Hukum-hukum Pecinta: Nasehat Penyair untuk Diri

M.D. Atmaja

Pengantar

Nurel Javissyarqi dengan salah satu karyanya Kitab Para Malaikat, memang layak untuk mendapatkan kehormatan sebagai penyair paling mengispirasi itu. Tulisan ini tidak untuk mengukuhkan pendapat tersebut, namun sekedar menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat atau KPM (2007: 11-17). Melalui berbagai macam keterbatasan yang saya miliki, susah payah, sampai konon yang empunya KPM mencurigai niatan mengupas dari surat ke surat yang jumlahnya dua puluh surat ditambah satu mukadimah.

Menjelajahi KPM karya NJ memang membutuhkan stamina yang cukup. Baik, stamina tubuh maupun stamina batin yang seringkali NJ sebut sebagai energi. Saat ini, saya berusaha kembali setelah bernapas sejenak dengan menyelesaikan satu novel untuk menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta dengan berbekal tekat yang sudah disiapkan untuk menggarap sampai tuntas. Hukum-hukum, yang di sini mungkin saja memberikan pengertian mengenai jalan yang semestinya ditempuh oleh pecinta. Siapa gerangan pecinta itu? Inilah sosok NJ, sang pecinta yang entah disadari atau tidak, telah menuangkan kesejatian diri dari relung yang memang mungkin tidak disadari.

Pecinta, yang coba saya selaraskan dengan pengertian yang lebih luas lagi, tidak hanya mengacu pada NJ, akantetapi pada kodratnya. Saya memiliki asumsi yang tidak terlalu kuat sebenarnya, kalau pecinta dalam puisi panjang ini lebih merujuk pada hati manusia, tempat dimana hakekat rasa itu bersemayam, dan konon, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, tempat bersemayamnya Allah (dan saya yang secara tidak kebetulan, meyakini ini). Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyair untuk Diri yang saya maksudkan untuk mengajak setiap penulis (seniman secara umum) untuk kembali merefleksi karya yang telah dihasilkan. Dan pada kesempatan ini, saya memberanikan diri untuk menasehati (kalau tidak boleh dengan ucapan: menggurui) si empunya KPM, Nurel Javissyarqi dengan karya yang telah diracik selama bertahun lamanya. Tentu saja, karya NJ sendiri.

Terdengar sebatas omong kosong, saat kita mengajari seseorang dengan ucapan seseorang itu sendiri. Akantetapi, pepatah lama mengingatkan kita akan gedhang awohe pakel, pohon pisang yang berbuah pohon pakel. Perumpamaan yang sulit untuk dinalar karena memang artinya juga untuk merujuk aspek tersebut, bahwa kita bisa saja dengan mudah menggelar kebijaksanaan yang tinggi untuk orang lain, namun terkadang kita absen untuk melakukan kebijaksanaan tersebut untuk diri kita sendiri. Itulah, yang membuat saya berefleksi ulang, berusaha mengenyam setiap karya yang telah lahir sebagai ukiran jiwangga yang Tuhan titipkan dari tangan para seniman, sehingga tulisan ini pun tercipta begitu saja dengan judul Hukum-hukum Pecinta, Nasehat Penyair untuk Diri.

Cinta Hidup, itu Kematian

Banyak aspek yang membangun di dalam kehidupan cinta kasih, baik antara sesama manusia, manusia dengan alam, pun, manusia dengan Tuhan. Aspek-aspek ini terkadang dapat berdiri sendiri namun di kesempatan lain dalam suatu perjalanan metamorfosa yang panjang, keseluruhan aspek itu terbangun menjadi satu jalinan kekuatan yang tidak terhingga. Kekuatan ini hadir dalam suatu klimaks perasaan cinta yang dimiliki seseorang. Kekuatan sebagai hasil dari cinta, yang tidak hanya berupa perasaan, jauh dari itu sudah mencapai penyatuan antara pikiran, rasa, dan tentu saja tercermin di dalam laku.

Aspek dari cinta yang paling penting, dapat disebutkan sebagai ikhlas dalam memberi maupun dalam menerima. Hal ini penting, mengingat banyak dari kita yang terkadang ingin selalu memberi atau ingin selalu diberi. Cinta yang mencapai pada fase kematian itu sudah meninggalkan apa yang namanya memberi dan menerima. Dua hal itu melebur menjadi satu, sehingga dapat dikatakan di dalam cinta yang sejati tidak ada yang namanya keinginan atau pamrih.

Salah satu pandangan hidup masyarakat Jawa adalah mengenai sepi ing pamrih, yaitu tahapan dimana seseorang sudah melepaskan segala kepentingan yang bersangkutan dengan diri. Yang ada di benak seseorang tersebut, hanya orang atau sesuatu yang dicintai. Keinginan ini, dalam KPM, mungkin saja ada di dalam ayat III dan IV, yaitu:

Tidakkah kau merasa bersalah berjalan di depan matahari sambil menggandeng bayangan?, kiranya bayangan lenyap jika kau bersujud di hadapan cahaya, ia seekor burung mengamati langkah-langkahmu (II : III)

Sebenarnya engkau tidak mencintai bayangan tetapi ia selalu mengikuti, bukankah ketenanganmu bercermin cahaya?, dan bayang bergetar olehnya (II : IV).
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)

Dua ayat di atas memberikan kita pencerminan mengenai keberadaan dari pamrih yang dapat menjadi penghalang bagi rasa cinta yang sejati. Pamrih atau keinginan merupakan naluri dasar manusia yang sebagai bentuk dari id serta ego. Id sebagai naluri dasar manusia yang berupa insting dari sifat hewani, yang berupa napsu kesenangan. Dalam literasi Jawa, id sebagai pamrih yang merupakan penghalang nyata bagi perjalanan jiwa dalam mencapai tingkatan-tingkatan cinta tertinggi. Keinginan manusia untuk memenuhi kesenangan, menguasai dan menonjolkan diri, dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak etis dalam perjalanan mengenal cinta.

