Puisi-Puisi Fatah Yasin Noor

Belantara Hijau

Mata yang tersimpan dalam kandungan gunung. Perlahan silau atas tajam matahari. Atas hari-hari yang semakin terbuka. Menguak kehijauan hutan belantaramu. Nyaris tak lagi bisa ditandai. Gerimis yang terus merintih pelan. Jejak-jejak sunyi masih merangkum musim. Aku berjalan perlahan dalam beludru malam. Melingkar lewat lekuk teluk yang dikenali pelanduk. Ahai sepi, seperti ampas kopi.

2009

Sunyi Dalam Punggungku

menulis ingatan yang merapuh. Ingatan yang dibawa dari puluhan tahun silam. Kenapa kini engkau selalu tak sabar ingin berangkat? Ingin selalu beranjak dari kamar yang kapurnya sedikit demi sedikit rontok memutihkan kelopak matamu. Bergesas menuju laut yang itu-itu juga, debur ombak yang nyanyiannya itu-itu juga. Tapi kita selalu datang ke situ, mendulang embun. Seperti masih mencari sisa kata yang mungkin tertinggal untuk puisi. Dibalik embun, di atas alunan ombak, dan rintihan pasir yang menggeser kursimu. Setelah itu kita melesat ke Bakungan. Mengulur salam selamat pagi kepada Pramu yang menjaga kolam ikan pancing yang asri.

Desember 2009

Aku dan Cinta

Bernyanyilah. Tangkaplah sayap-sayap kata yang melayang dalam mimpi.
Hari yang diarsir atas akar pohonan yang menghujam. Bersenandunglah.
Atas air yang memancar jernih dari hijau daun. Menjulangkan burung-burung,
atas kata angin yang melayang lembut.

November 2010