Tour De Borneo (2) Sebuah Esai Perjalanan Budaya

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Biasanya ini hati agak kuatir kalau orang yang belum dikenal kemampuannya menjadi sopir kendaraan yang saya tumpangi. Mobil meluncur ke kota intan Martapura. Kami menuju tepian sungai, memperhatikan penduduk membuat lubang berbentuk sumur dan memompa air ke atas memakai mesin mobil tua. Dinding sumur ditahan dengan kayu-kayu yang kuat. Begitu pula dengan tanggal untuk turun dan naik. Tapi para pendulang tidak bisa kering. Pakaian dan tubuh basah kuyup berjam-jam, berhari-hari ketika mereka mendulang intan.

Setelah puas memotret dan mewawancara, kami menuju kota. Setelah makan siang, kami menuju bengkel yang mengasah intan menjadi berlian. Tiba-tiba saya mengenang penyair Kirjomulio yang pernah mengembara ke Martapura tetapi membawa berlian yang lain yaitu sebuah naskah drama berjudul Penggali Intan. Sayang sampai hari inis aya tidak tergetar oleh intan berlian karena tidak punya uang, kecuali pada sungai yang airnya melimpah tak henti-henti mengalir dari hulu. Apakah ada bendungan di sana? Tidak. Hanya ada bendungan ajaib berupa pipa-pipa kapiler tak terhitung di akar, batang ranting dan daunan. Kalau semua pipa kapiler itu musnah maka bencana banjir dan kekeringan akan mengiamatkan Borneo.

Meluncur dari bandara, tuan rumah Haji Adjim Arijadi berkata bahwa pernah, mobil menabrak sampan. Maksudnya dikala banjir memenuhi jalan raya, ada sampan meluncur, truk merayap, lalu terjadi tabrakan maut. Inilah pertanda bahwa kiamat Borneo mulai datang karena hutan dibabat oleh pengusaha dan pemerintah yang bodoh. Kalau tidak bodoh, ya, rakus.

Penyair dan pelukis Tariganu dan saya di antar ke Taman Budaya Banjarmasin. Halamannya cukup luas. Gedung teaternya bisa menampung kurang lebih 100 orang. Ada panggung dan layar tetapi layar depan entah ke mana larinya. WC-nya ampun, tidak ada air. Kotor dan berbau amoniak. Satu menit saja di dalam, orang yang rambutnya lurus bisa jdi keriting.

Kolam dan rumput di halaman kurang tertata sebagai taman. Kami duduk minum di warung tenda. Tidak ada kantin yang indah dan bersih. Para peserta dari berbagai provinsi di Kalimantan, lelaki perempuan dan anak-anaktidur di tikar dalam dua atau tida gedung dalam kompleks taman budaya itu. Akan tetapi semuanya tampak bersemangat. Dalam satu malamada tiga pementasan. Penonton selalu penuh, bahkan ada yang duduk berserakan di atas permadani merah lusuh yang membelah ruangan. Pencahayaan panggung dan ruangan memang ada walaupun terbatas. Karena tak ada layar maka seluruh ruangan gelap gulita ketika terjadi pergantian adegan. Penonton jadi “buta” ketika panggung disiapkan.

Dalam seminggu pementasan, tampak semua embrio aliran teater atau drama modern telah tumbuh di Kalimantan. Ada naturalisme di mana karakterisasi diutamakan melalui bahasa tubuh, bahasa verbal, para language dan extra language. Ada teater ekspresionis di mana nilai-nilai universal ditonjolkan.

Naturalisme memang memerlukan latihan yang melelahkan. Seorang pemain watak yang dalam teater dengan mudah berpindah ke film untuk bisa cari uang, tetapi keunggulan drama (teater) ekspresionis adalah kesederhanaannya yang bisa membawa mutu artistik sekaligus pesan-pesan kemanusiaan yang universal. Malam itu saya terkesan oleh sebuah pertunjukan yang menampilkan beberapa gadis yang melambau-lambaikan piring dan berceloteh dalam bahasa lapar.

