Ciumlah Aku di Ujung Subuh

Hamzah Puadi Ilyas
http://www.suarakarya-online.com/

Dinding pengap dan jeruji besi menemani setiap tarikan napasku. Sendiri diselimuti sepi dan didekap dinginnya malam sunyi. Akulah seekor burung yang terkurung dalam sangkar besi. Sayapku telah patah dan keinginanku untuk terbang telah musnah.

Ingin sekali kulihat matahari terbit. Cahaya merah di ufuk timur itulah tanda kehidupan mulai bangkit. Cahaya itu tak pernah menyentuh ruang suram ini. Aku takut dan tak ingin melihat matahari tenggelam ditelan kegelapan. Tak pernah kubayangkan malam karena membuatku merinding. Aku yakin, aku akan mati pada malam hari.

Kubayangkan kematian malam itu. Aku akan tersungkur di atas tanah, mencium permukaannya, kemudian kaku, dan pada akhirnya bersemayam di dalamnya, di bawah gundukan. Lalu aku akan dikerubungi hewan-hewan tanah seperti belatung yang muncul entah dari mana. Ragaku tak lagi tersisa.

Apalah diriku ini. Butir-butir debu yang menempel tak pernah kusapu. Kian hari kian menebal, membuat mata bantinku buta. Sekarang pada saat aku akan menemuiNya, aku sangat ngeri. Ingin kutunda pertemuan dengan tidur panjang itu. Apakah mungkin? Hanya tinggal dua hari, ketika sekelompok orang akan menyobek jantungku dan menghentikan detaknya. Saat itu, bayangan berupa angin akan meninggalkan tubuh kasarku melalui mulutku yang menganga.

Aku seorang gadis. Kepada bapak dan ibu ingin kukatakan, bukan salahmu telah membuatku menghirup udara dunia tepat di ujung subuh, merasakan bulir-bulir pergantian waktu menuju pagi hari saat semua orang akan melihat tubuh mungilku, mengagumi warna merahku dan mengucapkan kata-kata harapan: Kelak engkau akan menjadi orang yang berguna.

Sebagai anak kedelapan, mungkin saja kehadiranku tak terlalu diharapkan. Karena akulah beban hidup semakin berat. Dari sebuah keluarga yang seingatku tak pernah merasakan kenyang sepanjang hari, apalagi berbalut pakaian bagus. Cuma pada hari raya saja mimpi kanak-kanakku menjadi kenyataan – perut kenyang dan mengenakan baju yang lumayan bagus.

Aku ingin sekolah, tapi ibu tak membolehkan. Katanya semua itu tak perlu untuk anak perempuan. Bapak hanya diam dan melamun sambil melinting rokok. Ia hitam dan kurus. Dengan tubuh yang setiap hari terkena sinar matahari, ia tampak tua. Tapi dewa penolong tiba-tiba muncul di muka pintu, mengabari bapak dan ibu bahwa aku harus sekolah dan tidak perlu membayar sampai SMP. Mereka hanya mengangguk.

* * *

“Bapak, ibu, aku ingin ke Jakarta. Mencari kerja.” Kata-kata yang terucap setelah aku lulus sekolah. Mereka lagi-lagi mengangguk, mungkin juga senang karena akan hilang satu mulut yang harus diberi makan.

Di Jakarta aku bekerja di sebuah pabrik. Rumah yang sangat sederhana aku sewa bersama teman-teman wanita lain yang sama-sama mencari penghidupan di kota ini, berharap mendapat cipratan kemegahannya. Lihatlah gedung-gedung tinggi itu. Bukankah itu pertanda kemakmuran? Saat itu aku percaya bahwa banyak sekali uang yang ada di dalamnya.

Dua tahun bekerja, satu kali aku pulang ke kampung memberi uang. Cukup berarti bagi bapak dan ibu. Kebanggaan orang tua muncul. Ternyata anak kedelapan membawa berkah. Aku pun ditanya, kapan menikah?

Menjemput tahun keempat, kulihat para pekerja pria saling berbisik. Mas Kumis paling aktif membisikkan sesuatu ke telinga-telinga pekerja lain. Kadang ia terlihat berbicara sangat serius dengan beberapa orang. Itu berlangsung sekitar empat hari. Hari kelima aku juga dibisiki. Aku setuju, lalu hampir semua pekerja wanita aku bisiki hal yang sama.

