Bumi dan Kehidupan Bersama

Asarpin

Bumi kini sedang berada dalam pertanyaan yang mencemaskan. Semakin lama banyak orang semakin bergantung pada alat-alat kekuasaan untuk menyelamatkan diri sendiri, yang digunakan mulai dari kedudukan hingga penguasaan ekonomi, dan dipraktekkan dari tingkat individu hingga negara. Bumi dan alam yang kita kenal sebagai memiliki hukum penciptaannya sendiri (baca: hukum alam) kini justru dijadikan alat di tangan manusia untuk menguasainya, mengeksploitasinya.

Hukum alam sudah dimanipulasi sedemikian rupa oleh kesadaran egologi manusia lewat ilmu pengetahuan dan teknologi pemangsa. Kehidupan alam kian hari kian terancam sejak manusia merasa dirinya sebagai penemu-penemu hukum kausal. Sejak silogisme Aristoteles hingga cogito ergosum Rene Descartes sampai dengan karya arsitektur pesanan penguasa dalam karya Jausal, telah mengantarkan pengetahuan manusia melulu sebagai bersifat egosentris dengan cara menempatkan pengetahuan teknik sebagai teknik penguasaan terhadap alam.

Dari hari ke hari kita melihat manusia telah menjadi biang keladi atas kondisi kerusakan lingkungan dan menganggap ilmu pengetahuan berada di atas hukum kosmis. Lingkungan kebudayaan yangh diciptakan oleh manusia seakan mengungguli lingkungan alam ciptaan Tuhan. Pandangan purba yang menempatkan alam di atas kebaradaan manusia, dianggap sudah ketinggalan zaman. Rasionalisme dan modrnisme dipercaya sebagai iman yang teguh karena konon akan memberikan harapan masa depan bagi kemajuan umat manusia.

Para perencana, arsitek, pengelola, dan pemodal bahkan masih saja berpikir dan berlomba-lomba untuk membuat berbagai macam desain lingkungan untuk memberi mereka akses dalam memanfaatkan hamparan alam di bawah kendali ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Tak mengherankan jika muncul akibat sampingan, di mana alam yang tak bisa diganggu gugat, yang sakral, yang menjadi penyangga kehidupan semua makhluk di bumi, menjadi diabaikan dan lambat laun dikonstruksi dan diubah-jadikan sesuai dengan ego ipso.

Keberadaan alam sebagai payung kehidupan di bumi terus mengalami pengrusakan. Para penghuni alam, manusia dan binatang, mengalami alienasi dan tak lagi bisa menentukan keberadaan ruang huniannya sendiri secara alami. Srigala pemangsa ternyata jauh lebih peka dalam memandang keberadaan dan fungsi alam ketimbang manusia sempurna. Sebab, manusia semakin lama justru kehilangan medianya melalui berbagai politik perijinan dan legitimasi hukum yang dijalankan sistem pemerintahan.

Imajinasi sosial kita tentang lingkungan, ruang, dan tempat menjadi impian-impian buruk di masa depan. Berbagai fenomena baru yang muncul dalam pengalaman ruang kita di hari ini, sebagaimana juga pernah disinggung Bambang Sugiharto (2002), telah mengalami perubahan peran dan fungsi. Karena itu, kini dituntut bukan saja sekadar melakukan koordinasi atas relasi ruang dan tubuh kita, melainkan juga menciptakan pola persepsi atas pemahaman akan nilai ruang kehidupan bersama.

Para arsitek memang tak pantas dianggap sebagai biang keladi kehancuran lingkungan jika saja mereka peka dalam memandang keberadaan alam dan tidak melulu menjalankan titah ilmu pengetahuan dan teknologi habis-habisan demi untuk memutlakkan mitos kecerdasanan manusia sebagai satu-satunya kuasa manusia menyaingi senantiasa berangkat dari kehendak berkuasa. Arsitek, kata Nietzsche dalam Anti-Krist, selalu diilhami oleh kekuasaan. Dan manusia-manusia yang paling berkuasa selalu mengilhami arsitek dengan berusaha membuat diri mereka terlihat dalam suatu bangunan, atau suatu arsitektur.

