Nae

Miftah Fadhli
http://www.surabayapost.co.id/

Gerimis itu akhirnya datang juga. Gemilat kilat memancar di langit hitam. Sesaat, pandanganku terpaku pada sosok bayangan yang berkelebat di seberang sana. Menjadi tidak jelas karena interval gerimis yang rapat.

Perlahan ia membuka kaosnya. Kaos putih yang kulihat paling terang sore tadi. Aku bisa melihat gerak meliuk rambutnya yang sengaja dikibas-kibas. Tubuhnya pecah-pecah sebab kaca jendela keruh akibat gerimis yang telah berubah jadi hujan deras. Aku terkesiap ketika tiba-tiba gadis itu membuka jendela kamarnya. Aku langsung tunduk, menutup jendela dan bersembunyi di balik tirai. Kuintip sesekali wajahnya yang berkeredapan dihantam kemilat guntur. Wajahnya menjadi tidak jelas karena rintik hujan menempias di permukaan jendelaku.

Sesaat setelah ia menutup kembali jendelanya, aku melongok keluar. Menyibakkan tirai jendela yang langsung dihempaskan angin ketika kubuka daun jendela. Kutelusuri alur tubuh hitamnya yang terpotong hingga pinggang. Sungguh menawan. Sesekali ia sisir-sisir rambut panjangnya dengan jemari lentiknya. Aku bisa melihat ia sedang menggigit ikat rambut saat memelintir rambutnya. Secara perlahan, ia ikat rambutnya.

Aku kesal ketika ia menghindar dari jendela kamarnya. Ia pasti menuju pintu kamarnya–seperti malam-malam sebelumnya–dan mematikan lampu kamarnya dengan sekejap.

Ah. Nae.

Rasanya malam ini begitu cepat kau mempertunjukkan bayang-bayang tubuhmu itu. Kau tak sadar? Aku harap begitu. Seperti malam-malam sebelumnya. Kembali kudengar lenguh seksimu tepat pukul dua belas malam. Kulongokkan kepala ke jendela, tak ada gerak di kamarmu. Jendela hitam itu tetap hitam. Tak berkelebat membentuk bayang tubuh lelaki seperti yang kuharapkan. Seperti malam-malam sebelumnya. Akhirnya lenguhmu itu berakhir tepat pukul setengah dua.

***

“Kau sudah ketemu tetangga baru kita?” kata ibu ketika meletakkan sepiring nasi goreng dihadapanku.

Aku mengangguk lemas. Ingin kukatakan bahwa gadis itu membuat tidurku tidak nyenyak akhir-akhir ini. Tapi urung kulakukan karena sebelum sempat kukatakan, ibu menyuruhku mampir ke rumahnya. Aku terkejut.

“Untuk apa?” aku berhenti mengunyah. Separuh nasi goreng belum turun ke kerongkonganku. Rasa liat dan lendir bercampur pedasnya masih terkulum di geronggang mulutku. Ibu tak segera menjawab. Ia menyendok nasi goreng ke piringnya–untuk ketiga kalinya–dan menyuapkannya sesendok ke mulutnya. Ibu tersenyum memandangiku. Namun tak langsung menjawab.

Tubuh ibu yang berisi karena banyak makan justru membuatku semakin prihatin. Meski terlihat makmur dengan makan makanan enak setiap hari, aku tahu bahwa kepedihan itu masih bersarang di dadanya. Napasnya sering tersengal-sengal. Aku sering memperingatkannya agar mengecek kesehatannya ke dokter. Tapi ibu selalu menyangkal. Setiap kali kuperhatikan senyum tersungging di bibirnya, aku lekas tahu bahwa senyum itu sekedar untuk menutup-nutupi kesedihan yang telah sekian lama meremas kehidupannya. Ibu malah tertawa. “Kau selalu saja bersembunyi dari perempuan, Ardi.” Kata ibu tiba-tiba.

Sisa nasi goreng yang masih berada di mulutku langsung kutelan. Rasanya menjijikkan. Air liurnya membuat nasi goreng itu seperti bubur.

“Maksud ibu?” tanyaku heran.

“Kemarin ibu sudah mengunjunginya. Anaknya cantik, ramah, dan periang,” tutur ibu. “Apalagi yang kau tunggu. Jodoh sudah di depan mata.” Sambungnya kemudian.

Aku lekas tahu arah pembicaraan ibu. Selama ini ia yang selalu menggenjotku agar cepat menikah. Ia cemas karena status lajang ternyata masih mengurungku di umur dua puluh sembilan. Karenanya ibu sering mengajak anak temannya ke rumah hanya untuk diperkenalkan kepadaku. Seingatku sudah lima gadis yang dibawanya ke rumah. Tapi sampai saat ini aku belum juga memutuskan.

