9 Pertanyaan untuk Alex Abbad: Dari Presenter Sampai ke Aktor

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 16 Okt 2008

SETELAH sering memainkan peran-peran konyol, Alex Abbad kini mencoba tantangan baru dengan bermain dalam sebuah film drama, Cinta Setaman. Tak tanggung-tanggung, dalam film besutan sutradara Harry Dagoe ini Alex berperan sebagai pria homoseksual.

Meski banyak yang meragukan, namun lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1978, ini berhasil membuktikan bahwa kehadirannya di dunia seni peran bukan sekadar aji mumpung. Bahkan, banyak kritikus film yang memuji cerita yang dilakoninya bersama aktris senior Jajang C Noor ini, cerita yang tidak banyak berkata namun bertutur melalui peristiwa.

Nama Alex Abbad mulai dikenal luas sejak pria berdarah Arab ini menjadi video jockey (VJ) di salah satu stasiun televisi. Awal tahun 2000, Alex sempat menghilang. Kemudian muncul kembali dalam film Andai Dia Tahu. Tahun-tahun berikutnya mantan kekasih Karenina ini lebih sering tampil sebagai aktor ketimbang presenter. Berikut petikan obrolan dengan pria yang masih betah melajang ini saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, belum lama ini.

1. Awal cerita Anda berperan sebagai seorang homoseksual dalam film Cinta Setaman?

Awalnya teman saya yang memberi tahu kalau Harry Dagoe akan membuat film. Setahu saya film-film Harry sering tak “biasa”. Selain itu, tidak semua orang berani memerankan karakter-karakter di dalamnya. Hal itu kemudian membuat saya tertantang.

Waktu itu saya di-casting untuk film horor, tetapi entah mengapa asisten sutradara dan beberapa kru melihat saya cocok untuk bermain dalam film Cinta Setaman. Di film tersebut saya ditawari peran sebagai Rio, seorang pria homoseksual yang berusaha mengabdi pada ibunya.

Sampai sekarang saya masih belum bisa menjawab, kenapa sutradara dan para kru melihat saya cocok berperan sebagai seorang homoseksual. Padahal, waktu casting gaya saya sangat cuek, pakai sendal jepit, baju kaos dan jenggot lebat. Sementara biasanya kaum homoseksual cenderung berpenampilan rapi.

2. Anda tidak takut peran tersebut akan berdampak buruk pada citra Anda?

Saya rasa masyarakat bersikap antipati terhadap kaum homoseksual karena kurangnya informasi tentang mereka. Ada banyak aspek serta sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat fenomena keberadaan kaum homoseksual.

Dari sisi agama, ada peraturan baku yang tidak bisa ditawar, di mana kalau melihat lewat jendela, masuk lewat pintu. Namun, seiring berjalan waktu, tentu nilai-nilai agama itu mulai tergerus dan orang-orang mulai melihat dari kaca mata yang berbeda.

Saya sendiri tidak berada pada posisi menghujat ataupun menyanjung kaum homoseksual. Saya tipikal orang yang menghormati pilihan hidup yang diambil (seseorang). Saya akan menghargai dia, selama dia tidak mengganggu saya.

3. Apakah Anda melakukan observasi untuk peran tersebut?

Saya memerankan tokoh Rio yang secara fisik dan gestur laki-laki tulen, tetapi mempunyai ketertarikan dengan sesama jenis. Nah, feel ketertarikan itulah yang harus saya pelajari. Karena, Alhamdulillah saya adalah laki-laki normal yang tertarik dengan lawan jenis.

Untuk memainkan karakter tersebut saya melakukan observasi kecil-kecilan dengan bertanya pada beberapa teman yang dekat dengan dunia tersebut. Prosesnya tidak terlalu lama, bahkan kurang dari dua minggu.

Dalam film Cinta Setaman, sosok Rio diceritakan sebagai seorang anak penjual kain yang berasal dari Padang (suku Minang). Hal itu membuat saya sedikit kesulitan mengingat saya lahir dan dibesarkan di Tanah Jawa.