Keinganan manusia dapat dikatakan sebagai aspek lahir yang esensial dan menjadi karakter dari manusia. Keinginan yang juga disebut, dalam kasanah kebudayaan Jawa dapat dikatakan sebagai bagian dari sisi negatif manusia. Keberadaannya nyata, namun terasa biasa yang membuat kita seringkali melupakan hakekat akan kenyataan hidup. Pamrih adalah bagian hidup yang harus disempitkan (dikungkung) ruang geraknya. Manusia yang selalu mengikuti keinginan, dapat dikatakan sebagai manusia yang menyerupai sifat binatang. Mengikuti insting, manifestasi dari setiap keinginan yang menuntut untuk dipenuhi.

Suatu keberadaan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia itu sendiri, keinginan hadir sebagai “bayangan” di dalam suatu kehidupan yang ber “cahaya”. Dari sini kita bisa melihat bagaimana NJ membangun struktur simbol dalam karyanya. Nilai yang termaktub dengan selaras, sebagai nasehat yang tidak terkira harganya saat NJ mengatakan: “Tidakkah kau merasa bersalah berjalan di depan matahari sambil menggandeng cahaya?” Hakekat dari suatu perjalanan hidup adalah untuk menuju pada kehidupan yang hakiki, yang oleh NJ diungkapkan melalui cahaya atau matahari.

Lain dengan keinginan, yang sekedar sebagai “bayangan”, walau dalam keberadaan yang tidak mungkin dapat mudah dipisahkan. NJ sendiri, saya kira, menyadari hal ini. Bahwa, manusia tidak semerta-merta dapat lepas dari keinginan (pamrih) yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan. Akantetapi, masyarakat Jawa melalui laku kebatinan, mereka mencoba untuk menyingkirkan aspek lahiriah manusia ini. Menyingkirkan bukan melenyapkan karena hilangnya keinginan manusia merupakan sesuatu yang tidak wajar dan hanya mampu dilakukan oleh mahluk-Nya yang lain, yang bernama malaikat.

Manusia pasti memiliki keinginan, itu yang disadari para pelaku kebatinan. Bersebab pada kesadaran itu, manusia kebatinan Jawa memiliki suatu cara untuk menepis setiap keinginan yang ada dalam naluriah mereka sebagai manusia. Dengan laku (jalan) prihatin, atau mau untuk menjalani suatu penderitaan untuk mencapai kedudukan tinggi dalam hidup yang termanifestasikan ke dalam nilai slamet. Dalam laku prihatin, masyarakat kebatinan Jawa mengenal adanya istilah sepi ing pamrih yang multi interpretasi.

Pamrih sebagai keinginan, maka sepi ing pamrih sebagai nilai yang digalakkan untuk mengekang hawa nafsu manusia. Mulder (1984: 39) mengungkapkan penelitiannya dalam dunia kebatinan yang menulis bahwa apabila pamrih (keinginan) dapat teratasi maka manusia akan mencapai kemurnian hidup, sebab pamrih sebagai keadaan yang menghalangi tercapainya kebaikan dunia dan kemurnian hidup. Menepis keinginan, entah itu keinginan untuk makan, untuk tidur atau untuk hidup enak (senang). Orang yang ingin menepis keinginannya harus mau berprihatin, mau hidup susah demi kebahagiaan yang lebih hakiki, yang termaktub dalam nilai slamet itu sendiri.

Slamet merupakan suatu yang selaras, melaju di dalam keadaan baik, di dunia maupun di alam akhirat. Manusia Jawa, dalam berbagai tradisi upacara keagamaan dan kebudayaan, nilai slamet memiliki tempat yang lebih banyak. Slamet atau selamat dalam bahasa Indonesia dianggap sebagai puncak tertinggi kebahagiaan hidup karena di dalamnya juga mengandung ketenangan hidup. Untuk itu, tidak terlalu berlebihan jika NJ mengatakan: “bukankah ketenanganmu bercermin cahaya?”.

Ketenangan yang bercermin cahaya, begitu NJ berujar di ayat IV yang merupakan sahutan perdebatan antara bayangan dan matahari. Adanya matahari (kehidupan) dapat dilihat dari bayangan (keinginan) manusia. Singkatnya, adanya kehidupan dalam diri manusia terdeteksi karena ada keinginan. Bagaaimana manusia yang secara umum dikatakan hidup, karena di dalam diri manusia itu terdapat keinginan yang mendorong pemenuhan. Terjadi gerakan penuh semangat itu, gerakan sebagai kehidupan.

Bayangan yang menyimbolkan keinginan akan berada di belakang sebagai sesuatu yang tidak dihiraukan ketika bercermin dengan kehidupan (cahaya) yang sebenarnya. Kita kembali pada laku prihatin, yang mana sebagai usaha untuk menepis (atau mengurangi) dominasi dari keinginan yang pada kebanyakan orang menjadi penggerak dari kehidupan. Laku prihatin ini misalnya saja: berpuasa, mengurangi tidur, mengurangi bercakap-cakap, dan mengurangi berbagai kesenangan duniawi yang lain. Karena itu juga, manusia Jawa sering mengatakan gelem rekoso atau mau menderita.