Di umur yang semakin ranum ini sebenarnya, sudah sepantasnya kuakhiri masa lajangku. Aku sadar kehadiranku akan semakin memberatkan ibu. Akan tetapi memilih untuk segera menikah, berarti memilih untuk meninggalkan ibu. Itu artinya ibu bakal kesepian lagi. Sebab menurut adat seorang lelaki harus tinggal di lain tempat (yang jauh-kalau perlu di luar kota) setelah ia menikah. Ah. Bagaimana seharusnya aku memilih? Keduanya sama-sama berakhir tidak membahagiakan. Penderitaannya sudah cukup berat. Jahat jika aku harus menambah penderitaan lagi kepadanya.

Aku memilih tidak menjawab dan menyelesaikan makananku. Kulihat jam, masih pukul tujuh lewat. Kukatakan pada ibu aku harus berangkat kerja. Kugamit dan kucium punggung tangannya yang berbau kesedihan itu. Setelah itu kucium keningnya untuk pada akhirnya kutinggalkan ia sendirian selama berjam-jam (mungkin sampai malam).

Entah kenapa di sepanjang jalan lesat bayang gadis itu bolak-balik muncul di kepalaku. Tawanya yang membahagiakan sekaligus tubuh sintalnya yang menggairahkan–yang kuketahui dari melihat bayang tubuhnya di jendela dan kuintip ketika ia, selalu menyiram bunga setiap sore– seperti berhasil mempengaruhiku hingga tanpa sadar angkutan umum yang kutumpangi sudah melewati kantorku. Kalau bukan karena suara klakson dramtruk yang menderu mungkin lesat-bayang gadis itu tak akan buyar sehingga aku hanya akan duduk diam di dalam angkot yang terus berputar-putar di rute yang sama.

Kuputuskan untuk turun di halte yang tak jauh dari kantorku.

“Pinggir, Bang.” Kataku menyuruh berhenti supir angkot yang sedari tadi mendengarkan pemutar musik dari headset-nya.

Mungkin karena suaraku yang terlampau besar atau bisa jadi ia yang kaget mendengar ceracau suara aneh di antara suara lagunya, ia menginjak pedal rem tiba-tiba. Saat itu aku duduk di depan, di samping supir itu. Tubuhku terdorong ke depan hingga wajahku hampir menempel di kaca. Beberapa penumpang menjerit karena angkot yang tiba-tiba berhenti. Setelah membayar kupalingkan wajah ke bangku halte. Kulihat sosok gadis berambut panjang yang sibuk mengotak-atik handphone-nya. Wajahnya tidak kelihatan karena rambut hitamnya yang menutupi. Secara selintas gadis itu tidak berbeda dengan beberapa gadis yang duduk di sampingnya. Tapi ketika kuperhatikan baik-baik tubuh sintalnya, juga gerak rambut yang mengibas-ngibas, aku segera tahu bahwa dia adalah gadis itu. Gadis yang belum lama pindah di sebelah rumah. Iapun seperti mengenalku karena begitu melihatku ia langsung berdiri dan tersenyum ke arahku.

Dengan yakin kudekati dia dan kujabat tangannya. Halus. Betapa lembut desir permukaan telapak tangannya. Jauh lebih halus dari kapas–setidaknya itu yang kurasakan. Rekah senyumnya membuatku urung untuk cepat-cepat masuk kantor.

“Mas Ardi, ya?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk penuh senyum. Selama ini aku hanya bisa membayangkan wajah gadis itu lewat imaji yang terbentuk dari siluet bayang tubuhnya di jendela dan kini aku melihatnya secara langsung. Ia sangat cantik. Lesung pipitnya menambah kekagumanku pada wajahnya. Ahh…

“Mau ke mana?” tanyaku basa-basi.

“Mau ke tempat kerja, mas.” Jawabnya penuh senyum.

“Kenapa menunggu di sini? Kan bisa langsung naik di depan rumah.” Tambahku seakan ingin menahannya lebih lama.

“Iya. Tadi pas di angkot saya baru sadar kalau dompetnya ketinggalan. Untung ada beberapa lembar uang di kantong. Jadi saya turun di sini sambil nunggu mama mengantar dompetnya.” Jelasnya. Aku mengangguk. Sesaat lamanya aku terdiam. Sejenak kulihat kilatan bening di matanya. Dan sekilas kulihat kilatan merah jambu di mataku yang tercermin di matanya. Ibu, kau benar.

