Sepasang Wayang

Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

ADAKAH yang lebih membahagiakan bagi lelaki uzur macam kalian selain memberi napas pada nostalgi? Kalian seperti menemukan peti harta karun saat menoleh ke belakang. Ah, memang getir menjalani sisa hidup sebagai sampah yang disisakan masa lalu untuk masa kini.

Tjin Siong, tentu kau tahu kotamu tengah bersolek menjelang Imlek, bukan? Mengapa mengurung diri dalam kamar pengap apak ketika orang-orang berwajah bungah? Buka jendela dan tataplah langit cerah di luar sana. Dengar kesiur angin kencang merontokkan daun-daun tua, mewartakan tahun baru sudah di depan mata.

Pergilah ke pusat kota. Di depan mal atau deret pertokoan, barangkali semarak lampion dan kibar spanduk merah nyala bertuliskan selamat tahun baru itu bisa sedikit mengobati dukamu. Lalu kau melenggang pulang sambil membayangkan sang naga berkenan datang menyambangimu. Kala bocah, kau acap terpukau dengan cerita naga yang menyambangi rumah-rumah, memberi berkah pada penghuninya. Itulah yang kau butuhkan saat ini, Tjin Siong.

Petang kemarin kau tak duduk di teras seperti biasa. Sia-sia belaka Narto datang. Selain ingin mengajakmu ngobrol mengiris waktu, dia menjinjing rantang berisi nasi, sayur pare, dan pepes teri untukmu. Tak kau lihat raut mukanya saat berdiri di depan pagar setinggi pinggang yang dikunci rapat. Kehilangan terpancar lewat matanya saat melihat kursi rotan lapuk yang biasa kau duduki kosong melompong. Jakunnya berkedut menelan liur kecut. Dia mendesah panjang sebelum balik kanan, menyeret langkah pulang dengan hati diganduli sedih.

Sesungguhnya telingamu menangkap seret langkah dan batuk Narto, namun kau enggan membuka pintu. Kau berharap dia tak menyadari bahwa kau ada dalam rumah, duduk mengurung diri dalam kamar berlampu remang. Tanpa isak tertahan, kau biarkan air bening itu menetes dari sudut matamu, bergulir perlahan di pipi keriputmu, jatuh ke celana pendek hitam kusam yang nyaris tiap hari kau kenakan. Kau hanya berdesis dalam hati, semoga dia mengerti, ada waktunya kau ingin sendiri.

***

Ayo bertaruh, Tjin Siong. Tentu kau ingin kembali ke masa silam ketimbang sendirian menyulam perca kenangan Imlek masa kecilmu. Dahulu, rumahmu dipenuhi pernak-pernik Imlek. Lampion bundar merah nyala, mercon, kue keranjang, dan kembang kecil merah muda perlambang tahun baru. Bersama adik-adikmu menonton barongsai dan opera kera sakti di lapangan dekat klenteng yang tengah bersolek menyambut Imlek. Kalian berlomba mengumpulkan angpau paling banyak. Tiba di rumah, kau sudah ditunggu makanan yang disiapkan ibumu. Aneka buah berderet di meja: jeruk mandarin, pir, manisan plum, buah naga, atau kiambwee. Tapi kau paling suka puih tao bumbu tauco kiriman popomu. Aroma sedapnya yang meliuk dibawa angin bisa menggeliatkan cacing-cacing dalam perutmu.

Tapi itu masa lalu. Sejak orang tuamu mangkat, rumah warisan dijual, biduk rumah tanggamu karam, hingga terperosok ke liang kemiskinan, kau memutuskan pergi jauh. Menyepi ke kota kecil itu. Bertahun-tahun tinggal di bedeng petak di pinggiran kota.

Tataplah dirimu di cermin. Kini kau hanya lelaki delapan puluhan sebatang kara dengan tubuh ringkih digerus waktu. Helai-helai rambut perakmu kerap berserak di bantal dan lantai.

