Intelektual, Pencerahan, dan Keadilan

Ruslani
http://suaramerdeka.com/

ADA berita menggembirakan di antara berita-berita tidak sedap tentang para pejabat dan anggota parlemen kita. Apakah itu? Salah seorang putra terbaik Indonesia, Anies Rasyid Baswedan, masuk dalam daftar ”100 Tokoh Intelektual Dunia” versi majalah Foreign Policy edisi April 2008.

Anies Baswedan merupakan satu-satunya tokoh Indonesia yang namanya bersanding bersama para tokoh intelektual dunia semisal Yusuf Qardhawi, Muhammad Yunus, Samuel Huntington, Gary Kasparov, Naom Chomsky, dan Francis Fukuyama.

Mereka dianggap Foreign Policy sebagai ”pemikir-pemikir yang mempertajam kualitas zaman ini”. Pemikiran introspektif mereka mampu memberi sumbangan penting bagi pencerahan dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang masing-masing. Dalam konteks zaman terkini, kaum intelektual telah menjadi salah satu aktor utama yang berperan penting dalam memengaruhi perilaku sosial, politik, budaya, bahkan ekonomi masyarakat modern.

Lewat ilmu pengetahuan yang dimiliki, kaum intelektual berusaha menata dunia serapi dan seteratur mungkin dalam laci-laci kategori. Hasrat inilah yang mendorong ilmu pengetahuan terus memperbaiki diri, mempertajam klasifikasi-klasifikasi yang sudah ada.

Dari aturan inilah muncul kategori-kategori sains mengenai baik dan buruk, aman dan berbahaya, superior dan inferior, bahkan juga boleh dan tidak boleh. Dalam konteks ini, sains tak hanya berkutat pada masalah logis-ilmiah, tetapi juga sudah memasuki wilayah etika dan tatanan sosial.

Ihwal Intelektual

Julien Benda dalam bukunya La Trahison de Clercs (1975), menggambarkan kaum intelektual dalam sosok yang sangat ideal. Yaitu semua orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan-tujuan praktis, melainkan mencari kebahagiaan dalam mengolah seni, ilmu, maupun renungan metafisik. Mereka adalah para ilmuwan, filsuf, seniman, dan ahli metafisika yang mendapat kepuasan dalam penerapan ilmu pengetahuan, bukan dalam penyerapan hasil-hasilnya.

Pandangan Benda mengenai kaum intelektual itu merupakan elaborasi dari kondisi kaum intelektual ideal masa lalu, seperti Thomas Aquinas, Roger Bacon, Galileo, Descartes, Pascal, Leibniz, Kepler, Newton, Voltaire, dan Montesquieu.

Kaum intelektual adalah para moralis yang kegiatan utamanya melakukan perlawanan terhadap realisme massa, yaitu kecenderungan awam untuk menuruti kehendak-kehendak pribadi yang bersifat sesaat. Berkat kaum intelektual inilah, menurut Benda, meski selama 2.000 tahun umat manusia berbuat jahat, tapi mereka tetap menghormati yang baik.

Berbeda dengan Benda, Antonio Gramsci memiliki gambaran lebih realistik mengenai kaum intelektual. Dalam bukunya, Selections from Prison Notebooks (1978), Gramsci mengatakan ”semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual”.

Lebih jauh, Gramsci mengelompokkan dua jenis intelektual. Pertama, intelektual tradisional, seperti guru, ulama, dan administrator. Mereka secara terus-menerus melakukan hal yang sama, dari generasi ke generasi. Kedua, intelektual organik, yaitu kalangan profesional.

Intelektual jenis kedua ini adalah mereka yang begitu saja menyuarakan kepentingan sebuah kelas atau gerakan ideologis. Mereka seringkali bukan merupakan intelektual murni, tidak bebas dari pamrih, bahkan bersedia menjual keterampilan mereka kepada yang mau membayar. Mereka tidak integrated.