Nietzsche mungkin terlampau generatif. Namun blia kita mengikuti gagasan Michel Foucault—filsuf yang banyak diilhami oleh gagasan Nietzsche—maka apa yang dinamakan “kehendak berkuasa” lebih jauh ditafsirkan sebagai “kuasa/pengetahuan”; di mana sensibilitas alam telah ditentukan oleh permainan diskursif kekuasaan. Antara ruang, waktu, uang, dan kekuasaan menjelma sekeping mata uang logam yang tak terpisah, yang beroperasi dalam setiap pengetahuan.

Bila kita mengikuti pandangan dan gagasan para arsitek di Lampung, sungguh sangat memperihatinkan apa yang tertanam dalam benak mereka. Para dosen arsitek di kampus tampak masih enggan masuk ke dalam kajian ekologi kota dengan mengaitkannya dengan politik kota, apalagi masuk ke dalam pengimajinasian seni, budaya, dan keadilan gender. Padahal dalam perencanaan sebuah kota, saya setuju dengan pandangan Ignas Kleden dalam Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1987) bahwa ia tidak melulu bersifat perencanaan teknis, tetapi juga perencanaan secara politis.

Dalam perencanaan seperti ini bisa ditetapkan apakah pengembangan teknik akan diabadikan kepada tujuan yang menghancurkan lingkungan atau ke arah kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. Apakah dalam perencanaan juga akan ke arah menggusur sistrem pengetahuan lokal dan menjadi alternatifnya, atau justru bisa memperkuat sistem pengetahun budaya lokal dan menjadi komplemennya.
Dalam analisa perencanaan kota Bandarlampung, terlihat bahwa pengetahun teknik para arsitek dikonsentrasikan pada teknologi dan teknologi dikonsentrasikan pada industri yang pada gilirannya di arahkan secara terpusat pada gerakan eksploitasi lingkungan.

Penelitian yang banyak dilakukan para arsitek kampus yang bekerjasama dengan pemerintah kota tentang pesisir pantai Teluk Betung masih kuat tersihir oleh kokok ayam empirisme-positivisme. Hasil “Studi Penataan Kawasan Pantai Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Menuju Bandar Lampung Ecocity (2003) yang dilakukan Jausal dkk., amat meragukan karena adanya kesulitan yang bersifat prinsipil yang tak mereka sadari; yaitu bagaimana caranya menjaring fakta-fakta sosial dan budaya yang bersifat non-empiris dengan metode-metode empiris.

Sejarah arsitektur dan ruang kota ternyata memang ditulis oleh jenderal yang menang. Dan ruang didesaian, dibentuk, dan direkonstruksi oleh tidak hanya jenderal yang sedang berkuasa dalam suatu negara, tetapi juga oleh mesin komunikasi dan teknologi global lewat ”tangan tersebunyi”. Para arsitek menyikapi politik keruangan melalui pemanfaatan ruang dan waktu geometris. Proses kapitalisasi telah memposisikan ruang kota berhadapan dengan waktu yang berlari. Bahkan ruang ikut dihancurkan oleh waktu.

Modernisme telah melahirkan ruang-ruang inflasi. Manusia masa kini nyaris hanya mendiami satu ruang realitas yang tak tersentuh; sebuah realitas alienatif, atau realitas semu. Manusia telah berada dalam satu ruang yang khayali, ilusif dan alienatif. Berkat kapitalisme mutakhir, berikut sistem teknologi dan komunikasinya, dunia mewujud dalam bentuk segitiga raksasa baru: ruang-waktu-uang. Di tangan kekuasaan, ketiga soal ini telah mnenjelma sebuah kekuatan sosial-politik yang bermuka destruktif dan konsumtif.

