Sastra Belum Membudaya di Masyarakat Pegunungan

Khalid Yogi
http://www.suaramerdeka.com/

Selama ini, seni sastra banyak didominasi oleh karya dari wilayah kota atau setidaknya pesisir pantai. Karya-karya yang muncul dari sastrawan pedesaan pun juga bermunculan menghiasi dunia kata-kata ini. Namun, meriahnya dunia sastra belakangan ini tampaknya kurang menyentuh kreativitas masyarakat pegunungan untuk menghasilkan karya tersendiri.

Hal ini dirasakan oleh IH Antasalam, pecinta budaya asal Wanareja. Tempat tinggalnya yang didominasi kontur kebun, bukit, hutan, dan pegunungan ini jarang sekali melahirkan seorang sastrawan beserta karyanya hingga tampil ke permukaan. “Padahal, seni sastra di wilayah ini sebenarnya telah ada sejak zaman nenek moyang,” katanya seusai mengisi Apresiasi sastra Pegunungan di SMPN 3 Wanareja, Minggu (16/11).

Kekayaan sastra pegunungan itu dibuktikan dengan bebagai kidung dan syair yang identik dengan seni-seni khas pegunungan. Sebagai contoh, sastra dalam pagelaran wayang kulit, wayang golek, atau wayang orang yang biasa menjadi tontonan masyarakat pegunungan. Bahkan, dunia sastra telah merambah syair-syair kidung melalui para seniman jaipong yang sering pentas di pegunungan.

Namun kini, kekuatan sastra di pegunungan seakan tertelan hingar-bingar sastra di perkotaan. Padahal, para penyair kota itu juga sering mencari inspirasi di bawah teduhnya pohon dan indahnya lansekap pegunungan. Lantas, kenapa masyarakat pegunungan sendiri sulit berkembang ditengah ladang inspirasi itu?

Hal inilah yang membuat pihaknya ingin menggulirkan bahwa sastra pegunungan itu ada di tengah peradaban modern ini. Keberadaan ini membutuhkan sebuah pengakuan terhadap identitas sastra pegunungan itu sendiri. “Sebenarnya, sastra pegunungan itu mempunyai kekhasan dengan sastra lainnya. Yakni lebih familiar, dalam arti mereka bisa berbagi rasa dengan sesama dengan cara yang santun,” katanya.

Menurutnya, tiadanya perhatian kepada kesusastraan berhubungan erat dengan tiadanya kebiasaan membaca pada masyarakat. Dengan berkurangnya jumlah persentase penduduk yang buta huruf, membaca belum merupakan kegemaran dan kebutuhan yang merasuki darah daging mereka. Kondisi ini sering dijumpai pada masyarakat pegunungan, dimana banyak diantara mereka yang jarang membaca.

“Terlebih jika dibandingkan dengan masyarakat di negeri-negeri maju, di Amerika, Eropa, Jepang misalnya, di mana pada kesempatan terluang di mana pun orang berada orang terus saja membaca. Yang di baca itu dapat berupa majalah, koran, atau buku di sana nampak orang mengisi waktu dengan membaca,” katanya.

Kesimpulannya, tanpa membaca tidak akan ada pengetahuan ilmu hidup dan tidak ada pengenalan pada hidup. Hal inilah yang harus ditekankan agar sastra juga membudaya di masyarakat pegunungan.