Salju

Heri Latief
http://media-dunia-sastra.blogspot.com/

Kereta api terlambat lagi, salju telah membuat sistem sinyal kereta api kedinginan, lalu membeku, dan kebingungan tak bisa diatur lagi. Winter kali ini memang terasa aneh, cuacanya lebih dingin dan lebih membeku.

Aku terdampar di stasiun Utrecht, tak bisa melanjutkan perjalanan. Aku tak punya opsi lain kecuali menunggu di pojokan stasiun. Di luar badai salju lagi memburu waktu. Langit bagaikan bisu cemburu menyaksikan salju seperti kapas itu seakan-akan sedang bermain-main dengan angin.

Di dalam stasiun sudah banyak orang kebingungan yang menatap papan pengumuman, tak ada kereta api yang bergerak. Kemana mereka mesti mengadu? Antrian panjang mengular di bagian penerangan. Kulihat wajah wajah yang kecewa sibuk menelepon mengabarkan situasi yang tak ada jalan keluarnya. Mereka berdesakan mencari tempat untuk menunggu kabar baik.

Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, apalagi menunggu sampai badai salju selesai memutihkan alam dan berharap sinyal kereta api bisa berfungsi lagi. Dinginpun mulai merangkak dari bawah telapak kaki, menembus sol sepatu dan sampai ke hidungku, mulailah bersin yang mengandung virus terbang kemana-mana.

Orang yang berdiri di sebelahku mukanya cemberutan, matanya melotot. Ia pasti takut kena sambar virus yang lewat bersinku itu. Apa boleh buat, aku memang punya alergi, ia boleh pindah tempat sesukanya, aku tak peduli.

Aku bersin lagi. Sekali ini bersinnya berhasil kublokkir, tapi akibatnya kentutpun keluar tanpa permisi, dan suaranya cempreng bagai suara terompet topeng monyet. Aku malu berat bah, tapi pura pura tak tau. Topiku makin dalam menutupi mukaku, syal yang melilit leher menyembunyikan wajahku. Aku tak berani melirik ke kiri dan ke kanan. Selama 10 detik aku menahan napas, akibatnya malah tambah parah, perutku jadi gembung dan terasa mual. Aku mau kentut lagi!

Hampir lima menit aku menahan kentut, akhirnya aku tak tahan lagi dan berlari ke arah pintu ke luar. Di luar angin dingin menerpa angin yang keluar dari badanku. Kulihat beberapa orang sedang asik merokok, asapnya ditelan ribuan salju yang seperti kapas itu. Malam menembangkan nyanyian angin musim dingin.

Aku masuk lagi ke dalam stasiun menuju kedai kopi, aku haus ingin minum kopi susu. Suara pengumuman tentang jadwal kereta api terdengar menggema di dinding. Sinyal kereta api ke arah utara katanya telah dibuka, akupun berdoa.

***

Di luar badai salju telah mulai mereda. Segelas kopi susu dan sebatang keretek ikut juga membakar sepi, tapi cuaca tetap tak bersahabat. Tumpukan salju menutupi trotoar dan jalanan. Seorang datang bertanya apa aku punya korek api. Setelah rokok jadi abu, percakapanpun bersambung sampai ke dalam stasiun, kami berdiskusi tentang badai salju sampai dengan masalah kelaparan yang masih menghantui dunia. Ia mengaku sebagai seorang pegawai negeri bagian urusan orang asing. Kesempatan bagiku untuk bertanya padanya tentang isu politik yang lagi ngehits, tema soal politik kambing hitam. Sekarang orang asing dijadikan alat politik praktis, apakah ini suatu tanda bahwa ada usaha untuk mengalihkan perhatian terhadap krisis ekonomi yang menimpa dunia dan juga Belanda.

“Retorika politik Belanda berdasarkan permintaan pasar, kerna krisis ekonomi maka orang gampang dipengaruhi rayuan populisme, orang bingung lagi nyari pegangan”, katanya kalem.

“Rupanya persoalannya cuma orang bingung lagi nyari pegangan. Itukah alasan utamanya? Bukankah bangsa barat suka bicara soal hak asasi manusia, tapi ternyata tak sanggup melihat kenyataan, bahwa ada orang asing di Belanda yang berhasil mendaki tangga karir politiknya hingga menduduki korsi gubernur di kota Rotterdam.

Teman diskusi yang ketemunya gara gara badai salju ini menjawab: “percayalah, jika terjadi krisis ekonomi yang berat seperti ini, bangsa apapun di dunia akan menyelematkan dirinya sendiri-sendiri. Kepercayaan public terhadap nilai nilai lama akan digantikan oleh pemikiran yang hanya mementingkan diri sendiri, korban dicari dari kelompok yang paling lemah, hukum alam berlaku”.

Pengumuman menggema lagi, semua sinyal telah diperbaiki, kereta api jalan lagi. Diskusi ditutup. Kami berpisah setelah sempat berdiskusi soal kemanusiaan, dan apakah hak asasi manusia itu juga dibilang kejadian alam?

Jawabannya ada pada diri kita masing masing, tergantung dari rasa kemanusiaan kita, bukan tergantung dari warna kulit ataupun perbedaan materi. Kemanusiaan adalah benteng terakhir untuk membuktikan bahwa manusia itu berbudaya dan mencintai perdamaian.

Amsterdam, 13/12/2010