Babon Gratis buat Sekolah Kita

Seno Joko Suyono, Evieta Fajar, Lucia Idayanie
majalah.tempointeraktif.com

Babad Tanah Jawi. Inilah sebuah kitab yang jarang tersedia tapi isinya telah meresap ke dalam benak masyarakat umum di Jawa. Banyak ragam kesenian populer Jawa yang bersumber darinya: Joko Tingkir, Joko Tarub, Ciung Wanara, Kisah Putri Campa, Untung Surapati yang sehari-hari dipentaskan di panggung ketoprak, ludruk, drama radio, atau, kalau Anda suka, kisah silat karya S.H. Mintardja, Api di Bukit Menoreh. Semua setting-nya bisa dilacak pada Babad Tanah Jawi. Kitab ini memang semacam oplosan antara folklor, dongeng, dan kronik-kronik kisah Wali Sanga, silsilah, dan perang raja-raja Mataram.

Selama ini tak terdapat edisi utuh Babad Tanah Jawi dalam bahasa Indonesia. Umumnya cuma petilan-petilan dalam buku murahan yang dijual, misalnya di Pasar Sekaten. Kini sebuah edisi luks dengan tata visual yang memikat secara lengkap disajikan. Terdiri atas enam jilid dan bila kita satukan tebalnya melebihi 1.500 halaman. Dikemas dalam sebuah boks eksklusif sehingga layak dijadikan edisi koleksi layak pajang atau kado cantik. Apik secara desain, edisi mewah ini juga enak dibaca, mudah dipahami, termasuk oleh yang latar belakangnya bukan Jawa.

Babad adalah cerita rekaan berdasar sejarah. Babad Tanah Jawi aslinya berupa tembang macapat Jawa. Atas biaya seorang pencinta kebudayaan Jawa, Siti Joya Fatmi Gunaevy Djajasasmita, 58 tahun, Yayasan Lontar menerjemahkan dan menerbitkan ulang. Modal awal Joya adalah fotokopian 31 jilid Babad Tanah Jawi susunan Rd. Ng. Yasadipura yang diperolehnya dari Balai Pustaka. Ia lalu menyewa tenaga penerjemah yang didatangkan ke rumahnya.

Ternyata hasil terjemahannya kurang afdol. “Saya ragu, kalau sudah selesai semua, apa bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. Wanita yang sering menghadirkan penari Retno Maruti di rumah pribadinya di Jalan Bangka, Jakarta, untuk merayakan ulang tahun itu lalu bekerja sama dengan Yayasan Lontar. Sebuah tim penerjemah dibentuk. Anggotanya antara lain Amir Rochkyatmo, Sri Soekesi Adiwimarta, Sri Timur Soeratman, Parwatri Wahjono—semuanya terbilang senior di bidang ilmu sastra Jawa di Universitas Indonesia. Tugas mereka mengalihkan tembang dan puisi ke bentuk prosa. Hasilnya kemudian disunting oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono.

Menurut Sapardi, naskah Yasadipura tebal karena banyak pengulangan. “Pengulangan-pengulangan itu yang kami hapus,” ungkap Sapardi. Maka, 31 jilid itu menciut jadi enam jilid, dan itu bukan karena diringkas atau dipotong, melainkan semacam pemadatan yang masih amat setia pada teks aslinya. Sapardi melihat, untuk mengejar efek puitis, Yasadipura banyak bermain-main dengan prinsip puitika Jawa, yaitu prinsip guru lagu dan guru wilangan yang mengharuskan bunyi dan suku kata pada akhir kalimat jatuh dengan pola tertentu. Sehingga, demi puitika bunyi Yasadipura sering menggunakan banyak nama untuk sebuah tokoh. Nama Majapahit, misalnya, banyak disebut dengan istilah lain, dan oleh Sapardi ini diseragamkan saja.

Menerjemahkan versi Yasadipura berarti memilih salah satu versi dari Babad Tanah Jawi. Memang ada banyak versi Babad Tanah Jawi. “Versi Yasadipura ini versi kedelapan,” kata Amir. Memang beragam versi ini membingungkan—sebagaimana juga diperdebatkan di kalangan sejarawan: pantaskah Babad Tanah Jawi dipakai sebagai sumber sejarah. H.J. De Graff, sejarawan Belanda, misalnya, melihat seluruh kisah dalam Babad Tanah Jawi sejak 1600 sampai zaman Kartasura dan Pajang abad ke-18 bisa digunakan. Selebihnya fiksi. Akan halnya Prof Slamet Mulyana, pengarang buku kontroversial Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, berpendapat seluruh informasi mengenai pembentukan Majapahit dalam Babad Tanah Jawi tak valid. Tapi uraian tentang pengislaman dan runtuhnya Majapahit sangat patut mendapat perhatian.

Menurut KRT Suryanto Sastroatmojo, ahli sastra Jawa dari Yogya, versi Babad Tanah Jawi beragam, dan masing-masing memiliki tambahan-tambahannya sendiri. “Versi Yasadipura itu memasukkan perjanjian Giyanti 1757 (perpecahan Kartasura-Surakarta). Ini sebetulnya bagian Babad Giyanti,” katanya. Dalam versi Yasadipura II malah, menurut Suryanto, dimasukkan kisah berdirinya Yogyakarta dan perjuangan Raden Mas Sudjono alias Pangeran Mangkubumi. “Padahal, pada versi Babad Tanah Jawi lain tidak ada.”