Berbeda, ketika kita “bercermin cahaya” yang dengan kata lain benar-benar mengendalikan diri untuk mencapai ketenangan yang merupakan bagian integral dari nilai slamet. Hingga kita akan menemukan fungsi dari laku prihatin yang sering dilaksanakan manusia Jawa. Dalam konteks laku prihatin, manusia akan mencapai keterlepasan dari keinginan yang menjauhkan diri dari ketenangan. Keinginan jauh berbeda dengan kebutuhan, dan biasanya, keinginan itu yang sering menjajah nurani manusia demi pemenuhan akan kesenangan.

Laku prihatin, membawa manusia pada nilai kehidupan yang lebih tinggi ketimbang pada kesenangan duniawi. NJ menyimbolkannya dalam bangunan cahaya, yang mana dapat membawa manusia ke fase mati sajroning urip, urip sajroning mati artinya mati selagi hidup dan hidup selagi mati. Tingkatan perjalanan yang sangat sedikit sekali dimiliki oleh manusia Jawa (Indonesia) modern. Dengan meninggalkan bayangan (keinginan) kita akan menjadi cahaya dan memperoleh makna hidup yang lebih. Karena itu, mari kita menyimak racikan NJ di bawah ini:

Di atas bukit ia berseru, ikuti kepakan sayapku serupa menuruti nuranimu, dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri, ia tak mampu terbang hanya membebani pengembara (II : V)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)

Di sini, lebih terlihat jelas mengenai laku prihatin yang terusung dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat. Laku prihatin dijalani yang mengartikan adanya pelaksanaan dari ritual Kejawen sebagai suatu jalan hidup. Cahaya, yang menyeru pada pengembara akan makna dari bayangan sebagai “beban” adalah maknawi dari keinginan itu sendiri. Keinginan manusia sesungguhnya adalah beban yang menghalangi manusia untuk mencapai puncak-puncak pemahaman akan hidup.

Ketika manusia sudah sampai pada fase mati sajroning urip, urip sajroning mati, dia akan tertantang dalam kesadarannya untuk menaiki tapakan selanjutnya. Tingkatan yang luar biasanya tingginya dan teramat sulit untuk dicapai masyarakat hedon Indonesia. Tingkatan tersebut dinamai sebagai fase penyatuan antara manusia dan Hidup (Tuhan). Manunggaling kawula lan Gusti, suatu babak kehidupan yang diidamkan banyak orang. Diidamkan, akantetapi jalan hidup menuju ke sana jauh dari pelaksanaan dengan sistem yang ketat.

NJ menyarankan agar kita mengikuti cahaya itu untuk terus terbang, dalam lingkaran yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ritual dalam keyakinan yang ketat melalui usaha tapa brata (bertapa) untuk memahami keheningan yang ada. Manusia Jawa juga sering menyepi untuk mendapatkan wahyu atau petunjuk dari Tuhan mengenai hakekat tersebut. Dalam pengalaman ini, seringkali beberapa pelaku kebatinan sering mengungkapkan dengan istilah menabung. Semisal puasa pada hari Senin dan Kamis yang dapat sebagai tabungan dalam mengasah hati serta pikiran. Tabungan ini yang pada akhirnya menjadi banyak, seperti pertumbuhan gunung yang dari kecil menjadi besar dan gagah.

Laku prihatin dalam tradisi Jawa, bukan laku yang singkat dan mudah. Istilah menabung itu tadi merujuk pada proses panjang yang di dalamnya membutuhkan keyakinan dan kesabaran. Proses seperti ini yang mungkin saja disebut NJ dalam: “dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri”. Cahaya atau kesejatian hidup, pada proses awalnya juga hampir sama dengan sifat alamiah kebanyakan, namun laku prihatin membawanya pada posisi dimana bayangan tidak mampu mengikuti. Hal ini memberikan suatu penjabaran, dari latihan yang sederhana namun kontinyu dan ketat dapat mendatangkan suatu manfaat yang dengan sendirinya, kelemahan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Fase di mana bayangan tidak mampu mengikuti itu, tingkatan awal dari mati sajroning urip, urip sajroning mati yang sudah saya sebutkan di atas. Kesungguhan seseorang dalam menempuhi jalan hidup ini mendatangkan buah, yaitu kehidupannya tidak dikuasai keinginan akantetapi dirinya lah (manusia itu) yang menguasai keinginan. Bukankah menyenangkan kalau kita mampu menguasai keinginan yang ada di dalam diri? Di saat kita melihat sesuatu hal yang menarik, kita mampu menguasai nafsu dalam langkah pengendalian diri untuk menjalankan hidup yang penuh dengan manfaat. Manusia yang mampu mengendalikan nafsu, dia dapat mengendalikan diri sehingga kehidupannya akan mencapai ketenangan batin dan pikiran. Sebab, semua keinginan yang memaksa untuk dipenuhi itu yang pada dasarnya mendatangkan keadaan tertekan dan bisa mengakibatkan tekanan batin, yang puncaknya pada fase gila (dalam arti sebenarnya).

