Candi Wasan, Warisan Masa Lalu yang Memaknai Masa Depan

Made Geria
http://www.balipost.co.id/

Balai Arkeologi Denpasar sempat mengadakan observasi ke Wasan, Batuan, Sukawati, Gianyar. Di lokasi ditemukan sejumlah peninggalan arca yang diperkirakan berasal dari abad XIV. Temuan lainnya adalah sejumlah komponen bangunan candi. Berdasarkan temuan monumental ini, Balai Arkeologi Denpasar mulai mengadakan ekskavasi di situs tersebut. Hasil ekskavasi dari beberapa tahapan diketahui bangunan candi Wasan masih tampak utuh hanya pada bagian kaki candi, sedangkan susunan bagian atas tersusun acak. Apa dan bagaimana sesungguhnya Candi Wasan?

MEWACANAKAN Candi Wasan tidak terlepas dari peranan seorang tokoh peneliti Belanda J.C. Krishman yang pertama mengunjungi situs Wasan pada tahun 1950. Ketika itu hanya ditemukan gundukan tanah dan sejumlah arca kuno yang berserakan. Namun oleh masyarakat pengemong pura, lokasi itu masih dimanfaatkannya untuk pemujaan dengan mendirikan bangunan sederhana di atasnya.

Baru setelah beberapa tahun kemudian Balai Arkeologi Denpasar mengadakan observasi ke lokasi tersebut dan menemukan sejumlah peninggalan arca yang diperkirakan berasal dari abad XIV. Temuan lainnya adalah sejumlah komponen bangunan candi. Berdasarkan temuan monumental ini, Balai Arkeologi Denpasar mulai mengadakan ekskavasi di situs tersebut. Berdasarkan hasil ekskavasi dari beberapa tahapan diketahui, bangunan Candi Wasan masih tampak utuh hanya pada bagian kaki candi, sedangkan susunan bagian atas tersusun acak.

Awalnya, bangunan ini diduga merupakan konstruksi kayu karena tidak ditemukan adanya batu isian (inner stones) yang berfungsi menopang atau sebagai dasar bangunan candi. Dengan ditemukan empat tiang pancang yang dikelilingi susunan bata mentah (citakan), ini merupakan indikasi adanya pertimbangan kekuatan konstruksi bangunan tersebut. Memperhatikan dari kondisi tanah yang gembur, dicurigai pula sejumlah batu isian bangunan tersebut sudah terganggu.

Ditemukannya sejumlah komponen bangunan candi seperti peripih, menara sudut, simbar, kemuncak, ambang pintu dan yang lainnya mengindikasikan bahwa bangunan tersebut merupakan candi susunan batu. Adanya perbedaan pilar pada sisi barat, utara, selatan dengan sisi timur yang lebar memberi arti bahwa bangunan tersebut memiliki berat yang lebih pada sisi timur, mungkin bentuk bangunan candi ini menyerupai bangunan induk Candi Penataran (Jawa Timur).

Bukan Tunggal

Candi Wasan memiliki ukuran panjang 11,10 m dan lebar –dihitung dari lapik candi — adalah 9,40 m. Setelah diketahui panjang dan lebar denah candi sesuai dengan rumusan penghitungan, ketinggian candi diperkirakan 14,1 m. Susunan atap 4 tingkatan yang dilengkapi dengan hiasan simbar dan menara sudut serta satu tingkat teratas merupakan kemuncak bangunan candi. Jumlah susunan atap ini diperkirakan dari prosentase temuan komponen sudut. Ragam hias bangunan candi diidentifikasi memiliki kemiripan dengan bangunan Gapura Canggi.

Candi Wasan ini bukanlah candi bangunan tunggal, namun diduga merupakan kompleks percandian karena ditemukan bangunan yang lain yaitu kolan maupun sejumlah struktur bangunan belum teridentifikasi. Bangunan kolam yang ditemukan memperlihatkan keunikan yang berbeda dengan kolam kuno lainnya antara lain struktur dinding kolam dibuat berteras, makin ke bawah makin menyempit, struktur padas terdiri dari 17 lapis dengan ketebalan 8 cm, dalam kolam 140 cm.

Di tengah kolam ditemukan struktur berukuran 1,25 m2. Kolam yang memiliki ukuran panjang 17,50 m x 7m ini diduga berfungsi untuk kegiatan ritual karena — dari hasil ekskavasi — di kolam ini ditemukan pecahan gerabah tipis yang lazim dipergunakan pada upacara keagamaan. Peninggalan lainnya adalah arca berlanggam abad XIV, arca Catur Muka, arca Ganesa, Lingga Yoni dan sejumlah arca bhatara-bhatari lain.

