DI ATAS TANDU LANGITAN, JALAN CINTA PENYAIR I

M.D. Atmaja

PENDAHULUAN

Cinta, seperti halnya alur kehidupan pada umumnya, sebagai esensi dari perasaan manusia, pun, di dalamnya terdapat adanya jalan yang ditempuh oleh pecinta. Sesingkatnya, saya mengatakan kalau cinta merupakan jalan kehidupan manusia itu sendiri. Suatu jalan yang biasa, namun memiliki karakter tersendiri dan memuat nilai-nilai yang bisa dilihat dari tapak laku pecinta. Dalam pembahasan ini, sang pecinta yang saya maksudkan adalah seorang penyair. Kita akan melihat bagaimana seorang penyair menjalani kehidupan, menjalani kehidupan dalam cinta pada Kesejatian. Di Atas Tandu Langitan, Jalan Cinta Penyair I merupakan analisis dari puisi Di Atas Tandu Langitan, VIII: I – CXXIII (2007: 45-50) karya Nurel Javissyarqi dalam bukunya antologi puisi “Kitab Para Malaikat”. Dalam tulisan ini, saya memilah beberapa bait (baca: ayat) yang menurut pandangan saya mencerminkan beberapa pengambaran mengenai jalan cinta yang penyair tempuh.

Analisis ini berangkat dari keyakinan saya, yang menekankan kemurnian batin dalam setiap berucap dalam karya sastra. Sebab, bagaimana pun juga penyair mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan Yang Maha Esa, bahwa: “Dan penyair-penyair itu diikuti orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. 26: 224-227).

Penyair, ibarat manusia yang dipilih untuk dibimbing dalam menerima saripati dunia setelah masuk ke dalam runung pemahaman. Berbagai kebijaksanaan hidup dan kebaikan universal yang termuat di dalam setiap sajak (puisi). Akantetapi, terkadang kita sering lupa bahwa kebijaksanaan yang diraih hakekatnya adalah untuk diri sendiri dan orang lain yang nasibnya sudah digariskan untuk bertemu dengan puisi tersebut. Dan cukup masuk akal ketika Tuhan Yang Esa berfirman: “Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?”

IA MANUSIA MERDEKA

Penyair manusia yang merdeka, tidak terbatasi pada gerak zaman yang terus melaju menawarkan berbagai penjara dunia dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan yang mampu mengkerdilkan pikiran dan kemurnian jiwa. Sebab, bagaimana pun juga seorang penyair merengkuh dunia dengan kedalaman jiwa yang kemudian memanifestasikan ke dalam karya sebagai cahaya. Sanusi Pane (Sayuti, 2002: 13) dalam puisinya “Sajak” menyatakan kalau sajak bukan hanya mengenai bagaimana menyampaikan perasaan dengan pilihan dan permainan kata yang bagus, akantetapi hendaknya mampu menjadi seperti matahari yang menyinari bumi yang di dalamnya tidak ada pamrih.

Manusia yang menempuhi hidupnya untuk menjadi penyair, hendaknya dia menjadi manusia yang merdeka, seperti yang diungkapkan Sanusi Pane dalam “Sajak”nya, bebas dari kepentingan dan keinginan akan keuntungan material ketika dia membawa membagi pencerahan yang didapatkan. Penyair adalah manusia merdeka, dia tidak berpihak pada siapa pun selain Kebenaran. Karena merdekanya seorang penyair, dengan puisinya “bisa mengajari kita untuk berkata: TIDAK!” seperti yang diungkapkan Emha Ainun Najib dalam “Sajak Luka Menganga” (Sesobek Buku Harian Indonesia, hlm. 103-104)

Berperan sebagai manusia merdeka, seorang penyair memiliki penilaian tersendiri mengenai suatu fenomena yang ditemui. Kemerdekaan itu mutlak dimiliki seorang penyair. Kemerdekaan di sini lebih merujuk pada kebebasan hati dan pikiran. Hal itu saya temui dalam larik:

Dia tidak mengikut siapa-siapa, dirinya tegar lagi murni (VIII : II) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Pencapaian kemerdekaan hati dan pikiran seorang penyair memberikan karakter tersendiri dalam menginterpretasikan dunia kehidupan untuk dimanifestasikan ke bentuk karya. Pikirannya tidak dibayangi ketakutan, keinginan, serta nafsu yang sifatnya sementara. Hal tersebut diungkapkan dalam “dirinya tegar lagi murni”. Karena kemerdekaan ini, seorang penyair pun tidak mengikuti dirinya sendiri, maksud saya adalah pikiran-pikiran yang menjelma dalam keinginan. Saya berlandaskan pada alasan, bahwa pikiran manusia tidak murni karena di dalamnya terdapat unsur hawa nafsu.

Penyair mengikuti hatinya sendiri, sanubari manusia yang hampir tidak memiliki kepentingan duniawi. Tidak ada kepentingan untuk mencapai ketenaran akan nama besar bersamaan dengan karya hebat yang dilahirkan. Apabila karya sudah memicu untuk tumbuhnya kesombongan di dalam hati penyair, maka kemurnian yang ada di dalam dirinya sudah terkotori. Penyair yang masih memiliki kemerdekaan dan kemurnian hati, dia tidak memiliki kepentingan dengan manusia lain dan dunianya selain menyampaikan pesan (baca: saripati dunia) yang penyair terima melalui proses perenungan dan pembelajaran.

