Nogoroth

Dinar Rahayu
http://suaramerdeka.com/

AKU masih teringat pada ilustrasi di sebuah buku yang menggambarkan ujung pelangi adalah segentong emas permata. Dalam gambar itu ada tujuh garis melengkung dan di satu ujung ada seorang perempuan yang meniti pelangi itu dan di ujung lain ada segentong emas permata. Matahari bersinar cerah di atas kepala perempuan itu dan bumi di bawah sana dengan garis-garis pulau dan awan. Sebuah gambar yang ceria.

Aku juga masih ingat pelajaran di sekolah ketika guruku mengambil sebentuk piramid kecil terbuat dari kaca. Ini prisma, begitu katanya, lalu ia menaruh prisma itu di atas meja. Sinar matahari pagi di musim kemarau datang terik melalui jendela menembus prisma seperti tombak menembus daging ikan transparan yang katanya berenang-renang di laut yang dalam untuk menghindari tombak pemburu-pemburu yang akan menguliti mereka.

Sinar matahari yang putih itu masuk ke dalam prisma dan prisma memecah sinar itu menjadi warna-warni yang keluar dari sisi prisma yang lain, seolah sebutir kepompong putih yang retak dan menghasilkan kupu-kupu warna-warni. Merah jingga kuning hijau biru nila ungu.

Ikan transparan yang kuceritakan di atas adalah ikan ajaib. Kata ibuku siapa saja yang mengenakan baju yang terbuat dari kulit ikan itu maka ia akan tak bisa dilihat mata telanjang karena ia akan menjadi transparan dan dapat bepergian ke mana-mana tanpa terlihat siapa pun tetapi ada bau amis yang menempel pada si pemakai, maka barang siapa yang tiba-tiba mencium bau amis di rumah sebaiknya ia segera mengumpulkan emas dan harta lain sebelum raib oleh si hantu transparan berbau amis.

Aku percaya pada dongeng itu waktu aku masih kecil karena saat itu semua tampak besar dan benar. Jadi karena kumendengar ayah memiliki kulit yang tembus pandang, tidak cokelat seperti aku dan ibuku dan penduduk di sini yang lain maka kuambil tepung untuk disebarkan di sekitar kamarku supaya kalau ayah-yang kupikir mengenakan baju ikan datang lagi kepada ibu dan aku, aku dapat mengetahuinya. Tapi tak pernah ada jejak kaki di taburan tepung itu.

Setelah kulihat sinar matahari yang menombak prisma lalu kemudian sinar putih itu pecah menjadi rangkaian warna-warni pelangi, aku berpikir jika siapa pun mengenakan baju ikan transparan itu pada siang hari, maka kehadirannya dapat diketahui dari serangkaian tujuh warna yang terbebaskan oleh prisma dari kungkungan putih dan mereka menjadi dirinya sendiri.

Merah jingga kuning hijau biru nila ungu, dan mungkin bau amis, tapi tetap tak ada yang datang ke pondokku dan ibuku. Aku juga berhenti sekolah.

Perang. Bangunan itu lebur. Guru itu pulang.

Aku juga berhenti memercayai dongeng ibu, banyak hal yang ia katakan tak kupercayai lagi malah beberapa hal yang tak pernah ia omongkan, justru kupercaya.

Aku juga tak begitu percaya ada gentong berisi emas permata di ujung pelangi. Aku malah curiga jangan-jangan di ujung pelangi hanya ada gentong berisi ular kobra yang mengembangkan leher begitu ada tangan yang akan meraup isi gentong lalu ia malah memagut tangan itu mengirimkan bisa yang melumpuhkan si pemilik tangan.

Aku juga marah karena masih mengharapkan kedatangan ayah.

Ayah. Kata orang-orang dulu ia datang dengan kereta bersepuh emas yang ditarik kuda api, kereta ayah melesat di angkasa.

Ibuku berjalan meniti pelangi dan akhirnya bunting di ujung jalan. Jadi di ujung pelangi bukanlah gentong berisi emas permata karena ibuku tidak jadi kaya, juga bukan ular kobra yang memagut karena ibu belum mati, melainkan sesuatu yang membuat ibu bunting. Apakah ayah yang ada di ujung pelangi?

Sebelum aku lahir ayah sudah pergi dengan kulit ikan transparannya. Tak ada yang tahu dengan jelas kapan ia pergi. Ia pergi sebagaimana ia datang, bersama dengan teman-temannya menaiki kereta yang ditarik kuda bersayap. Kibasan sayap kuda-kuda itu membuat debu naik dan suara dengkingan kuda itu melengking menulikan telinga. Yang tertinggal adalah ibu dengan segenggam debu di tangan yang kabur dibawa angin di pesisir dan kini aku masih marah karena masih menatap tempat matahari tenggelam dan menyangka ayah hidup di ujung cakrawala itu bersama ikan-ikan transparan dan pelangi.

