun, dia juga tak pergi ke mana-mana, sebenarnya. Ia hanya berdayung berkitar di luar sana, di sungai itu. Semua orang gempar. Apa yang tak pernah terjadi, apa yang tak mungkin terjadi, telah terjadi. Kerabat kami, para tetangga dan handai-taulan datang untuk memperbincangkan hal itu.

Ibu merasa malu. Ia jadi jarang bicara dan melindungi diri dengan ketenangan yang luar biasa. Sebagai akibatnya, hampir semua orang berpikir (walaupun tak ada yang pernah berkata) bahwa Ayah telah gila. Sebagian kecil, berharap ayah hanya sekadar memenuhi nazar yang ia ikrarkan pada Tuhan atau seorang santa. Atau mungkin ia menderita semacam penyakit yang mengerikan, barangkali lepra, dan dia sengaja pergi dari keluarganya, tapi berharap tetap berada di dekat mereka.

Mereka yang bepergian melalui sungai dan orang-orang yang tinggal di tepi sungai, di salah satu sisi atau di sisi lainnya, melaporkan bahwa Ayah tak pernah menjejakkan kaki di daratan, siang atau pun malam. Ia hanya berkitar-kitar di sungai, sendiri, tanpa arah, seperti seorang gelandangan. Ibu dan para kerabat kami sepakat bahwa makanan yang mungkin ia sembunyikan dalam perahu akan segera habis dan kemudian ia akan pergi meninggalkan sungai ke suatu tempat (yang setidak-tidaknya cukup terhormat) atau ia akan jera dan pulang ke rumah.

Betapa jauh perkiraan mereka dari kenyataan! Ayah memiliki sumber perbekalan rahasia: aku. Setiap hari aku mencuri makanan dan membawanya kepadanya. Di malam pertama setelah kepergiannya, kami semua menyalakan api di tepi sungai dan berdoa. Aku merasa tertekan dan ingin melakukan sesuatu yang lebih. Esok harinya aku pergi ke sungai membawa sepotong besar roti jagung, setandan pisang dan beberapa potong gula kelapa. Aku menunggu tak sabar selama berjam-jam. Lalu aku melihat perahu itu, jauh, sendirian, mengapung nyaris tak kentara di ketenangan permukaan sungai. Ayah duduk di dasar perahu. Ia melihatku, tapi tak berdayung ke arahku atau memberi isyarat apa pun. Aku menunjukkan makanan itu padanya dan kemudian aku menaruhnya di sebuah batu tersembunyi di tepi sungai; cukup aman dari binatang, hujan dan embun. Aku melakukan hal itu hari demi hari, terus dan terus begitu. Kemudian aku tahu, aku terkejut, bahwa ibu ternyata tahu apa yang kulakukan dan meninggalkan makanan di mana-mana sehingga aku bisa mencurinya dengan mudah. Ia memiliki perasaan yang dalam, yang tak pernah ia perlihatkan.

Ibu mengajak adik lelakinya tinggal bersama kami untuk membantu mengelola pertanian dan urusan dagang. Ia meminta guru sekolah datang ke rumah dan mengajari kami agar kami tak kehilangan waktu. Suatu hari, sesuai permintaannya, pendeta mengenakan jubah gerejanya, turun ke tepi sungai dan mencoba memusnahkan iblis yang telah menyusup dalam raga ayahku. Ia berseru bahwa ayah memiliki kewajiban untuk menghentikan kebandelannya yang tak suci. Di hari lain Ibu mendatangkan dua orang tentara untuk menakut-nakutinya. Semuanya gagal. Ayahku berkitar di kejauhan, terkadang begitu jauh sehingga tak terlihat. Ia tak pernah berhubungan dengan seseorang dan tak seorang pun mendekatinya. Ketika beberapa orang wartawan datang untuk memotretnya, Ayah mendayung perahu ke tepi sungai di ujung lain dan bersembunyi di rawa-rawa, yang dikenalnya seperti telapak tangan sendiri, sebaliknya bagi orang lain, tempat itu dengan dengan cepat akan membuat mereka tersesat. Di sana, dalam tempat rahasianya, yang luasnya bermil-mil, dirimbuni dedaunan yang menutupi pandangan, ia dengan cepat berliku-liku ke segala sisi. Ia pun lolos.

