Kejayaan Para Anak Petualang

Ngarto Februana, Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

Anak-anak suka topik detektif, petualangan, dan misteri.

Bagaimana kalau seorang anak yang mencari pencuri lukisan ayahnya dengan cara masuk ke dalam lukisan-lukisan yang lain atau sebuah mesin waktu melontarkan tokohnya ke masa Kerajaan Majapahit?

Bagaimana pula andai sekali dalam seratus tahun Dinas Rahasia Amerika Serikat lengah dalam pengamanan wakil presidennya yang berkunjung ke suatu negara? Tentu sangat menarik.

Semua itu ada di cerita-cerita anak pada tahun 1980-an karya Djoko Lelono. Tentang pencuri lukisan ada di fiksi anak Rahasia di Balik Lukisan. Adapun mengenai mesin waktu dapat kita temukan di novel Terlontar ke Masa Lalu. Yang terakhir, soal pengamanan presiden, terdapat di Astrid: Penculikan Tamu Negara (1985).

Orang-orang tua sekarang, yang pada tahun 1980-an duduk di sekolah dasar, mungkin masih teringat nama yang disebut di atas, Djoko Lelono, atau Dwiyanto Setyawan, Soekanto S.A., dan para penulis cerita anak yang lain. Mungkin pula mereka–jika waktu kanak-kanak gemar membaca fiksi anak–masih ingat dengan tokoh Astrid dalam cerita anak karangan Djoko Lelono. Tak cuma mengenai penculikan tamu negara, Astrid hadir dalam berbagai kisah. Sebut misalnya Astrid: Jatuh Cinta? (1984), Astrid: Duel Dua Dukun (1985), atau Astrid: Rumah Pohon (1987). Masih banyak lagi yang lain novel Lelono yang tebalnya antara 80 sampai 250 halaman terbitan Gramedia itu.

Selain Djoko Lelono, ada sederet nama pengarang yang meramaikan sastra anak pada era itu, termasuk pengarang sangat produktif: Arswendo Atmowiloto. Di masa ini Arswendo melahirkan puluhan buku anak dalam serial Kiki dan Komplotannya, Imung, dan Keluarga Cemara. Bahkan, serial ACI, Aku Cinta Indonesia yang semula berupa serial televisi di TVRI juga dia terbitkan dalam bentuk buku.

Nama Soekanto S.A. bisa dibilang salah satu pelopor sastra anak Tanah Air, yang punya andil dalam menciptakan masa kejayaan cerita anak di era 1970-an dan 1980-an. Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 18 Desember 1930, sudah menekuni karier kepengarangan sejak 1950-an, yang diawalinya sebagai cerpenis. Saat itu karya-karyanya banyak menghiasi majalah Mimbar Indonesia, Kisah, dan Siasat/Gelanggang.

Dia beralih ke penulisan cerita anak ketika menjadi redaktur majalah Si Kuncung. Majalah ini memiliki sumbangan besar dalam perkembangan cerita anak-anak, selain Bobo dan Kawanku. Berkat ketekunannya dalam mengamati perkembangan bacaan anak, ia kerap diundang ke luar negeri untuk mengikuti seminar atau kongres mengenai bacaan anak. Bahkan, pada 1986, ia mendapat undangan Dewan Internasional untuk Buku bagi Anak Muda (IBBY) di Jepang untuk menghadiri kongres ke-20 badan itu di Tokyo. Dua tahun kemudian ia mengikuti Konggres IBBY ke-21 di Oslo, Norwegia.

Suami mendiang Surtiningsih W.T., yang juga penulis cerita anak, itu telah menulis sekitar 500 cerpen dan 30 buku cerita anak bermutu. Salah satunya berjudul Buku Harian Anakku (PT Gaya Favorit Presss, 1981).

Pada era 2000-an, walau usianya memasuki ambang senja, Soekanto masih menulis, antara lain Wahai Kekasih Allah (Pustaka Jaya, 2000) dab buku kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta (Kompas, 2006), yang menyuguhkan pesan-pesan kebajikan bagi anak-anak tanpa bernada menggurui.

Ia juga menyusun buku mengenai tokoh-tokoh, yakni Mohamad Husni Thamrin Matahari Jakarta (1973), Si Pitung Hanya Sekali Kita Mati (1975) dan Jenderal Sudirman Perjalanan Bersahaja (1981). Atas dedikasinya pada cerita anak, pada 2003 Dewan Kesenian Jakarta menganugerahkan penghargaan sebagai Tokoh Penulisan Cerita Anak Indonesia kepadanya.