Sejarah keberadaan bangunan Candi Wasan memang belum jelas. Namun dari “Prasasti Batuan” dapat dirunut nama-nama wilayah yang disebut dalam prasasti tersebut masih sama ataupun mirip dengan nama wilayah yang ada sekarang seperti Batuhyang, Guang yang disebut Gurang, Nangka yang mengalami perubahan menjadi Ketewel, Sakar menjadi Sakah yang merupakan nama sebuah dusun di Desa Batuan.

Prasasti yang dikeluarkan oleh Paduka Hadji Dharmawangsa Wardhana Marakata Pangkajasthano Tunggadewa pada tahun 1022 M, juga ada menyebutkan wakil-wakil Desa Baturan (Desa Batuan) menghadap dan melaporkan kepada Raja. Mereka mengatakan bahwa sejak masa pemerintahan raja almarhum yang dicandikan di Erwaka (yang dimaksud Raja Udayana), penduduk Desa Baturan ditugaskan memelihara kebon raja dan menyelenggarakan upacara di kuil Baturan.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui bahwa pada sekitar abad 10 pada masa pemerintahan Dharma Udayana, di situs ini sudah ada bangunan suci di wilayah yang disebut Karaman I Baturan. Asumsi ini didasari juga dengan adanya sebutan undagi dalam “Prasasti Batuan” antara lain undagi kayu, undagi batu, pemahat (sulpika) adalah kelompok ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakat Batuan.

“Prasasti Tonja Pemecutan A” menyebutkan desa dan persawahan masyarakat Wasan dan kewajiban masyarakat Sakar untuk membayar pungutan dan memelihara sawah dan pekandasan. Hal seperti ini umumnya dikaitkan dengan pemeliharaan bangunan suci. Data ini membuktikan bahwa masyarakat Baturan masa lalu adalah masyarakat agraris tetapi sangat terbuka dengan pengaruh luar — terbukti piagam tertulis menggunakan huruf Jawa kuna dan wilayah ini banyak dikunjungi tamu istana.

Kenyataan ini tentunya membawa pengaruh kepada pola kehidupan komunitas dalam hubungan dengan pengembangan teknologi di wilayahnya dan mempengaruhi sikap pandangan masyarakat seperti para seniman, undagi, memicu perkembangan wilayahnya. Sehingga, tidak mengherankan Desa Baturan yang tidak begitu besar memiliki bangunan suci keagamaan yang banyak. Bahkan masyarakat Baturan dipercaya oleh penguasa pada masa itu untuk membangun atau memperbaiki bangunan suci yang ada di sepanjang sungai Pakerisan.

Selain itu, masyarakat Baturan diwajibkan memelihara dan memberikan sumbangan pada sebuah wihara yang ada di Air Gajah (Goa Gajah). Kepercayaan ini diberikan oleh raja karena secara komunitas kolektif masyarakat dipandang mampu berbuat untuk itu. Terbukti, bangunan suci keagamaan yang ada di desa ini seperti Candi wasan, Gapura Canggi maupun Pura Hyang Tiba merupakan karya seniman lokal yang cemerlang pada masa itu.

Candi Wasan merupakan bangunan susunan batu seperti yang ada di Jawa pada waktu itu. Padahal para undagi pada waktu itu umumnya memahatkan bangunan candi pada tebing. Jadi ada upaya pengembangan teknologi pengaruh luar namun tidak meninggalkan unsur lokal seperti tampak pada kekhasan bentuk menara sudut maupun simbar dari ragam hias bangunan candi.

Warisi Semangat

Candi Wasan tidak hanya meningalkan jejak historis dari bentuk fisik bangunan saja, tetapi juga memaknai masa depan, mewarisi semangat dan jati diri masyarakat Bali.

Kenyataan ini perlu didukung semua pihak untuk memelihara peninggalan budaya ini mengingat sumber budaya ini unik dan tidak terperbarui. Lingkungan kawasan ini perlu dijaga kelestariannya karena mendukung keberadaan objek yang masih asri dan keberadaannya pun sangat strategis di daerah lintasan Denpasar-Gianyar dan berada di antara daerah tujuan wisata Pasar Seni Sukawati serta Pusat Kerajinan Perak di Desa Celuk.

Kepala Balai Arkeologi Denpasar, Drs. A.A. Gde Oka Astawa M.Hum, mengharapkan pada penelitian yang diadakan Maret 2006 ini ada tambahan data sehingga dapat memberikan gambaran seutuhnya kompleks percandian tersebut. Pun diharapkan masyarakat, rekonstruksi bangunan tersebut bisa terwujud.