Peta Buta

S Yoga

http://suaramerdeka.com/

SELAMA setahun kami mempersiapkan pemberontakan yang lebih besar lagi. Kota Rakyat menjadi markas kami dan menjadi pusat kekuatan pasukan Dadeda. Tuan Jabro kini sedang menyusun rencana pemberontakan sistematis, dikembangkan dari revisi buku Keluar dari Lorong Gelap.

Sebenarnya tak ada yang baru dalam revisian ini, hanya strategi pengerahan massa sedikit dimodifikasi hingga lebih mangkus dan sangkil. Dan sebuah peta buta yang katanya menyebutkan hari, tanggal dan tempat pemberontakan akan dimulai.

Aku dipercaya menjadi pemimpin sebuah pasukan, beranggotakan lima puluh orang, sebuah pasukan yang sangat minim, untuk daerah yang cukup luas seperti wilayah Kota Senja, sebuah kota di barat Kota Fajar, yang sebenarnya masih merupakan bagian Kota Fajar. Kota dalam kota. Sebenarnya banyak pihak yang tidak mau menerima kehadiranku, mereka masih saja curiga kalau-kalau aku mata-mata yang dikirim pemerintah Negeri Senja, karena seluk-beluk diriku benar-benar tidak pernah mereka ketahui.

Memang benar, aku baru muncul pada saat aku mencari kakakku, dan mulai berkenalan akrab dengan Tuan Jabro di penjara. Orang-orang dekat Tuan Jabro, seperti Jangos pun masih saja curiga, Jangos mengatakan bisa saja aku sengaja diseludupkan saat mereka bertemu di penjara, meski saat itu aku telah mengaku, kalau aku telah disiksa agar mengakui perbuatanku sebagai mata-mata kaum pemberontak.

Dan aku katakan, bahwa sebenarnya aku hanyalah seorang pengembara yang haus akan kebenaran, ingin menyelidiki perkembangan kepribadian dan filsafat akan adanya harapan pada orang-orang yang sedang berperang. Apakah harapan itu hanya sekadar memenangi perang, demi kekuasaan dan kekayaan, membunuh musuh dengan kejam, atau lebih dari itu? Dan apakah tindakan semua itu dapat mereka nikmati? Atau justru mereka merasa ketakutan, kasihan, dan batinya terguncang?

Tetap saja Jangos tidak mau percaya. Mata batinnya tetap saja tidak bisa dibohongi, menurutnya, mataku tak akan mampu menyembunyikan kebohongan. Tapi entah oleh pertimbangan apa Tuan Jabro mau menerimaku sebagai salah satu pemimpin operasi pemberontakan. Sejauh ini aku belum menerima perintah-perintah yang berarti, hanya kesibukan-kesibukan kecil melatih menjadi rutinitas harian.

Kapan dan di mana pemberontakan akan dimulai, belum aku ketahui. Betapa rapihnya kelompok ini bekerja. Segala komunikasi yang bersifat rahasia tersimpan dan teratur rapi, sulit terkuak. Atau memang tak ada rahasia, karena tak punya kebijakan. Jangan-jangan begitu aku mengetahui tanggal dan tempat saat akan dimulai pemberontakan, saat itu pula pemberontakan sedang berlangsung. Kalau ini terjadi jelas akan mempersulit pekerjaanku.

Setiap pemimpin operasi Keluar dari Lorong Gelap diberi sebuah buku yang harus dirahasiakan. Di dalam buku tercantum lima puluh nama pemimpin yang bertindak sebagai tokoh kunci suksesnya pemberontakan, tapi separuh nama-nama pemimpin itu sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana mungkin seorang yang namanya tak pernah kedengaran ditelingga masyarakat tiba-tiba diangkat menjadi pemimpin operasi mahapenting. Kebijakan apa yang telah ditempuh. Apa karena ia masih sekerabat.

Isi buku petunjuk sebenarnya sangat sulit aku mengerti, bagaimana tidak, hampir seluruh buku hanya berisi peta buta daerah yang sama sekali tidak aku kenal. Ketika aku tanyakan pada Jangos, katanya, “Nanti saja, bila saatnya tiba.” Para pemimpin operasi pemberontakan yang lain juga tak mau buka mulut sedikit pun, entah mereka tahu atau sama tidak tahunya seperti diriku.