Dwiyanto Setyawan, pengarang cerita anak dari Kota Batu, Jawa Timur, pada era 1980-an juga sempat mengecap kejayaan. Pria kelahiran 12 Agustus 1949 itu telah menerbitkan lebih dari 60 judul novel anak sejak ia memulai karier sebagai penulis pada 1972. Adapun masa paling produktifnya adalah selama 1980-1990. “Waktu itu saya full time menulis,” ujarnya.

Yang paling fenomenal, menurut dia, novel berjudul Sersan Grung-Grung: Penyamar Ulung (1982), yang waktu itu mencapai 8.000 eksemplar. Oplah rata-rata novelnya yang lain antara 3.000-5.000 eksemplar. “Sampai-sampai kalau saya ke bank, misalnya, pembaca saya masih ingat. Ternyata pembaca saya sekarang sudah jadi ibu-ibu,” ujarnya.

Novel serial Kelompok 2&1 karyanya terbit pada rentang waktu 1984-1985 dengan judul, antara lain Kelompok 2&1: Ancaman Surat Berantai (1984), Kelompok 2&1: Sang Pengintai (1985), dan Kelompok 2&1: Rahasia Pesan Serigala (1985). Selain itu, ia juga menulis Rumah Kita Tinggal Kenangan (1984), Lorong-Lorong Keraguan (1980), dan Rahasia Topeng Berkumis (1984).

Seperti bacaan anak pada umumnya, Dwiyanto mengusung topik-topik detektif, petualangan, pembentukan geng, misteri, dan memecahkan rahasia. “Karena, tema-tema itu yang disukai anak-anak,” katanya.

Lihat saja serial Kelompok 2&1: Sang Pengintai, misalnya, bercerita tentang penculikan. Berikut sedikit cuplikannya.

Pak Gumarang, ayahnya, menunjukkan sikap enggan bekerja sama dengan polisi, karena khawatir akan keselamatan putranya. Ia menyatakan bersedia membayar uang tebusan yang diminta penculik. Urusan menangkap penjahat adalah nomor dua. Yang penting, Huri bisa kembali dengan selamat.

Sementara itu, dalam Kelompok 2&1: Rahasia Pesan Serigala (1985), Dwiyanto menyuguhkan cerita memikat tentang pengungkapan sebuah rahasia. Si tokoh Ira berusaha memecahkan rahasia pesan dengan gambar kepala serigala dan tulisan “homo momini lupus”.

“Jadi… jadi… kaukah orang itu?” suara Ira tersekat. Matanya terbelalak, memancarkan sinar tak percaya dan ketakutan.

“Ya! Akulah ‘serigala’ yang kaucari, ha ha ha!”

Maka sadarlah Ira bahwa dirinya terperangkap. Ia mau berbalik melarikan diri. Namun di sana ada orang lain, yang menghadangnya. Menurut perasaannya tampang orang itu sangat menyeramkan!

Oh, habislah dia!

Lebih celaka lagi, dia sendirian!

Secara finansial, menurut pengakuan Dwiyanto, penghasilan yang diperolehnya dari menulis, pada praktiknya, cukup memadai di masa itu.

Menguasai teknik penulisan cerita anak yang menarik menjadi tantangan para pengarang karena serita anak seolah identik dengan kesan menggurui. Dalam wawancara dengan sebuah surat kabar Ibu Kota pada 2003, Soekanto pernah menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi redaktur Si Kuncung.

“Yang banyak (mengirim naskah) saat itu justru para guru. Mereka mencoba menulis cerpen anak-anak, lalu dikirim ke majalah Si Kuncung,” ujarnya

Para guru itu, kata Soekanto, ketika menulis cerpen tidak bisa melepas kebiasaannya yang menggurui atau instruktif, “Sehingga cerita itu seolah mengandung instruksi-instruksi. Kalau polanya seperti ini, anak-anak akan kehilangan minat baca,” katanya.

Walau semula ia juga berpendapat seperti itu, Soekanto mencoba mengatasinya. Dalam karya-karyanya ia menyajikan cerita yang berbicara tentang kehidupan. Dia memperkenalkan anak-anak tentang kehidupan sesuai dengan pemahamannya.

Ia juga menuliskan cerita-cerita humor. Selain memberikan kesenangan yang bisa memikat anak-anak, menurut Soekanto, humor bisa memberikan optimisme kepada mereka. Ia juga menandaskan bahwa anak-anak tidak suka digurui. Tapi, mereka harus berbahagia di masa kecilnya dan itu diperoleh dari bacaan.

Pendapat Soekanto tersebut senada dengan Murti Bunanta, 62 tahun. Menurut pakar sastra anak dari Universitas Indonesia ini, buku bacaan anak yang baik adalah yang mengandung cerita, ilustrasi, dan tema cerita yang saling mendukung. “Tapi, sayangnya, di sekolah saja tidak pernah diajarkan cara mendongeng atau membaca buku sastra yang baik,” ujarnya. Karena itulah, ia sering memberikan pelatihan mendongeng kepada para guru, bahkan dalam waktu dekat ini, ia akan memberikan pelatihan mendongeng kepada wartawan.

