Rara Jlegong

Yono Daryono
http://suaramerdeka.com/

AKU berjalan pulang melintasi jalan setapak. Matahari miring ke barat, udara musim kemarau meneteskan bulur-bulir keringat di keningku. Jalan menuju rumahku melintasi sebuah persawahan bertanah hitam kecoklatan yang baru saja dibajak dan belum ditanami padi atau palawija. Aku melewati sebuah jalan tanah hitam yang berdebu.

Persawahan yang baru saja dibajak itu sangat luas hingga pandangan mataku tidak bisa melihat kecuali tanah hitam bergaris-garis yang masih belum dibajak. Persawahan itu tidak lagi ada satu tanaman atau satu helai rumput pun. Semuanya menghitam. Manusia itu sungguh kejam merusak, betapa banyaknya makhluk dan tanaman hidup yang dimatikan demi mempertahankan hidup sendiri.

Suara azan asar baru saja berakhir, di bawah pancuran, terdengar jelas suara-suara berat lelaki berlintasan dengan suara-suara perempuan serta anak-anak, di antara lenguh sapi, kerbau, dan embikan kambing. Udara pegunungan yang bersih, dipenuhi bau dan kotoran hewan, tersebar di antara gubuk-gubuk desa yang terpancang rapat satu sama lain bagai sarang lebah.

Aku menuruni lembah menuju pancuran untuk membasuh wajahku yang berpeluh. Di antara celoteh orang-orang yang bermain air, mandi dan berwudu itu, kau duduk di atas batu besar yang ada di samping kanan pancuran. Tidak seperti mereka yang bermain air penuh gelak tawa, kau kelihatan sedang mengurai keletihan seperti telah melakukan perjalanan jauh.

Aku menatap wajahmu, ada kedukaan yang menggelayut di rautmu. Beberapa saat kita bersitatap. Dengan wajah menghiba kau mengajak agar aku mendekat. Aku menghampirimu lalu duduk di sampingmu, kau tidak beringsut. Aku semakin mendekat rapat.

?Kedatanganmu pertanda peruntungan baik bagiku.? Aku terhenyak mendengar pengakuanmu. ?Apakah ini akhir dari pengembaraanku,? gumamku.

Hari mulai gelap, angin tak lagi berpolah, berdesir lembut meleleh dari pucuk cemara ke tebing yang berkabut. Tak terdengar lagi celoteh orang-orang dan lenguh sapi. Kau tidak merasa canggung ketika aku ajak beranjak untuk bergegas mentas.

Kemarau panjang mengubah cuaca, malam begitu gelap dan dingin. Cahaya gemintang di langit seperti kunang kunang yang mengapung. Angin bertiup membawa serbuk-serbuk yang menggigilkan. Kau menggamit tanganku, ada kehangatan mendesir, jantungku berdetak tak menentu.

Suara serangga bagai kecapi malam di antara kesiur angin yang melintasi malam dan derit rimbunan bambu mengantar perjalanan kami. Jalan setapak yang kulalui seakan semakin melebar. Di depan rumah yang agak jauh dari deretan gubuk-gubuk bagai sarang lebah itu, kau menghentikan langkah, lalu mengajakku masuk ke dalam rumah itu.
?Kita cuma akan bermalam sementara di persinggahan ini.? Kembali aku terhenyak mendengar ajakamu. Aku tidak memiliki keberanian menolak.

Seperti dalam lorong panjang rumah itu tiada warna, tiada bayang, tiada satu pun titik terang. Kaumenyalakan lampu, memperlihatkan lekuk wajahmu. Khayalanku mengembara, kaukah itu Drupadi, istri Pandawa, wanita hitam manis yang lemah lembut dengan rambut tergerai pajang hampir menyentuh lantai, matanya cemerlang seperti permata. Sesekali kau mengibaskan rambutmu. Itulah rambut yang tidak pernah disisir dan tak pernah digelung, semenjak dijambak Dursasana untuk menyeretnya dari keputren Hastina ke istana.

