Ki Ageng Mangir Kasmaran di SMA Van Lith Muntilan

Tuhu Prihantoro
http://www.suaramerdeka.com/

KI AGENG Mangir Wanabaya kasmaran terhadap Pembayun. Meluncurkah tembang mijil disertai gerak tari Jawa yang lembut, berkarakter dan eksotis.

Duh Pembayun / Pudyanku wong kuning/Cahyane mancorong/Gandhes luwes kewes wicarane/ Dhuh kakang paduka pundhen mami / Kawula sayekti bekti marang kakung//…

Adegan itu bagian dari Sendratari ”Kasetyaning Pembayun” yang digelar di SMA PL Van Lith Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (26/5), dalam acara lustrum ketiga.

Pendukung sendratari berdurasi 45 menit itu semua siswa SMA PL Van Lith Muntilan kelas 10 dan 11. Pembayun (diperankan Yulia Ayu Srikanthi), Ki Ageng Mangir Wanabaya (Wigati Agdy), Senapati Ing Ngalaga (Hilarius Prin), prajurit putri (Dewi, Ajeng, Eka, Ayu, dan Arum), dan prajurit putra (Adrianus, Adiranu, Nandi, Pakerti, dan Nicolas).

Berbagai ragam gerak yang berpijak dari tradisi ataupun pengembangannya, dapat divisualisasikan oleh mereka dengan penuh totalitas.

Gending-gending inovasi FX Purwandi mampu menghidupkan suasana adegan. Demikian pula koreografernya, Ch Dwi Anugrah. ”Sendratari ini dipersiapkan sejak dua bulan silam, dalam pelajaran Humaniora Seni Tari,” katanya.

Karya Pramoedya

Ide cerita sendratari itu terinspirasi dari naskah Drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. ”Karya-karya Pram sangat menarik, karena di dalamnya terkandung bangunan sastra yang sarat pesan moral, terutama kreativitasnya menggali tradisi leluhur yang dipaparkan secara eksplisit tanpa tedheng aling-aling,” tutur Dwi yang juga pendamping seni tari sekolah itu.

Tema dalam sendratari itu adalah kesetiaan putri kerajaan Mataram dalam memegang janji, walaupun untuk itu harus penuh pengorbanan.

Dikisahkan, Kerajaan Mataram di bawah kendali pemerintahan Danang Sutawijaya atau Senapati ing Ngalaga pada kurun waktu 1575-1607 memandang kekuasaan itu sebagai suatu katunggalan yang utuh dan bulat, tidak boleh tersaingi ataupun terbagi-bagi.

Ketika konsep dari gambaran otoritas itu belum menjadi kenyataan, dinasti ini terus akan memperkuat diri dengan jalan melakukan sistem politik ekspansi.

Salah satu sasaran bidik politik ekspansi Kerajaan Mataram adalah perdikan Mangir. Suatu daerah perdikan subur yang sudah menjadi daerah swatantra sejak zaman pemerintahan Majapahit di bawah pimipin oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Berbagai nilai kelebihan perdikan itulah yang menyebabkan ambisi Senapati ing Ngalaga untuk menguasai Mangir di bawah payung kebesaran Mataram. Karena berbagai cara ekspansi secara terbuka selalu saja gagal, maka dia menggunakan siasat liciknya, yakni mengirimkan putri kesayangannya, Pembayun, untuk memikat Mangir Wanabaya. Putri Mataram dan pengikutnya itu masuk ke Perdikan Mangir dengan menyamar sebagai penari Tayub.

Ternyata pertemuan Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Pembayun malah menumbuhkan denting dawai cinta yang tak terpisahkan. Pembayun tak mau dihantui oleh kepura-puraan terlalu lama. Demi cintanya terhadap Mangir Wanabaya, dia mengatakan yang sebenarnya. Kecewa, marah, dan sesal menerpa Ki Ageng Mangir Wanabaya, manakala mengetahui istrinya adalah anak dari penguasa Mataram yang ingin merongrong Perdikan Mangir.

Dengan penuh kesabaran, Pembayun berhasil meyakinkan suaminya untuk mau menghadap ke Mataram sebagai menantu. Ki Ageng Mangir Wanabaya sanggup dengan catatan membawa pasukan segelar sepapan untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk.

Ketika sampai di Kotaraja Mataram, ternyata rombongan pengantin itu telah dijebak oleh Senapati ing Ngalaga dengan pasukan andalannya dalam strategi perang gedhong mineb. Bagi Ki Ageng Mangir Wanabaya, harga diri taruhannya adalah jiwa. Perdikan Mangir sebagai bumi kelahirannya harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan.

Pembayun pun harus menentukan pilihannya, antara orang tua dan suaminya. Demi kesetiaan terhadap suaminya, dia pun harus berani menentang arus melawan kesewenang-wenangan dan arogansi ayahandanya.

Bruder Alb Suwarto SPd FIC selaku kepala sekolah yang juga pimpinan produksi pagelaran tersebut mengatakan, dengan mempelajari kesenian termasuk tari akan membentuk peserta didik menjadi pribadi yang utuh.

Kamis, 01 Juni 2006