Patut pula dicatat di sini adalah Serial Anak Dunia yang diterbikan oleh PT Gaya Favorit Press. Selain buku-buku anak terjemahan, ia juga menerbitkan buku-buku baru dan penerbitan ulang buku lama karya sejumlah pengarang Indonesia. Di antara merek adalah Perang Balon (1982) dan Kembalinya Si Anak Hilang (1987) karya Sukiat, Si Tulus (1981) karya M Sobary, Tiga Sukarelawan karya M. Noeh Al hhudawy, Dunia Si Jabrik (1987) karya Saliara, Namaku Ipul (1983) karya Tartila Tartusi, dan Anak-anak Bintang Pari (1988) karya Andi Hakim Nasution.

Dalam seri yang sama, pada tahun 1980-an terbitlah Petualangan Tam (1979) karya Wildan Yatim, Nun Jauh di Sana karya Arti D. Wijaya, Susan karya Veronica, Hati yang Damai karya Mas Bilal, dan Senja Itu Langit Merekah karya Surtiningsih WT.

Anak-anak Bintang Pari sebenarnya terbit pertama kali pada 1951 oleh Balai Pustaka. Ketika itu Andi Hakim Nasution, yang nantinya menjadi guru besar statistik dan genetika kuantitatif di Institut Pertanian Bogor, baru berusia 18 tahun. Buku itu menyabet Hadiah Buku Indonesia I untuk kategori bacaan anak-anak usia 12-15 tahun.

Buku setebal 59 halaman itu mengisahkan petualangan kelompok Bintang Pari, yang berisi sembilan belas anggota kepanduan (kini namanya Pramuka), saat berkemah di Megamendung, Bogor.

Kelompok itu ramai-ramai bersepeda dari Jakarta ke Bogor, lalu naik bus ke Puncak, dan dilanjutkan dengan bersepeda lagi ke perkemahan di Megamendung.

Kegiatan mereka di perkemahan, yang sarat dengan permainan, memasak, api unggun, bersahabat dengan anak-anak pandu lain dari Bogor, bernyanyi, dan menari. Mereka juga mendengarkan kawannya bercerita tentang petualangan Owney, anjing liar yang mengawal karung-karung surat Jawatan Pos Amerika Serikat ke berbagai penjuru dunia. Owney begitu terkenal, sehingga ketika dia mengawal surat ke Jepang, dia disambut sang kaisar, atau menjadi tamu agung ketika tiba di Cina. Perjalanannya keliling itu ditempuh selama 132 hari.

Kejayaan buku anak era 1980-an diramaikan pula dengan menjamurnya taman bacaan, baik di kota besar maupun kecil. Walau taman bacaan itu menyediakan komik, cerita silat, dan novel dewasa (kebanyakan novel populer), taman bacaan itu juga menyewakan buku bacaan anak.

Nah, pada era itu pula, tepatnya 1987, berdiri Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) oleh doktor sastra anak, Murti Bunanta. Hingga sekarang KPBA terus aktif, antara lain menerbitkan sejumlah bacaan anak seperti Legenda Pohon Beringin (2001) karya Murti Bunanta, yang mendapat hadiah utama Octogones 2002 for Reflets d’Imaginaire d’Ailleurs. Sebelumnya Murti menulis karya dwi-bahasa Si Bungsu Katak (Balai Pustaka, 1998).

Sayangnya, masa keemasan itu sempat memudar. Menurut Murti Bunanta, menurunnya produksi novel anak ketika itu karena masuk bacaan anak terjemahan dari luar negeri. “Terjemahan mulai masuk, pengarang Indonesia kalah,” ujarnya.

Hal ini juga diakui oleh Dwiyanto. “Pengaruh dari luar negeri, setelah masuknya komik, teks (bacaan anak) kita agak tergusur. Orientasi pembaca kita suka yang luar negeri,” katanya.

Dwiyanto sendiri mengakui, setelah 1990-an, produktivitasnya mulai berkurang. “Karena kegiatan lain, kebutuhan mulai banyak,” katanya. Apalagi sejak 1992 ia punya kesibukan baru, yaitu direkrut oleh PT Antar Surya Jaya, penerbit harian Surya, untuk memimpin majalah Hopla, salah satu anak perusahaan Surya. Namun, sejak 2005, ia pulang ke kota kelahirannya untuk kembali menulis dan memberi pelatihan menulis kepada yang muda-muda.

“Sekarang saya kembali ke basic,” tuturnya.