Di dalam rumah tidak ada perabot yang menandai rumah berpenghuni. Tidak ada meja tamu, tidak ada dapur bahkan jendela pun tak ada. Rumah itu tidak tergolong kecil. Ada empat kamar, dari empat kamar itu hanya satu kamar yang ada tempat tidur, yang lain dibiarkan kosong . Di ruang tamu, hanya ada tikar dan televisi 14 inc. Televisi itu tidak bisa dinyalakan karena tak ada jaringan listrik yang masuk ke rumah itu.

Aku seperti mengapung dan tidak mendapat jawaban yang pasti bagaimana mungkin kamu hidup dalam ruangan yang begitu sumpek. Rumah tanpa jendela ini merupakan tempat berteduh setelah kau memutuskan pergi dari rumah orang tuamu.

?Adakah perempuan lain yang lebih menderita dari Drupadi, diseret, dijambak, dihina habis-habisan, bahkan ditelanjangi di depan orang banyak oleh Dursasana. Di manakah kalian saat itu ketika aku dipermalukan, dan hampir dijarah kehormatanku oleh dendam kesumat dan permusuhan? Ya, akulah perempuan yang dijadikan taruhan oleh suamiku sendiri.?

Begitulah kau mengumpamakan penderitaanmu seperti Drupadi sehingga kau pergi meninggalkan semua yang dicintai.
Ruangan pengap ini dipenuhi asap rokok bergulung-gulung. Di ruang inilah kita berbagi rasa, kita bercinta, sebab di ruang ini hanya ada kita berdua. Kita membiarkan setiap sentuhan yang meruntuhkan keteguhan. Seperti melumat rindu, kita terperangkap dalam desah napas wangi kesturi. Aku seperti berenang di samudra luas digerakkan angin yang mengantarnya ke musim yang semakin merapuh . Gulungan asap rokok melipat tubuh kita berdua. Tiba-tiba kau meronta.
Aku seperti telah lama mengenalmu jauh sebelum pertemuan di pancuran itu. Aku tersanjung ketika kamu mengatakan bahwa aku datang bukan dari seberang samudra atau pegunungan, tetapi dari hatimu.

Namun kini malah tersinggung oleh perkataanmu, ?Di ujung waktu kita akan bertemu.? Mengapa tidak kau katakan, ?Aku menunggumu di bawah pohon kamboja.? Kau memaksa harus pergi, sedangkan aku tidak cukup keberanian untuk meminangmu. Kau telah pergi meskipun tidak pernah meninggalkanku. Aku belum selesai menghitung khayalanku, bagaimana Drupadi membagi cintanya kepada lima lelaki dalam satu rumah. Rinduku semakin membunting.

Apakah kau masih menyimpan keindahan itu kekasih? Apakah kenyataan sudah jauh dari kenangan, ketika malam berjalan melambat. Kau menghardikku: ?Jangan sentuh aku terlalu jauh, aku sedang mencari lelaki, bapak dari anak bayi di kandunganku , dan kau bukanlah lelaki yang ku cari.?

Sudah berpuluh lelaki yang kauajak tidur, semuanya tanpa penyelesaian.

?Kau berkelamin, aku mencari lelaki tak berkelamin, bapak dari bayi yang kukandung.?

Ya…ya…, aku tidak percaya kalau kau ternyata tengah mengandung. Bagaimana mungkin kau mengandung padahal tak seorang lelaki pun menyentuhmu. Kau bukan Maryam, kau bukan Dewi Kunti.

Kau pernah mencintai seorang lelaki, ketika hendak pergi untuk suatu tujuan, kekasihmu meninggalkan sebilah pisau. Ketika pisau itu kaupangku masuklah pisau itu ke dalam rahimnya. Sesuatu kegaiban terjadi perutmu kemudian membuncit dan orang-orang mengatakan kau telah mengandung. Merasa malu hamil tanpa suami, setelah beberapa lama tinggal di rumah kemudian kau pergi meninggalkan kampung.

Berbulan-bulan kau mencari, ayah dalam kandungan, sampai waktunya harus melahirkan, belum juga bertemu kekasih yang diharapkan menjadi bapak sang jabang bayi. Sampailah di suatu tempat persembunyian kau terperosok dalam kepapaan.

Kau tidak saja terperosok lumpur kemiskinan, tetapi secara lahiriah kau seperti tertimbun lumpur panas Lapindo Brantas. Bagaimana mengakhiri lumpur panas yang kian mengganas. Kemiskinan kronis dan kemiskinan akibat bencana alam menyebabkan tidak mampu membeli pangan dalam jumlah memadai.

