Atmosfer ‘Mak Dawah Mak Dibingi’ dalam Transformasi Kebudayaan Global

Hardi Hamzah
Lampung Post, 10 Mei 2009

BUKU puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi, sesungguhnya telah meletakkan pilar budaya daerah dalam bentuk sastra.

Pakem-pakem kesusastraan yang diselimuti secara naratif tentu banyak terdapat dalam buku ini. Namun, penulis tidak berniat meresensi buku ini dalam pengertian yang konstan. Sebab, telah banyak proyeksi universal tentang buku ini melalui resensi.

Penulis lebih ingin melihat komparasi sosial dan kebudayaan dengan nilai-nilai westernisasi. Kita, kata Sutan Takdir Alisjahbana, lebih baik memilih westernisasi. Sedangkan Sutan Syahrir lebih ingin memilih diri kita sendiri. Kita semua tentu masih ingat polemik kebudayaan di tahun 30-an yang dimulai dari dua tokoh ini.

Maka, dalam koridor yang lain, Mak Dawah Mak Dibingi mengajak kita beringsut pada pakem-pakem kesusasteraan yang tidak terlalu gamblang, tapi berisi. Mungkin, itulah diskursus ke-Lampungan yang terlihat dalam buku spektakuler ini. Saya katakan spektakuler, karena selain penulisnya masih muda, Lampung yang dijuluki Indonesia mini, pun terwakili dalam buku ini.

Ada semangat filsafat Auf Klarung, ketika kita membaca Rik Renglaya Maseh Mekejung. Dalam Rik Renglaya Maseh Mekejung terdapat anasir-anasir interelasi antara keinginan untuk bervisi besar tapi dijegal misi kebudayaan daerah itu sendiri. Bukankah, fraksis filsafat Auf Klarung membuat paradoksnya tersendiri ketika Turki ingin memperkenalkan sekulerisme, Eropa ingin memperkenalkan human material dan spiritualitas yang tak kunjung padam dari para funding father kita.

Concern-nya Udo Z. Karzi terekam dalam pakem-pakem fraksis Auf Klarung, juga terlihat dalam dua term-term besar dalam Kehaga I dan Kehaga II. Modal sosial Mak Dawah Mak Dibingi juga dapat dikomparasikan dalam Nietzsche. Filsuf ini menggemakan ruang publik dalam kaca mata yang vulgar, ini kita dapat dikomparasikan dengan Bibas (hal. 5).

Kendati Bibas belum memberikan atmosfer baru buat kedaerahan, tapi Bibas, juga seperti yang diasumsikan Nietzsche dalam berbagai karyanya, ternyata Udo Z. Karzi tidak keluar dari pakem-pakem kebudayaan yang impersonal. Dalam koridor yang lain, impitan ruang gerak kesusasteraaan, baik yang dimainkan Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono sampai penyair mantra Sutardji Calzoum Bachri, rasanya Udo Z. Karzi ingin keluar dari platform keniscayaan. Dalam arti, sebuah karya kesusasteraan sesungguhnya meluruskan kebudayaan itu sendiri, sehingga dalam atmosfer lain, semisal, Renglaya sai Tehampar, mengingatkan kita pada keinginan Socrates untuk berkeliling ke pasar publik pemuda di Athena untuk menyosialisasikan dan membongkar pemikiran pemuda yang terhampar ketika itu. Yang pada gilirannya, Alexander Agung juga ikut bergumul dalam siklus keterhamparan untuk mencari eksistensi dirinya.

Di sini, Udo Z. Karzi barangkali tidak terlalu keliru bila hamparan itu ditumbuhkembangkannya dalam lingkup konvergensi yang faktual, yakni keinginan untuk memberi tiang pancang kebudayaan daerah yang relevan dalam kebudayaan global.

Presesi dalam Sareh, memberi ingatan pada kita, bahwa ketika renaisans muncul di abad XV yang muaranya mendinamisasi bangsa-bangsa Eropa untuk mengentalkan apa saja demi eksistensi mereka. Sareh (hal. 7), memang sepertinya memberdayakan kekuatan lama dan baru agar muncul suatu kekuatan alternatif. Namun Udo Z. Karzi, agaknya terganjal dalam konsepsi perbenturan nilai-nilai Timur-Barat, terutama ketika kita membaca Kusepok (hal. 11).

Kusepok, lebih memberikan durasi yang tidak terlalu gagal dalam naratif, teristimewa dalam kesusasteraan daerah itu sendiri. Tetapi terlalu besarkah kita bila nuansa Kusepok kita komparasikan dengan sajak-sajak Jallaludin Rumi yang notabene dicintai oleh seluruh agama, meski karyanya lebih mematangkan religi. Nah, komparasi Kusepok dalam ruang lingkup ini, kiranya bertenden pada regionalisasi sebagai elemen dari pembentukan peradaban masyarakat Lampung.

Pagi Ga (hal. 9) yang mendahului Kusepok, seakan mentransformasikan transformasi kematian spiritualitas kebudayaan. Ini kita bisa membandingkan dengan Daniel Bell, yang mengatakan: Tuhan telah mati. Dan, bagi Udo Z. Karzi kekhawatirannya terhadap kematian kebudayaan daerah Lampung, tidak terlepas dari rujukan Daniel Bell tersebut.

Udo Z. Karzi memang lari dari lini kesibukan untuk berasik mansyuk enggan melankolisme dramatik cinta, dalam arti cinta tidak dinafikannya. Tapi ia tidak mendorong ke muka, kiranya ia takut tergelincir dalam interaksi sosial yang multikultural.

