Elegi untuk Penyair Tradisi

Asarpin

Di Lampung, tak banyak yang pantas disebut penyair tradisi. Dari yang tidak banyak itu, sebutlah seorang perempuan. Usianya sudah lebih setengah abad, tapi semangat dan suaranya tak pernah renta. Pernah pada suatu hari seorang teman bertanya: apa yang penting dari penyair tradisi di hari ini?

Seingatku aku tak pernah menjawab. Baru sekaranglah saya tertarik memberi komentar atas pertanyaan itu lewat telisik semi cerita ini. Kalau dibandingkan dengan puluhan “penyair modern” di Lampung, jasanya memang tak pantas dikenang. Ia hanya penyair tradisi yang mendapat pengakuan dari beberapa seniman kota yang mulai jenuh dengan sajak-sajak modern yang berbahasa Indonesia.

Selama ini, perempuan itu begitu gemar mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan kearifan lokal masyarakat Lampung, yang menyebut-nyebut burung podidi, murai dan kutilang atawa si raja yang pandai berkicau. Salah satu syair kegemarannya adalah Syair Bubatui, syair yang sebentar lagi akan dipentaskan di ibu kota.

Kehadirannya sebagai penyair tradisi memang ditanggapi secara mendua oleh para pencinta sastra, wartawan, dan pemerintah daerah. Sebagian resepsi sastra menganggapnya sebagai penyair yang cengeng, sementara pemerintah menggugatnya karena hanya menampilkan masalah dan kesedihan, dan tidak pernah menampilkan kebaikan dan keberhasilan.

Beberapa wartawan tampaknya sengaja membuat berita agar Ina tua itu mendapat penghargaan, dan konon pernah diusulkan kepada walikota untuk memberi hadiah karena jasanya mengangkat kearifan lokal dalam syair-syairnya, tapi walikota tak menanggapinya. Beberapa sastrawan kota pernah juga mengusulkan kepada Yayasan Rancage agar Ina tua itu mendapat penghargaan, tapi yang mendapat hadiah Rancage malah Udo Karzi dan Asarpin Aslami (hanya karena karya keduanya telah dibukukan, sementara syair-syair Ina itu berada di atas angin).

Rupanya sulit mencari lembaga atau individu yang mau menilai dengan jujur kebesaran syair-syair lisan Ina tua itu. Seharusnya Dewan Kesenian kota itu memprakarsai pemberian penghargaan kepadanya, tapi sampai lenyap nama perempuan itu, baru muncul keinginan. Mengharapkan penghargaan dari bupati tampaknya sampai mati takkan pernah diberi. Sebab, sang bupati pernah menonton ketika syairnya dipentaskan, dan menurutnya syair-syair Ina itu justru melecehkan tradisi yang suci.

Suatu hari Ina itu tampil di Taman Budaya dengan membawakan Syair Mati Kajong. Dengan diiringi musik dan lagu klasik, ia tampil membetot perhatian penonton. Di atas panggung ia melangkah perlahan sambil sesekali menarik nafas untuk kemudian mengeluarkan embusan-embusan yang diiringi petikan gambus.

Ketika itu lampu mulai redup, dan dari kejauhan hanya terlihat sosok ringkih berjalan pelan makin ke depan, seperti bayangan mayat berjalan. Kemudian kedua tangannya berkelai semampai, yang diikuti kedua kakinya yang berjalan injit-injit, sambil mengulang-ulang kelaian tangan ke samping dan ke depan, ke bawah, ke tengah, ke atas lagi, ke samping, dan seterusnya.

Layar pertunjukan mulai disibak angin, atau angin buatan sengaja diarahkan ke layer putih, yang diiringi tepuk-sorai penonton yang tak mengerti arti Syair Mati Kajong. Dari sudut belakang panggung, si penggambus atawa si pembawa alat musik tunggal, tampak tak sabar untuk memberi aba-aba yang hanya bisa dimengerti oleh si pemain.

Malam itu ia jadi pusat perhatian. Kulihat nafasnya yang mulai ngos-ngosan. Lelah dan puas bersyair, ia menurunkan nada syairnya menjadi sejenis tembang yang pelan, syarat perenungan. Kami menyebutnya syair dua karena dikarang oleh dua marga yang berasal dari dua logat, dua adat yang saling menghidupkan.