Kemudian saya menemukan cara cepat untuk belajar berbicara aksen Padang, yaitu bergaul dengan para penjual kain di Tanah Abang. Dari mereka saya jadi mengetahui bagaimana orang Padang sehari-harinya berkomunikasi. Temuan saya di lapangan kemudian saya konsultasikan dengan sutradara.

4. Terbawakah peran tersebut dalam kehidupan nyata Anda?

Menurut saya berakting adalah menjiwai sebuah peran, tetapi setelah itu kamera mati, semua itu selesai dan tidak terbawa ke dunia nyata. Saya juga sadar sepenuhnya kalau itu hanya bukan karakter saya, sehingga saya yakin tak kan terbawa-bawa pada kehidupan sehari-hari.

Kalau orang lain menilai bahwa saya yang di film dan di dunia nyata sama, berarti saya berhasil membawakan karakter tersebut. Saya juga tidak menyiapkan antisipasi apa-apa untuk tingkah penggemar yang aneh-aneh. Saya sendiri memiliki kebiasaan tidak mengangkat telpon dari nomor (yang) asing.

5. Jadi, sekarang Anda banting stir, dari dunia presenter ke dunia film?

Sebenarnya saya sudah mengakrabi dunia film sejak jaman kuliah. Ketika itu saya dan teman-teman sering membuat film independen yang bercerita tentang anak jalanan ataupun komunitas punk. Hanya saja, saat itu saya lebih sering bergelut di balik layar sebagai penulis skenario.

Ternyata teman-teman saya memilih untuk menggeluti dunia film secara serius, dan ketika mereka telah sukses beberapa merekomendasikan nama saya untuk ikut dalam sebuah produksi. Sejak itu saya mulai berkecimpung di dunia film secara profesional. Anehnya lagi, jangka waktu tiga tahun ini saya hampir tidak pernah menerima tawaran presenter.

6. Seandainya harus memilih, mana yang lebih Anda suka, menjadi presenter atau main film?

Saat membawakan sebuah acara saya menjadi diri sendiri. Tantangan yang akan saya dan orang lain alami sepanjang hidup, di mana saya harus menemukan jati diri saya. Sementara di dunia film, saya dibayar untuk memerankan karakter yang berbeda. Saya rasa itu merupakan pekerjaan yang lebih menyenangkan.

7. Selain ngem-MC dan main film apa saja kesibukan Anda saat ini?

Saya menganggap presenter dan bermain film merupakan ladang di mana saya mencari uang. Sementara untuk bersenang-senang saya memilih bermain musik, menulis puisi atau melukis. Dengan bermain musik saya bisa menumpahkan segala inspirasi yang bergelatungan di kepala.

Saat ini saya memiliki dua band, yang pertama ada di Jakarta dan yang kedua di daerah Jawa Tengah. Sebenarnya materinya sudah terkumpul, hanya saja sekarang para personelnya punya kesibukan masing-masing.

8. Anda menyukai sastra?

Saya senang membaca, apapun jenis bukunya. Untuk sastra saya lebih menyukai cerita-cerita Persia dan Timur Tengah. Mungkin banyak orang menyukai Shakespeare, tapi saya tidak. Dari dalam negeri, saya sangat menggemari karya-karya Umar Khayam, terutama Seribu Kunang- Kunang di Manhattan.

Buku terakhir yang saya baca berjudul Taiko. Buku tersebut bercerita mengenai keadaan Jepang menjelang abad keenam belas di mana kondisi negara tengah carut marut. Pemerintahan sedang rapuh, keshogunan sedang kacau balau, perang di mana-mana, sementara kesejahteraan rakyat terbengkalaikan.

Saya tertarik membaca ini karena sebelumnya pernah membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Taiko merupakan sejarah Jepang dalam skup yang lebih luas dan ternyata sudah menjadi buku pegangan wajib bagi siswa SMP di sana. Gila kan sejak SMP orang Jepang sudah mempelajari politik.

9. Gaya Anda tampak berbeda dari selebriti kebanyakan, apa Anda memanfaatkan stylish khusus?

Ha ha ha, kalau gaya kayak gini pakai stylish kasihan banget stylish-nya. Dalam berbusana saya tidak pernah mengikuti tren, saya hanya mencoba mengekspresikan apa yang saya suka, dan apa yang sekiranya nyaman saya kenakan.