Penyair (dan sastrawan pada umumnya) menggunakan karya mereka sebagai media penghambaan dirinya pada Tuhan Esa. Karya diciptakan penyair untuk berdoa, mendekatkan diri pada Tuhan, sebagaimana Taufik Ismail (1983: 62) menulis: “Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya”. Melalui berbagai karya hasil dari cipta, pikir, dan karsa, penyair berkomunikasi secara bebas dengan Tuhan Esa, karena puisi (karya) berangkat dari kemurnian jiwa penyair. Murni yang tidak terkotori hal-hal keduniawian.

Bersebab dari kemerdekaan yang ada di dalam jiwanya, penyair pun mampu berperan sebagai seorang pengamat, saksi sekaligus hakim atas suatu masalah di dalam kehidupan. Dengan puisi yang diciptakan, penyair memberikan kesaksian, bahwa “penyair berdiri dan bersaksi di pinggi” (Linus Suryadi dalam Sayuti, 2002: 6) atau bagaimana Rendra (1993: 99) mengatakan: “Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.

Banyak hal yang bisa dilakukan manusia merdeka karena tiada ikatan pengekang antara dirinya dan kehidupan selain garis vertikal antara penyair dengan Hidup (Tuhan). Penyair mampu menjadi saksi yang jujur, pengamat yang objektive, serta hakim yang adil karena penyair tidak memihak apa pun selain nurani. Ketika dia melakukan sesuatu, penyair melakukannya dengan keikhlasan dan ketulusan hati, memainkan perannya sebagai manusia yang merdeka berbuat apa pun demi hubungan dirinya dan Hidup.

Jadilah hakim adil pertukaran dan jangan ikuti riak gelombang
atau sungguhlah mempersembahkan tanpa mengidam (VIII : LI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 47).

Penyair adalah seorang hakim yang membidik permasalahan dengan nuraninya. Dia tidak memiliki kepentingan apa pun, selain menegakkan keadilan bagi manusia, “Orang-orang harus dibangunkan, kesaksian harus diberikan. Agar kehidupan bisa terjaga” (Rendra, 1993: i). Kesaksian di sini dapat dimaknai sebagai hakim, mengabarkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana benar dan mana salah demi menjaga kehidupan manusia yang adil, selaras, dan sejahtera. Penghakiman penyair atas suatu persoalan juga diketengahkan Rendra (1993: 31) yang dengan puisinya “Aku Tulis Pamplet ini”, Rendra mengatakan: “Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam”.

Untuk mampu bisa menjadi hakim yang adil, penyair tidak boleh memihak siapa pun, termasuk hawa nafsunya sendiri, sehingga dia akan “mempersembahkan tanpa mengidam”. Dengan seperti itu, dia manusia merdeka yang bebas mengungkapkan diri di tengah masyarakat. Bersebab dari kebebasan itu juga, penyair mampu berdiri dimana pun, kapan pun, dan bukan untuk siapa pun yang bersinggungan dengan kepentingan duniawi. Karena dunia ini, seperti: perempuan jalang yang menarik pertapa ke rawa mesum dan membunuhnya di pagi hari (Sastrowardjojo dalam Sayuti 2002, 34). Untuk itu, penyair yang menempuhi jalan ini, maksud saya jauh dari kepentingan duniawi, dia adalah penyair yang mencintai-Nya, penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.

PEMBINASAHAN DIRI

Kata pembinasahan diri memang terdengar mengerikan namun hal yang diwakili dari istilah ini justru sebaliknya. Di sana adalah bangunan kata yang mewakili hal yang menyenangkan, seperti pertemuan kita dengan sesuatu yang paling kita cintai di dunia. Suatu waktu dimana yang mampu membuat kita lupa dengan semua isi dunia kecuali yang paling kita cintai itu. Pertemuan itu akan membawa kita untuk melepaskan semua yang tidak berhubungan, hanya ada kita dan yang tercinta, yang selanjutnya akan membawa pada proses penyatuan.

Penyatuan antara pecinta dengan yang dicintai sebagai bentuk tingkatan tertinggi, karena di sana sudah tidak ada pecinta dan yang dicintai tetapi sudah lebur menjadi satu. Dalam kebudayaan kebatinan Jawa, terdapat konsep penyatuan antara manusia dan Tuhan, sebagai puncak spiritualitas manusia Jawa. Keberadaan Tuhan dapat dilihat dalam perwujudan rasa, seperti dalam konsepsi manusia menyatu dalam rasa (Beatty, 2001: 229).

Konteks pembinasahan diri seorang penyair dapat berangkat dari konsepsi Jawa ini. Dimana penyair membutuhkan adanya totalitas diri, dalam berjalan menempuhi jalan kepujanggaan. Totalitas diri adalah pembinasahan diri, dimana sudah tidak ada pembedaan antara penyair, karya, kehidupan, serta alam karena kesemuanya sama-sama berjalan menuju Hakekat Hidup. Babak perjalanan yang hanya bisa dilakukan ketika manusia sudah memiliki kemerdekaan yang murni. Kehidupan yang dilaksanakan untuk mewujudkan proses penyatuan itu, diumpakan seperti Laron yang keluar untuk mencari cahaya.