Tepat hari keenam, Sabtu, setelah menerima upah mingguan, kami berkumpul dan menggelar demo. Kami menuntut kenaikan upah, uang makan, transport dan pengobatan. Sebelum permintaan kami dipenuhi tak akan ada yang kembali bekerja. Perundingan yang diwakili mas Kumis dengan pimpinan pabrik berjalan alot. Selama tiga hari kami hanya duduk-duduk di pelataran pabrik sambil memasang tulisan yang menyatakan bahwa kami bukan sapi perahan dan minta diperlakukan secara lebih manusiawi.

Hari berikutnya orang-orang berseragam berdatangan ke lokasi pabrik. Mereka memagari seluruh pintu. Ada aksi saling dorong. Suasana sangat riuh. Mas kumis, empat orang pria dan aku berada di dalam salah satu gudang. Kami dijebak melalui perundingan. Kamilah yang dianggap biang keladinya. Hanya ada dua pilihan: masuk penjara atau keluar dari pekerjaan dengan sedikit pesangon.

* * *

Kusentuh kembali ubin dekil rumah kontrakan. Sempat berpikir untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Untung teman-teman tetap membolehkan aku tinggal. Perasaan sesama orang kampung mengikat rasa persaudaraan kami.

Saat lengang beradu sepi, kutelusuri lantai sebuah mal. Kupandangi harga-harga mahal yang menempel pada baju-baju. Tiba-tiba ada orang berkulit hitam dan tinggi besar memandangku. Ia tersenyum. Aku ragu-ragu membalasnya. Ia menghampiri dan kami berkenalan. Kuikuti langkahnya ke sebuah food court. Ia memesan minuman untuk kami berdua. Dengan bahasa Indonesia yang berantakan ia bercerita. Namanya Bjovo. Katanya ia dari sebuah negara di Afrika dan sedang melakukan bisnis di Jakarta. Anehnya aku langsung percaya.

Bagai besi yang tersedot magnet. Dua kutub positif dan negatif saling bertemu. Semenjak itu kami sering bersua. Ada pematik rasa dalam hatiku yang berhasil mencipratkan api cinta. Suka, kangen, sayang. Inikah yang orang bilang asmara? Memang asmara tak bermata, sehingga ia buta. Tak kulihat lagi kulit hitamnya yang bagai arang. Teman-teman di kontrakan memperingatkanku agar hati-hati pacaran dengan orang negro.

Aku melangkah tak peduli. Yang kutahu hanyalah Bjovo memberiku uang, membawaku ke salon kecantikan, mengubah penampilanku, memanjakanku, dan terakhir mengecap maduku.

Pada sebuah hotel bintang satu. Setelah beberapa teguk minuman dari botol itu yang dituangkan Bjovo di gelasku. Pandanganku memudar, semua samar, berwarna putih bagai salju. Tapi kemudian aku terbahak, sangat gembira bagai seorang ratu. Beberapa jam kemudian, aku capek dan lesu. Tubuhku terasa ringan, sepertinya persendianku diangkat satu persatu. Bjovo semakin menarik di hadapanku. Aku lalui lorong beku, lalu masuk ke sebuah kamar kelabu. Kemudian yang kuingat, aku seolah dipangku sambil kudengar lagu-lagu merdu.

Cuma beberapa bulan setelah pertemuan dan penyatuan, kami menikah. Lagi-lagi bapak dan ibu hanya mengangguk setelah Bjovo menyodorkan segepok uang. Aku mengontrak rumah bersama suami. Ingin segera kurajut benang-benang kehidupan, membentuk bangunan kokoh yang melindungi kami dari segala gangguan untuk meletakkan masa depan. Kucoba berbakti sebagaimana layaknya seorang istri.

Ada beberapa teman Bjovo yang sering mampir ke rumah kontrakan kami. Ada yang berkulit hitam, putih, coklat, sedikit kuning dan bermata sipit. Malah ada juga wanita berkulit putih dengan rambut pirang. Mereka bicara was wes wos. Bahasa yang tidak kumengerti. Tak satu pun yang diperkenalkan kepadaku dan aku tak pernah bertanya siapa mereka. Aku pikir tak baik mencampuri urusan suami.