Sementara Edward W Said dalam Representations of Intellectual (1995) mendefinisikan bahwa kaum intelektual adalah ”pencipta sebuah bahasa yang mengatakan kebenaran kepada penguasa”. Ya, seorang intelektual harus mengatakan apa yang dianggapnya benar, entah sesuai atau tidak sesuai dengan kuasa-kuasa yang ada.

intelektual lebih cenderung ke oposisi daripada akomodasi. ”Dosa” paling besar bagi seorang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan, tetapi ia menghindar dan tidak mengatakannya. Ia tidak pernah boleh mau mengabdi kepada mereka yang berkuasa. Ia hanya bersedia mengabdi kepada kebenaran, keadilan, dan hati nurani.

Intelektual merupakan individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik. Ketika mengartikulasikan bakat itu, intelektual selalu bermotivasi untuk menggugah kesadaran kritis orang lain.

Dengan demikian, orang lain menjadi berani menghadapi ortodoksi, dogma, serta tak gampang dikooptasi pemerintah atau korporasi. Intelektual adalah seseorang yang mempunyai bakat mengkomunikasikan ide emansipatoris dan mencerahkan.

Intelektual dan UN

Sayangnya, berita tentang Anies Baswedan yang masuk daftar ”100 Tokoh Intelektual Dunia” itu datang hampir bersamaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang sarat dengan nuansa pembodohan dan ketidakjujuran. Para pendidik dan siswa dipaksa untuk mengikuti kebijakan sentralistik di tengah iklim demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan, otonomi, dan tanggung jawab individu.

Banyak siswa yang depresi menjelang UN. Banyak kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan UN, mulai dari kebocoran soal, penyebaran kunci jawaban via SMS, hingga jual-beli salinan soal dan kunci jawaban. Namun Pemerintah lewat Mendiknas Bambang Sudibyo tetap keukeuh dan menganggap UN tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Karenanya, salah satu tugas berat kaum intelekual saat ini adalah berbicara kebenaran kepada penguasa. Seperti dikatakan Naom Chomsky dalam Language and Politics (1988), salah satu tugas terpenting intelektual adalah ”mengungkap kebohongan-kebohongan pemerintah, menganalisa tindakan-tindakannya sesuai dengan penyebab, motif, serta maksud-maksud yang tersembunyi di balik tindakan-tindakan itu”.

Intelektual tidak boleh netral atau bebas nilai. Mereka harus berpihak, yaitu kepada kelompok lemah yang tak terwakili, kepada rakyat kecil yang sering menjadi korban kekuasaan korup dan tidak adil. Intelektual harus peka terhadap nasib mereka yang tertindas, serta menempatkan diri sejajar dengan kaum lemah yang tersisihkan dan tak terwakili.

Untuk itu, kaum intelektual harus siap menghadapi risiko apa pun, termasuk berseberangan dengan kekuasaan. Sebab yang dibutuhkan intelektual dalam memerangi realitas yang menindas bukanlah sikap akomodatif terhadap kekuasaan, melainkan oposisi.

Dalam hal ini, Sartre mengingatkan kita akan tanggung jawab intelektual dengan menggunakan idiom kepenulisan dan sastra. Dalam What is Literature? (1947), Sartre menyatakan intelektual-penulis dalam setiap karyanya harus mengusulkan pembebasan konkret berdasarkan situasi tertentu. Sastra bisa menjadi alat ampuh untuk membebaskan pembaca dari alienasi yang berkembang pada situasi tertentu.

Kehidupan kaum intelektual pada hakikatnya terkait dengan pengetahuan dan kebebasan. Pertanyaan dasar yang diajukan seorang intelektual adalah, bagaimana orang mengatakan kebenaran? Kebenaran apa? Bagi siapa dan di mana?

Karenanya, intelektual tidak bisa menjadi milik siapa-siapa. Dan karena itu, dia sering dianggap berbahaya oleh kekuasaan yang korup dan menindas. Karena keterlibatannya kepada kebenaran, seorang intelektual justru tidak dapat dan tidak boleh menjual diri pada pihak mana pun.

Kaum intelektual harus berpihak pada kebenaran dan keadilan. Itu berarti mereka harus membela nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan bagi siapa saja dan di mana saja, tanpa harus membedakan unsur suku, agama, ras, partai, maupun golongan.

*) Ruslani, direktur Pusat Kajian Agama dan Budaya (Puskab), tinggal di Yogyakarta.