Kami mesti terbiasa dengan pikiran bahwa Ayah ada di luar sana, di sungai itu. Kami harus, tapi tak bisa. Kami tak pernah bisa. Kukira hanya akulah yang mengerti hingga batas tertentu apa yang ayah kami inginkan dan apa yang tidak. Yang aku tak mengerti sama sekali adalah bagaimana dia mempertahankan ketegarannya. Siang dan malam, dalam terik dan hujan, dalam hawa panas dan udara dingin, dengan topi usang di kepalanya dan hanya sedikit pakaian. Minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, mengabaikan kekosongan dan keterbuangan tempat hidupnya mengalir. Ia tak pernah menjejakkan kaki di atas tanah atau rerumputan, di pulau kecil atau pantai daratan luas. Tak diragukan terkadang ia menambatkan perahunya di sebuah tempat rahasia, mungkin di sudut sebuah pulau, untuk tidur sejenak. Ia tak pernah menyalakan api atau korek api dan ia tak punya lampu senter. Ia hanya mengambil sebagian kecil dari makanan yang kutinggalkan di batu terlindung?tak cukup, menurutku, untuk bertahan hidup. Bagaimanakah keadaan kesehatannya? Bagaimana dengan terkurasnya tenaganya, berdayung terus-menerus untuk mengendalikan perahu? Dan bagaimana ia bertahan menghadapi banjir tahunan, saat sungai meluap dan menghanyutkan berbagai benda berbahaya?cabang pepohonan, bangkai hewan?yang mungkin tiba-tiba menghantam perahu kecilnya?

Ia tak pernah bercakap-cakap dengan makhluk hidup. Dan kami tak pernah membicarakannya. Kami hanya berpikir tentangnya. Tidak, kami tak bisa melupakan ayah. Jika untuk waktu singkat tampaknya begitu, itu sekadar untuk menghibur diri dari keadaan yang menakutkan ini.

Adik perempuanku menikah, tapi Ibu tak ingin menyelenggarakan pesta perkawinan. Itu akan menyedihkan, karena kami selalu teringat pada Ayah setiap kali menikmati santapan lezat. Di atas ranjang yang nyaman, kami teringat padanya yang sedang dibalut dingin malam dan badai di luar sana, sendirian dan tanpa pelindung, berusaha untuk mengendalikan perahu dengan tangannya. Terkadang seseorang berkata bahwa aku makin lama makin kelihatan mirip ayahku. Tapi aku tahu bahwa kini rambut dan cambangnya pasti telah tumbuh acak-acakan dan kukunya panjang. Aku membayangkannya bertubuh kurus dan ringkih, tampak hitam oleh rambut dan terik mentari dan nyaris telanjang kecuali dibalut sisa-sisa pakaian yang sesekali kutinggalkan untuknya.

Ia tak tampak peduli pada kami semua. Tapi aku merasa menyayangi dan menghormatinya, dan, apabila mereka memujiku karena aku melakukan sesuatu yang bagus, aku berkata, ?Ayahkulah yang mengajariku berbuat seperti itu.?

Itu tak sepenuhnya benar, tapi sebuah kebohongan yang penuh kebenaran. Seperti yang kukatakan, Ayah tampak tak peduli pada kami. Tapi kalau begitu, kenapa ia masih berkitar-kitar di sekitar situ? Mengapa ia tak pergi dari sungai itu, menghindari kemungkinan melihat kami atau terlihat oleh kami? Hanya dia yang tahu jawabannya.

Adik perempuanku melahirkan seorang bayi lelaki. Ia berkeras menunjukkan pada Ayah cucu lelakinya itu. Pada suatu hari yang indah kami semua pergi ke tepi sungai, adikku mengenakan gaun pengantin putihnya, dan dia mengangkat bayinya tinggi-tinggi. Suaminya memegang sebuah payung untuk melindungi mereka dari sengatan matahari. Kami berteriak memanggil-manggil Ayah dan menunggu. Ia tak muncul. Adikku menangis; kami semua menangis saling berpelukan.