Bukankah kau mencari gagasan ranum, kepemudaan lebih bayangan laron
yang berputar mendekati lelampu, terpesona-terpedaya magnit sendiri (VIII : IV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Pembinasahan diri, terhadap karya, alam semesta, dan sifat ketuhanan dapat membantu seorang penyair di dalam mencapai kesatuan yang melahirkan suatu “gagasan ranum”. Pembinasahan diri yang dilandasi kesadaran dan cinta diungkapkan melalui perumpamaan simbol laron yang mendekati cahaya. Laron perwujudan simbol dari kehendak rasa sedangkan cahaya adalah nilai kebenaran ketuhanan.

Nilai religius yang tergambar di sini memberikan pengertian yang cukup luas, dimana manusia yang berjalan dalam pembinasahan diri sudah tidak memperdulikan keadaan dirinya. Yang ada hanya mengenai bagaimana dia menyatu, dengan suatu jalan tertentu sehingga rasa yang dirasakan termanifestasikan ke dalam bentuk karya. Kita perlu mengingat hakekat dari karya sastra, puisi sekalipun, sebagai mimesis, tiruan alam semesta. Penyair dalam renungannya mencipta karya yang di dalamnya, terjadi pembinasaan diri.

Fahami kembali selagi kabut pedut menutupi punggung bukit,
memeluk pohon sungai yang mengalirkan mata air hayati (VIII : XIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45)

KESADARAN ALUR

Perjalanan hidup manusia dapat dipandang sebagai aliran sungai yang diawali dari mata air kemudian berproses menuju lautan. Dalam aliran sungai itu, kita menemukan alur perjalanan yang juga disebut dengan proses untuk mencapai samudra. Kalau sempat kita mengikuti, proses perjalanan air tidak pernah lurus, di sana akan bertemu dengan belokan dimana air tidak mampu menerobos, tapi air terus mengalir sampai pada titik akhir perjalanannya.

Begitu juga dengan manusia. Perjalanan hidupnya tidak pernah lurus, dia akan menemui hambatan-hambatan yang membuatnya berbelok untuk melanjutkan perjalanan hidup. Seperti air, perjalanan manusia tidak selesai dengan batu yang menghadang, ia musti menggumpal menjadi satu untuk menggeser batu itu, atau perlahan-lahan berputar mencari jalan lain. Dan dengan pengertian akan perjalanan seperti ini, manusia yang menapaki akan lebih mudah dan ringan dalam menjalani kehidupannya. Memuat nilai pasrah pada takdir hidup serta tidak berangan panjang yang membuat manusia lebih mampu (bijak) untuk menjalani dan menghayati hakekat kehidupan.

Permasalahan ini saya wakili dengan istilah kesadaran alur, dimana manusia yang mau menerima kondisinya mengingat alur perjalanan kehidupan manusia sendiri. Manusia Jawa, memandang pemahaman alur kehidupan tertuang dalam konsep “sangkan paraning dumadi” yaitu suatu pengetahuan yang berusaha memahami asal-usul manusia dan tempat kembali manusia setelah selesai menempuhi perjalanan di dunia (Zoetmulder dalam Magnis Suseno, 1985: 130) sebagai pencapaian dari perjalanan rasa.

Manusia yang memahami alur kehidupannya, dia justru akan lebih berhati-hati dalam proses menjalani hidup. Sebab, di dalam kesadaran akan kehidupan, manusia juga mengetahui berbagai konsekuensi hidup yang lahir dari tindakan manusia. Bahwa, apa yang akan kita terima adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Manusia Jawa, bersinggungan dengan pandangan ini mengetengahkan istilah karma yang mana sebagai hukum ilahi yang memayungi tindak-tanduk manusia (Magnis Suseno, 1985: 153).

Serindu-rindunya petani memetikmu melati adalah ibunda
penjual bunga pada pasar Menganti kembali (VIII : VIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Sebuah loncatan pikiran yang dapat kita tangkap, bagaimana Nurel Javissyarqi menyuguhkan dua aspek kehidupan yang berbeda, namun sejalan. Di satu sisi menggambarkan mengenai hidup petani dan langsung dilanjutkan dengan penggambaran mengenai perdagangan. Tapi mungkin saja, Nurel Javissyarqi berpendapat kalau seorang petani dapat menyuruh istrinya untuk menjual bunga hasil panennya di pasar. Memang seperti itu kenyataan yang tergambar di kehidupan realitas.

Akantetapi, mari kita kembali mempertimbangkan hukum ilahi yang bernama karma, “apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu panen”. Hidup selayaknya petani, perbuatan kita adalah benih yang kita tanam setiap hari untuk kita panen kelak. Hukum tabur-tuai yang purba ini pun dipercayai oleh Stephen Covoey (Darmanto Jatman dalam Jejak Tanah, 2002: 143) yang datang dari masyarakat urban industrial, bahwa: “siapa yang menabur gagasan akan menuai perbuatan/ siapa yang menabur perbuatan akan menuai kebiasaan/ siapa yang menabur kebiasaan akan menuai karakter/ siapa yang menabur karakter akan menuai nasib.”

Hukum yang tentu saja, sampai hari ini terus menggerakkan kehidupan manusia walau keberadaannya seringkali tidak disadari. Oleh diri sendiri seseorang menjadi kotor, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci (Dhammapada dalam Narada, 1996: 156) yang mana manusia menentukan bagaimana keadaan dirinya, entah itu nasib baik atau buruk, semuanya ditentukan oleh diri manusia itu sendiri.

