TERIMA KASIH DRAMA MONAS

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Indonesia laksana memasuki zaman anomali. Maka, ia perlu dilihat dari perspektif yang tak lazim, dari kenyelenehan. Atau dalam bahasa Michel Foucault yang mengutip gagasan Pascal: ?Manusia pastilah demikian gilanya, sehingga ?kalaupun ia tidak gila?tetap dianggap gila dari sudut pandang kegilaan yang lain.? Begitulah pada saat bangsa ini dihadapkan pada anomali dan berbagai kegilaan, harus ada peristiwa yang lebih gila. Setidaknya, harus ditempatkan sebagai kenyelenehan. Hanya dengan itu, stres dan depresi kita ketika menghadapi berbagai himpitan ekonomi, ketidakpercayaan pada pemerintah, dan kemuakan pada partai politik, agak terhibur dan dapat melupakannya sekejap.

Lihat saja serangkaian peristiwa gila sebagai dampak kenaikan BBM. Pemerintah lewat Bantuan Langsung Tunai (BLT) begitu bangga menyematkan predikat baru pada jutaan rakyat Indonesia sebagai ?orang miskin?. Dengan predikat itu, pemerintah sekalian berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi rakyat miskin itu sebagai ?pengemis?! Lapangan kerja lainnya bagi masyarakat dan terutama mahasiswa adalah demontrasi. Di sana bidang pekerjaan yang dapat dimasuki bisa macam-macam: Korlap (koordinator lapangan), satgas (satuan tugas), agiprop (agitasi dan propaganda), sampai ke aktor intelektual dan provokator. Di sejumlah kampus kini, berkembang pemeo baru: kuliah jangan sampai mengganggu demonstrasi!

Jika tahun 1980-an di kalangan mahasiswa ada istilah MPP (mahasiswa pulang pagi), kini maknanya berubah jadi Mahasiswa Perangi Polisi. Meski tak sepopuler singkatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang diplesetkan menjadi Korupsi, Kolusi, Nepotisme, muncul pula singkatan yang diplesetkan: BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan) menjadi Blokir Kawasan Kampus. Maka, pembakaran ban dan pemblokiran jalan menjadi bagian aksi mereka. Pekerjaan mahasiswa, tidak asyik-masyuk di ruang perpustakaan dan berkejaran dengan tugas kuliah, tetapi di jalanan berkejaran dengan polisi.

Kini, demonstrasi, konflik horisontal, bencana lumpur Lapindo, harga-harga apa pun yang membumbung naik ?kecuali harga diri bangsa yang terus turun-terpuruk? adalah bagian kehidupan sehari-hari bangsa ini. Kita bosan, muak, marah, sengit-sedih, tetapi tokh tetap tak dapat membutatulikan mata-telinga, lantaran kita punya hati-nurani. Oleh karena itu, dalam kondisi beban yang bertumpuk-tumpuk itu, agaknya kita perlu berterima kasih pada Komando Laskar Islam (KLI) dengan pendukung utamanya Front Pembela Islam (FPI) yang telah mementaskan drama Monas (1/6/2008) dengan sangat menarik. Penyerbuan dan pemukulan terhadap kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), seperti sebuah pipa kecil yang melepaskan serankaian stress dan depresi.

Pernyataan Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab dan Komando KLI, Munarman, memberi pencerahan bagi bangsa ini. Betapa tidak, pernyataan keras Habib Rizieq Shihab yang akan membela anggotanya sampai titik darah penghabisan, ternyata tidak terbukti ketika polisi datang ke markasnya. Begitu juga, suara lantang Munarman yang akan mempertanggungjawabkan segala tindakannya, lebih memilih kabur ketimbang menyerahkan diri. Itulah yang dalam istilah drama disebut membangun suspence, mengecoh penonton, dan melanggar konvensi. Sebagai sebuah karya seni, drama Monas telah menciptakan kebaruan, inovasi, dan greget yang serempak datang dan seketika tenggelam. Sungguh, kedua tokoh itu telah memainkan peranan yang canggih. Keduanya telah memberi contoh yang baik, betapa gampangnya berbicara, ketimbang berbuat. Makin yakin kita, lidah memang tidak bertulang!

Peranan pemain pendukung, figuran, juga dijalankan dengan sangat baik. Emosi kita yang marah, sedih, muak, dan entah apa lagi, tiba-tiba saja meledak saat menikmati drama Monas. Sebagai ?karya seni?, drama itu berhasil menggugah emosi penonton. Dengan melihat itu, kita marah pada anarkisme, makin tegas ingin melawan kekerasan,dan inspiring untuk menempatkan agama dan menerjemahkan ayat-ayatnya dengan semangat cinta kepada sesama. Bukankah drama itu makin menebalkan rasa kemanusiaan kita, betapa pentingnya toleransi dan saling menghargai, meski di sana ada perbedaan ideologi, agama, dan keyakinan. Di samping itu, menyadarkan kita, betapa berbahaya agama ditafsirkan secara pipih, hitam-putih dan menggunakan kacamata kuda. Dalam konteks kehidupan berbangsa, drama itu seperti sebuah refleksi introspektif tentang semangat keindonesiaan dengan Pancasila sebagai landasannya yang makin pudar. Maka, persatuan keindonesiaan mesti segera dibangkitkan kembali melalui karya, dan bukan janji palsu, seperti yang kerap diumbar saat kampanye.

Pelajaran apa lagi yang ditawarkan drama Monas? Konon ada kisah flashback di sana, yaitu lambatnya keputusan tentang nasib Ahmadiyah. Drama Monas telah mengajari bangsa ini, betapa berbahaya sebuah pemerintahan yang tak tegas dan kerap dilanda keraguan. Bahwa dalam drama itu dan dalam sejumlah peristiwa lain yang kerap dilakukan FPI, ada kebrutalan dan anarkisme atas nama agama, makin menegaskan, betapa Tuhan kian tak berdaya. Oleh karena itu, diperlukan profesi baru di negara ini, yaitu Polisi Tuhan. Ketika pengangguran makin meruyak, pekerjaan sebagai polisi Tuhan, agaknya bisa menjadi salah satu solusinya.

Kini, drama Monas usai sudah, meskipun kita terlalu sulit melupakan jejaknya yang melukai bangsa. Sebagai penonton drama, kita (: saya) tidak begitu dibebani rasa penasaran, bagaimana nasib para pemain yang kini ditangani polisi. Mungkin mereka akan dikenai pasal-pasal, beberapa saat meringkuk dalam tahanan, dan kemudian bebas lagi. Lalu, ada drama baru dipentaskan dan kita terkecoh lagi. Kiranya benar Kata Taufiq Ismail yang dilantunkan Ahmad Albar: Dunia ini panggung sandiwara/Ceritanya mudah berubah/Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani//

(Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI, Depok)