Inti dari menemukan cahaya adalah dengan menepis dan mengendalikan bayangan yang ada. Mencapai titik kematian diri untuk menghidupkan. Sehingga:

Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa?, sebuah awal perjalanan baru berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II : II)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)

Kematian sebagai awal dari perjalanan baru. Kematian di sini, menurut saya, bukan makna kematian yang sebenarnya. Lebih jauh lagi, seperti interpretasi yang sudah saya kemukakan di atas sebagai bentuk dari pengendalian hawa nafsu yang menjadi perintang manusia untuk menggapai kemurnian hidup. Untuk merasakan kematian keinginan, tentu saja perlu adanya niat yang kuat untuk mendorong pelaksanaan dari perilaku prihatin. Dengan menemukan keinginan (bayangan) pada ajal, memberikan suatu nilai tersendiri yang membawa pada keselamatan dan juga ketenangan hidup. Inilah wujud dari cinta kita terhadap diri kita sendiri. Cinta yang menuntun pada pemahaman akan hakekat kehidupan yang selanjutnya memilih diantara dua jalan, kebaikan dunia yang semu atau kebaikan akhirat yang abadi.

Laku perihatin, sebagai usaha pengendalian hawa nafsu (keinginan) manusia dapat membawa manusia pada perilaku yang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang tersembunyi dari perilaku perihatin manusia Jawa, yaitu juga sebagai bentuk pembentukan watak dan kepribadian yang halus, berusaha sebaik mungkin mendekati sifat kehalusan budi, sikap, serta perilaku. Dasar ini lah yang mendorong saya untuk menyatakan, adanya kecintaan diri yang penuh kesadaran akan pemahaman hidup, akan membawa kita (manusia) pada kecintaan pada Hidup (Tuhan) yang juga berarti saat dimana kematian itu tiba pada keinginan kita akan duniawi. Sebab dengan matinya keinginan, kita bisa merasakan kehidupan yang sebenarnya, sebelum kehidupan itu tiba.

Merasuki Dunia Renungan, Banyakkan Waktu

Seirama dengan perjalanan menepis bayangan yang ada di dalam kehidupan, di atas, pada bait-bait Hukum-hukum Pecinta antologi Kitap Para Malaikat, Nurel Javissyarqi memberikan kita hidangan simbol yang hampir sama. Proses penegasan untuk merenungi dan pencarian akan hakekat kehidupan yang hendaknya dirasa keberadaannya. NJ pada beberapa bait selanjutnya menempatkan serangga indah yang sering merebut hati. Serangga itu kekupu (kupu-kupu). Mahluk hidup yang menggambarkan perjalanan tapa brata yang ketat.

Kekupu melalui jalan hidupnya melakukan perjalanan panjang dan (tentu saja) berat untuk melakukan metamorfosa. Dari ulat yang memiliki kesan menjijikkan menjadi kupu-kupu yang disenangi semua orang. Kupu-kupu sendiri memiliki bangunan makna akan suatu perjalanan hidup tersendiri, akantetapi saya mencoba melihat dalam kaitannya dengan bangunan struktur simbol KPM.

Jadilah kekupu waktu menerima berkepompong terlebih dulu, lama memintal benang sutramu akan anggun begitu tampil (II : VI)

(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)

Suatu penggambaran mengenai perjalanan dalam proses pembentukan diri. NJ menasehati kita, dan tentu saja juga menasehati dirinya sendiri, agar kita mau menerima keadaan manusia yang sudah digariskan tidak sempurna. Melalui kata “berkepompong terlebih dulu” menandakan sebuah usaha untuk mencapai batas puncak tertentu. Di sini lah, saya kira, NJ memulai permainannya untuk menegaskan maksud dari jalan prihatin yang dilakukan manusia Jawa.

Manusia yang tidak sempurna, seperti ulat yang kemudian sadar untuk membungkus diri dalam laku tapa. Jalan prihatin, sebagai usaha yang tidak bisa dilepaskan apabila manusia ingin mencapai derajat tinggi. Prihatin itu sama juga dengan kerja keras. Semisalnya saja, siswa yang ingin selalu mendapatkan peringkat satu, maka dia harus menekuni ilmu dalam proses pembelajaran yang panjang. Ketekunan yang mengiringi usaha akan membuahkan hasilnya. Dan akhirnya, ketika kita menyadari kekurangan diri dan pencapaian ketenangan itu hanya dengan kembali pada Hidup (Tuhan) maka kita hendaknya seperti ulat yang membungkus diri dalam kepompong.

Penggambaran ini mengingatkan saya pada perjalanan Bima dalam mencari air kehidupan. Perjalanan panjang yang dipenuhi marabahaya ditempuh demi sampai pada tujuan. Hutan ditelusur, sampai mengarungi samudra yang membawa dirinya bertemu dengan Dewa Ruci, yaitu jiwa yang murni dari manusia. Perjalanan Bima ini yang disebut dengan perjalanan tapa, memiliki kesamaan nilai dengan ulat yang mengurung diri di dalam kepompong.

Mengurung diri untuk mengoreksi diri sendiri atau untuk lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta (Tuhan) adalah bagian dari laku prihatin manusia Jawa. Dalam kegiatan merenung ini, dia berhenti makan, minum, tidur, dan berhenti beraktivitas. Segala waktu, dicurahkan hanya untuk berinteraksi dengan diri melalui jalan batin yang membawa manusia pada rasa sejati. Tapa dapat menghadirkan jiwa yang lebih besar dari dunia tempat manusia berpijak, merajut kekuatan alamiah dan wahyu. Menjadi kepompong dapat dikatakan sebagai meluangkan lebih banyak untuk Tuhan.

Ini yang NJ ungkap dalam kata “memintal benang sutra” sebagai usaha untuk membentuk dan menggerakkan keistimewaan yang sudah ada di dalam diri setiap manusia. Sampai ketika saat yang sudah ditentukan oleh Tuhan itu tiba, keindahan dari laku tapa brata manusia Jawa dapat muncul ke permukaan. Keindahannya dapat diketahui orang banyak, sebagai manusia yang linuweh atau memiliki keistimewaan tertentu. Perjalanan seperti siklus hidup kupu-kupu dapat membawa manusia pada kedekatan diri dengan Hidup (Tuhan) sehingga keselamatan dan ketenangan dapat dicapai.