Kesadaran alur ini lah yang saya bidik dari ayat VIII puisi Di Atas Tandu Langitan karya Nurel Javissyarqi. Manusia yang menilik kehidupan petani, yang kemudian mendapatkan bahan untuk membawa diri pada perenungan. Secara gambalang saat kita melihat petani menanam padi, jelas tidak mungkin akan tubuh pohon apel dan membuahkan pohon semangka. Akantetapi, padi yang ditanam petani tetap akan menumbuhkan padi, dan menghasilkan padi. Kesadaran akan alur kehidupan manusia yang hanya seperti seorang petani, akan membawa manusia, dalam konteks ini adalah seorang penyair untuk berkata yang baik-baik, mengajak yang baik-baik karena karya itu akan dipanen kelak ketika hari telah tiba.

Selanjutnya, ketika “petani memetikmu melati” dapat dibawa ke pemahaman bahwa bunga melati melambangkan kesucian dan keharuman batin. Penyair, yang telah dengan sadar akan alur kehidupannya akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk menghadirkan melati di dalam karyanya sehingga karya tersebut mampu membawa pencerahan pada manusia, dalam hakekat sastra sebaga khatarsis. Puisi yang diciptakan penyair dan dibacakan untuk seseorang, diharapkan manusia yang mendengarnya akan mereguk kedalaman makna melati yang sudah disemayamkan di dalamnya.

Berjalan dari hukum petani yang memetik melati, kita menemui lompatan imajinasi Nurel Javissyarqi yang juga membawa kita untuk menuju ke pasar. Ada benarnya juga, seperti yang Nurel Javissyarqi bilang, kalau petani yang sudah memanen melati, istrinya pergi ke pasar untuk dijual. Saya menemukan penggamaran yang lebih jauh, ketimbang hukum jual beli sederhana yang ada di dalam realitas kita.

Jual beli, bahwa setiap manusia pada hekakatnya adalah seorang pedagang. Lalu apa yang manusia miliki sebagai barang dagangan? Dalam salah satu firman-Nya, Tuhan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS. At-Taubah: 111). Demikian, kita dapat menempatkan diri sebagai penjual yang memiliki barang dagangan perilaku untuk membeli surga yang telah Tuhan janjikan. Barang dagangan perilaku ini bermodalkan kehidupan, yang mana hidup secara keseluruhannya disimbolkan dengan “napas”.

Perniagaan manusia (penyair) dengan Tuhan adalah mengenai bagaimana dia menggunakan napas, menjadikan waktu hidup dalam pengisian akan penciptaan karya. Bagaimana seorang penyair berkarya, bagaimana karya itu ketika berada di lingkungan masyarakat, bagaimana penyair menjalani hidup, di sanalah terjadi perhitungan perdagangan antara penyair dan Tuhan di hari yang sudah ditentukan. Ini mengenai pemahaman akan kesadaran alur seorang penyair, sebab melalui karya yang dihasilkan, mewakili tindakan dari penyair itu sendiri. Esensi dari sebuah karya menghasilkan perilaku untuk penyairnya, yang kelak akan dijadikan sebagai kualitas dari barang yang akan diperdagangkan. Ini, merupakan hasil dari kesadaran alur, tentang “sangkan paraning dumadi”.

Kesadaran alur ini juga, akan membawa seorang manusia (penyair) untuk lebih menyibukkan diri pada aspek rohani (batin) ketimbang urusan badaniah dan keduniawian. Memahami hidup yang tidak hanya sekedar berlaku untuk memburu kesenangan sesaat maka membuat seorang penyair untuk:

Menunggu buah runduk seawan keemasan, cahaya senja membentang lebur
di sebilah keris baja hitam atas purnanya tirakat dalam rahim malam (VIII : XXIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 46).

Kesederhanaan dalam menjalani hidup dengan disertai kerendahan diri, bahwa dirinya merasa “saya tidak bisa apa-apa, saya tidak punya apa-apa” (Mulder, 1984: 41). Masyarakat Jawa, secara sadar menyembunyikan kekuatan diri demi mencapai keutamaan laku untuk hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan diri untuk menghindari kesombongan hati yang memiliki efek buruk terhadap kekuatan batin (rasa). Kesombongan manusia atas manusia lainnya akan melahirkan rasa angkuh yang dapat menjadi penghalang antara dirinya dan kesempurnaan laku untuk mencapai kesempurnaan mati. Untuk itu, tidak heran jika kita seringkali menemukan manusia Jawa dalam ungkapan: “manungso ojo rumangso iso, nanging sing bisa ngrumangsani”.

Kerendahan diri inilah yang menjadikan manusia (penyair) mencapai “seawan keemasan” yang serupa dengan langit sore memberikan manusia umum, maksud saya adalah publik pembaca karya sastra, untuk mencapai renungan yang mengantarkan pada makna terdalam. “Seawan keemasan” merupakan pencitraan dari langit sore yang juga menyiratkan perjalanan kehidupan manusia. Renungan yang dihadirkan penyair melalui karyanya membimbing manusia untuk menyatukan setiap fokus perhatian pada satu titik, yaitu hakekat kehidupan itu sendiri atas “sangkan paraning dumadi”.