Pentas malam berikutnya, ia menampilkan Syair Pepadun yang syarat dengan nada o tanpa ra atau re atau ri. Tapi penonton benar-benar tersihir oleh syair gelap tapi sedap di telinga itu. Para kritikus tampak mulai serius merangkai kata-kata untuk besok dimuat di media. Para wartawan mulai bertanya tentang makna. Sebab tak seorang pun malam itu yang tahu apa itu Pepadun, semua penonton hanya tahu satu-dua tradisi Saibatin. Tapi pertunjukan itu benar-benar aneh: para penonton terbuai oleh nada-nada o dalam komposisi yang beraturan, yang sedikit pun mereka tak mengerti, namun mereka bahagia. Dan tampaknya lebih bahagia dari Ina tua yang jadi perhatian malam itu.

Aku sendiri berusaha menenangkan diri dengan mengakui kalau semua seni tradisi pada dasarnya sulit dimengerti, atau malah tak dimengerti sama sekali. Tapi justru karena tak dimengerti, maka penonton ditantang untuk mengerahkan seluruh kemampuan. Lagi pula, seni tak untuk dihargai, juga dimengerti, tapi untuk dinikmati.

Malam itu ia benar-benar tampil beda dengan busana yang dikenakan sehari-hari. Malam itu Taman Budaya seperti sengaja sedang diruwat oleh pertunjukan dari seorang perempuan tua yang tak biasa, yang mencekam membetot perhatian, yang begitu percaya pada kekuatan seorang diri di hadapan penonton dengan gerak lambai tangan meliuk selama berjam-jam, seperti penari kuntau yang hanya berhenti ketika sudah mati.

Siapa perempuan tua itu, tak pernah jadi bahan pertanyaan penonton. Tak ada katalog atau poster pertunjukan. Sepastinya kami memanggilnya Ina. Wajahnya mirip seorang penari dari Cirebon. Bahkan mirip semua perempuan tua di kampung, yang mulut mereka tak berhenti bersyair ketika menanak nasi, menutu ketan di lesung dengan helu, atau ketika menjemur kopi atau lada di lebuh rumah mereka, atau ketika membuat lepet atau tape saat ada hajatan.

Tak penting lagi nama atau dari mana ia, apa marganya, karena ia telah mempesona kita semua. Ia perempuan yang sudah waktunya memperbanyak doa kepada Yang Kuasa, tapi ia seperti sebuah keajaiban yang sengaja didatangkan untuk membangunkan syair kehidupan yang telah lama dilupakan orang-orang.

Usia 65 ternyata bukan penghalang untuk mendendangkan syair-syair simpanan kepada Minak Kelasa, atawa Sri Panggung. Untuk ukuran orang seperti dia, yang sejak kecil terbiasa bekerja di huma dan di pematang, usia itu jauh lebih muda dari sosok sebenarnya yang hampir tak berdaya. Kedua buah dadanya sudah bisa diduga, juga keriput direnggut usia. Kuku-kuku di jarinya tampak tak terawat, panjang dan hitam bukan karena penuh kotoran.

Begitu dirinya tampil mempertunjukkan kebolehan di Taman Budaya malam itu, melantunkan syair yang bertutur tentang negeri-negeri di pelupuk mata yang terlupakan, getaran gaib tradisi menyembul bagai magnet membetot menarik kenangan saka. Ratusan mata terfana tak percaya tak menduga jika di negeri ini masih ada penjaga tali peranti yang hampir mati.

Perempuan tua itu tak hanya bisa bersyair, tapi juga bisa menari, dan tak jarang membuat iri para penari muda. Penampilannya memukau membangunkan orang-orang kota yang telah jauh dari mahia tradisi. Ia datang dari utara ke Tanjung Karang dengan tukak lambung karena didera TBC, perempuan tua itu seolah sengaja didatangkan dari kahyangan untuk menghidupkan kembali leluri yang hampir mati.

Saya tak tahu siapa mengundangnya. Mungkin orang Taman Budaya yang kebetulan mengetahuinya dari kabar yang beredar. Untuk apa mengetahui siapa mendatangkan Ina tua itu ke kota ini. Ia telah terlanjur jdi tontonan orang kota, direkam dengan kamera oleh para wartawan, dan tak seberapa lama “ia” tampil di televisi dengan adi-adi yang bikin iri.