Tapi dalam catatan tambahan, yang merupakan motto pemberontakan disebutkan, “Siapa pun harus bertanggung jawab atas wilayah yang ia ketahui dengan baik. Ketahuilah apa yang dekat dengan dirimu, jangan percaya pada orang lain. Setiap apa yang berdetak dalam dirimu adalah sebuah awal pemberontakan abadi yang paling sejati, yang akan kita kobarkan pada umat manusia. Siapa mengerti akan dirinya maka ia akan mengerti akan hal ihwal kehidupan.

“Setiap dirimu adalah senjata pamungkas dari keinginan kolektif, yang mereka sebut dengan kedaulatan, dan akan kita sebut sebagai pengkhianatan atas kemerdekaan seseorang. Setiap dirimu adalah mengetahui dirimu sendiri dan sejarah manusia berawal dari pengetahuan tentang diri sendiri.”

Kini sudah setahun tak ada kontak lagi dengan Tuan Jabro tentang kebijakan apa yang harus dilakukan. Para pemimpin pemberontak yang lain tetap saja tak mau komentar akan rencana apa selanjutnya. Dalam posisi seperti ini, aku menjadi curiga, jangan-jangan mereka telah meninggalkanku, karena mengetahui adanya sesuatu motivasi yang tidak beres dengan diriku. Jangos aku tanya, “Kenapa tidak ada perintah apa-apa?” Katanya, “Dalam mempelajari buku petunjuk pemberontakan sendiri akan memakan waktu cukup lama.” Ini hal yang mustahil bagiku, bagaimana bisa buku yang hanya berisi peta buta dan beberapa motto perjuangan harus dipelajari begitu lama.

Aku buka kembali buku petunjuk pemberontakan. Tak ada yang dapat aku simpulkan sebagai sesuatu yang berguna. Mungkin ini semua, tergantung pada daya tafsir si pembaca. Dan, Tuan Jabro telah mengunakan kekuatan sihir untuk melindungi buku ini, dengan mengerahkan para dukun sakti, sehingga siapa pun yang berniat jahat tak akan mampu menginterpretasi dengan baik isi buku. Pasti ini perbuatan Tuan Jabro untuk mengelabuiku. Satu-satunya jalan adalah memaksa seseorang untuk mengutarakan interpretasinya atas buku ini. Tanpa ini mustahil aku menemukan jawaban rencana besar Tuan Jabro. Setelah aku sarapan telur-telur burung onta segar, segera aku pergi menemui Jangos di Kota Rakyat.

Aku hentakkan seluruh tubuh Jangos, aku seret tubuhnya ke gudang tembakau. Aku letakkan sebilah belati di samping urat lehernya. “Akan aku putus satu-satu urat lehermu, bila kau tak mau mengatakan apa sebenarnya yang dimaksud dalam buku petunjuk. Tolong pecahkan teka-teki di peta buta, yang memuat kapan dan di mana pemberontakan akan dimulai,” gertakku.

Dengan berlinang air mata, akhirnya Jangos menceritakan pemahamannya tentang isi buku. Menurutnya, “Hanya dengan memahami rasa sakit, kita akan keluar sebagai pemenang dalam kehidupan.

“Karena rasa sakit diciptakan oleh diri sendiri yang putus asa, atau mungkin orang lain yang sok berkuasa atas tubuh orang lain, maka jalan keluarnya adalah menguar rasa sakit semaksimal mungkin, biar kita dan semua orang tahu, serta memahami kalau rasa sakit itu benar-benar sakit -ada.”

Aku merasa dibohongi. Menurutku, Jangos hanya mengigau tak keruan, bukan kebenaran yang keluar dari mulutnya, tapi bisa ular yang bisa mencelakakan diriku. Aku tikam perlahan urat lehernya, perlahan pula mengucurkan darah. Tapi Jangos tak merintih, justru tersenyum bangga.

Katanya, “Lihatlah darahku mengalir sesuai alur sejarah yang benar, merembes ke tanah dan menuju muaranya.” “Dasar bodoh!” pekikku. Dengan tak banyak buang waktu, aku goro