Aspek renungan mengenai “sangkan paraning dumadi” secara tidak langsung mengarahkan perhatian manusia kepada Tuhan Semesta Alam yang dalam puisi ini tersimbolkan ke dalam kalimat “sebilah keris baja hitam”. Sebilah keris yang digunakan simbol atas penyatuan manusia dan Tuhan “keris memasuki sarung dan sarung memasuki keris (curiga manjing warangka dan warangka manjing curiga)” (Magnis-Suseno, 1985: 121). Penyatuan fokus manusia ini sebagai kemanunggalan tujuan ketika manusia sudah memahami kesadaran alur, bahwa manusia akan kembali pada Tuhan Semesta Alam dan selanjutnya menempuhkan laku hanya untuk menuju pada-Nya.

Kemanunggalan tujuan yang saya maksudkan adalah keinginan manusia yang didasari oleh kesadaran untuk menuju secara sadar pada hakekat asal-usul. Ini menjadi titik fokus perhatian bagi manusia (penyair) dalam menjalankan kehidupannya (atau berkarya) hanya sebagai usaha untuk mencapai kesempurnaan laku dan kesempurnaan kematian. Karena itu lah, manusia (penyair) yang telah memahami alur kehidupannya akan mencapai apa yang namanya “purnanya tirakat dalam rahim malam” yang mana waktu sebagai ruang antara dirinya dan Tuhan.

Pemahaman akan alur kehidupan ini, yang oleh penyair digunakan sebagai landasan dalam proses penciptaan karya. Seni sastra yang dihasilkan ditujukan sebagai ibadah kepada Tuhan Semesta Alam, yang senada dengan pendapat Akiya Yutaka (Abdul Hadi W.M., 2004: 5) bahwa “doa, cinta, serta sembahyang sangat penting dalam penciptaan puisi”. Sehingga, puisi dan karya sastra yang lain tidak hanya sebagai luapan perasaan tanpa makna, akantetapi lebih sebagai ungkapan cinta dari penyair kepada Tuhan dalam rangka sembah-Hyang.

Karena itu, melalui karya yang dihasilkan seorang penyair, kita bisa menemukan berbagai aspek religi yang tersimbolkan ke dalam bahasa, yang mana seperti:

; dalam kesunyian terbuka sendiri, lembaran kalbu terlepas hitunganmu,
di sini masih bersimpan jejak silang ia tempuh (VIII : LXXXII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 48)

Penggambaran yang terjadi pada bait ini membawa kita pada pemahaman yang lain, yaitu mengenai kebenaran akan dosa dan ibadah. Manusia yang melakukan sesuatu, entah sebagai doa, dosa, atau ibadah yang dijalankan terlepas dari kebenaran yang dimiliki manusia lain. Setiap orang memiliki posisi yang sama, yaitu sebagai pelaksana dari apa yang dia kehendaki. Dan manusia tidak bisa saling menentukan, apakah manusia yang satu sebagai manusia yang baik atau tidak. Yang dalam konsep ini adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan laku manusia dalam menjalankan kegiatan peribadatan.

“Lembaran kalbu terlepas hitunganmu” yang mana memberikan pengetahuan, bahkan dengan diri sendiri, manusia tidak bisa menghitung-hitung apakah perbuatannya sebagai amal bakti atau tidak. Sebab, dalam khasanah ini dipercayai, hanya Tuhan Semesta Alam yang memiliki hak penuh untuk menghitung, hak untuk melihat dan menilai setiap “jejak silang” yang “ia tempuh”.

PENYAIR SEORANG PELAJAR

Hakekat dari pendidikan adalah mengajarkan sesuatu yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan melakukan transfer pemahaman (ilmu pengetahuan). Akantetapi, seorang pelajar tidak lantas musti berada di sekolah-sekolah yang menawarkan berbagai teori impor maupun lokal yang kelak memperoleh sertifikat untuk mengesahkan bahwa seorang pelajar telah menempuh ilmu ini dan ilmu itu.

Pendidikan itu sendiri, menurut George F. Kneller (Sumitro, 1998: 16) memiliki dua cakupan, yaitu pendidikan dalam arti luas dan teknis. Pendidikan dalam arti luas, sebagai pengalaman yang memiliki pengaruh, yang berhubungan dengan perkembangan jiwa (mind), watak (character) dan kemampuan fisik (physical ability). Oleh karena itu, pendidikan dapat dilakukan oleh alam dan lingkungan melalui berbagai fenomena yang ditangkap seorang pelajar. Melalui kegiatan pendidikan inilah, pelajar mampu merekontruksi dan mengorganisasi pengalaman yang menambah pengetahuan untuk mengarahkan ke pengalaman selanjutnya (Dewey dalam Sumitro, 1998: 17).

Di keseharian hidup seorang penyair yang melihat alur kehidupan masyarakat, yang “berdiri dan bersaksi di pinggir” (Linus Suryadi dalam Suminto, 2002: 6) maka seorang penyair terus berperan sebagai pelajar. Penyair berguru dari pengalaman dunia (kehidupan) yang didapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengalaman yang didapat secara tidak langsung adalah pengalaman yang diperoleh melalui buku, sedangkan pengalaman langsung sebagai hasil interaksinya dengan dunia (isi alam semesta).

