Puisi-Puisi Bambang Widiatmoko

http://www.suarakarya-online.com/
Tanda, 1

Mungkin tinggal kabut menjemput
Kesunyian dan rasa takut
Bingung mencari arah
Busur kehilangan anak panah.

Inilah bencana – entah apa pun namanya
Menceraiberaikan, lantas kering airmata
Bendera putih di ujung gang
Mengusir kembali burung gagak terbang.

Tanda, 2

Mungkin hanya tegur sapa
Tuhan hendak bicara
Berat beban bumi menyangga
Keserakahan dan nafsu angkara
Atau evolusi alam semesta
Berharap kita bijak mengartikannya.

Barangkali hanya tanda
Jika bumi menggeliat, hujan airmata
Ke mana lagi kita sembunyi
Tanah tempat kaki berpijak
Membuat kita enggan beranjak
Dan akhirnya kita lelah, juga pasrah.

Pura Beji
(Bagi: I Wayan Artika)

Penjor mulai kering
Tapi tiupan angin membuat kehidupan
Terasa berayun dalam irama nyanyian sukma
Lalu doa menjalin keseimbangan
Hitam putihnya sisi semesta
Percikan tirta dan bunga aneka warna.

Hidup terasa bagai pohon kamboja
Setia menjaga pura
Setia kata-kata harus terjaga
Bersama peluh, bersama sesaji
Dan patung-patung ditelan sunyi
Malam berkabut di pura Beji.

Perempuan Hikayat, l

Tenggelam dalam tumpukan buku hikayat
Wajahmu pucat – seperti anak tersesat
Mencari jalan kerahasiaan dan rasa penat
Apakah ada kata bijak – Tujuh Martabat
Atau bau busuk menyengat
Menyelinap dalam kamar tersekat
Tetap saja hikayat bercampur keringat
Menjadi hiasan dan rasa bersahabat.

Perempuan Hikayat, 2

Janganlah keyakinan menjadi padam
Meski cahaya lampu kamar selalu temaram
Hikayat telah menjadi jantung dalam tubuhmu yang legam
Seperti kitab daun lontar
Dalam peradaban dunia yang gemetar.

Perempuan Hikayat, 3

Ada abad-abad yang menyelinap
Dalam almari kayu yang dimakan rayap
Berjuta aksara menyimpan rahasia
Peradaban yang penuh makna kata.

Mungkin hanya tanya – penuh simbol bunga
Mungkin rasa sejati – juga mimpi-mimpi
Tak terbayang langkah kaki berlari
Dan berhenti pada titik kulminasi.

Perempuan hikayat terdiam sesaat
Seperti tersihir dalam dunia makrifat.

Perempuan Hikayat, 4
(Bagi: Indra)

Telah kaucatat hikayat Indra Maulana
Mengingatkan pada seorang perempuan pengelana
Dua nama yang terpaut abad
Tapi tak terpisah dari sejarah
yang melekat erat.
Perempuan hikayat lahir di bumi
Dengan dada menyimpan semangat api
Perempuan hikayat menangis seorang diri
Karena hidup adalah iluminasi.

Amsal Layang-Layang

Kita telah diajar untuk
bermain layang-layang
Tapi angin berhembus terlalu kencang
Menyobek angan-angan dan rasa senang
Kehidupan menjadi seperti terpanggang.

Amsal Rumah

Sebuah rumah – di atas sebidang tanah
Entah mencipta rasa gelisah atau gairah
Biarlah tetap kokoh tanpa timbunan sampah
Meski telah terperas jiwaku tinggal remah.

Amsal Cinta

Barangkali seperti sungai mencari lautan
Mengalir perlahan penuh perasaan
Atau banjir air-mata dan keputusasaan
Bisa juga tenggelam dalam ketidakpastian.

Tentang Penulis
Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta, dosen luar biasa Universitas Mercu Buana Jakarta, menulis di berbagai media-massa. Antologi puisi tunggalnya adalah Pertempuran (l980), Anak Panah (l996) dan Agama Jam (2000). Cerpennya terhimpun antara lain dalam antologi Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan (2000).