Di sinilah, justifikasi terhadap nilai-nilai Mak Dawah Mak Dibingi, menemukan rujukan barunya untuk dibandingkan dengan karya-karya sastrawan Belanda yang muncul dari Universitas Neimehen, seperti rangka-rangka karya Zeneth Dahem, bahkan karya klasik Eropa lainnya.

Gugusan baru yang diintroduksi lewat kabut pemikiran yang tertulis dalam item Kukejar Halinumu (hal. 66). Kembali memproyeksikan deskripsi baru, seolah kita sedang mengejar apa yang tak dapat kita kejar. Barangkali masih kita ingat, ketika Plato di dalam goa menunjukkan bayang-bayang yang simultan dengan identifikasi kehidupan manusia yang hakiki. Udo Z. Karzi berhenti pada titik pesimpangan jalan, yang pada akhirnya: “Hamper tejebak rik tejerat” atas nama pakem-pekem kedaerahan itu sendiri. Ini tidak dapat dipahami secara baik manakala kita tidak membaca buku Bagawat Githa yang spektakuler itu.

Terlalu sumir memang membandingkannya dengan idiom di atas, tetapi setidaknya dalam konteks kedaerahan, di mana provinsi ini yang notabene multikultural sedang membangun kontroversi baru melalui pertanyaan bergunakah muatan lokal itu. Udo Z. Karzi mengekplainasikannya secara baik dalam resonansi Dang Urau Ya Kuli.

Ruang lingkup kesusasteraan daerah sungguh memang sulit diimplementasikan dalam provinsi yang tidak berbahasa ibunya ini, maka keseriusan membangun bahasa daerah, agaknya tidak dipedulikan oleh penulis Mak Dawah Mak Dibingi.

Mak Dawah Mak Dibingi mengajak kita untuk mengenali jati diri, mengaktualisasikan hidup dalam kebudayaan sendiri. Dan, hebatnya Mak Dawah Mak Dibingi, jauh dari nilai-nilai disintegrasi. Padahal, Yahana, ketika membuat puisi ketertelanjangan dan ketertutupan female di Iran, ia concern terhadap female itu dan banyak masyarakat Timur Tengah seakan tereduksi semangat maskulinnya.

Penulis sungguh sangat sukar memahami ruas apa, lingkup apa, ruang publik yang mana dan sederet lagi pertanyaan yang mungkin saja lahir. Tetapi, kawah candra di muka untuk menegakkan eksistensi kebudayaan daerah telah dibuka pintu hatinya dalam Mak Dawah Mak Dibingi.

Lalu, pertanyaannya, terlalu arogankah kalau kita membandingkan karya Udo Z. Karzi ini dengan penulis-penulis sastra dunia yang menyihir rakyatnya dengan fiksi, dus, anomali berada pada titik ini. Mak Dawah Mak Dibingi menyambar titik sentral dari kekuatan pusaran budaya global, sehingga menyikapi dan menyifati Mak Dawah Mak Dibingi, seyogianya legowo dalam pakem-pakem kebudayaan barat yang tak terbendung, sebagaimana disinggung di muka.

Dengan segala kelemahan dan kekurangannya, yang mungkin Udo Z. Karzi memang tertatih-tatih dalam Mak Dawah Mak Dibingi, mampu memberi makna baru. Sebab, kebudayaan daerah yang heterogen di Provinsi Lampung memang “tidak siang tidak malam”. Artinya, dilema kita untuk menjunjung gugusan baru tidak inheren dengan siang (matahari) dan malam (bulan). Ini mengingatkan kita pada karya Khalil Gibran, Sang Nabi yang merefleksikan mengawinkan dua spektrum bintang dan bulan, siang dan malam, dan yang hak serta yang batil.

Hitam putih kesusastraan Lampung, memang masih embrio bila dibandingkan dengan Serat-Serat Kalitida pada era Amangkurat, mocopat Sinom dalam Babat Niti dan atau implisit dalam Babat Tanah Jawa. Ruang inilah yang tidak dimasuki karya ini, mungkin keterbatasan berbagai hal teknis, membuat sekelumit karya spektakuler ini, kiranya tidak terlalu naif bila mengomparasikannya dengan para penggagas filsuf di muka.

Kalaulah dipertanyakan siapa sebenarnya yang membangun kebudayaan daerah itu, apakah mulok yang rigit itu? Ataukah agem-agem lima pasal yang sarat pesan moral atau perspektif baru di titik anasir-anasir kebuadayaan lokal lainnya. Sebutlah di sini carok, siri, dan berbagai tradisi kontemporer masyarakat Bali. Seminimal apa pun karya yang telah mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 ini, setidaknya Udo Z. Karzi telah membangunkan masyarakat Lampung dari mimpi buruknya yang enggan meracik budayanya sendiri. Ini tidak dibenarkan, karena kebudayaan sendiri, sebagaimana berkali-kali diintroduksi Abdul Hadi W.M. harus terus-menerus dikembangkan, meski sekecil biji zara sekalipun. Bukankah Rasulullah berkata: Sampaikan meski satu ayat. Dan, Udo Z. Karzi telah memulainya.

* Hardi Hamzah, Peneliti madya pada Institute for Studies and Consultation of Social Science
Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2009/05/atmosfer-mak-dawah-mak-dibingi-dalam.html