Seksualitas dan Lokalitas

Judul buku : Bulan Celurit Api
Penulis : Benny Arnas
Penerbit : Koekoesan, Oktober 2010
Tebal : 130 hlm.
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

DUA tahun terakhir, ranah cerpen Indonesia dihiasi nama Benny Arnas. Nyaris tiap minggu karya-karya cerpenis muda Lubuklinggau ini muncul di media massa nasional dan daerah. Ada beberapa pemantik yang membuat cerpen-cerpennya memikat perhatian penikmat sastra Indonesia: penulis berasal dari daerah yang selama ini seperti sayup-sayup sampai dari geliat sastra, banyak pengamat dan penikmat cerpen menilai karya-karyanya mengekspos lokalitas Lubuklinggau, selain itu diksi dan gaya bahasa yang segar-unik membuat cerpen-cerpen Benny berbeda dari penulis seangkatannya.

Menjelang akhir tahun 2010, Penerbit Koekoesan menerbitkan kumpulan cerpen Benny, bertajuk Bulan Celurit Api (BCA). BCA menjadi alternatif segar perihal lokalitas dalam sastra. Sejumlah cerpen dalam buku ini menjadi pintu masuk untuk menengok dinamika sosio-kultural Lubuklinggau. Mungkin cerpen-cerpen ala Benny sepintas mengingatkan pada cerpen bernapaskan lokalitas daerah lain yang duluan familiar, seperti Minangkabau atau Jawa.

Secara subyektif saya mencoba mencari benang merah dari BCA. Di balik lokalitas, diksi yang bernas, dan simbol-simbol kultural, ternyata ada ihwal purba yang disusupkan: seksualitas. Jika hendak lebih gamblang lagi: pra-pasca senggama. Sebelas dari 13 cerpen menukil atau bahkan membahas proses pra-pasca senggama, dengan kode-kode yang serupa tapi tak sama.

Cerpen pembuka Bulan Celurit Api, mengisahkan Mak Muna yang enam anaknya gagal dalam strata sosial (tak ada yang menjadi orang), hingga dipergokinya gadis tua yang selalu menemaninya (Iyut) sedang bercinta dengan pria hidung belang (Rusli) di semak dekat tempat pesta yang rusuh. Dalam cerpen Percakapan Pengantin; sepasang suami istri yang sama-sama bisu dan baru menikah, hilang secara misterius usai menikmati malam pengantin. Kemudian Malam Rajam; arwah pembantu balas dendam pada anak majikan yang telah merudapaksanya. Peristiwa itu terjadi usai anak majikan menikmati malam pengantin. Lagi, cerpen ®Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta; wanita yang ditalak usai malam pengantin karena ketahuan tak perawan lagi, padahal perawannya hilang lantaran jatuh dari sepeda. Keluarga pengantin pria langsung memutuskan hubungan anaknya keesokan harinya. Lagi, dalam cerpen Anak Ibu; tentang sederet petuah ibu kepada anaknya; yang di ujung cerita ternyata tak jelas siapa bapak biologis anak itu. Juga dalam cerpen Sajak-sajak yang Mengantarmu Pulang yang agak berbau urban.

Puncak asumsi saya ada di cerpen terakhir Perkawinan tanpa Kelamin. Mengisahkan pernikahan pria dan wanita, yang masing-masing memiliki kelainan orientasi seksual. Pernikahan itu semu, demi menutupi fakta mereka penyuka sesama jenis. Warga pun menghakimi pasangan tersebut. Ihwal yang notabene masih tabu di kampung dan hanya lazim ditemui di kota-kota besar, ternyata sudah merangsek hingga ke kampung-kampung.

Dua cerpen yang mengangkat khazanah lokal Lubuklinggau adalah Bujang Kurap dan Kembang Tanjung Kelopak Tujuh. Kedua legenda dan mitos yang sudah familiar di Lubuklinggau, menjadi input wawasan bagi masyarakat yang masih asing dengan kota itu.

Lokalitas dalam sastra tak melulu identik dengan lokus atau posisi geografis suatu daerah. Akan lebih menarik jika lokalitas dalam sastra diapresiasi lewat perspektif lain, misalnya antropologi atau sosiologi. Terhadap BCA, mungkin juga dibahas lewat kajian feminisme, karena banyak ihwal diskriminasi gender di dalamnya (virginitas dan hak-hak sosial ekonomi perempuan). Melalui perspektif lain inilah sedikit banyak kita bisa mengetahui dinamika sosio-kultral di balik teks cerpen yang berlatar suatu daerah.

Harus diakui Benny mengetam cerpennya dengan detail. Pembaca mungkin akan terkecoh dengan perangkap kejutan yang disisipkan dalam sejumlah cerpen. Bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan apakah Benny akan konsisten mendedah lokalitas (dan seksualitas) sebagai strategi literer cerpen-cerpennya. Ke depan, tampaknya Benny akan melebarkan energi produktif kreatifnya dengan mengeksplorasi dan menawarkan interpretasi baru terhadap ihwal sejarah. Ini bisa dipergoki dalam beberapa cerpen terbarunya. Apa pun itu, cerpen-cerpen Benny memberi warna baru dalam khazanah cerpen mutakhir Indonesia, dan BCA telah menjadi monumen awalnya. Selamat!

Arman A.Z., sastrawan