Penyair sebagai seorang pelajar, ketika menemukan suatu fenomena yang akan menjadi bahan renungan di dalam berkarya. Fenomena di dunia realitas inilah yang akan mempengaruhi penyair di dalam proses penciptaan karya seperti yang diungkapkan Shcoles (Junus, 1983: 3) bahwa orang tidak mungkin melihat realitas tanpa interpretasi pribadi, dan tidak mungkin berimajinasi tanpa pengetahuan suatu realitas. Karenanya, sastra sebagai karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia (Fananie, 2000: 132).

Penyair yang bertemu dengan realitas yang menyentuh kalbunya, akan membawa fenomena itu masuk ke dalam renungan. Fenomena yang terjadi sebagai bahan yang mana, penyair saat itu berperan sebagai pelajar dalam menghadapi suatu masalah. Penyair mempercakapkan fenomena yang dilihat dengan dirinya sendiri, mencari berbagai kemungkinan atas penyelesaian atau persoalan lain yang mungkin mendasari.

Aspek perenungan, menempatkan penyair sebagai pelajar yang dapat kita temukan dalam:

Diammu banyak menyimpan percakapan dalam,
dengan lama tentu menemukan ujung jawaban (VIII : XIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

“Diammu banyak menyimpan percakapan” sebagai kegiatan renungan yang dilakukan dalam menghadapi berbagai fenomena yang telah disaksikan. Seorang penyair dalam mencari “ujung jawaban” lebih cenderung membawa persoalan untuk masuk ke dalam diri sendiri. Di dalam dirinya, fenomena atau masalah itu akan dianalisis, dibicarakan dengan dirinya sendiri untuk mencapai pemahaman, sehingga tidak salah kalau “penyair adalah pelamun yang diterima masyarakat” (Wellek dan Warren, 1995: 92). Perilaku melamun yang dilakukan penyair lebih dimaknai sebagai perbicangan dengan diri sendiri, boleh jadi kalau penyair lebih asyik berdialog dengan dirinya ketika mempelajari suatu fenomena ketimbang dengan manusia lain.

Berdialog dengan diri sendiri untuk mencapai pengetahuan akan suatu realitas lain dari fenomena lingkungan (manusia dan alam) dapat saja disebut sebagai bagian dari penyakit. Semisal, seperti anak yang autis, sibuk dengan dirinya sendiri. Akantetapi, perbedaannya di sini, seorang penyair sedang menempuh suatu mata pelajaran tertentu yang berguru dari alam dan memiliki kawan diskusi yang hanya dirinya sendiri.

Tidak berlebihan juga ketika seorang penyair dikatakan mengalami kegilaan (madness) karena ketika dirinya berdialog dengan dirinya sendiri, penyair terkadang menemukan suatu aspek yang jauh dari rasional bahkan supra-natural (Wellek dan Warren, 1995: 90). Langkah untuk menjadikan alam (kehidupan) secara menyeluruh dan sebagai guru dapat memberikan perkembangan karakter dan jiwa tersendiri yang tercermin di dalam karya yang dihasilkan, seperti:

Lewat nafasmu ke ujung laut berkabut mengatur kelokan arus nasibmu,
telah lama bertahan menghisap puting kepenuhan, selaksa perbincangan waktu,
arah melampaui abad sebelummu (VIII : XVI) (Kitab Para Malaikat, 2007: 45).

Penyair membaktikan hidupnya untuk terus belajar, memahami setiap fenomena (baca: tanda-tanda) untuk diterjemahkan ke dalam sebuah karya. Aktivitas ini bukanlah sebagai sesuatu yang mudah, mengingat bahwa penyair juga seorang manusia biasa yang sama dengan manusia lain, yang memiliki berbagai keinginan (baca: hawa nafsu). Di tengah keadaannya yang sebagai manusia biasa, penyair harus mampu meresapi hakekat dunia dan tanda-tanda yang selalu dihadapi, “lewat nafasmu ke ujung laut berkabut mengatur kelokan arus nasibmu” adalah pekerjaan yang berat.

Tugas yang berat membawa seorang penyair ke dalam pembelajaran sepanjang hayat, yang harus terus berkembang untuk menjawab kehausan jiwanya demi mencapai keutamaan laku hidup. Ibarat ilmu wadah dari ilmu pengetahuan, penyair telah meresapi pengetahuan (pemahaman) dari manusia terdahulu sebagai pijakan awal dalam langkah kakinya. Pemahaman dari manusia terdahulu ini muncul dalam “menghisap puting kepenuhan” yang mana menyiratkan akan penegukan saripati dari Ibu atau orang tua atau manusia yang hidup lebih dahulu. Manusia yang menyusu ibu oleh dalam bait ini terbaca sebagai langkah belajar dari orang tua bijak – perempuan sebagai ibu yang penuh kebijaksanaan.

Penyair tidak hanya mempelajari yang nampak sekarang, akantetapi juga menelusur di masa silam yang tersimbolkan ke dalam dua ungkapan, yaitu “menyusu puting kepenuhan” dan “perbincangan waktu”. Pada simbolisme kedua lebih terbaca sebagai penegas akan usaha dalam memahami ilmu pengetahuan dari orang-orang terdahulu. “Perbincangan waktu” membawa kita dalam sistem yang mana di sana tergambar adanya perbincangan (transfer) ilmu antar waktu, yaitu waktu lampau dan waktu sekarang.