Hingga pada suatu ketika, Bjovo menyuruhku mengantarkan tas ke sebuah hotel.
“Apa isinya?” Tanyaku.

“Jangan tanya.” Matanya seram, “and jangan dilihat.” Bahasa Indonesianya masih berantakan. Aku takut ditampar lagi, seperti minggu lalu saat aku agak cerewet ingin tahu kepergiannya yang tiba-tiba di tengah malam.

Aku benar-benar tidak tahu isinya. Aku hanya perlu menuju ke suatu tempat untuk menyerahkan tas ini kepada orang yang fotonya ada di tanganku. Taksi sudah dipesan dan siap melaju.

Keesokan harinya wajah Bjovo bersinar cerah. Ia lalu memberiku uang. Katanya sebagai imbalan atas keberhasilanku mengantarkan tas itu. Lalu beberapa hari kemudian ia menyuruhku kembali melakukan hal yang sama. Mengantarkan tas ke hotel lain. Kali ini pun berhasil dan aku mendapatkan persen lagi. Ada rasa senang, tapi juga bimbang.

* * *

Malam itu Bjovo tidak bisa tidur. Ia sangat gelisah dan berkali-kali bangun. Lalu bicara melalui hand phone dengan bahasa yang masih aku tidak mengerti. Berkali-kali pula ia masuk ke kamar mandi sambil membawa bungkusan. Lalu terdengar suara air diguyur ke lubang kloset. Aku ikut-ikutan gelisah. Kulihat jam dinding. Sebentar lagi subuh.
“Ada apa?” Aku bertanya.
Tak ada respon. Ia makin gelisah, mondar-mandir keluar masuk kamar.

Terdengar pintu diketuk keras. Bjovo segera menuju ke arah pintu dan dengan terburu-buru membukanya. Aku mengikuti dari belakang dengan menjaga jarak. Tamu berkulit putih dan berambut pirang muncul dengan bersimbah peluh. Mereka bicara sangat cepat. Sesaat kemudian, Bjovo menyuruhku cepat-cepat berganti pakaian. Aku tak sempat bertanya. Dengan sigap diraihnya tas yang berisi uang. Tangan kanannya menyambar tangan kiriku. Aku hampir terjatuh. Tapi ia terus menarik lenganku menuju ke luar rumah. Di depan sudah ada mobil yang menunggu. Aku dan si bule masuk terlebih dahulu.

“Jangan bergerak!” Tiba-tiba muncul dari berbagai arah orang-orang bersenjata. Aku terkejut. Apa yang terjadi? Kulihat Bjovo berlari menerjang kepungan. Badannya yang tinggi besar berhasil merobohkan salah satu penodong. Tapi langkahnya terhenti ketika tiga letusan mengenai tubuhnya. Salah satunya di kepala. Aku menjerit, lalu tak ingat apa-apa.

Aku seperti bermimpi. Bermacam-macam bayangan bersileweran di kepala. Saat sadar kulihat hakim sedang mengetuk palu. Ia telah memvonisku hukuman mati karena aku dianggap terlibat jaringan narkoba internasional. Aku hanya bisa menangisi nasib. Bapak dan ibu hanya sekali menjenguk. Mereka sudah semakin tua. Seperti biasa, bapak hanya bengong. Sedangkan ibu sesekali mengusap air matanya. Aku bersimpuh di kaki mereka memohon ampun.

* * *

Hanya beberapa jam lagi. Wahai Malaikat pencabut nyawa! Ciumlah aku di ujung subuh. Waktu yang sama saat aku dilahirkan dan menghirup udara dunia. Biar pagi tak lama menunggu, saat mayatku akan kembali ke asalnya.

Ingin kudengar pada akhir nafasku suara panggilanMu. Saat jiwa-jiwa suci berbasuh air segarMu. Biarlah hatiku saja yang ikut bersama mereka untuk merunduk di hadapanMu. Ragaku penuh onak duri bersimbah debu.

Kini jalan berumput sedang kuinjak dengan kaki telanjang. Perlahan aku melangkah, diapit oleh dua orang berlengan kekar. Aku disandarkan pada sebuah tiang kokoh. Terikat dan tertutup.
Kini renggutlah jiwaku!

Suara aba-aba terdengar, diikuti suara gerakan laras yang serempak seperti terarah tepat di dadaku. Aku pasrah. Selamat datang kekekalan. ***