Leak dalam Ajaran Hindu

Kelik M. Nugroho, Rofiqi Hasan
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEJUMLAH pemerhati budaya Bali kini sedang meregang urat leher gara-gara leak. Pemicunya adalah “promosi” ilmu leak yang disampaikan dalam beberapa kesempatan melalui media publik oleh I Gusti Ngurah Harta. Tokoh ilmu bela diri di Denpasar yang masih berusia 38 tahun itu mengaku mempelajari leak sejak 1993.

Selain berbicara di radio swasta lokal, Harta mengikrarkan tekad untuk melestarikan ilmu tradisional itu di sebuah seminar tentang leak, yang diselenggarakan Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Universitas Udayana, Denpasar, akhir Maret lalu. Seminar itu diwarnai perdebatan yang sengit. Ada mahasiswa yang menyangsikan keberadaan leak karena logika ilmunya di luar jangkauan akal.

Lontaran ide itu memicu beragam reaksi di kalangan masyarakat. Ada yang secara moderat menerimanya karena menganggap leak adalah bagian dari khazanah budaya Bali. Sebagian yang lain menolaknya secara keras karena menganggap leak adalah ilmu hitam alias ilmu jahat.

Apa sebenarnya ilmu leak? Leak, seperti dipersepsikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah hantu jadi-jadian berupa kera, burung hantu, dan lain-lain yang diciptakan seseorang dengan jalan memantrai diri. Cara untuk beralih wujud itu disebut ilmu leak.

Ada yang mengidentikkan leak sebagai ilmu hitam seperti santet di Jawa. Anggapan itu bersumber dari gambaran yang melekat di benak kebanyakan orang tentang citra leak sebagai hantu menakutkan yang lain kali bisa berupa binatang. Pendek kata, dalam gambaran umum, leak adalah sesuatu yang menyeramkan dan menegangkan bulu kuduk. Berbagai bentuk leak ini mengindikasikan pencapaian ilmu leak yang dimiliki seseorang. Semakin tinggi ilmu leak seseorang, kemampuan mengubah wujud semakin canggih. Contohnya, kesaktian untuk menjadi duparambat (asap) yang merebakkan aroma yang wangi, atau cahaya yang berpendar.

Leak, menurut Harta, sering dirancukan dengan desti alias ilmu hitam. Akibat persepsi yang salah itu, tak jarang timbul ekses negatif. Seseorang yang diketahui menguasai leak bisa-bisa menjadi sasaran pembunuhan oleh masyarakat.

Berdasarkan sejarah, leak dikembangkan sejak 989 Masehi oleh sebuah sekte dalam agama Hindu yang memuja Durga, dewi yang dinamis. Sekte itu berkembang bersamaan dengan masuknya kaum Hindu pemuja Dewa Syiwa asal Medang, Jawa Timur, ke Bali. Bersumber dari sebuah sekte agama, Harta mempunyai penafsiran yang positif tentang leak: suatu jalan spiritual untuk memperoleh kepuasan mistis. Tujuan ahirnya adalah pengalaman spiritual yang disebut moksa (tingkatan hidup lepas dari ikatan keduniawian). Karena itu, Harta melihat kesamaan leak dengan ilmu tasawuf dalam Islam, yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tapi tak semua orang sepakat dengan pendapat Harta. Agamawan Hindu, I Ketut Wiana, berpendapat bahwa ilmu leak bukanlah bagian dari ajaran Hindu. “Itu sesuatu yang tingkatannya di bawah agama dan dihasilkan oleh kebudayaan manusia,” kata salah satu ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia itu. Karena itu, secara resmi, agamawan Hindu menganjurkan umatnya supaya menjauhi ilmu semacam itu. “Kami mengimbau umat agar menjauhi leak karena agama lebih indah daripada ilmu itu,” kata Wiana.

Reaksi yang lebih dingin datang dari Putu Suasta, M.A., sosiolog lulusan Universitas Cornell, AS. Melihat leak sebagai folklore yang berkembang di masyarakat Bali lama, Suasta tak mencemaskan ide seseorang yang ingin melestarikan ilmu leak. Langkah itu dipandang sebagai upaya mempertahankan simbol-simbol budaya Bali masa lalu, ketika masyarakat sepenuhnya masih bersifat agraris.

Tampaknya, leak perlu dikaji kembali secara kritis. Sebab, jangan-jangan ia bisa dikategorikan sebagai religious science seperti yang dipersepsikan beberapa ahli parapsikologi Barat.