***

Setelah pertemuan itu aku jadi sering mengunjungi rumahnya. Dia tinggal berdua dengan mamanya. Sama sepertiku. Kukatakan padanya bahwa aku bekerja di perusahaan distributor sebagai akuntan.

“Wah, gajinya besar dong mas?”

“Ah, tidak. Cuma perusahaan kecil.”

Ia mengangguk. Rambutnya yang ringan mudah ditepis angin membuat detail-detail bilur rambutnya terekam olehku. Membuatku betah berlama-lama di sini. Tercium bau mawar di seluruh ruang tamunya. Juga bau parfum laki-laki yang sesekali menyambar hidungku.

Diceritakannya bahwa ia dan mamanya telah berkali-kali pindah rumah. Itu dikarenakan ia dan mamanya mencoba menghindar dari laki-laki–ayah tirinya–yang sering kali menyantroni rumahnya. Diceritakannya dengan nada yang amat memilukan, ketika laki-laki itu selalu memukuli mamanya. Bahkan ia jujur di punggungnya terdapat beberapa bekas luka akibat pukulan laki-laki itu.

Sesaat aku sadar bahwa kehidupan kami tak jauh berbeda. Sama-sama memiliki ayah berengsek. Sama-sama mempunyai ibu yang yang hidup dalam kepedihan tiada habis. Aku ingin sekali merangkulnya. Namun tiba-tiba ibunya muncul dari pintu kamar dan langsung duduk, bergabung bersama aku dan gadis itu.

“Nae belum punya pacar lho Mas Ardi.” Terang mamanya Nae.

Aku tersentak. Wanita ini begitu blak-blakan. Ia jarang tersenyum seperti anaknya, namun selalu menyembunyikan mulutnya jika tertawa lepas. Wajahnya tidak kelihatan seperti ibu-ibu kebanyakan. Kuning langsat, tidak banyak keriput, dan untuk ukuran wanita yang habis didera kepahitan seperti dirinya, ia cukup cantik. Tidak seperti ibuku yang wajahnya semakin hari semakin berjerawat. Wanita ini sungguh bersih. Kelihatan lebih muda dari umur sebenarnya. Aku hampir tidak percaya.

“Mama?” Nae salah tingkah. Rona pipinya berubah warna.

Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Begitu gugup melihat dua perempuan cantik sedang berhadapan denganku.

Bahkan ketika sampai di kamar, wajah keduanya tak begitu saja lepas dari ingatan. Malah keduanya semakin lekat membayang dalam mataku. Lesat-bayangnya membuatku terjaga hingga malam.

Selepas maghrib tadi, kukatakan pada ibu bahwa aku mulai tertarik padanya. Aku berkeinginan membina hubungan lebih lanjut dengannya. Kukatakan padanya bahwa ia punya daya tarik yang luar biasa. Ia sepertinya menyimpan magnit dalam setiap tubuhnya. Dan aku adalah seonggok besi yang tak bisa berbuat banyak ketika magnit itu mulai menarik.

Kulihat tatapan ibu kepadaku begitu tajam. Matanya berkilat-kilat. Kuhentikan menceritakan pesona gadis itu kepadanya. Wajahnya serius. Lamat-lamat kusaksikan otot-otot wajahnya mengeras, seperti akan membeku. Dingin ketika kusentuh keningnya. Sebelum sempat aku bertanya, ibu langsung melibasku dengan tatapan ngeri sekaligus ucapan getir yang keluar dari mulutnya.

“Tidak. Jangan kau dekati lagi gadis itu, Ardi!”

Ibu langsung nyerocos pergi tanpa memberiku penjelasan. Aku tak habis pikir, kenapa tiba-tiba ibu melarangku berhubungan dengan gadis itu? Padahal sejak awal ia yang menyuruhku untuk mendekatinya. Kenapa tiba-tiba ibu bisa berubah begitu cepat?

***

Tak ada yang bisa kulakukan selain menuruti perintah ibu. Tapi aku sadar bahwa aku sudah dewasa, bukan anak kecil yang mesti dibatas-batasi seperti itu. Jadi, tak semua perintah ibu kulakukan.

Jika tak bisa bertemu, aku bisa menghubunginya lewat handphone. Setiap malam aku selalu menelepon atau mengiriminya pesan singkat. Bahkan kuberitahu sikap ibu kepadanya lewat pesan singkat yang kukirim. Ia tak segera membalas. Kulihat siluet bayang tubuhnya terpaku di jendela kamarnya. Saat inipun mungkin ia sedang menyaksikan siluet tubuhku sedang mematung di depan jendela kamarku.