Tadi malam aku memimpikan lagi tinggal di sebuah ruang, melengkung di semua tempat tanpa pembatas, memuai ke segala arah tiap kali aku mengira sampai di ujungnya. Ikan-ikan transparan hidup di dalamnya dengan tangkai melengkung di kepalanya Di ujung tangkai itu terdapat lentera, seperti ujung kail yang mengangguk-angguk maka demikian juga tangkai-tangkai ikan itu dan lentera di ujung tangkai itu berkedip-kedip mengundang ikan lain untuk memakan kedipan cahaya yang ternyata berujung pada deretan gigi tajam.

Tempat itu bakal semesta -surga- atau lubang besar berisi kekosongan barangkali sebelum waktu menjadi. Apa pun itu namanya tetapi aku tinggal sendiri bersama ikan-ikan itu. Kunamai tempat itu surga karena hanya di tempat itu aku terbebas dari ramalan muram tentang keberadaan manusia bahwa manusia tak mungkin hidup selama setengah menit tanpa menginginkan sesuatu. Di tempat itu aku tak menginginkan apa pun. Entah surga entah liang kubur. Tetapi apa pun itu aku menyukai tinggal di sana bersama ikan-ikan transparan. Tanpa Ibu tanpa Ayah.

Tempatku sendiri.

Karena tempat Ayah ada di ujung pelangi sedangkan tempat Ibu adalah daerah pesisir bernama Nogoroth.

Tempatku di sini, di ruang mimpi, sebelum waktu mengada, sebelum Tuhan menjelma pada wujud Ayah. Tuhan adalah Ayah, yaitu seseorang atau sesuatu yang meninggalkanku dan Ibu. Sesuatu yang abstrak dan hanya dikenal melalui altar, sesuatu yang memerintah. Pembesaran dari sosok Ayah seperti kita melihat benda-benda di bawah titik air. Semua tampak menjadi lebih besar dari sesungguhnya. Yang tak nampak menjadi terlihat. Walaupun maya, tetapi bayangan yang membesar itu tetap menerorku.

Aku ingin pulang ke tempatku itu yang tanpa sudut pembatas. Bukan pulang pada pangkuan Ayah atau pelukan Ibu.
Walau kata guruku penggabungan unsur-unsur dari Ayah dan Ibu menghasilkan aku, tetapi aku ingin menolaknya.

Nogoroth ada di buritan kapal ini.

Kini aku pergi ke ujung pelangi tempat Ayah berada, aku dibawa sebagai kasta yang lebih rendah dari orang-orang di tanah seberang. Di sini kutahu Ibu bukanlah seperti cerita yang kudengar dulu. Bahwa ia adalah seorang kekasih yang memberi inspirasi, bidadari yang tiap malam menghibur Ayah. Di sini Ibu adalah sundal yang dijajakan kepada Ayah.

Untunglah aku sudah tak memercayai apa pun sekarang. Kitab, hidup, apa pun itu. Maka dengan mudah kuceritakan pada teman-temanku, sesama budak yang dibawa ke tanah seberang ini, bahwa di Nogoroth tempatku berasal, saking panasnya, bahkan emas tidak padat melainkan mengalir menganaksungai di bawah pasir.

Emas berwarna hitam seperti mata ular, binatang melata tanpa kaki yang ukurannya berlipat-lipat dari ular-ular yang ada di sini dan bisanya tidak hanya mematikan tapi membuatmu buta, ia tidak hanya memagut tetapi juga menyemburkan bisanya tepat di matamu.
Kuceritakan pada mereka, teman-temanku sesama budak, ketika kami berkumpul tiap malam melepas penat di sekeliling unggun. Api yang seolah jadi altar tempat kami berkumpul menuang perih.

Kuceritakan pada mereka, bahwa mata si ular tidak memiliki bagian putih melainkan hitam semata bulatan kematian seperti bola permata hitam yang digerinda sampai mengilap sempurna menyerap tiap kehidupan dan memakumu pada kedua kaki sampai kau jatuh ke cengkeraman tenungnya.

Sesaat sebelum kematian datang dari gigitannya, sesaat sebelum bisa si ular menjalar dan membuat pembuluh darahmu menghitam, melalui matanya kau dapat melihat sejarah Nogoroth dan seorang pejuang bernama Yutani. Dari matanya engkau seolah bisa mendengar si ular bercerita, inilah cerita si ular: Dulu si ular pun memiliki mata yang penuh kehidupan seperti makhluk lain.
Dengan putih di sekeliling hitam.

Kontras. Itulah hidup. Bahkan seorang pelukis dapat menipu mata sang penatap dengan membubuhkan cat putih pada mata obyek lukisannya sehingga mata si obyek lukisannya itu tampak basah, mengilap, hidup. Demikianlah kehidupan: menipu.

Dan Yutani. Dulu rakyat Nogoroth mengenal Yutani dengan sebutan tuhan.