Keistimewaan diri yang sudah nampak di depan orang lain, biasanya memberikan suatu pencerahan bagi manusia lain. Sebagai hasil atau akibat bagi manusia yang lebih senang meluangkan waktu untuk Tuhan, maka anugrah yang nyata menarik orang untuk mengikuti dengan berbagai macam keterbatasan. Seperti ayat di bawah ini:

Kelepakan sayapmu menawan mata seekor elang berhasrat reinkarnasi, menyerahkan tulang-belulang digerogoti cacing tanah (II : VII).

Tahukah doanya burung ekang itu di waktu sekarar?, ia tak ingin menjelma laba-laba juga kelelawar, tetapi memohon dijadikan kekupu pendampingmu (II : VIII)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 11)

Pengaruh yang tidak disangka, ketika kita melihat perpaduan di atas. Kekupu, yang secara gamblang menyimbolkan mengenai kelemahan diri (lemahnya raga) namun dapat menarik sesuatu yang lebih kuat secara fisik untuk mengikuti dirinya. Aspek kekupu di sini dapat juga dipandang sebagai nilai dari kelembutan batin yang tercermin sebagai keindahan laku sebagai hasil dari perjalanan prihatin. Di dalamnya terdapat suatu pergerakan ghaib yang mengejawantah di alam realitas.

Bahwa, laku prihatin yang mengajak manusia untuk menyepi agar meluangkan waktu lebih banyak untuk Tuhannya akan membawa kekuatan yang akhirnya mendatangkan kekuasaan. Yaitu, tentang elang yang melihat kekupu kemudian ingin menjadi kekupu untuk bersanding dengan kekupu tersebut. Hal ini memberikan pengertian bahwa kedekatan dengan Tuhan memberikan daya tarik tersendiri, yang membuat mata memandang dan jatuh cinta, selanjutnya mengikuti dalam seirama di bawah kekuasaan sang manusia kekupu.

Hukum timbal balik yang sudah dijanjikan, kalau kita mencintai Tuhan maka Tuhan akan mencintai kita dengan lebih baik lagi. Dan kalau Tuhan sudah mencintai kita, kekuasaan itu ada pada diri. Karena itu, jika kita merasa menjadi elang yang ingin berkuasa (selamat dan tenang) maka menjadilah ulat untuk meluangkan waktu lebih banyak untuk Hidup (Tuhan) di dalam kepompong agar lekas kita menjadi kekupu. Atau, meluangkan waktu lebih banyak untuk seseorang (atau hal) yang kita cintai adalah hal berharga yang mampu mendatangkan keajaiban. Demikian, bahwa dalam dua puluh empat jam ada sesuatu yang lebih banyak, bahwa sesuatu itu kita cintai walau terkadang kita tidak menyadarinya. Seperti bernapas, karena kita mencintai hidup dan takut pada kematian.

Cinta, Kebodohan, dan Kegilaan

Cinta dapat dipandang sebagai gerakan yang hakekatnya tanpa motif. Ia, cinta ini maksud saya sudah menjadi suatu tujuan dari berbagai macam proses sehingga tidak ada tujuan lain selain cinta. Kehadiran yang terkadang ganjil, kita dirasa dituntut untuk berbuat sesuatu namun kita tidak mengerti dengan hakekat selain kesenangan yang hadir diseketika itu. Kita ini, terkadang rela berbuat sesuatu demi merasakan kesenangan yang hadir, tanpa perduli berbagai akibat, maupun urusan mengenai untung dan rugi.

Itulah cinta yang konon, hadir sebagai anugrah indah dari rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Perasaan ini yang membuat manusia menjadi lebih mampu merasakan nikmatnya hidup. Ruh dari suatu perjalanan kehidupan manusia yang memiliki berbagai membawa manusia pada berbagai persimpangan. Akantetapi, setiap persimpangan yang ada, hakekatnya hanya menuju dua jalan, seperti keseimbangan manusia antara kanan dan kiri. Yang kanan, tidak mesti membawa pada kebaikan dan yang ke kiri tidak lantas juga menjadi jalan kesesatan. Hal seperti ini yang semestinya kita sadari dalam hukum seorang pecinta. Tidak ada jalan yang paling benar atau menyesatkan karena dua jalan itu membawa pada satu, selama dia masih berpegang pada konsep cinta. Yaitu, tidak menimbang untung dan rugi, karena kesemuanya demi yang tercinta.

Individu yang berdiri di luar cinta, mereka selayaknya suporter sepak bola yang memiliki banyak pemikiran di batok kepala. Melihat kemudian mendukung gerakan, kalau tidak berhasil lantas menyalahkan atau lebih parahnya membodoh-bodohkan. Mereka para suporter ini bisa saja berkomentar apa pun karena mereka berada di luar lapangan, tidak berada di dalam dan bermain, hal yang sama dengan penggambaran di areal cinta. Karena mereka tidak merasakan dan berjalan di jalannya, karena itu hal yang biasa ketika mereka menganggap cinta sebagai suatu tindakan yang bodoh.