Apa yang masih bisa kau banggakan untuk Imlek kali ini, Tjin Siong? Tak ada lampion bundar. Tak ada amplop angpau. Tak ada pohon plastik bunga mei hwa. Tak ada hio dan peralatan sembahyang lainnya. Tak ada uang di saku untuk memindahkan semua itu ke dalam rumahmu.

***

Kau lelaki yang pantang menjilat ludah sendiri, Tjin Siong. Tak pernah kau sesali sumpah serapah yang kau muntahkan di muka adik-adikmu sekian tahun silam. Bagimu, mereka burung yang lupa sarang setelah piawai terbang. Setelah orang tua meninggal, sebagai lelaki sulung kau jadi tulang punggung keluarga. Terlampau banyak yang kau perjuangkan demi membesarkan adik-adikmu. Namun, setelah roda hidup membuat mereka sukses dan kau jatuh pailit, mereka membalasmu dengan tuba.

Entah di mana tangan mereka ketika lumpur kemiskinan mengisapmu perlahan-lahan. Entah di mana suara mereka ketika kau dicampakkan istri yang menuduhmu mandul. Entah sesibuk apa mereka hingga tak sempat membesuk kala kau sakit. Entah di mana mereka sembunyikan dompet ketika kau tak punya uang untuk membeli sebungkus nasi.

Kau telah paham, orang lain bisa jadi saudara, sementara saudara sendiri justru mirip orang asing. Dengan suara parau menahan emosi, pernah kau sindir mereka bahwa Narto-lah yang lebih layak jadi saudaramu. Narto, lelaki sebaya mantan pemilik wayang orang yang tinggal tak jauh dari bedengmu, yang bertahan menjalani sisa hidup bersama istri dan anak-anaknya. Perasaan senasib sebagai orang-orang kalah yang menyatukan kalian.

Saat kau disengat stroke, Narto dan anak-anaknya lintang pukang menolongmu. Mencarter becak, membopong tubuh kakumu ke sinse kenalanmu. Istrinya menyeduhkan ramuan tumbuhan, serangga, dan rendaman arak. O, tentu kau kini telah fasih menakar mana lebih pahit; ramuan obat atau nasibmu.

Ketika kerusuhan satu dekade silam, kalian tercekat menyaksikan serigala-serigala berwujud manusia dalam kotak 14 inci itu. Mata rabun kalian seperti melihat sepasang tanduk mencuat di kepala orang-orang yang menjarah apa saja dan bara di mata orang-orang yang membakar apa saja. Glodok dan Mangga Besar, pecinan tertua di Jakarta yang sejak zaman kompeni jadi kawasan pemukiman dan perdagangan, musnah jadi arang.

Keluarga Narto yang cemas kerusuhan menjalar ke kota itu, memaksamu mengungsi ke rumah mereka. Beberapa hari kemudian kau dapat kabar, adik-adik dan familimu telah terbang menyelamatkan diri ke luar negeri, sementara beberapa keponakanmu jadi korban perkosaan. Kau cuma bisa menangis dalam hati kala itu.

***

Tjin Siong, Narto, betapa getir menjalani sisa umur sebagai bekas dalang. Dalam ingatan kalian tersimpan segunung cerita tentang sudut-sudut kota yang pernah kalian singgahi ketika menggelar pertunjukan wayang potehi dan wayang orang. Pernahkah terlintas di benak kalian, jika sedang bernostalgia, kalian bak sepasang mayat yang bangkit dari kubur? Dengan mata berbinar dan abai pada napas yang tersengal, cerita meluap tak terbendung dari mulut kalian, hingga orang-orang yang jenuh mendengar menyingkir perlahan. Macam tak ada yang lebih menarik dari masa silam; begitu rutuk mereka seraya meninggalkan kalian.

Menyesalkah kau jadi dalang potehi, Tjin Siong? Dulu kau selalu kebanjiran order. Jika ada acara keagamaan di klenteng, kau bisa mentas sebulan penuh. Sering pula kau ditanggap di luar kota. Tapi yang diingat tetangga-tetanggamu kini hanyalah rona wajahmu yang mirip kepiting rebus kala mengutuk masa silam. Kau kehilangan segalanya sejak potehimu dilarang tampil. Kau gulung tikar. Pensiun sebagai dalang.