Adakah kau pernah mendengar namanya?

Katanya ia terlahir dengan darah menjadi selubung tubuhnya. Jabang bayi itu tidak berlendir selaput kekuningan, melainkan merah tua dari darah yang licin menggumpal seperti kulit kepompong yang tebal, kenyal, dan empuk. Dan matanya bukanlah mata yang dimiliki orang kebanyakan, matanya menyihir, hitam tanpa seulas putih pun. Mata yang tampak dingin tapi mata itu tak pernah menipu. Tidak seperti kehidupan, mata Yutani tidak menipu.

Di usia yang kedelapanbelas ia menghilang. Ada yang mengatakan ia pergi ke gurun berguru pada angin utara untuk ilmu gaib. Ada yang mengatakan ia pergi ke hutan untuk semedi di antara akar-akar supaya ia dapat memerintah jin.

Ia datang kembali ke Nogoroth tiap tahun galaktik ketika matahari kembar bersinar paling panas. Yutani. Sakti seperti si celeng dan si singa. Ia menusukkan ujung tombaknya ke tanah dan tanah kemudian merekah seperti disiram berahi tombak Yutani, dan air mengalir dari lubang bekas tusukannya, mengisi semua retakan yang ditimbulkan tombak Yutani. Air yang bening yang memantulkan semua sinar. Air yang bisa diminum manusia dan juga binatang.

Seluruh penghuni Nogoroth datang untuk minum di mata air yang keluar dari tanah yang sedang berahi pada Yutani.
Begitulah cerita mereka, penduduk Nogoroth yang kini ada di buritan kapal ini. Dari satu tahun galaktik ke tahun galaktik lainnya, Nogoroth tidak pernah kekurangan air. Mereka menyebut Yutani sebagai tuhan pemberi air, tangan pemberi berkah. Yutani si mata hitam.

Dan bukankah kau tahu bagaimana Yutani dikalahkan oleh Naki –bayi lain yang lahir dengan harum damar dan selaput bening tanpa bau amis, dengan tangan yang terkepal menggenggam berlian berbentuk prisma, prisma yang mengu raikan segala sinar menjadi hamburan warna pelangi.

Seperti layaknya matahari dan kabut yang tak pernah menginjak debu bumi, Naki dianggap suci karena ia harum damar bukan berbau amis darah. Biasalah, dia dapat pinja man pedang, perisai, dan kuda dari dewa-dewi tanah seberang untuk membunuh Yutani.

Mengapa Yutani dibunuh, tanya teman-temanku di sekeliling unggun. Aku menjawab mereka: karena Yutani bukan Naki.
Karena mengakui Yutani sebagai tuhan adalah perbuatan keji. Tuhan tidak berbau darah. Tuhan harum damar.

Dari tanah kembali ke tanah. Dari debu kembali ke debu. Konon semua singa mengaum, hiena melolong saat Naki menusuk Yutani dengan tombaknya yang berujung berlian yang dibawa Naki semenjak lahir. Mayat Yutani dibuang ke jurang yang paling dalam yang entah berdasar entah tidak.

Naki naik ke atas tinggal di langit mengendarai kereta emas yang ditarik kuda yang bernafas api. Ia menjadi imortal, datang tiap tahun galaktik melintasi langit dengan keretanya mengawasi bumi dari atas kalau-kalau ruh Yutani bangkit kembali. Kini tak ada air di gurun dan di Nogoroth, yang ada hanyalah kematian.

Di dasar jurang Yutani sekarat selama seribu tahun sampai suatu saat si bisu yang melata menghampiri Yutani. Si ular jatuh cinta pada mata Yutani yang hitam mengilap tanpa putih. Hitam seperti granit. Ia mengambil mata Yutani dan Yutani diberinya tempat berteduh di bawah bumi, badannya mencair meresap di antara pasir.

Jika dulu tanah birahi karena tombak Yutani, maka kini tanah Nogoroth berduka tanpa akhir, tanah mengurug Yutani dan menutupkan kerudung hitam di atasnya.

Semenjak itu emas di Nogoroth tidak berserak berbutir kekuningan seperti sinar matahari di permukaan, melainkan hitam seperti mata si ular. Dan emas-hitam cair itu hanya bisa dipakai untuk membakar, meninggalkan jelaga yang hitam dan Naki menjadi para dewa bangsa peminum darah Yutani yang hitam, membawa pergi darah Yutani ke negaranya, menamakannya nafta.

Aku mendengar cerita itu pada suatu malam dan kini kuceritakan kembali cerita itu pada suatu malam. Di antara malam-malam yang sama yang hanya menyisakan luka.

Walau aku tahu siapa pun yang mendengar ceritaku tahu bahwa aku berbohong, setidaknya aku punya cerita sebelum aku kembali tidur dan bermimpi tinggal bersama ikan-ikan transparan dalam jagat tanpa sekat.