Mungkin saja, diketika NJ menuliskan dua ayat XXV dan XXVI, sang NJ sedang berdiri di luarnya. Atau, sekedar memposisikan diri kalau dia tidak bermain, yang sekaligus bermain. Pemain yang juga menjadi pengamat, menjadikan suatu kesaksian di bawah ini:

Engkau rela diracun demi menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka, kesalahan jangan terulang jikalau tidak ingin dikatakan bodoh (II : XXV)

Tapi ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel daripada diasingkan sebagai orang tidak waras (II : XXVI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 12)

Dalam proses penciptaan dua ayat ini, mungkin saja NJ lebih menempatkan diri sebagai saksi yang berdiri di pinggir, seperti hakekat seorang penyair yang diungkapkan oleh Linus Suryadi (A. Sayuti, 2002: 6): “bahwa penyair berdiri dan bersaksi di pinggir”. Kondisi yang mengharuskan NJ membuka kesadaran yang total demi meraup kejadian demi kejadian dan mensaripatikan di dalam suatu buah pikiran.

Dalam ayat XXV itu, mungkin saja NJ telah mendengarkan banyak komentar bebas dari setiap suporter dan pengamat, mengenai seorang hakekat sang pecinta yang melakukan sesuatu demi rasa cintanya itu. Berbuat apa saja, dalam konteks perjuangan dan pengorbanan demi rasa cinta yang telah dipelihara semenjak kecil. Bahkan, menurut NJ sampai sang pecinta itu menenggak racun, mengakhiri hidup demi kecintaan. Tapi NJ, dan beberapa komentator lain mengatakan, kalau yang dilakukan si pencinta sebagai kesalahan. Dan karena perbuatan itu sebagai kesalahan, akhirnya mendapatkan predikat sebagai subjek dan sekaligus objek yang bodoh.

Kesalahan di dalam cinta, dalam konteks ini adalah suatu perbuatan yang tidak mengacu pada kepentingan diri, akantetapi lebih pada kepentingan orang lain. NJ mengatakan: “menyelamatkan jiwa-jiwa merdeka”, yang berarti adanya suatu visi kemanusiaan dan religius yang diemban oleh pecinta tersebut. Menyelamatkan, seperti kehadiran agama di muka bumi yang dibawa setiap utusan-Nya. Menyelamatkan menyiratkan mengenai perihal yang mendesak dan kehadirannya dibutuhkan, walau pada akhirnya perbuatan penyelamatan oleh sang pecinta itu oleh NJ dikatakan sebagai bentuk dari kesalahan dan kebodohan.

Akantetapi, menepis NJ juga memberikan pembelaan atas vonis yang sudah dijatuhkan. Pada suatu kondisi dan kasus yang sering kita hadapi, kita pasti menemukan pilihan terbaik dari dua hal yang (sebenarnya) sama-sama buruk. Pilihan yang NJ berikan dalam kesempatan ini adalah ketika kita menuruti dan berkorban di jalan cinta, maka harus rela dikatakan bodoh atau tidak waras. Kesulitan yang mungkin saja dihadapi oleh setiap pecinta. Pilihan yang serba tidak menguntungkan, antara menjadi orang gila atau menjadi bodoh, dan andaikata salah satu dari kita menjadi pecinta ini, apa yang akan kita pilih?

Entah, petimbangan apa yang dimiliki NJ ketika memilih untuk dikatakan bodoh dan gembel. NJ mengatakan: “ia lebih suka dibodoh-bodohkan atau dianggap gembel, daripada diasingkan sebagai orang tidak waras”, karena mungkin saja dengan kebodohan itu, NJ atau si pecinta bisa belajar lebih banyak dari mereka yang menganggap lebih pintar. Jalan ini dapat dipandang sebagai teknik dalam mencari ilmu sebanyaknya. Berbeda dengan menjadi orang gila, karena sang pecinta akan lebih tidak diperdulikan ketimbang orang bodoh.

Manusia yang bodoh, adalah manusia yang terlihat membutuhkan kehadiran manusia yang pintar, karena keberadaan manusia bodoh ini dapat memberikan kultus atas kepintaran seseorang. Tidak ada orang pintar kalau tidak ada yang bodoh sebagai perbandingan satu dengan lainnya. Dan kebodohan menjadi nilai tersendiri dari pengekor rasa cinta. Lantas, bagaimana dengan kegilaan? Kalau seorang pintar bersanding dengan seorang gila, yang ada hanya dia yang waras dengan yang tidak waras, sehingga yang waras akan tidak memperdulikan atau menertawakan yang tidak waras.

Dalam pengerjaan ini, saya menyadari keadaan diri sendiri. Bahwa saat saya mencintai, saya merasa menjadi manusia yang paling bodoh dan sekaligus menjadi manusia yang paling tidak waras. Terkadang, ketidak-warasan saya menutupi kebodohan itu sehingga lebih nampak sebagai orang gila ketimbang orang bodoh. Dua hal itu, karena rasa cinta yang banyak dari para seniman (juga mistikus) mengurai dengan berjuta kata dan pemahaman.

Khasanah ini, membawa saya kembali pada baris kebijaksanaan Syibli dan Junaid (Syah, 1985: 207) dalam deretan syair di bawah ini:

Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranmu, kalian semua waras.
Maka aku berdoa untuk menambah kegilaanku
Dan untuk menambah kewarasanmu.
“Kegilaanku” adalah dari kekuatan Cinta;
Keawarasanmu adalah dari kekuatan ketidaksadaran.