Dan kau, Narto, apa yang kau raih setelah separuh lebih hidupmu mengurus kelompok wayang orang warisan bapakmu? Zaman berubah, Pak Tua. Seperti Tjin Siong, wayang orangmu pun telah lama mati. Membusung dadamu ketika rombongan wayangmu pentas dari satu daerah ke daerah lain. Pertunjukanmu selalu padat penonton. Senyummu semringah melihat orang-orang berdesakan demi mendapatkan karcis di loket. Tapi semenjak televisi masuk ke rumah-rumah, semenjak wayang dan ketoprak tayang di televisi, penontonmu wayang orangmu kian surut.

Tentulah mereka memilih nonton gratis. Meski tiket kau jual murah, tak lebih dari sebungkus rokok, toh pertunjukanmu tetap sepi. Acap kalian terpaksa iuran menutupi sewa gedung pertunjukan. Kau sempat ngotot bertahan meski wayang orangmu di tubir bangkrut. Cincin, gelang, dan kalung emas simpanan istrimu yang jadi tumbal menutup tekor, tak tergantikan hingga kini.

***

Imlek dua tahun silamlah pentas terakhirmu, Tjin Siong. Kau bagai musafir dahaga menemukan setangkup air di jantung gurun ketika seseorang menanggapmu untuk menggelar wayang potehi di pasar malam. Ada redup nyala lilin dalam hatimu kala itu. Dibantu Narto, kalian rangkai panggung potehi dari tripleks yang di cat merah. Atapnya seng karatan, bagian depan serupa bingkai untuk memainkan wayang, sisi-sisinya dilapisi kain merah, dan di sisi kiri ada pintu kecil untuk kalian keluar masuk.

Dalam kotak itu kau mulai pertunjukan. Narto jadi cantrikmu malam itu. Dialognya bahasa Indonesia, suluknya tetap bahasa China. Kau pilih lakon Sin Jin Kuy, sebuah kisah kepahlawanan. Justru kau yang kalah telak malam itu. Suaramu raib ditelan dentam house music dan dangdut yang disetel keras-keras. Suaramu tak bisa menyaingi teriakan para pedagang kaki lima dadakan. Segelintir penonton yang sempat berhenti untuk menonton kalian, entah berdiri atau duduk di trotoar, bubar satu per satu karena tak mendengar apa yang kau ucapkan. Kepala batu atau mengelak dari rasa malu, kau berkeras melanjutkan pertunjukan sampai usai. Sudah dibayar, jangan sampai ceritanya putus di tengah jalan, dalihmu sengau. Narto menatapmu dengan hati digores sembilu.

Ah, Tjin Siong, Narto, kesetiaan itu menyakitkan. Puluhan tahun jadi dalang wayang potehi, puluhan tahun mengurus wayang orang, kini kalian tak ubah sampah masa lalu yang disisakan untuk masa kini. Jika kalian mati dalam derita dan kesepian, pada siapa kalian wariskan peralatan wayang itu?

***

Tjin Siong, Narto, mengapa kalian masih terpekur di trotoar simpang jalan bekas pasar malam dua tahun silam? Angin malam tak baik untuk kalian yang kerap mengeluhkan rematik. Pulanglah. Malam kian larut. Rebahkan tubuh di ranjang dan tarik selimut. Jangan bermimpi ada sisa tempat buat kalian dalam sejarah kota ini; kota yang telah lama meninggalkan dan melupakan kalian.

Ah, rupanya tak ada yang lebih berharga bagi sepasang lelaki uzur malang macam kalian selain menghidupkan nostalgi yang sudah mati. Lihatlah, di bawah tatap muram tembok-tembok tua penuh lumut, di bawah sorot sinis lampu-lampu kota tanpa cahaya bulan, berdua saja kalian semarakkan panggung kenangan yang telah lama sunyi. Entah siapa menjadi dalang, entah siapa menjelma wayang.