Menjadi Tua

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

AKU tidak ingat persis kapan aku mulai sadar sudah menjadi tua. Seakan tiba-tiba saja ketuaan itu aku rasakan. Atau bisa jadi kesadaran itu bermula pada suatu pagi ketika sebuah gerahamku gompal dan serpihannya berdenting jatuh ke piring sewaktu kami sarapan sekeluarga. Dentingnya nyaring sekali. “Heh, apa ini?” ucapku tertegun.

“Hiii, gigi Ayah!” Anak-anakku bagai berlomba berseru. “Hahaha. Ayah tidak muda lagi. Ayah sudah tua!” Mereka tertawa dan terus tertawa-tawa seperti melihat sesuatu yang amat lucu. Sementara istriku hanya menatap, tersenyum lembut padaku. Dan aku, entah mengapa, balas tersenyum. Seakan-akan ada yang ingin dicakapkan istriku lewat senyumnya. Apa itu, waktu itu aku tidak terlalu yakin tahu.

Atau barangkali kesadaran menjadi tua itu mulai kurasakan sewaktu suatu pagi istriku di kamar melihat sesuatu yang tidak biasa. Sebutlah sesuatu yang ganjil, aneh, atau tidak dikenali laiknya UFO. Matanya yang bagus dan aku puja sedari mudanya kulihat agak terbelalak. “Eh, apa itu yang berkilau di kepala Abang?” dia bilang.
“Berkilau di kepalaku?”
“Di rambut Abang.”

Aku balikkan tubuh ke muka cermin. Istriku mendekat, menyentuh rambutku dengan jari-jarinya yang lampai, yang juga aku puja-puja sedari muda, dan karenanya seringkali aku genggam lalu aku cium bahkan puluhan tahun setelah pernikahan kami. “Oh, uban!” bilang istriku. Lalu, dia tersenyum, menatapku. Aku balas menatap, ikut tersenyum, entah untuk apa. Atau, boleh jadi untuk hari-hari kami yang sudah berlalu, amat banyak sekali hari, berterbangan ke belakang, dan tak mungkin lagi kami ulangi.

Tapi, bisa juga aku mulai sadar telah menjadi tua tidak sejak kejadian-kejadian itu. Boleh jadi pula aku mulai menyadarinya sejak peristiwa-peristiwa lain. Misalnya saat cucuku lahir; saat anak bungsu kami diwisuda; saat seorang gadis anak tetangga yang dulu kecil berlari-larian di bawah hujan dengan rambut tergerai-gerai tahu-tahu akan menikah. Atau mungkin jadi pula oleh gabungan seluruh kejadian dan peristiwa-peristiwa itu, yang menabung dari waktu ke waktu dalam diriku, sedikit demi sedikit menata kesadaran; bagaikan barisan semut yang membangun rumah-tanah berdikit-dikit lalu pada suatu waktu tiba-tiba saja sudah menjelma menjadi bukit. Tetapi kapan persisnya kesadaran itu menggugahku, tak kuingat. Kesadaran, Anda tahu, terkadang sangat kita harapkan kehadirannya dan karena itu sangat berkesan. Namun, pada lain waktu justru dihindari dan tak kita harapkan, bahkan sekadar melintas pun kesadaran itu hendaknya sekali-kali jangan.

Tapi, sudahlah. Karena, agaknya, memang tidak penting benar sesungguhnya kapan kesadaran sudah menjadi tua itu mulai aku rasakan. Hanya saja, entah kenapa, di hari-hari belakangan ini aku semakin rajin masuk taman, memandang bunga-bunga di halaman. Bukan bunga-bunga itu benar sebetulnya yang menyentuh kalbuku, tetapi putik, juga kuncup-kuncup daunnya itu. Karena itu tidak cuma bunga-bunga yang aku pandang-pandang dan aku amati, tetapi juga semua pohon yang ada di pekarangan, di pekarangan lain dan lainnya lagi, pun di hutan-hutan, di rimba-rimba raya belantara. Dan alangkah banyaknya pohon-pohon, terlebih lagi daun-daun, alangkah banyaknya, sehingga di suatu hari aku pun sudah berubah menjadi selembar daun. Ya, aku adalah selembar daun dari daun-daun yang sangat banyak itu.

Begitulah di sekitarku sekarang cumalah daun-daun, banyak sekali daun-daun, sungguh amat banyak. Rupa-rupa coraknya, rupa-rupa warnanya, rupa-rupa ulahnya. Dan sekian lembar daun yang berada di dekatku kemudian lirak-lirik kepadaku, juga senyum-senyum, seakan-akan aku ini adalah daun yang lucu, daun yang aneh, daun yang ganjil, sungguh berbeda dengan mereka semua. Betul saja. Coba. “Eh, Pak, kenapa Bapak beda dengan kami?” tanya selembar daun, kentara benar dia menahan-nahan senyum geli ketika bertanya begitu.

“Apakah Bapak tidak keluarga kami? Apakah Bapak makhluk yang datang dari luar angkasa?” Mendengar ucapan rada nakal dan juga senyam-senyum dikulum si daun yang bertanya itu, daun-daun hijau muda lainnya pada tertawa semua, meliuk-liuk, menari-nari, sungguh girang sekali mereka kelihatannya. “Warnanya itu! Hahaha! Warnanya itu! Warnanya itu! Hahaha!” ucap mereka satu sama lain sambil terus meliuk, menari-nari, dan menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Ya, ya. Bentuknya juga! Bentuknya juga! Lihat, lihat!” sambut yang lain lagi sambil tidak henti tertawa-tawa, melenggok-lenggok, bahkan ada yang menungging-nunggingkan pantatnya ke arahku. Sungguh girang sekali mereka. Dan melihat itu daun yang bertanya itu kian berani, tak lagi menyembunyikan senyum gelinya. “Ayo, Pak. Sahut, jawablah!” katanya mendesak. “Kenapa kita beda? Ayo! Ayo, Pak, kenapa? Kenapa?!”

Kulihat sejenak rupa-rupa mereka yang elok, berkilau-kilau dalam warna hijau muda, hijau pupus, bahkan ada yang belum lama lepas dari kuncup. Lantas, “Karena aku sudah lama menyerap cahaya matahari, Anak-anak,” kubilang. Tak kuduga-duga, ketawa mereka malah tambah keras mendengar jawabku, meledak-ledak tak ubahnya suara petasan di malam-malam tahun baru. Hahaha! Hihihi! Dan mereka juga tambah riuh meliuk-liuk, menari-nari kegirangan, menungging-nunggingkan pantat, seakan-akan aku benar-benar daun yang sungguh amat lucu.

Aku jatuhkan pandang ke bawah, ke sekitar pohon, lalu kulihat banyak sekali daun-daun berada di situ. Kuning tua, mersik, tak lagi berkutik; sampai-sampai bulu-romaku semua seperti bergidik melihatnya. Karena, kalau sudah begitu, bisa jugakah mereka yang menggeletak di tanah itu disebut daun? Kecuali itu, dekat benar mereka itu sesungguhnya dengan aku, hanya sebatas tampuk makin rapuh dan sewaktu-waktu pastilah retas-putus, lantas melayang-layang pulalah aku sejenak di udara (entah pagi, siang, ataupun malam hari; saat kau mungkin sedang nyenyak), kemudian terhenyak aku jatuh di tanah, menyatu dengan mereka itu yang tidak dapat lagi kau sebut daun. Ah, tak kusadari aku menarik napas dalam-dalam, tanpa aku ketahui benar masih ada gunakah tarikan-tarikan napas seperti itu sesungguhnya aku lakukan.Sementara itu, daun-daun hijau muda dan hijau pupus yang ada di sekelilingku terus meliuk-liukkan tubuh, menari-nari saking girangnya, merasa sangat geli.

“Jadi & jadi,” kata daun muda yang tadi bertanya, putus-putus suaranya serta terbungkuk meliuk-liuk tubuhnya karena tertawa. “Jadi, bentuk dan rupa kami nanti juga bakal seperti Bapak? Begitu? Begitukah maksudnya?”

“Ya!” aku bilang. Apa boleh buat, itu memang harus aku sampaikan di tengah-tengah suasana mereka yang riang-gembira begitu. Malah tidak hanya sebatas itu saja yang aku sampaikan. Juga, “Jadi, bersiap-siap sajalah kalian mulai sekarang!” ujarku menambahkan.

“Jangan sampai terlambat.” Eh, daun-daun hijau muda hijau pupus itu, banyak sekali jumlahnya, jangankan tertegun atau terkejut atau terdiam, malah makin kerasukan meliuk-liukkan tubuh mereka, menari-nari, tertawa-tawa juga menungging-nunggingkan pinggul mereka ke arahku.

Aku menarik napas. Istriku, yang sangat aku cintai itu, adalah perempuan yang amat elok perilakunya. Ketika aku menarik napas begitulah dia melongok di jendela, lalu berkata, “Bang, jangan di situ terus. Mari kita berjalan-jalan menikmati senja!”

* Jakarta, 8.9.2006