Ruang dan waktu pada akhirnya hanya soal uang. Ruang adalah uang. Waktu adalah uang. Demikianlah, seluruh perjalanan hidup kita akan terus dibudak oleh uang, oleh pasar, yang meniscayakan prinsip siapa yang beruang maka dia menang dan hidup, tapi yang tak beruang akan tergilas oleh mesin waktu. Ruang dan waktu ujung-ujungnya tak bisa lagi lepas dari uang. Apa yang kita bicarakan soal ruang dan waktu tak lain adalah bicara soal simetri antara yang punya uang dan tidak punya uang.

Ruang dan waktu, yang konon dipercaya sebagai pertanda untuk membedakan antara Bapa dengan bapa itu, kini hanya soal uang. Ruang dan waktu kemudian dikapling-kaplingkan. Bacalah isi poster-poster di kampung-kampung kota Bandarlampung sejak isu Pilgub bergulir beberapa bulan ini, betapa banyak kita temukan tulisan berbunyi ”Anda memasuki kawasan Zulkipli Anwar”, Anda Sedang Memasuki Kawasan Pemenang Sjahroedin ZP”. Apa yang dikatakan Thamrin Amal Tamagola bahwa negeri kita ini adalah sebagai ”Republik Kapling” nyaris mendekati kenyataan. Apa yang disebut atlas, peta cecah jiwa, poster, dan lain sebagainya, telah menjadi alat kontrol yang paling ampuh untuk mengkapling dan membagi-bagi bumi ke dalam proyek-proyek yang berurusan dengan uang.

Dengan perangkat teknologi dan komunikasi, ruang dan waktu semakin hari telah melahirkan kecemasan dan keterkejutan yang dahsyat, sampai-sampai diksi puisi yang ditulis para penyair kita pun ikut terkejut. Di sini, efek domino akan terus berlanjut dengan menimbulkan kecemasan di mana-mana hingga muncul pula apa yang dinamakan oleh seorang penyair sebagai ”ruang pasca-misteri”.

Betapa sering bencana muncul akibat tangan manusia yang telah menjelma mesin. Teori ”tangan tersembunyi” dari Adam Smith telah menempatkan lingkungan sebagai produk pasar yang bisa dikapling dan di pasarkan. Dalam lima tahun terakhir kini kita terus menyaksikan ribuan pohon bertumbangan, rumah-rumah berantakan, binatang-binatang kian menjauh dari sukma bumi oleh keangkuhan pikiran dan tangan manusia. Kehidupan di bumi tengah beramai-ramai menuju peradaban ‘kota’, ‘modern’, ‘kemajuan’, ‘pembangunan’. Secara ekologis, semua konsep yang bagus-bagus itu saling terpatahkan.

Dalam kebudayaan mutakhir, sudah jarang kita temukan ritual keselamatan bumi dan kehidupan bersama. Prosedur yang ditempuh kebudayaan saat ini lebih ke arah pemberontakan terhadap konvensi dan mainstream. Padahal konsep keselamatan dalam masyarakat tradisi merupakan totemisme, acuan terhadap nilai kosmologi bersama yang ekologis sifatnya. Meraka melakukan ritual dan upacara meruwat alam dan laut sebagai keselamatan bersama, membebaskan diri dari bala dan bencana, membersihkan alam semesta dari roh jahat.

Sikap kulturalis yang mistis semacam ini telah menjadi kesadaran penting pada kehidupan masyarakat tradisi. Segala yang berkaitan dengan alam dan lingkungan ditempat sebagai pan-kosmisme, di mana manusia hanya dipandang sebagai bagian dari alam. Tak ada pemisahan antara alam dan manusia. Alam dipandang sebagai Ibu Bumi.

Kini berbagai kearifan lokal dan genealogi Melayu telah diletakkan dalam kerangka antroposentrisme yang merajalela. Manusia hanya hidup dan berkarya dalam penguasaan sejarah yang mengabaikan subkultur yang menjadi akar penting bagi manusia dan alam. Refleksi terhadap kehidupan bersama yang bersifat mistis dalam memandang alam kita telah kehilangan peluangnya untuk dinyatakan. Posisi alam dan hubungan antar-masyarakat lebih banyak merefleksikan ketakutan bersama. Masyarakat pun mulai kehilangan modal sosialnya—rasa saling percaya, kohesi sosial, kebersamaan.