Menjadi orang gila itu menyenangkan, walau hakekatnya akan diasingkan dari kehidupan sosial. Manusia yang gila memiliki kebebasannya sendiri, kemerdekaan yang tidak dapat diganggu gugat oleh manusia lain. Apalagi ketika kemerdekaan itu lahir karena dorongan cinta yang muncul benar-benar tanpa motif. Ia (cinta) yang merdeka akan menjadi kekuatan yang indah. Memang, hakekat dari cinta itu sendiri berupa makna akan hidup, yang sehingga di dalamnya tidak ada kebodohan maupun kegilaan. Jikalau masih ada yang mengatakan, bodoh karena cinta, salah karena cinta, atau gila karena cinta, itu berarti manusia itu tidak mengerti dengan bagaimana caranya mencintai. Manusia seperti ini hanya ingin mencari sosok lain untuk dipersalahkan atas kelemahan diri dalam menjalani kehidupannya. Dan sosok yang dipersalahkan itu tidak lain, selain rasa cinta yang tumbuh di dalam hati dimana Tuhan (Hidup) bersemayam.

Hati sebagai Pemangku Otoritas

Manusia sudah melewati masa modern, yang pada hari ini bahkan sudah mencapai post-modern. Salah satu khasnya manusia modern, adalah manusia yang lebih mengedepankan rasionalitas (akal) ketimbang suara-suara mistis yang berasal dari alam maupun dari batin. Manusia lebih mempercayai kualitas akal untuk menjawab setiap persoalan yang merintangi tujuan dari perjalanan hidup. Kesakralan mistis dan kemurnian jiwa perlahan-lahan ditinggalkan, menjadi aspek hidup yang tidak penting. Manusia modern, lebih merujuk pada materi, sesuatu yang nampak secara wujud, termasuk di dalamnya perkembangan teknologi. Bahkan, sebuah konsep religi tidak lagi menyangkut permasalahan aspek ruh, hanya sebatas pada sekte gerakan yang badaniah.

Perilaku keagamaan, maupun mistis (kebatinan) dipandang sebagai suatu bagian dari kebudayaan yang terjadi ketika dijalankan pada saat tertentu, seperti peringatan hari-hari agung. Agama dan nilai mistin (kebatinan) tidak berjalan di dalam kehidupan secara menyeluruh. Hal ini bisa saja diamati dari pergeseran nilai dari kehidupan manusia itu sendiri. Perilaku peribadan sebagai kegiatan biasa yang terjadi semacam kebiasaan hidup yang terjadi begitu saja.

Keadaan hidup masyarakat yang semacam ini, yang mendasari konsep filsafat Parennial. Seperti yang disinggung Penerbit Qalam dalam mengantari penerbitan buku Filsafat Perennial (2001) karya Aldous Huxley, bahwa dunia modern sekarang telah kehilangan (atau tidak memiliki) cakrawala spiritual. Suatu konsepsi yang menarik, memberikan kita penggambaran yang cukup relevan dengan kondisi sosial masyarakat kita sekarang.

Secara tidak langsung, manusia sudah tidak memiliki ruh kehidupan dalam perjalanan hidup mereka. Ruh kehidupan itu ada di dalam hati, di dalam rasa sejati. Hal ini konsep hidup yang dipercayai dalam khasanah filsafat (laku) manusia Jawa. Dikarenakan manusia (pada umumnya) sudah tidak memperdulikan rasa sejati yang di dalamnya mengandungi kemanusiaan universal sekaligus religius maka, ruh kehidupan dengan sendirinya padam. Tidak adanya ruh (spiritualistas) maka kesenangan dari perjalanan hidup manusia lebih dominan pada aspek horisontal, bersifat keduniawian. Ia hanya kesenangan yang jauh dari kepuasan yang sejati.

Dalam aspek ini, NJ menerima kesaksian itu, tentang bagaimana peran dari rasa (hati) manusia:

Dia tidak kelebihan muatan perkara, sukma lelah tidak pernah menetap, bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa (II : XXXIV)

Dengan kerinduan terpisah, ia bicara berbahasa ruh, lelangkah menjangkau, mendebarkan lelantai marmer nurani sesering kalbu jatuh cinta (II : XXXV)

Nafasnya tersenggal tak terukur kiranya fahami alam kelemah lembutan diri, begitu tegar wahai kau (II : XXXVI)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 12)

Hati, atau rasa sejati manusia memiliki sifat lautan, yang keberadaannya luas dan mampu menerima apa saja yang dibawa dalam aliran sungai. Entah itu kekotoran atau setumpuk air. Diterima begitu saja, tanpa dipilih, akantetapi yang juga selayaknya lautan, ombak memilah. Hal yang tidak baik, ditepikan di bibir pantai. Karena sifat yang seperti itu, maka hati tidak akan “kelebihan muatan perkara”. Hanya yang baik saja yang diambil untuk diasuh ombak, semisalnya saja cinta.

Akantetapi, kebanyakan dari manusia sudah meninggalkan atau lebih tepatnya tidak perduli dengan peran dari rasa (hati) yang disudutkan untuk mengurusi hal-hal yang mereka anggap sepele. Seperti halnya cinta, kebanyakan manusia beranggapan kalau hal tersebut tidak penting. Perbuatan yang berlandaskan pada cinta acapkali dianggap sebagai kebodohan, seperti yang sudah diungkapkan di muka. Manusia lebih tertarik dengan dunia luar, yang lebih mendatangkan manfaat secara materi. Misalnya, manusia membunuh karena kemiskinan menjadi sangat wajar sekali ketimbang manusia membunuh karena cinta. Andaikata, seorang pemuda, misalnya, menderita patah hati maka akan berlari ke hal-hal yang sifatnya negatif, misal dengan melupakan peristiwa tersebut melalui minuman, atau penggunaan obat-obatan terlarang.