Babad Tanah Jawi yang paling awal, menurut Suryanto, adalah versi Pangeran Pekik Surabaya yang penulisannya berdasarkan babon-babon dari Ampel, Surabaya. Kemudian versi Kalijagaan yang ditulis oleh Pangeran Wijil Kadilangu, sastrawan dari zaman Surakarta. Tapi menurut pakar Jawa kuno, almarhum Hoesein Djajadiningrat, dalam sebuah tulisannya, di zaman Pangeran Kadilangu itu belum ada istilah Babad Tanah Jawi. Kadilangu memang mengarang Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram. Semuanya itu kemudian oleh Carik Bajra, seorang pujangga keraton Surakarta (wafat 1751) dihimpun dan ditambahi dengan kisah-kisah di zaman Amangkurat IV (1719-1726). Itu yang kemudian baru dikenal luas sebagai Babad Tanah Jawi.

Demikianlah, pada setiap periode kekuasaan, masing-masing pujangga istana melakukan variasi penambahan. Juga di tangan Yasadipura. Suryanto sendiri—berseberangan dengan Slamet Mulyana—menganggap bahwa justru kisah penyebaran Islam oleh para wali dalam versi Yasadipura banyak dilebih-lebihkan. “Lihat saja Serat Menak yang sumbernya cuma satu, Hikayat Amir Hamzah dari Semenanjung Melayu (Malaka), di tangan Yasadipura I dan Yasadipura II menjadi 40 jilid. Setiap penokohan dikembangkan, diberi biografi, tentu saja ada fiktifnya.”

Ada Babad Tanah Jawi versi para pujangga keraton, ada juga versi para peneliti Belanda—dikenal sebagai versi Gupermenan. Menurut Suryanto, ada Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh peneliti dari Leiden bernama Dr Meinsma. Bentuknya prosa atau gangsaran. “Kemungkinan karena dia orang Belanda, tidak bisa menulis sekar macapat”. Ada lagi versi yang ditemukan di Tropen Museum di Amsterdam. Versi ini tak diketahui penulisnya alias NN (no name) dan merupakan kompilasi dari versi-versi di atas.

Pada sekitar 1936, seorang sarjana Belanda, G.N. Olthoof, juga menulis satu versi tebal Babad Tanah Jawi—sekitar 500 halaman. Dalam buku ini, menurut Suryanto, peristiwa pecahnya Majapahit tak ada. Majapahit diterangkan sebagai sebuah kerajaan sambungan setelah pecahnya kerajaan Sunda. “Ini menurut orang Jawa aneh. Saya sendiri ragu baik versi Dr Meinsma maupun Olthoof, ” kata Suryoatmojo.

Apa pun, kini sebuah edisi Babad Tanah Jawi, yang luks, telah “diracik” dan dihidangkan. Pihak Lontar menerbitkan sebanyak 700 eksemplar. “Akan kami bagikan gratis ke sekolah-sekolah dan fakultas sastra seluruh Indonesia, serta handai tolan,” kata Joya. Empat ratus eksemplar untuk perpustakaan, 300 untuk para sahabat. Lucunya, karena dicetak mewah, banyak undangan yang lebih ingin membeli daripada diberi cuma-cuma. “Akhirnya, 300 eksemplar itu kami jual dan hasilnya untuk menerjemahkan serat-serat Jawa lain.”

Dulu, pernah ada Boekhandel (penerbit) Tan Khoen Swie, Kediri. Penerbit ini spesialis menerbitkan karya-karya Pujangga Jawa seperti Serat Kalatidha Ronggowarsito, Wulang Reh Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Wedatama karya Mangkoenagoro IV, Yasadipura. Dari sinilah karya-karya pujangga itu bisa tersosialisasi secara luas hingga masyarakat kecil. Tan Khoen Swie waktu itu bisa mendapat karya-karya keraton itu karena bersahabat akrab dengan Padmasusastra (1843-1926), pujangga keraton yang juga Kepala Perpustakaan Radya Pustaka, Surakarta.

Memang menarik bila Siti Joya Fatmi Gunaevy Djajasasmita bermaksud menempatkan diri sebagai “maesenas” penerjemahan serat-serat Jawa ke bahasa Indonesia. Ia bisa memerankan posisi Tan Khoen Swie—meski dalam tataran lain. Sebab, masih banyak yang ingin diketahui dari khazanah ini. Sedangkan Yasadipura II tak hanya menulis Babad Tanah Jawi. Serat Wicara Keras yang ditulisnya pada 1816 disebut-sebut tanpa tedeng aling-aling mengkritik dan menyebut nama para pejabat Surakarta yang tak cakap. Menurut Margana, kandidat doktor sastra Jawa di Leiden, sensor tajam dikenakan pada buku Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial, serat yang diterbitkan Tan Khoen Swie. Di sinilah, ikhtiar menerbitkan karya-karya Jawa lama yang lain, yang membentang dari tema religi sampai kritik pedas terhadap masyarakat yang sakit, amat dinanti.
***