Tiba-tiba saja ibu masuk ke kamarku. Langsung kusibak tirai jendela agar ia tak melihatku bersitatap dengan Nae lewat siluet-siluet jendela. Ibu terlihat lelah malam ini. Wajahnya agak pucat. Bibirnya sesekali bergeletar. Malam ini tubuhnya agak kurusan.

Lantas ia duduk di tepi ranjangku.

“Maafkan ibu, Ardi. Bukannya….”

“Tidak apa-apa, ibu. Aku tahu kepedihan ibu masih belum hilang. Aku tahu.” Selaku sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan. Air bening kelihatan meleleh di sudut matanya.

“Ibu sudah tahu….” Ujarnya setelah menahan deru tangis yang hampir keluar.

“Tahu apa, bu?” tanyaku penasaran.

“Gadis itu…. Ia tidak cocok untukmu.” Katanya lambat.

Aku diam. Kata-katanya seperti mengiris-iris. Ada sedikit sesal yang tiba-tiba muncul dalam diriku. Mungkin juga sedikit marah.

“Kenapa? Bukannya ibu yang menyuruhku mendekatinya?”

Ibu justru menangis. Tumpah segala airmata yang coba ia tahan dari tadi. Ia berdiri. Mencoba membendung tangisnya. Ditabah-tabahkannya wajahnya yang keriput.

“Jangan kau dekati gadis itu, dia bukan perempuan baik-baik.” Katanya, sembari merapikan tirai jendela.

Darahku berkesiap. Tak bisa kupercaya ibu mengatakan itu kepadaku. Selama ini ia tak pernah berburuk sangka kepada orang lain. Tapi kenapa ia bisa begitu yakin dengan ucapannya barusan?

Aku marah. Nae begitu cantik, begitu lembut parasnya, juga hatinya. Mana mungkin ia bukan perempuan baik-baik. Berhari-hari aku tak bercakapan dengan ibu. Dan selama berhari-hari itu juga aku mencari bukti. Tentu ibu bukan tanpa alasan mengatakan demikian, benakku.

Selama beberapa malam aku sulit tidur karena suara bagai tertahan yang berasal dari kamar Nae. Aku melongok ke jendela, namun tak ada apapun. Lampu kamarnya dimatikan dan tak ada bayang apapun yang kulihat di sana. Suara itu selalu kudengar tepat pukul dua belas dan selalu berakhir pukul setengah dua, atau dua pagi. Hanya lenguh. Lenguh wanita yang menggebu-gebu.

Keesokan paginya kutanyakan kepada Nae, namun Nae mengaku tak tahu mengenai suara itu. Malamnya aku sengaja menunggu sampai pukul dua belas untuk membuktikan suara itu ada atau tidak. Selama itu tak kudengar suara mencurigakan apapun. Tak kudengar suara deru kendaraan melintas. Hanya derit jangkrik yang tiba-tiba berhenti karena gerimis yang turun tiba-tiba.

Dinginnya malam membuatku tanpa sadar telah terlelap. Kemudian terbangun tepat pukul dua belas ketika suara tertahan itu terdengar. Suaranya agak terdengar samar-samar karena hujan yang begitu deras. Namun aku bisa mendengar betapa suara itu seperti gairah yang meletup-letup. Lenguhan seorang wanita. Aku merinding mendengarnya. Bulu kudukku berdiri tatkala satu suara lagi muncul di antara lenguh menggairahkan itu. Lenguh yang seksi itu.

Hujan bertambah deras. Butiran-butiran air menempias permukaan jendela kamarku. Tak lagi kudengarkan suara lenguh itu. Kulongok jam yang menunjuk angka setengah dua pagi.

Dalam pedih yang terlanjur basah, kututup telingaku ketika mendengar suara tawa seorang perempuan dan laki-laki dari kamar Nae. Tawa yang begitu menggairahkan, namun juga menusuk-nusuk. Aku terlanjur bersalah. Ibu, kau benar!

Tumpatan, 2010.

*) Lahir di Lubukpakam, 29 Februari 1992. Ketertarikannya menulis dimulai sejak SD dengan menulis banyak puisi. Cerpen pertamanya dimuat di koran Waspada Medan yang merupakan cerpen pop. Lelaki berkacamata ini juga pernah menjuarai beberapa lomba kepenulisan seperti Juara III Lomba Menulis Puisi Buletin Asy Syifa UNIMED Medan 2007 dan Juara III Lomba Menulis Esai Remaja DPRD SUMUT 2008. Lelaki yang mengagumi karya-karya Triyanto Triwikromo dan Agus Noor itu, saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan aktif di Teater Sastra I.
Email: miff.fadh@yahoo.com Facebook : mifadh_lye29@yahoo.co.id