Kasus seperti ini terjadi karena manusia telah kehilangan spiritualitas, dimana hati tidak menempati posisi yang sakral. Bukankah sering kita menemui persepsi kalau lelaki sejati tidak mengurusi hal-hal cinta. Hal-hal cinta dan seabrek kompleksitas permasalahannya hanya untuk mereka yang lemah. Ini, efek yang tidak disadari dari spiritualitas yang ada. Spiritualitas yang bermula dari kata spirit atau jiwa merupakan bagian dari hati manusia. Sehingga, cukup relevan ketika NJ kemudian mengatakan: “sukma lelah tidak pernah menetap” karena memang bagaimana bisa menetap kalau keberadaannya di dalam kehidupan seorang individu dikesampingkan dan tidak diperdulikan.

Sekali lagi, manusia melulu mengurusi materi, walau pun terkadang hati kecil mereka selalu juga mengatakan kalau hidup tidak melulu bicara soal uang, kedudukan, pangkat, atau seabrek masalah prestise. Dunia materi hanya sebatas pada kendaraan. Tidak keterlaluan kalau Iwan Fals dalam lagunya berjudul Seperti Matahari mengatakan kalau harta dunia itu sebagai godaan yang membuat miskin jiwa (hati) manusia.

Karena itu, suatu keadaan yang penuh dengan pemberontakan namun tidak ada kekuatan sehingga ruh (hati) itu tetap kalah, sampai NJ mengungkapkan dengan menyedihkan: “bergetaran meranggeh kepada perkampungan sejati rasa”. Meranggeh itu adalah istilah Jawa yang mewakili meraih (dalam bahasa Indonesia). Hanya untuk meraih, kembali ke hakekat rasa sejati saja, manusia mesti bergetaran terlebih dahulu, harus ditemukan pada penderitaan terlebih dahulu. Walau terkadang, dengan penderitaan itu juga, manusia terlanjur lupa dengan apa yang namanya: perkampungan rasa sejati.

Setiap manusia dapat dikatakan kalau dirinya pernah merasakan jatuh cinta. Cinta adalah bagian dari ruh, dan hanya dengan rasa cinta itu manusia terus diingatkan agar ikut mengedepankan hati dalam perjalanan hidup. Hati sebagai awal dan sekaligus inti dari spiritualitas menyangkut mengenai bagaimana manusia bersikap lembut, kebaikan yang universal, berlaku dalam alur saling mencintai dan menjaga. Spiritualitas seperti ini, yang akan membawa kehidupan manusia pada kehidupan yang lebih indah dengan pembangunan jiwa kerohanian daripada pembangunan materi yang cenderung bersifat sementara.

Kenapa kau meragu di perempatan jalan simpang?, cukup ambil nuranimu bagi penentu, dan jangan biarkan kebimbangan bersinggah kedua kali (II : XLVII)
(Kitab Para Malaikat, 2007: 13)

“Nuranimu bagi penentu” begitu NJ memberikan nasehat untuk tokohnya yang mengalami kebimbangan. Pada kesempatan ini, otoritas hati sebagai alternatif dalam mencari jalan keluar NJ nampakkan dengan begitu jelas. Nurani (hati) memang tidak memiliki kembimbangan. Dia mengarahkan kita pada jalan yang baik tanpa memperhitungkan apa pun. Apabila, di dalam suatu masalah kita menemui kebimbangan, maka awal dari kebimbangan itu bukan dari hati manusia, melainkan dari pikirannya. Hati tidak memiliki kebimbangan, karena arah yang ditempuh menuju kebaikan, secara vertikal maupun horisontal (kemanusiaan).

Hati mengandungi ketetapan dan kepastian yang bisa manusia andalkan. Kebenarannya bersifat hakekat, karena nilai-nilai kebaikan universal ada di dalam hati. Manusia Jawa percaya kalau hati manusia sebagai tempat persinggahan Hidup (Tuhan)(dalam Mulder, 1984: 11), yang mana juga sebagai tempat penyatuan antara manusia dan Tuhan: Isi memuat wadahnya atau keris memasuki sarung dan keris memasuki sarung (Magnis-Suseno SJ, 1985: 121). Dengan demikian, keberadaan Tuhan (sebut saja cahaya Tuhan) yang bersemayam di dalam hati akan memberikan arah yang benar atas suatu permasalahan yang manusia hadapi.

Keberadaan dan realitas akan rasa sejati tentu saja perlu dilatih dalam laku hidup prihatin. Hati manusia adalah makro-kosmos yang memuat seluruh kehidupan dan tubuh manusia sebagai mikro-kosmos. Itu sebabnya, Bima yang bertubuh besar mampu masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang merupakan rasa sejati dari Bima sendiri. Inilah hakekat dari hati manusia, yang seharusnya sebagai pemangku otoritas kekuasaan di dalam kehidupan manusia. Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, hati manusia tidak memiliki keraguan, tetapi pikiran (akal) manusia yang dipenuhi keraguan karena di dalam pikiran terdapat berbagai keinginan yang sifatnya hanya horisontal.

Dan apabila kita telah menyerahkan setiap urusan pada hati, maka jalan hidup manusia tidak akan menyimpang. Hati tidak mengajari manusia untuk berbuat maksiat, juga tidak membujuk seorang pemimpin untuk menyalah-gunakan kekuasaan dengan melakukan korupsi dan kejahatan lainnya. Hati akan menuntun manusia pada kebaikan, tenggang rasa, mengerti penderitaan orang lain sehingga kebijakan yang dibuat seorang pemimpin yang berhati nurani tidak akan merugikan kepentingan kemanusiaan rakyatnya. Doronga hati adalah dorongan cinta tanpa motif, demi keselamatan.

Bantul – SDS Fictionbooks, 18 Februari 2010