Dua orang gadis di salah satu sisi meja bersama dua yang lain disisi lainnya memegang pemukul kasur dan memukul-mukul piring sambil berteriak, “Diam, diam…”

Kelompok tersebut mengekspresikan kebutuhan universal akan makanan, bukan tank, bukan APBN, APBD, bukan, PAD agar tidak kena busung lapar. Di kala rakyat berteriak lapar sambil melambaikan piing, di meja makan bangsa, piring itu dipukul sambil berteriak, “diam!” Ekspresionisme ini mudah ditanggulangi oleh anak-anak SMP, SMA dan mahasiswa, mudah dibawa keliling, mudah dicernah penonton.

Juga saya tertarik pada kelompok yang mementaskan “Sang Waktu”. Judulnya “Kosong (Menunggu) Kosong”. Panggung dipenuhi oleh orang-orang yang memakai jam tangan. Lalu semuanya bermenit-menit lamanya menunggu sesuatu sambil melihat jam, tanpa bicara.

Penonton diam membisu dibius oleh panggung. Lama kelamaan satu dua penonton di belakang sebelah kiri agak menggerutu. Saya mulai kuatir kalau-kalau ada yang melempari panggung dengan botol. Tetpaipanggung tetap “berkepala batu”, terus diam sambil melihat jam di lengan kiri setiap peserta.

Sejak awal memang ada teriakan setan bulao sekali-sekali. Selebihnya, diam, kosong menunggu kosong. Ada seorang yang naik sepeda di depan penonton lalu masuk ke panggung dan melenyap. Kemudian satu demi satu mencopot jam tangan mereka lalu menghancurkannya dengan palu. Pertunjukan selesai. Untung penonton cukupdewasa, tidak marah. Andai kata ini dipentaskan di Bali di mana kehidupan teater berhenti pada Drama Romantik, pasti diteriaki dan dilempari.

Hanya wartawan Banjarmasih Pos y ang “marah”. Sang wartawan mengatakan (menulis) bahwa “Kosong (Menunggu) Kosong” membosankan. Sebenarnya pertunjukan ini mengingatkankita pada teater absurdnya Beckett dan pada lukisan Salvador Dali dengan lukisannya “Arloji Cair”. Absurd (-0ditas) berarti kontradiktif dan mustahil Waktu memang absudrd. Ia adalah sahabat maupunmusuh. Musuh, karena kita (manusia) sadar akan ajalnya yang akan tida di suatu waktu. Mustahil kita menolak. Selain waktu manusia pun tidak lepas dari absurditas.

Teman yang paling baik pun, atau istri tercinta sekalipun, memiliki naluri-naluri gelap atau segi kebinatangan. Jangan berlebihan memanjaan atau mamaksakan. Teman atau istri bisamarah, mengaum bagaikan raja rimba bila kita ekrem. Demikian pun alam (hutan rimba, gunung dan sungai. Alam memang teman tetapi penuh kerimbunan rahasia, kebuasan liar.

Sungai Barito memang menolong tetapi juga penuh bahaya. Teater absurd mengungkap kontradiksi dan kemustahilan demikian.Menemukan absuditas berarti menemukan setengah dari pengobatan. setengah jalan setersnya yang baik (bermoral) dan benar (akal sehat), adalah sikap yang memilih jalan tengah (moderation). Bukan kekerasan, pembunuhan dan terror.

Slamet Rahajo datang dari Jakarta di paruh kedua pekan teater itu. Dia mengatakan,dalam ceramahnya bahwa kegiatan teater itu adalah kegiatan intelektual. Tersirat dalam ceramahnya bahwa seorang intelektual itu lebih dari seorang will educated (sarjana). Slamet yang muncul dari teater relias naturalis mau menyumbang tenaganya untuk membagi dramaturgi kepada para teaterawan Banjarmasin.

Teringatlah saya bahwa Teguh Karya pernah mementaskan Ferderico Garcia Lorca. Jenis teater Lorca, menurut buku teks drama modern, adalah Teater Imajinasi. Dalam pekanitu ada bibit-bibit teater imajinasi. Kalimantan merupakan suatu taman folklore yang besar. Ini,taman ini adalah taman inten-gemintang yang perlu diasah menjadi berlian teater imajinasi. ***