Angin malam seperti sengaja meniti-niti di hati di bulu-bulu halus yang menempel di kulit kami. Tapi seindah-indah angin malam, tetaplah dapat menyibak-nyibak angan, tulang dan kulit ikut terkesima dan tergoda, nafas malam mendesah dan menderu dalam rasa yang dalam. Maka kalian takkan bisa mendengar yang sebenarnya mendengar syair perempuan tua kalau kalian tak dapat tembus ke dalam dirinya.
Lihatlah ia terus melantunkan adi-adi dan warahan-warahan yang menyebut-nyebut laut pematang dan bentang angan-angan di kejauhan yang serasa berguguran, hebos mawos serta hawos di ujung malam penghabisan:

Wi wi wi….. jak jaoh nyak lebon
mak dihalu tekibang hebos mawos
lesoh angon….. dibatok angin liyu
wi wi wi… tekacah tekacai unyinni
sai kuguai sai kukitai
lupa di khapa cakha
bela wai bela sai mawat juga tipakai

Suaranya yang aneh menggoda para penonton, mencoba menangkap seserpih arti di balik kata-kata yang tak dimengerti. Ia masih menyihir orang-orang dengan teknik-teknik mengganti warahan jadi sekimanan yang kian membingungkan. Para juri para ahli nyaris dibikin mati ketika Ina tua mulai bermain-main dengan sekian kata dan frase tua yang ditakik dari tradisi sekimanan, layaknya bertutur sambil lebur di kedalaman makna dan ketanpa-maknaan alam atawa kehidupan.

Kali ini ia menampilkan syair butatangguh, mengabarkan sesuatu kepada hadirin yang telah dipaksa menyimak nada-nada dan irama-irama yang membuai-menghanyutkan angan-angan:

Jakhu pedama suku, sengabah sanga pekon
Kipak laju di pekhbatin tuha batin sikam khoppok
Haga ngawillahkon tangguh sanga patoh pun khua

Benokhni munih disan mulang disikam dua lagi kala di nana
Jak pissan mit pindua, bukuis butakkis, butulak-busasanda
Nyawakon mak kuwawa, lattakhan mak biasa.

Min telu sampai mu pak, ngucakkon cawa nulak
Lima nam laju pitu, ngucakkon mawat tahu, lattakhan mak bugukhu
Diakuk tian khoppok lagi kala di nana

Ikok pisai wait pengkhamban kuta,
sai pandai mak tikitai, bijsaksana mak dija,
si ngong-ngon mak di pekon, khadu cakak mid dakhak.
Sai pittokh lagi midokh, si nalam lagi pedam, pekhajukhit mawat mit,
mula si bugu kanggu teliba di sikam dua, pun, ngawawillahkon tangguh
jama minak muakhi dija.

Hanya mereka yang punya cinta dengan syair tradisi yang bisa membawakan dengan sangat dramatik dan memikat perhatian. Itulah syair keindahan yang dibentuk dari kehidupan yang memprihatinkan: hidup sebagai istri petani yang kehilangan tanah garapan, jauh di utara sana, tapi berusaha tetap waya atawa bahagia.

Dalam diri Ina tua itu mungkin ada segurat liang yang dibuat dan dimuat oleh pengalaman-pengalaman pahit yang begitu pribadi, peristiwa-peristiwa dalam khayalan tak terlukiskan, pencapaian dan pelepasan yang ikhlas dan tenang tanpa dibayang-bayang pengertian, yang ditampilkan dengan penuh perhitungan.

Tapi, seperti sudah kubilang-bilang kepada kundang sekalian, jika kalian bisa meleburkan diri masuk ke dalam kedalaman ketanpa-maknaan syair lisan yang mengharukan itu, niscaya kalian akan ikut merasakan sesuatu yang liris dalam kontinuitas tradisi kehidupan. Kalau tidak kalian malah akan jadi musuhnya, selama-lamanya.

Peluh di sekujur tubuhnya mulai bergayut, dan sebentar lagi berjatuhan di lantai, tapi masih juga tak membuat Ina tua itu berhenti menyair. Ia menarik nafas sejenak, lalu melanjutkan syair demi syair hingga makin lama makin kesuruman, atawa kesurupan, hingga gerak-tubuhnya tak lagi bisa dikontrol. Hampir saja ia tajungkang ke depan panggung, tapi sebuah bayangan mengangkat tubuhnya bersamaan dengan datangnya suara dari arah utara:

Oh, Masnuna, Masnuna,
Minjaklah Ina, minjak,
Dakung kihaga mati, wi,
Niku makung ngedok gantini

Layar perlahan ditutup. Tak ada suara, juga tepuk tangan seperti biasa. Di bagian depan panggung syair Ina tua itu, terpancang papan kecil yang bertuliskan namanya: Masnuna. Dan aku berusaha mengeja namanya, sebelum ia lenyap untuk selamanya.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/