Kau tidak merasa takut terhadap luasnya samudra, kedalaman dasar samudra, dan besarnya gelombang. Tidak merasa takut melihat banyaknya orang yang telah tenggelam, karena mereka memang bukan perenang dan penyelam yang andal.

Kau menceburkan diri ke dalam samudra ini dalam kapasitas sebagai penyelam andal dan pemberani, bukan sebagai penyelam penakut dan pengecut. Kau menyerang setiap kegelapan dan mengatasi semua masalah, menyelami goncangan.

Aku heran orang lain berusaha keras bagaimana cara menghindari maut agar bisa hidup selama mungkin. Seperti kata Kahlil Gibran:

?Nilai seseorang ditentukan dari keberanian memikul tanggung jawab, mencintai hidup dan pekerjaannya.? Kamu malah menantang maut, menyebur ke dalam lumpur. Namun akhirnya aku menyadari penderitaan atau kemiskininan barangkali memang membuat seseorang berfikir lebih baik mati daripada hidup menanggung sengsara. Kematian barangkali sesuatu yang indah, sesuatu yang mewah, sesuatu yang justru diharapkan kedatangnya oleh mereka yang tak berdaya lagi menghadapi kejamnya hidup. Tetapi bukankah bunuh diri adalah dosa besar? Hidup berharga meskipun kita di dalam hukuman. Mencoba membebaskan diri dari keinginan, karena keinginan pada hakikatnya adalah awal dari penderitaan. Keinginan adalah sebuah kesengsaraan.

Kau ingin pulang dari pengembaraannmu mencari kekasihmu, karena selama ini yang kautemukan hanyalah kesengsaraan.
Waktu terus beringsut beranjaklah musim demi musim, dosa masa lalu terus menjadi beban mengaburkan pandangan pada mata yang tidak mampu melihat. Ada rahasia yang sulit diterka.

Angin datang dan pergi meninggalkan usia. Rasa sakit yang tak terhingga membuat gerakan tidak karuan, ada gerakan di dalam perutnya. Udara panas, hutan meranggas, tak ada air, kau terus berjalan menyusuri hutan. Dari kejauhan kau melihat rawa.

Seperti mau melahirkan, tubuhnya penuh keringat. Dihampirinya rawa itu lalu berendam di dalamnya. Kau kemudian melahirkan bayi di dalam rawa. Bayi yang dilahirkan bukan berujud bayi, tetapi berujud seekor ular berkalung genta. Kau sangat terkejut melihat bayinya lalu jatuh pinsan. Kau tidak dapat menerima kenyataan bahwa putra yang dilahirkannya tidak berujud manusia. Ular yang sangat besar dan panjang bergulung di dalam rawa. Melihat ibunya hampir mati, ular yang ternyata dapat berbicara itu merasa kasihan. Sambil menangis ular itu berkata, ?Ibuku yang masih muda, janganlah engkau mati. Aduh Ibu bangunlah, jangan mati.?

Kau baru saja siuman sangat ketakutan melihat anaknya tetapi tidak bisa lari.

Si ular bertanya, ?Ibu jangan takut, katakanlah padaku, siapa sebenarnya ayahku?? Dengan badan menggigil ketakutan kau menjawab bahwa kau tidak mengetahui siapa ayah anaknya. Kemudian kau menyuruh anakmu bertanya kepada Ki Ageng Mangir.

Aku terperanjat mendengar kisahmu, benarkah kau Rara Jlegong. Angin apa yang telah mengantarkanku bertemu dengan wanita yang sering kurindukan. Inilah kenyataan yang harus aku terima, bukan dalam dongeng.

Seperti Drupadi, berbuat dan berkata jujur, dengan kejujurannya kau mampu menemukan dan mewujudkan kekuatan perempuan yang selama ini tak pernah kubayangkan. Kau telah memenangkan perjudian hidup yang sesungguhnya.

Kau mengurai rambutmu yang panjang, berlari jatuh bangun. Aku berusaha menggapaimu, namun hanya angin yang meronta.

Tegal, Juli 2010