Adikku dan suaminya pindah ke tempat yang jauh. Adik lelakiku hijrah ke sebuah kota besar. Waktu berubah, dengan kecepatan yang tak terasa. Ibu akhirnya juga pergi, ia telah tua dan kini tinggal bersama anak perempuannya. Aku tetap tinggal. Aku tak bisa berpikir soal perkawinan. Aku hanya tinggal di sana dengan kesukaran hidupku. Ayah, mengembara sendirian sepanjang sungai, membutuhkan aku. Aku tahu ia membutuhkanku, walaupun ia tak pernah mengatakan padaku mengapa ia melakukan hal itu. Ketika aku mendesakkan pertanyaan itu pada orang-orang, mereka semua mengatakan padaku bahwa mereka mendengar Ayah pernah menerangkannya pada orang yang membuat perahu. Tapi kini orang itu sudah mati dan tak seorang pun tahu atau ingat sesuatu. Hanya ada sedikit gosip tolol, ketika hujan turun rintik-rintik dan lama reda, bahwa ayahku seperti Nabi Nuh yang memerintahkan perahu itu dibuat untuk menanggulangi banjir bandang yang akan terjadi; samar-samar kuingat orang pernah mengatakannya. Dalam beberapa hal, aku tak akan mengutuk ayahku untuk apa yang ia lakukan. Rambutku kini telah mulai berubah kelabu.

Aku hanya memiliki hal-hal sedih untuk dikatakan. Seberapa buruk yang telah kulakukan? Apa kesalahan terbesarku? Ayahku selalu pergi dan ketakhadirannya selalu ada bersamaku. Dan sungai itu, selalu sungai itu, terus-menerus memperbarui diri, selalu. Aku mulai menderita karena usia tua, di mana kehidupan tak hilang-hilang juga. Aku terserang penyakit dan kecemasan. Aku mengidap rematik. Dan dia? Mengapa, mengapa dia melakukannya? Dia pasti amat menderita. Dia begitu tua. Suatu hari, dalam kelemahannya, ia mungkin membiarkan kapal itu terbalik, atau arus menghanyutkannya, terus dan terus, hingga terperosok ke air terjun yang di bawahnya ada sumber air panas mendidih. Itu menyedihkan hatiku. Ia ada di luar sana dan rasa damaiku selamanya terampas. Aku berkorban untuk alasan yang tak kuketahui, dan rasa sakitku adalah luka menganga dalam diri. Barangkali aku akan tahu?jika segalanya berbeda. Aku mulai menebak-nebak apa yang salah.

Selesai dengannya! Apakah aku sudah gila? Tidak, di rumah kami kata-kata itu tak pernah terkatakan, selama bertahun-tahun. Tak seorang pun menyebut orang lain gila, karena tak seorang pun gila. Atau barangkali semua orang memang gila. Akhirnya yang kulakukan adalah pergi ke sana dan mengibaskan sapu tangan sehingga ia akan melihatku. Aku sadar sesadar-sadarnya. Aku menunggu. Akhirnya dia muncul dari kejauhan, di sebelah sana, lalu di sana, sesosok bayang samar duduk di bagian belakang perahu. Aku memanggilnya beberapa kali. Dan aku berkata dalam hati apakah aku cukup kuat untuk menyerukan secara resmi dalam kata-kata. Aku mengatakannya senyaring aku bisa, ?Ayah, kau sudah cukup lama di luar sana. Kau sudah tua? Kembalilah, tak perlu melakukannya lagi? Kembalilah dan aku akan pergi. Sekarang juga, jika kau mau. Kapan pun. Aku akan menggantikanmu masuk ke dalam perahu.?
Dan ketika aku telah usai berkata-kata jantungku berdetak lebih kencang.

Ia mendengarku. Ia berdiri. Didayungnya perahu itu ke arahku. Ia telah menerima tawaranku. Dan tiba-tiba aku gemetar, sampai ke dalam jiwa. Karena ia mengembangkan tangannya dan melambai?pertama kalinya selama bertahun-tahun. Dan aku tak bisa… Dalam ketakutan, rambutku acak-acakan, aku berlari, menghambur seperti orang gila. Karena ia seperti datang dari dunia lain. Dan aku memohon pengampunan, memohon, memohon.

Aku mengalami perasaan dingin mencekam yang datang dari rasa takut mematikan, dan aku merasa sakit. Tak seorang pun pernah melihat atau mendengar tentangnya lagi. Apakah aku seorang lelaki, setelah kegagalan semacam itu? Semestinya aku bersikap tenang. Aku tahu itu sudah terlambat. Aku mesti tinggal di gurun pasir dan melupakan bentangan kehidupanku, aku takut telah mempersingkatnya. Namun, apabila maut tiba aku ingin mereka membawaku dan meletakkan aku dalam perahu kecil, mengapung dalam air yang tenang di antara tepian yang panjang. Dan aku?menuruni sungai?lenyap di kedalamannya, di dalam sungai? Sungai itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *