S. Jai *
Radar Surabaya, 21 Nov 2010

SEBETULNYA tak ada yang salah dengan pesan dalam pertunjukan teater. Meski selaku seni tentu yang terpenting adalah kesan. Akar budaya kita cukup megah dibangun pelbagai tradisi yang sarat nuansa pesan—tradisi tutur, wayang, kelisanan.

Yang menjadi soal adalah bagaimana sebuah pertunjukan tersebut mengedepankan bangun bahasa dramatif, yang efektif, inspiratif dan tentu saja memberikan pencerahan baik bagi insan panggung maupun public teater yang hadir dalam peristiwa teater.

Tidaklah adil manakala para insan teater penyaji pertunjukkan—yang sudah barangtentu lebih dulu inten menggeluti teks teaternya sejak selama berproses—mengalami katarsis, sementara publik teater tidak. Dengan kata lain yang lebih sederhana, tidaklah manusiawi ketika pemain tercerahkan, namun penonton justru dalam kondisi makin kesakitan.

Lalu, tidak adanya bahasa dramatik yang padu dan baru sudah barangtentu menggerogoti keutuhan bangun laku dramatik. Disamping pelbagai paradok yang menyudet efektifvitas dan kualitas muatan teks teater—yang tampaknya di satu sisi hendak membangun dunia baru yang inspiratif, tetapi justru menerbitkan teror yang melahirkan kebingungan dan teks baru yang lepas dari teks utama pertunjukan. Terlebih akan adanya project tertentu dari propaganda atau public campaign kepentingan di luar seni teater, yang memudahkan penonton jatuh pada anggapan, semisal, “seni klompencapir.”

Sesungguhnya tidak ada yang betul-betul salah dengan kesenian atas nama project—sepanjang keseriusan dalam membangun bahasa dramatic, dalam bahasa Suyatna Anirun, untuk menemukan diri manusia tetap menjadi kerangka kerja seni teater. Sayangnya, pertunjukan Rumah Pasir, Teater Koma pada ajang Festival Seni Surabaya di Gedung Cak Durasim, 12-13 November 2010 lalu itu luput dari pelbagai pertimbangan estetik yang semestinya memperkokoh laku bangun dramatik pertunjukkan.

Karya dan Sutradara dari nama besar N Riantiarno yang merupakan produksi ke 120 tersebut disana-sini justru menampilkan pelbagai paradok yang mamatikan. Katakanlah bermula dari simbolisasi Rumah Pasir. Rumah Pasir sesungguhnya dihasratkan sebagai lakon simbolik—apa yang sudah kita bangun dengan susah payah bisa rata lagi diempas ombak. Semuanya tersia. Namun tidak ada simbolisasi itu, sama sekali. Seakan justru semangatnya adalah kamuflase dari bangun puitik demi mencapai daya inspiratif.

Yang benar-benar ada hanyalah lakon realisme kehidupan sehari-hari, sonder dongeng atau sindirin yang sebetulnya telah menjadi trade mark Teater Koma. Riantiarno menata seluruh kostum para pemain, setting yang mewah, serta artistik pentasnya yang cantik sebagaimana kita jumpai dalam kenyataannya—sal rumah sakit, cermin rias di kamar, meja kantor. Demikian pula plot dan logika cerita yang menyerupai cerita pendek dari kehidupan kelas jet set dengan pelbagai asesoris manis yang romantik.

Dikisahkan, Galileo (Budi Ros), pria ganteng, kaya, memiliki 5 perusahaan suka bertualang di dunia seks. Ia berganti-ganti pasangan sekehendak hati sampai akhirnya suatu hari ia divonis mengidap AIDS. Tak seorang pun pacar-pacarnya yang berani mendekat, kecuali Wieske Gerung (Tuti Hartati), sekretaris eksekutifnya yang memang mencintai Leo.

Dialah yang setia hingga detik terakhir hidup Leo, disamping Bambang Nirwanto (Rangga Riantiarno), wartawan pemerhati HIV/AIDS dan Dokter Tatyana Ridanda (Cornelia Agatha), yang juga aktivis HIV/AIDS. Cerita lantas bergulir pada Wieske yang ternyata hamil dan tertular HIV/AIDS. Hebatnya anak mereka, yang kemudian diberi nama Galilei, selamat dari amukan penyakit mematikan itu.

Oleh karena dihasratkan sebagai lakon simbolisasi, memicu paradok pentas bahkan hingga logika tokoh dan aktor-aktornya. Tokoh Leo memaksa Budi Ros berpikir tentang puisi. Puisi Rumah Pasir. Penderitaan Leo baku hantam dengan kenyataan puisi. “rumah pasir yang runtuh akibat ombak hati yang rusuh karena bumi menolak kenang, kenanglah segala yang indah kenang dengan senyum manis merekah sebab matahari tetap bersinar, selamanya dan jejak-jejak di pasir tak akan dilupa.” Pada sisi lain hal yang sama juga dialami tokoh Wieske dan aktor Tuti Hartati.

Barangkali karena puisi atau penyair telah identik dengan penderitaan sehingga tokoh-tokoh itu musti dibebani puisi. Tetapi penderitaan penyair itu, dalam bahasa Ibnu Chaldun, demi menatap pelbagai citra realitas. Keseharian kita tak ada orang menderita kemudian jalan damainya menulis puisi. Dan lagi Leo bukanlah tokoh penyair, demikian pula Wieske.

***
BEBAN puisi yang sama, dan betul-betul keluar dari realisme panggung adalah tampilnya 9 tokoh imaji yang menyita cukup banyak waktu dari 2 jam durasi pertunjukkan. Teks tubuh dan puisi yang seringkali dibawakannya justru hadir selaku teror yang betul-betul menyimpang dari teks pertunjukan. Buntutnya, efektivitasnya tentu dipertanyakan bila sekadar mempertimbangkan hiburan, kamuflase, sekalipun mempertontonkan aspek teatrikal.

Karena itu hampir pasti, 9 tokoh imaji ini dibebani kenyataan harus membangun ruang pertunjukan, mengatur setting (yang memang terhitung berat), menyiapkan suasana agar aktor yang bermain bisa lebih fokus. Dari sini, kehadirannya sama sekali tidak efektif. Tampaknya bagi Riantiarno, kehadiran 9 tokoh imaji ini adalah kapak pemecah persoalan berat memindahkan realime dalam drama televisi ke dalam relitas panggung pertunjukan teater.

Sebelumnya, lakon mengenai HIV/AIDS, dengan tujuan propaganda ini pada awalnya memang digarap untuk drama televisi. Tahun 1994, misalnya, kelompok ini pernah membuat tiga episode cerita tentang HIV/AIDS di TVRI berjudul Onah dan Impiannya, Suryakanta Kala. Pada 1999 bersama sutradara Riri Riza, Hani Saputra, dan Nan T Achnas, Riantiarno menampilkan Kupu-Kupu Ungu dalam 13 episode di RCTI.

Dalam hal ruang dan efektivitas pemanggungan, juga tentu saja demi ‘kepentingan pesan’ dibaliknya semestinya bisa inhern dengan ruang pertunjukan teater. Secara sederhana bisa disiapkan lebih awal dengan penataan artistik atau lampu untuk bangun ruang dan waktu. Toh yang dibutuhkan hanyalah dua atau tiga ruang saja.

Di samping itu problem bahasa dramatik yang realis dalam arti logika-logika serta kekuatan kata, sering menimbulkan paradok bila hal itu tak terpecahkan. Terlebih manakala sejak mula telah ada semangat untuk memberi pesan di dalamnya. Tak terkecuali pada Rumah Pasir. Teater Koma, juga pada Rumah Pasir telah identik dengan sepenggal kisah keluarga kelas atas. Artinya, mempertimbangkan kekuatan bahasa pada masyarakat kelas atas semestinya wajib hukumnya dalam suatu studi katakanlah sosioliguistik. Hal yang sama musti dilakukan andai Teater Koma memilih setting kisah pada keluarga kelas bawah. Bukankah virus HIV juga banyak diidap masyarakat bawah?

Sebagai laku public campaign, wajar demi menjangkau publik seluasnya sonder pelbagai batasan kelas, etnik, ras, profesi. Walau setiap penonton hadir dengan berbagai motivasi. Sajian seperti ini memunculkan problem psikologis tersendiri bagi penonton—perang dalam diri publik yang hendak menikmati sensasi keindahan kesan maupun pesan yang bila tak terpecahkan justru menerbitkan dosa peristiwa teater karena pada saat pertunjukkan teater mencerahkan psikologi para penyajinya, justru menimbulkan rasa sakit dan kegilaan baru atas psikologi publik teater.

Pada titik ini Teater Koma menghadapi problem berat. Dialog panjang yang dinarasikan aktor-aktornya dielaborasi menjadi kendaraan, alat dan bukan kekuatan bahasa yang dimiliki kelasnya. Sementara pada publik yang di luar kelasnya pun, tidak tersentuh saripati bahasanya meskipun cukup memahami isi ceramah. Bantuan slide raksasa untuk pesan penting, jelas dimaksudkan tak ingin penonton luput pada bagian krusialnya. Namun problem paling berat adalah manakala publik menilai bahwa informasi itu sama sekali bukan hal baru. Dan itu terjadi.

Harus dikatakan terlepas dari kualitas aktor-aktor Teater Koma yang sangat memadai, sebetulnya tak ada yang salah dengan pesan. Tidak ada yang keliru dengan jaring Komisi Penanggulangan AIDS di belakangnya, sepanjang berdiri di luar teater. Tidak ada yang berdosa dengan realisme. Bahkan realisme sangat mungkin sepanggung dengan surealisme, simbolisme, eksistensialisme atau absuditas, sepanjang inhern dan sonder paradok yang menyudet keseluruhan bangun laku dramatik. Toh, realisme pun telah sejak lama ramai-ramai digugat.[]

*) Penulis adalah Kepala Divisi Seni dan Budaya Center for Relegious and Community Studies, Surabaya.

Categories: Esai