Apabila pengetahuan itu dipandang sebagai sebuah bangunan, seorang penyair telah belajar mengenai bangunan dari manusia terdahulu. Penyair yang bijak adalah belajar dengan cara langsung mempraktekkan, dan pada hasilnya penyair tahu di mana letak kekurangan dari bangunan ilmu pengetahuan manusia terdahulu. Ini proses belajar, yang kemudian penyair pun berusaha menyempurnakan sampai menjadi bangunan dengan struktur yang lebih baik. Oleh karena itu, bangunan (ilmu pengetahuan) disempurnakan untuk menjadi bangunan yang lebih baik, tergambar dalam: “arah melampaui abad sebelummu”.

Selayaknya pelajar yang lain dalam menimba suatu ilmu pengetahuan, penyair pun memiliki sifat yang sama, yaitu ketekunan dalam berusaha dan diiringi kesabaran untuk terus belajar. Penyair sadar dirinya memulai sesuatu dari kecil, dari ketidak-mengertian untuk menjadi mengerti dan menuju ke arah sana membutuhkan adanya proses.

Dia teguh tegar memegang tongkat kesetiaan
demi meniti jalan berkah berkeseimbangan (VIII : XXI) (Kitab Para Malaikat: 45-46).

Bait ini mengambarkan ketekunan dan kesabaran penyair sebagai seorang pelajar yang dituntut untuk tidak lelah. Konsep pembelajaran yang semestinya dipegang oleh seorang penyair adalah pendidikan sepanjang hayat, yaitu sampai dirinya mati. Karena ini, juga didukung kepercayaan yang mungkin seringkali kita dengar, bahwa belajar (dan menulis atau berkarya) sama dengan ibadah. Tujuan dari proses pembelajaran adalah ilmu pengetahuan, sebab ilmu merupakan imam sedangkan amal adalah makmum (Al-Jauziyah, 2009: 393).

Manusia yang berilmu, dia tahu dengan apa yang harus dia lakukan ketika menghadapi tanda-tanda yang terus ada di dalam fenomena kehidupan manusia. Penyair menyadari ini, ilmu juga sebagai pijakan bagi seseorang dalam menentukan perbuatan ketika manusia dihadapkan pada suatu persoalan. Ilmu juga seperti bintang penunjuk yang memberikan arah perjalanan, sehingga ketika manusia teguh dalam usaha untuk terus belajar, maka manusia dapat “meniti jalan berkah berkesimbangan”.

Manusia yang berilmu tahu dengan setiap konsekuensi dari apa yang dia lakukan. Terlebih untuk seorang penyair yang membuat saripati dunia yang termanifestasikan ke dalam karya dan dibaca oleh manusia lain. Tentu saja, karya membawa beban tanggung jawab tersendiri sampai Tuhan Semesta Alam berfirman: “Dan penyair-penyair itu diikuti orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?” (QS. 26: 224-225). Ilmu membawa pengetahuan akan tanggung jawab pribadi seorang penyair terhadap karya (puisi) yang dihasilkan, sehingga menuntut penyair untuk terus belajar karena ia seorang pelajar.

Dalam proses belajar, penyair tidak harus menjelajahi waktu untuk mencapai pengetahuan. Ibarat rasa sakit, tidak perlu seorang penyair merasakan sendiri bagaimana rasa sakit itu. Jelas tidak perlu seorang penyair membakar dirinya untuk menjabarkan bagaimana panasnya api dan terlebih panasnya balasan orang-orang zalim dengan api neraka. Akantetapi, penyair belajar esensi dari sesuatu hal yang Tuhan Semesta Alam turunkan sebagai tanda-tanda, salah satunya adalah alam di sekitar kita.

Tidak harus mendaki, tengoklah ujung-ujung ketinggian di setiap pepagi,
kabut membumbung ke pegunungan menghiasi pepohonan jati, mahoni, trembesi,
kepada randu juga rumpun bebambu hati (VIII: LXI). (Kitab Para Malaikat, 2007: 47).

Belajar dari alam dan belajar kepada kebenaran yang ada di dalam hati manusia itu sendiri dapat mendatangkan pengetahuan akan hakekat kehidupan yang sebenarnya. Alam raya ini, sebenarnya sudah menjadi saksi dan andaikata kita bisa memahami bahasa hewan, tumbuhan, awan, dan lain sebagainya, manusia akan menemukan keindahannya. Misalkan saja, Semut, hewan kecil yang banyak dan sering membuat manusia jengkel karena mengeroyok gula atau minuman manis, semut ini pun sebenarnya bertasbih kepada Allah (Imam Az-Zabibi, 1996: 610).

Simbolisme yang muncul mengenai nama pohon, pagi, bukit atau pun ketinggian mengajak penyair untuk lebih dekat lagi dengan alam. Lebih dekat lagi sebagai usaha memahami dan berkomunikasi dari alam semesta. Pada langit pagi tentang awal kehidupan, atau pada sore hari tentang hari tua manusia. Apabila manusia memahami alur kehidupan alam, manusia akan menemukan ilmu sejati yang bernilai tinggi. Kemudian, “rumpun bebambu hati” menyimbolkan mengenai diri manusia sendiri, yaitu hati. Seperti yang seringkali diucapkan manusia Jawa, “Gusti Allah ada di dalam hati setiap manusia” yang termanifestasikan ke dalam rasa sejati yang tidak pernah mengajak manusia ke dalam hal-hal buruk.