Perkembangan kampung yang mepresentasi dirinya dengan pemandangan kesenjangan mencengangkan, yang meliputi perumahan, tingkat penghasilan, gaya hidup, ketertiban umum yang tidak cukup nyaman, hingga pelayanan sosial yang banyak mengandung masalah, adalah sebagian dari gambaran kehidupan bersama kita yang sudah tidak nyaman.

Kampung-kampung di kota telah jatuh ke dalam curuk hiruk-pikuk, sarang pertama dalam penampungan urban, kumuh dan padat, dan setiap saat berada dalam ancaman kebakaran atau penggusuran. Dan sejarah tidak memberi toleransi pada keberadan mereka. Kehidupan bersama dalam konteks ini bukan bermakna sebagai pembalikan ‘desa sebagai latar depan’. Kita tidak membutuhkan ‘desa sebagai latar depan’ seraya menjungkirbalikkan kota sebagai latar belakang. Apa yang dibutuhkan adalah ruang perantara dan jejaring bersama yang menghubungi latar desa-kota dalam kerangka pemikiran lebih luwes.

Kompleksitas kehidupan alam telah menenggelamkan kita ke dalam apa yang disebut krisis utopia—yang memanifestasi secara paling kuat pada hilangnya kemampuan dan keberanian masyarakat kita untuk bermimpi. Kita bergulat dalam kondisi insomnia melelahkan, yang menghilangkan kejernihan akal budi untuk dapat secara kuat dan imaginatif mengatasi permasalahan.

Di sisi lain, berbagai bencana yang menimpa kita saat ini, menyediakan ruang luas untuk penciptaan alternatif-alternatif radikal yang kreatif. Pemecahan konvensional mungkin hanya akan mengulangi kesalahan mendasar sebelumnya. Maka kita membutuhkan sebuah refleksi dan keheningan untuk mengambil langkah-langkah inovatif dan kreatif.

Pengkotak-kotakan kebudayaan terjadi dimana-mana. Model pembangunan di dalam era modernisasi hanya memikirkan dirinya sendiri-sendiri tanpa peduli faktor lain yang sesungguhnya berkaitan. Karena itu bentuk pembangunan di dalam kompetisinya untuk mengejar ketinggalan, untuk mencapai kemajuan (progres) menjadi semacam gurita yang menakutkan dan memangsa yang lainnya.

Tanpa kita sadari bersama, kita telah memusnahkan apa-apa yang sesungguhnya merupakan suatu kekayaan bagi segala hal, yang mana memiliki manfaat tidak hanya pada masa kekinian akan tetapi bersifat berkelanjutan di masa depan.

Kini agaknya kita rindu akan tradisi upacara dengan mengorbankan sesuatu karena kian hari kian banyak hutan digunduli. Di Toraja, di Tengger, di Jawa, dan banyak lagi, masyarakat memiliki nilai bersama untuk menjaga bumi dari kerusakan. Meruwat bumi adalah upaya menjaga refleksi kreatif bagi pemecahan konstruktif atas permasalahan bumi dan kehidupan kita bersama.

Orang Minangkabau menyebut negerinya sebagai Alam Minangkabau atau “Nagari”. Bahkan mereka juga menyebut dirinya “Anak Alam”. Dalam legenda masyarakat Lampung, banyak kita temukan kisah-kisah kehidupan ‘Anak Dalam’ yang begitu dekat dengan bumi dan lingkungan yang sakral.

Meruwat alam kembali dengan tradisi purba kian menemukan momentumnya. Meruwat bumi bisa memaknai kembali kehidupan bersama kita. Alam perlu diruwat (dibersihkan) karena keberadaannya kini telah dijamah oleh tangan-tangan raksasa yang menabarkan bahaya. Kebobrokan dan ketidakjujuran yang tengah menghimpit hukum alam sudah selayaknya diruwat demi kelahiran kembali yang suci.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/