Menjadi pelajar di depan alam semesta dan tubuh manusia dapat dijadikan sebagai bekal dalam menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Perjalanan manusia Tuhan yang mencintai Tuhan melebihi apa pun, bahkan dirinya sendiri yang akan mengajak manusia untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk yang tercinta (Tuhan). Aktivitas ini, apabila dalam khasanah Islam ditunjukkan dalam perilaku ibadah, misalnya saja shalat dan dzikir (mengingat) Tuhan. Manusia pada umumnya, apabila kita merujuk ke khasanah Jawa, maka akan mengantarkan pada paradigma “laku” dengan cara melaksanakan “tapa brata” dan “lelana brata”. Sebagai usaha untuk belajar dari hati manusia (rasa sejati manusia).

Aktivitas belajar seperti ini, dalam puisi Di Atas Tandu Langitan antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007) terbaca dalam bait:
Tentramlah dirimu berkepompong lalu munculkan bulu sayapmu,
kepakanmu memikat pandang membelai peputik kembang (VIII : LXVIII) (Kitab Para Malaikat, 2007: 48).

Menyepi menjadi salah satu jalan untuk belajar dari diri sendiri, dari kesunyian dengan lebih memperhatikan keberadaan rasa manusia. Kenapa dalam aktivitas menyepi, manusia lebih harus mengejawantahkan perasaannya ketimbang pikiran? Dan menjadikan manusia sebagai patokan dalam memulai sebuah perjalanan panjang pembelajaran?

“Dunia terwujud bersama dengan manusia” (Beatty, 2001: 230) yang mana keberadaan dunia ini ditentukan oleh keberadaan esensi dari manusia. Adanyanya wilayah yang disebut dengan dunia, karena ada manusia yang menyaksikan keberadaan material dan non-material dari dunia itu. Bersebab landasan ini, tidak menjadi suatu pemikiran semu ketika dalam kepercayaan batin jalan spiritual manusia Jawa, diri sendiri (rasa sejati) sebagai pusat dari tatanan dunia.

Selayaknya titik kosmos kehidupan masyarakat Jawa, titik berada di tengah yang mengatur segala aspek yang ada di tepian. Hati yang memiliki otoritas penuh dalam tatanan kosmos, sehingga dia (hati manusia atau rasa sejati) menjadi makro-kosmos dan tubuh adalah mikro-kosmos (Magnis-Suseno, 1995: 118). Dengan menyepi yang tertuang dalam “berkepompong” sebagai usaha untuk membangkitkan kekuatan batin manusia. Diketika manusia “berkepompong” dia, maksud saya manusia itu (penyair) memiliki ruang dan waktu yang lebih banyak untuk mendengarkan rasa sejati, dimana cahaya Tuhan Semesta Alam bersemayam, sebagaimana diungkapkan Mulder (1984: 11) bahwa Tuhan ada di dalam hati manusia, dan hidup manusia sendiri harus menjadi doa yang terus menerus kepada Tuhan. Dan orang yang memiliki hubungan dekat (yang secara sadar) dengan Tuhan, maka sudah tentu akan muncul keindahan di dalam jiwanya.

Ini sebagai bagian dari tujuan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang penyair. Kedekatan batin dengan makro-kosmos akan memberikan ruang yang lebih banyak dan makna terdalam dari saripati dunia yang termanifestasikan. Suatu perjalanan yang memang musti ditempuh dengan keyakinan akan “jalan hidup” seorang penyair, sebagaimana yang terbaca dalam bait dibawah ini:
Ketika mengunjungi keganjilan, tarikanlah penamu sampai batas lunglai,
bukan kesiaan memalukan, menelan buah maja tercapainya kerajaan (VIII : CIV) (Kitab Para Malaikat, 2007: 49-50)

“Ketika mengunjungi keganjilan” aspek ini yang menterjemahkan mengenai proses dalam meraih kedekatan dan pembangkitan kekuatan dari rasa sejati (makro-kosmos). Saya mendefenisikan istilah “ganjil” sebagai hal yang merujuk pada kegiatan yang bernilai spiritual, katakan saja Tuhan itu satu sehingga dia bernilai ganjil. Menempuh perjalanan untuk mencapai kekuatan batin memerlukan kerja keras dalam niatan “laku” akan “tapa brata dan lelana brata” yang mana suatu kegiatan yang tidak enak. Sebab, manusia akan digiring ke aktivitas untuk mengurangi makan, tidur, maupun berbincang untuk menjalani ritual kebatinan.

Kemauan dan tekat untuk mencapai “laku” kebatinan bukan suatu aktivitas yang tanpa hasil, walau sudah mencapai pada “batas lunglai” yaitu keterbatasan manusia dalam usaha menembus batas-batas tubuh(badaniah)nya. Aktivitas “laku” ini yang seringkali disebut dengan prihatin, memakan yang pahit dulu untuk mencapai manisnya hidup yang lebih hakekat. Untuk itu, memang menjadi hal yang berat ketika hidup hanya sekali dan dijalani untuk menempuh dan mereguk proses yang pahit, akantetapi “maja tercapainya kerajaan”, tinggal kita memilih, mana yang akan kita capai dahulu. Apakah kita akan memakan pahit kemudian manis, atau manis terlebih dahulu kemudian pahit? Perlu kita ingat, manis dan pahit ditentukan oleh tempatnya, apabila dia berada di akhir, maka kita menuju ke arah itu. Surga atau neraka.
***